William mengunjungi toko bunga di Moscow. Tempat dimana para agent mendapat dukungan berupa senjata dan informasi menyeluruh mengenai sasarannya. Kini ia mengincar Roberto. Seorang mafia elit asal Amerika yang menetap di Rusia karena ia berfikir bahwa pemerintah Amerika tak bisa menangkapnya.
Tapi atas dukungan dan hubungan kerjasama antara Amerika - Rusia, menjadikan Roberto bisa dikasuskan yang nantinya akan dipenjarakan. Sayang, Roberto sudah tewas dalam insiden baku tembak beberapa pekan lalu di mansionnya. Kini semua asetnya dipegang oleh Yena, anak satu-satunya.
Hanya saja William sedikit ragu dengan aksinya kali ini karena bagaimanapun Yena pernah menolong nyawanya. William pun mendatangi mansion Yena seorang diri tanpa pasukan bantuan. Ia ingin mencoba menyelesaikan masalah ini baik-baik.
BROOM..
Mobil sport hitam orange William masuk ke halaman mansion Roberto. Segera para penjaga mendatanginya dan mengarahkan senjata. William dengan tenang turun dari mobil dan mengangkat kedua tangannya. Ia memberitahukan tujuannya. William pun diizinkan masuk setelah para penjaga Yena meminta persetujuannya. William langsung dibawa masuk ke ruang kerjanya.
Terlihat Yena sedang mabuk seorang diri disana. Duduk diatas meja kerjanya dan terlihat berantakan. Ia begitu sedih atas kematian ayahnya. Para penjaga Yena memeriksa tubuh dan pakaian William memastikan ia tak bersenjata. Setelah dirasa bersih mereka meninggalkan William bersama Yena.
Mereka berbicara bahasa Rusia.
"Yena. Maaf jika kedatanganku tidak tepat. Aku tahu kau sedang berduka atas kematian ayahmu. Maaf, aku tak bisa datang ke pemakamannya." Ucap William berdiri dari kejauhan dengan sopan.
Yena tersenyum tipis. Ia meletakkan gelas Wisky-nya dan meletakkan diatas meja. Ia berdiri dan berjalan mendatangi William dengan gontai. Ia memegang kerah lipatan jas di dada William dan menatapnya seksama. William diam saja. Yena mabuk.
"Wah.. ternyata selama ini kau bisa bahasa Rusia. Kau memang penuh kejutan, William. Untuk seorang bodyguard kau diatas rata-rata." Ucapnya memuji.
William hanya mengangguk dalam diamnya. Yena kembali menatapnya tajam. Ia terlihat begitu membenci William.
"Kau dimana saat ayahku membutuhkanmu, huh? Kau membiarkan ayahku mati terbunuh dengan mengenaskan. Apa kau tahu berapa jumlah peluru ditubuhnya? APA KAU TAHU?!" Teriak Yena tiba-tiba dengan air mata menetes di wajahnya.
William menatap Yena seksama yang terlihat begitu sedih. William menggelengkan kepalanya pelan.
"11 William...11! Dan kau tahu? Peluru itu masih bersarang ditubuhnya saat dimakamkan. Aku.. aku begitu sedih.. kenapa ayahku harus mati mengenaskan seperti ini.. kenapa? Hiks.." tangis Yena di depan William.
Yena langsung membenamkan tubuhnya di dada William. Ia bingung, William diam saja. Yena langsung melepaskan cengkraman dari jas William. Ia berdiri menatap William dengan air mata masih berlinang di wajahnya.
"Bahkan kau tak mau memelukku. Kenapa? Apa karena Sia? Kau memiliki hubungan dengannya, hah?" Tanya Yena menatap William curiga.
William menghembuskan nafas pelan.
"Aku hanya bodyguardnya. Bukan kekasihnya." Ucapnya meyakinkan Yena.
Yena tersenyum sinis.
"Lalu apa tujuanmu? Sepertinya bukan minta maaf karena tak bisa menjaga ayahku. Benar kan?" Tanya Yena dengan wajah sendu.
