Sia dan William menghabiskan hari-harinya di rumah kayu Roberto, Tyumen, Rusia selama seminggu. Mereka hidup dengan harmonis layaknya sepasang kekasih. William juga mulai melatih dirinya dalam ilmu bela diri. Sia sudah seperti isteri baginya. Membersihkan rumah, memasak dan merawat pekarangan. Sesekali mereka keluar ke kota terdekat untuk membeli kebutuhan.
William merasakan kedamaian dalam hidupnya yang seperti ini. Tak ada beban pekerjaan, tak ada aksi tembak-tembakan, kejar-kejaran mobil bahkan bunuh-bunuhan. Begitu tenang. Bahkan William membayangkan seorang anak hadir diantara mereka berdua. William begitu bahagia. Sia juga selalu tersenyum padanya. Mereka sering menghabiskan waktu berdua diteras rumah kayu itu, berpelukan dan saling mengungkapkan perasaan.
Pagi itu ponsel William berdering. Ia sedang tak ada di rumah karena membeli perlengkapan kebutuhan rumah di sebuah kota kecil dekat Tyumen. Sia bingung karena tak ada nomor disana hanya sebuah nama "R". Sia penasaran dan ia pun mengangkatnya tanpa bicara apapun.
KLEK..
Mereka berbicara bahasa Inggris.
"William. Sudah seminggu kau tak memberiku laporan baik mengenai Julius, Konstantine ataupun Roberto. Berhenti bermain rumah-rumahan atau akan kami ledakkan rumah itu. Tinggalkan gadis itu, dia hanya pengganggu."
TUT TUT.
Kepala Agen Rika menutup teleponnya. Tangan Sia bergetar. Pandangannya tak menentu. Jantungnya berdebar kencang. Tak sadar ia menjatuhkan ponsel William. Nafas Sia tersengal, ia pun perlahan duduk di sofa ruang tengah rumah kayu itu. Sia baru menyadari bahwa selama ini William berbohong padanya.
"William.. William seorang agent rahasia? Selama ini.. dia.. berbohong padaku? Dia hanya memanfaatkanku?" Ucap Sia lirih dengan pikiran kacau.
BROOM.
Tak lama mobil William pun berhenti di depan rumah Roberto. Terlihat William membawa banyak barang. Sia langsung mengambil ponsel William yang ia jatuhkan, ia meletakkan kembali di meja dekat televisi di ruang tengah. Sia mengatur nafasnya. Dia berusaha berakting sebaik mungkin seperti tak terjadi apa-apa.
William masuk ke rumah dengan senyum merekah. Sia berdiri di dekat televisi memunggunginya. William meletakkan semua belanjaannya di meja makan dapur.
"Sia. Coba kau cek kembali belanjaan ini. Apa sudah benar semua sesuai pesananmu?" Tanya William sembari mengeluarkan semua isi belanjaan dalam tas kertas coklat besarnya.
Sia berjalan perlahan ke dapur dan menatap William sepintas. Ia mengatur nafasnya. Ia masih gugup tak percaya jika William seorang agen. Sia berdiri disampingnya dan meliriknya lagi dengan gugup. William masih sibuk menata hasil belanjaannya di meja makan. William menoleh padanya. Sia terkejut.
"Ada apa?" Tanya William menatap Sia seksama.
Sia memalingkan wajah dan tertunduk. Ia memegang salah satu belanjaan di atas meja asal. Ia bingung. Jiwanya berkecamuk. William menyadari itu.
"Apa terjadi sesuatu?" Tanya William mulai curiga.
"Ah tidak.. tidak.." ucapnya mencoba mengelak.
William merasa ada yang janggal. Ia meninggalkan Sia di dapur. Ia berkeliling ke seisi rumah mengecek keadaan. Sia menatapnya dari kejauhan akan sikap William.
"Dia memang seorang agent." Batin Sia dengan jantung makin berdebar.
Dirasa aman, William kembali mendatangi Sia dengan langkah cepat. Sia tertegun, ia memegang paprika kuning dalam genggamannya kuat karena panik. William berdiri di depannya. Ia melihat Sia gugup.
"Apa ada yang datang kemari? Apa ada yang mengancammu?" Tanya William tajam.
Sia menggelengkan kepalanya. Ia bingung harus bagaimana. Tiba-tiba..
BROOM.. BROOM.. CITTT.. BRAKK!
Pintu rumah Roberto dibuka paksa hingga membentur dinding. William dan Sia tertegun. Sia langsung meletakkan kembali paprikanya. William berjalan tergesa ke pintu utama dan BUKK! Wajah William langsung dihajar kuat hingga dia mundur ke belakang beberapa langkah. Ia tak melihat seseorang datang dari balik dinding. Sia langsung memeganginya.