William memalingkan wajahnya. Dia menghembuskan nafas keras.
"Rio. Ia ingin menguasai Rusia dan seluruh aset ayahmu, Roberto. Sebagai imbalannya, kau boleh tinggal di mansion ini. Rumah tua ayahmu di Tyumen menjadi milikmu dan usaha toko kue milik ibumu, boleh kau miliki. Sisanya akan menjadi milik Rio." Ucapnya serius.
Yena mundur beberapa langkah menatap William sambil terkekeh.
"Haha.. hahahaha.. gila.. ini gila.. wow, kau datang ke rumahku dan mengancamku? Begitu maksudmu, William?" Tanya Sia tak habis pikir dengan sikap William yang malah berkhianat padanya.
"Aku hanya menjalankan perintah." Jawabnya pelan.
"Jadi.. haha.. kalian benar-benar ingin menjatuhkan keluargaku, begitu? TAK CUKUPKAH DENGAN KEMATIAN AYAHKU DAN KINI KALIAN INGIN MERENGGUT SELURUH WARISANKU, HUH?!" teriak Yena lantang dengan mata terbelalak. Ia marah. Sangat marah.
"Maaf Yena. Sebaiknya kau menurut saja. Aku akan melepaskanmu jika kau mau bekerjasama. Sebaiknya jangan melawan. Jangan gegabah." Ucap William menyarankan.
"Wow.. luar biasa. Kau kini menceramahiku ya?" Ucap Yena berjalan mendekati meja kerjanya dan DOR!
"Shit!" pekik William karena tiba-tiba Yena menembakkan pelurunya dan mengarahkan pistol ke tubuhnya.
Beruntung tembakan Yena meleset. William langsung berlari menghindar ke samping mencari tempat berlindung. DOR! DOR! Yena tak memberi ampun. Ia begitu membenci semua orang yang berusaha merebut miliknya. William bersembunyi di balik sofa.
Terdengar derap langkap segerombolan orang ke ruangan Yena. Mereka membuka pintu dan melihat Yena mengarahkan senjatanya ke sofa tempat dimana William berlindung. Yena pun segera keluar menyelamatkan diri. Terlihat para bodyguard Yena melindunginya.
"Sial!" Pekik William yang melihat Yena akan kabur.
Segera William mengaktifkan jam tangannya meminta bantuan. Saat William berusaha keluar dari tempat persembunyiannya, DOR! DOR! PRANGG! "Shit!" Tembakan para bodyguard Yena yang masih berada diruangan mengenai pot bunga di sebelah William hingga pecah dan tanahnya berserakan di lantai. William segera menyiagakan senjatanya.
Ia menyembunyikan pistolnya dibalik punggung jasnya. Stelan khusus buatan Jack untuknya dimana saat digeledah, senjata yang disembunyikan takkan terasa dan terlihat meskipun pakai detektor. Jas itupun anti peluru di bagian punggung dan dada, hanya saja masih terasa sakit jika terkena peluru. Sayangnya hanya bisa menyimpan 1 pistol saja.
William melihat dari pantulan kaca di atasnya dimana para bodyguard Yena berpencar dalam ruangan itu bermaksud mengepung William. Segera William bersiaga dan DOR! DOR! William berlari ke samping menuju ke balik meja kerja Yena sembari menembakkan beberapa peluru ke para bodyguardnya. William berhasil sampai ke meja kerja Yena.
Ia mendorong kursi kerjanya ke arah pintu. Semua bodyguardnya tertegun dan DOR! DOR! "Argh.." BRUK! BRUK! William berdiri dari persembunyiannya dan menembak 2 bodyguard Yena. Ia menembak tepat di kaki dan bahu mereka. 2 bodyguardnya yang masih selamat kembali melepaskan tembakan-tembakannya ke arah William.
Kembali William bergulung ke samping dan bersembunyi dibalik lemari arsip sembari menembakkan peluru-pelurunya dari persembunyiaannya. 2 bodyguard itu mendatanginya.
William berdiri dan NGEKK.. BRUKK! "Argh.." William menjatuhkan lemari arsip itu dan mengenai salah seorang bodyguard Yena dan SWINGG.. JLEB! "Ugh.." BRUK. William melemparkan pisau dari balik alas sepatunya dan mengenai leher bodyguard itu. Para bodyguard Yena masih hidup. Mereka merintih kesakitan.
Masih tersisa satu bodyguard yang selamat. Ia ikut bersembunyi di balik jam classic besar yang berdiri kokoh seperti lemari. William mengecek peluru di pistolnya dan hanya tersisa 1. Butuh keajaiban agar mengenai bodyguard itu. Ia tak boleh ceroboh atau ia yang akan tewas nantinya.
William melihat sekitar dan SREKK.. "Suara musik dari ponsel" pandangan bodyguard itu teralihkan dan DOR! BRUK! Bodyguard itu tewas seketika ketika William melemparkan ponselnya ke lantai dan ia segera melangkah maju dengan mantap mengarahkan pistolnya ke dahi bodyguard itu.
William melihat pasukannya datang. Mereka segera mengepung mansion Roberto. William mengambil senjata para bodyguard itu dan DOR! DOR! DOR! Ia menembak tepat dikepala bodyguard Yena yang merintih sedari tadi. Ia mengambil kembali ponselnya. Segera William keluar ruangan dan tetap menyiagakan senjatanya.
Ia mengendap perlahan mencari keberadaan Yena. DOR! Kembali sebuah tembakan diarahkan padanya. William mengintip. Asalnya dari atas tangga menuju ke lantai 2. William yakin Yena diatas. William masih bersembunyi di balik dinding.
Tak lama pasukannya datang dan anehnya Cecil ikut muncul. William kaget bukan kepalang. Cecil mendekatinya sembari menggenggam kuat pistol ditangannya. Wajah keibuannya bahkan mampu menipu semua orang bahwa dia sangatlah tidak cocok menjadi seorang agent.
Mereka berbicara bahasa Inggris.
"Kau kejarlah Yena. Aku akan mencari berkas dan surat-surat berharga milik Roberto. Aku tahu dimana ia menyimpannya." Ucap Cecil ikut bersembunyi di samping William.
"Oke mam."
Segera mereka berpisah. Cecil ditemani 2 tentara masuk ke ruang kerja Roberto dan mencari aset-aset miliknya. William kembali fokus mengejar Yena. Ia ingin menangkap Yena hidup-hidup. William memberi kode kepada 2 tentara di depannya untuk membuka jalan. Mereka pun mengendap naik keatas mengamankan jalan untuk William. 2 tentara masih bersamanya berjaga dibawah mengamankan situasi.
DOR! DOR! Dari atas terdengar suara tembakan dan orang berkelahi sengit. William dan 2 orang tentara masih sabar menunggu dan "CLEAR.. CLEAR.." ucap salah satu tentara yang berhasil mengalahkan bodyguard yang menjaga tangga menuju ke lantai 2. Segera William dan 2 tentara bergegas naik ke atas.
Diluar mansion terdengar baku tembak dan beberapa suara ledakan. Pertarungan sengit antara bodyguard Yena melawan pasukan elit pemerintah. 2 tentara di depannya berjalan mengendap dengan langkah cepat menyusuri lorong dengan senjata laras panjangnya. Tiba-tiba DUAKK! "AGH.." DOR! "Agh.." DOR! DOR!
Sebuah pintu suatu ruangan tiba-tiba terbuka dan mengenai tubuh salah satu tentara yang jalan di depan. Tentara itu mundur beberapa langkah karena terkantuk dan langsung ditembak tepat di dadanya tiga kali dari seorang bodyguard lain yang muncul dari balik pintu tersebut. Tentara itu tewas seketika.