Igor muncul di depan mereka. William dan Sia panik. Tak lama Rio muncul bersama 5 bodyguardnya. William masih memegangi bibirnya yang berdarah dan menatap mereka seksama. Sia berdiri disamping William.
"Sia. Sejak kapan kau melepaskan GPS di tubuhmu? Apa dia yang melakukannya?" Ucap Rio dengan wajah bengisnya menunjuk William tajam.
"Bukan.. bukan.. a.. aku yang melakukannya." Ucap Sia tergagap.
William menatap Sia tajam.
"Pantas saja dia memplester lengannya saat itu. Ia bilang lecet karena tersyat kayu saat berkebun. Dia sengaja melakukannya. Dia mengeluarkan alat itu dari tubuhnya sendiri. Luar biasa. Tapi.. untuk apa?" Batin William penasaran.
"Jadi, kau sengaja menghindar dari kami? Apa kau sekarang di pihak Roberto juga? Kau menghianati kami?" Tanya Rio menatapnya tajam.
"Tidak.. tidak seperti itu.. tidak, Kak." Ucap Sia panik.
"Hmm.. jadi, kau bersembunyi selama ini disini dengan dia? Apa yang kalian lakukan? Sepertinya kalian merawat rumah ini dengan baik." Ucapnya sembari berjalan mendekati Sia dan meletakkan jari telunjuknya pada sebuah meja dan menekannya untuk melihat apakah berdebu atau tidak.
"Hmm.. kau sangat berbakat menjadi isteri idaman. Sayang, calon suamimu sudah tewas tapi sepertinya kau tak berduka sama sekali. Apa.. karena sudah ada dia yang menggantikan Tomy?" Ucap Rio penuh penekanan yang kini sudah tepat berada di depan Sia.
Jantung Sia berdetak kencang. Ia tahu jika nyawanya sedang terancam. Ia bingung setelah mengetahui William seorang agen, ditambah ia memang tak menyukai kehidupannya bersama keluarganya. Sia tertunduk. Ia tak berani menatap Rio. Terlihat Rio mulai kesal, ia menjambak rambut belakang Sia hingga mendongak ke atas.
"Agh.. Rio.." rintih Sia memegangi tangan Rio yang menjambaknya kuat.
William panik. Saat ia akan mendatangi Sia, Igor langsung menghadangnya. William berhenti seketika. Rio menatap William seksama dengan senyum sinisnya.
"Kau menghianatiku, William. Kau kini di pihak Roberto, sayang.. Roberto sudah tewas. Jadi.. aku akan melenyapkanmu juga. Tak boleh ada saksi mata." Ucapnya keji.
Sia dan William kaget seketika. Igor mendatanginya cepat. William panik.
"Wait Rio wait, jika aku memihak Roberto pasti saat itu aku sudah membunuh Igor, benar kan? Tapi lihat yang kulakukan. Aku hanya membiusnya. Aku membiarkannya hidup karena aku masih dipihak kalian." ucap William menyodorkan kedua tangannya kedepan menahan kedatangan Igor yang ingin menghajarnya.
Igor diam seketika. Ia menoleh ke arah Rio. Terlihat Rio berfikir sejenak.
"Aku sengaja membawa Sia untuk mengamankannya. Sia dikejar, ia diculik saat itu dan aku berhasil menyelamatkannya. Saat aku akan membawanya kembali ternyata mansion Roberto sedang diserang." Ucapnya lagi mencoba mengelak.
"Jika kau melindunginya kenapa tak membawanya ke markas lorong bawah tanahku?!" teriaknya lantang karena masih tak mempercayai William.
"Itu.. itu karena aku panik. Aku tak tahu siapa kawan dan lawan. Ditambah Igor menyerangku, aku berfikir dia akan membunuhku dan Sia. Jadi aku membawanya pergi jauh dari kalian semua. Aku bersumpah." Ucapnya sembari menunjukkan dua jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf V sebagai tanda ia bersumpah.
Rio menatap William tajam, begitupun Igor. William terlihat gugup. Ia melihat Sia masih kesakitan karena cengkraman kuat di rambutnya.
"Sial bagaimana ini? Jika tak ada Sia, sudah kubunuh mereka semua." Ucap William kesal karena harus terbebani dengan hal ini.
Tiba-tiba Rio melepaskan cengkraman di rambut Sia dan mendorong kepalanya hingga dia jatuh tersungkur di sofa. William terkejut. Ia telengkup di sofa tak bedaya. Dia diam saja.
"Baiklah, aku percaya padamu. Kuberi kau sekali lagi kesempatan tapi ada syaratnya." Ucapnya sembari mengusap dagunya.