William panik seketika. Bodyguard itu tak gentar dan langsung menembakkan seluruh amunisinya ke arah tentara yang bersama William. Terlihat dia begitu tangguh dan professional. William berlari dan bersembunyi di balik pot besar tanaman di lorong itu. William mengintip dan melihat Yena keluar dari sebuah ruangan bersama dua bodyguard yang melindunginya.
"Agh, sial." Segera William mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang disela-sela tembakan yang terus menghujaninya.
Para tentara yang bersamanya tewas terkena tembakan beruntun dari bodyguard tersebut. Tiba-tiba suara tembakan berhenti, William melihat bodyguard itu berlari menyusul Yena. William segera berdiri dan mengambil senjata dan granat dari saku para tentara yang tewas. William mengejar Yena.
Saat akan turun tangga, DOR! DOR! Kembali William mendapat tembakan dari bawah tangga. Masih bodyguard yang sama. William kesal, ia pun melepaskan pengait di granatnya dan BLUARRR! Granat itu meledak setelah ia lemparkan pada bodyguard itu. William segera turun. Ia mendapati Yena akan segera kabur dengan mobilnya dari pintu belakang.
Tak ingin kehilangan buruannya, William pun melepaskan semua tembakannya hingga amunisinya kosong. DOR! DOR! DOR! DOR! DOR! 5 tembakan mengenai kaki dan bahu dua bodyguardnya yang sedang membukakan pintu mobil untuk Yena dan satunya berdiri melindunginya. Mereka tewas ditempat. Yena ketakutan dan panik di kursi belakang mobil.
William mendekatinya dan mengarahkan pistolnya mantab ke wajah Yena. Seketika Yena mengangkat kedua tangannya dengan gemetaran.
"Yena menyerahlah. Aku tak akan membunuhmu." Ucap William dengan bahasa Inggris.
Nafas Yena tersengal. Dia menatap William seksama. Tak lama datang segerombol pasukan berpakaian hitam mendekati William dan ikut menodongkan senjata ke arah Yena.
"Who are you?" Tanya Yena curiga.
"I am agent. CIA."
"What? Oh shit. You lied to me, all this time?" Ucap Yena merasa tertipu.
"Yep, and sorry Yena we have to take you." Ucap William sembari mengkode tentara dibelakangnya untuk memborgol Yena dan membawanya.
Yena diborgol dan dikeluarkan secara paksa dari mobilnya. Yena berdiri di depan William dengan raut wajah penuh kebencian.
"Does Sia know this?" Tanyanya sembari diamankan seorang tentara.
"No." Jawabnya santai sembari menyarungkan kembali pistol ke balik pinggangnya.
"Hmm.. kau benar-benar sesuatu, William." Ucapnya sambil dibawa keluar mansion dan digiring oleh beberapa pasukan.
William menatap kepergian Yena dari kejauhan. Dia lega karena Yena tak terluka dan terbunuh. Tak lama Cecil mendatanginya bersama dua tentara pasukan khusus bersamanya.
"William. Aku sudah mendapatkan semua surat-surat berharga dan aset milik Roberto. Aku tahu kau membutuhkannya untuk mendapatkan kepercayaan Rio. Pergilah. Aku yang akan bereskan kekacauan disini." Ucap Cecil sembari menyerahkan sebuah koper hitam padanya.
"Thank you, Cecil." Ucapnya sembari menerima koper itu.
William segera meninggalkan mansion Roberto. Ia melihat para pasukan khusus berhasil mengalahkan para bodyguard Roberto meskipun mansion terlihat kacau balau. William menuju ke mobilnya dan segera melaju ke bandara. Ia terbang hari itu juga kembali ke Amerika.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 235 Episodes
Comments
Mmbubunaiza
in knp GK d bikin film SH,, 🥺🥺
2021-11-21
0
Novita Sitanggang
ntah knpa ya le aku lebih tertarik sma antonio amanda dan para rekanny
2021-10-05
0
Angel Poetry
wow....authprnya mukanya lembut tapi aku heran cerita novelnya tentang mafia. suka nonton film action yah thor. soalnya pendalaman cerita ini syarat mafia yg menyeramkan
2021-05-24
0