"Oke oke. Apapun. Bagaimanapun kau tetap bosku." Ucap William mulai tenang.
"Bantu aku merebut kekuasaan Konstantine dan Robert yang masih dipegang oleh Yena dan Selena." Ucapnya tersenyum miring.
"Baiklah. Caranya?"
"Seperti keahlianmu sebelumnya. Gunakan ketampananmu, rayu mereka, bujuk mereka untuk menyerahkan asetnya baik-baik. Jika mereka menolak, bunuh saja. Simple." Ucapnya santai.
"What? Tapi.. bukankah mereka masih saudaramu?" Tanya William bingung.
"Huh, saudara. Tak ada namanya saudara dalam perebutan kekuasaan. Hanya ada 1 penguasa tunggal, William, dan orang itu adalah aku." Ucapnya tersenyum bangga.
William mengangguk paham. Ia menerima tawarannya. Sia menatap William tajam. Entah apa yang dipikirkannya. Akhirnya William dan Sia dibawa kembali ke Moscow. Sia akan diterbangkan kembali ke Virginia, Amerika. Sedang William ditinggal di Rusia untuk menuntaskan pekerjaan yang diberikan oleh Rio.
William mengantarkan Sia ke bandara. Rio dan Igor ikut kembali ke Amerika. William mendekati Sia yang sedari tadi diam tertunduk. Ia berbicara lirih agar tak terdengar Rio dan yang lainnya.
"Sia dengar. Percaya padaku. Yang kulakukan ini agar Rio percaya padaku. Aku berjanji takkan ada hubungan apapun dengan Selena dan Yena. Kau.. kau percaya padaku kan?" Tanya William menatap Sia seksama.
William sangat khawatir jika Sia berfikir dirinya menghianati perasaannya. William sudah terlanjur jatuh cinta padanya dan ia yakin Sia juga merasakan hal yang sama. Ia tak mau Sia salah paham dengan pekerjaannya nanti yang melibatkan Selena dan Yena didalamnya. Sia mendongakkan wajahnya dan menoleh ke arah William dengan wajah sendu. Sia tersenyum padanya.
"Jangan khawatir. Santai saja." Ucapnya pelan.
William tersenyum bahagia. Ingin rasanya ia memeluk Sia tapi ada Rio dan yang lainnya disana.
"Aku akan sangat merindukanmu, Sia. Jaga dirimu selama aku tak ada. Aku akan segera menyusulmu." Ucapnya penuh keyakinan.
Sia mengangguk cepat. Entah kenapa meski hatinya bimbang, dia merasa akan sangat merindukan William. Tiba-tiba Rio memanggilnya untuk segera boarding pesawat. Sia pun mendatanginya. William melihat dari kejauhan kepergian Sia. Sebelum masuk ke pintu boarding, Sia menoleh sekali ke arah William dengan wajah sendunya. William makin menghawatirkannya.
William menghembuskan nafas panjang. Ia mengambil ponselnya dan menelepon Rika.
TUT.. KLEK..
"Rika,"
"William. Kau benar-benar menjengkelkan. Dimana kau sekarang? Berhenti bermain-main!" Teriak kepala agen Rika kesal setengah mati dengan sikap salah satu agennya.
William menghembuskan nafas pelan.
"Rika dengar. Aku berada di Moscow. Sekarang Rio memberikanku kuasa untuk mengambil alih aset milik Konstantine dan Roberto. Kini sasaran utamaku adalah Roberto. Apa kau mengizinkan dan memberikanku dukungan?" Tanya William melaporkan.
"Hmm.. baiklah. Kau gunakan saja semua asetmu. Akan aku kabarkan hal ini kesemua tempat. Cepatlah. Kau sudah bersantai terlalu lama. Sekretaris sudah gerah, jangan buat masalah." Ucapnya memperingatkan.
William tersenyum miring.
"Baik. Laksanakan."
TUT.
William segera bergegas kembali ke mobil sport orangenya. Ia merasa lega karena beban terbesarnya Sia kini sudah tak ada. Ia kembali menjadi dirinya, seorang agen CIA yang akan menangkap dan memenjarakan semua gembong mafia incaran CIA.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 235 Episodes
Comments
Wulan Wulan
huhhh menegangkan
2021-06-21
1
Kadek Pinkponk
apakah will msih kan sehebat itu menjalankan msinya setelah dihatinya ad perasaan cinta??
2021-05-31
1
🏕️👑🐒 𖣤᭄Kyo≛ᔆᣖᣔᣘᐪᣔ💣
ahay jadi makin asyik kan ceritanya😁🤣🤣🤣🤣🤣
semangat dah Ju Aku padamu pokoke wis
#nohalu2 #nokomensok2an
2021-05-21
1