"Arthur, kudengar kamu sedang dekat dengan seorang perempuan?"
Arthur yang sedang menikmati makan malam bersama orang tuanya di meja makan langsung terkejut mendengar pertanyaan ayahnya itu, dan tangannya terpaku di udara dengan sendok di tangan.
"Arthur sedang dekat dengan perempuan??" ibunya bertanya setengah histeris. Pertanyaan suaminya itu mengundang sercercah harapan. Akhirnya, penantiannya selama ini untuk memiliki menantu akan terwujud segera.
"Iya, istriku. Putra kita sedang dekat dengan Elona Locke, putrinya Edward. Temanku yang sering kuceritakan dulu padamu itu." jelas Ron pada Nania, istrinya.
"Berarti dia dari keluarga baik-baik, kan?" tanya Nania. Ron Eckart pun mengangguk.
"Ternyata, Arthur yang setiap hari pergi entah kemana itu, adalah untuk menemui Elona Locke."
"Ya ampun! Ternyata putraku romantis sekali! Ibu tidak menyangka kamu bisa begitu, nak!" ucap ibunya terharu. Namun Arthur mendecakkan lidah.
"Tsk! Apa sih kalian itu?! Aku dan Elona hanya berteman! Karena dia pernah menolongku, maka sekarang giliranku menolongnya, itu saja!"
"Tidak apa, Nak! Karena dari teman bisa jadi... hehehe..."
Arthur memandang geli ibunya yang sepertinya ingin sekali menimang cucu cepat-cepat. Lagipula, sama sekali tidak terpikir bagi Arthur untuk melihat Elona lebih dari seorang teman.
Aku dan Elona?
Arthur jadi memikirkannya. Tak pernah terbersit dalam hatinya untuk bisa berstatus lebih dari teman dengan gadis itu. Arthur senang berteman dengan Elona karena baru kali ini ia bertemu dengan gadis berwawasan luas yang pembicaraannya tidak melulu soal pakaian dan perhiasan.
Baru pertama kali, Arthur bertemu dengan seseorang yang memikirkan nasib orang banyak dan berusaha untuk mengubahnya. Baru pertama kali pula, Arthur ikut senang ketika melihat seseorang tersenyum dan tertawa, dan ikut sedih ketika orang tersebut dirundung masalah.
Dan dari semua pemikiran tersebut, ada rasa hangat mengalir dalam dadanya. Rasa hangat yang membuatnya melamun memikirkan seseorang dan tersenyum sendiri di depan meja makan.
"Hei, kenapa kamu jadi senyum-senyum sendiri begitu?"
"Eh?!" Arthur langsung tersadar dari lamunannya. Cepat-cepat dia menyuap sesendok makanan di hadapannya. "Aku tidak senyum sendiri!"
Apa ini? Kenapa aku malah jadi kepikiran tentang Elona?
"Yah tapi sayangnya, istriku, Elona Locke ini sudah punya tunangan."
Prang!
Sebuah sendok terjatuh tak sengaja dari tangan Arthur. Pemuda itu menoleh cepat ke arah ayahnya.
"Elona... sudah bertunangan?"
"Sudah kuduga kamu belum tahu hal itu."
*****
Sudah selama seminggu terakhir, kediaman Locke di Kota Armelin disibukkan dengan kegiatan baru. Elona pagi-pagi sekali sudah bersiap dan berkemas-kemas.
Gadis itu memakai tunik dan rok kain panjang sampai di bawah lutut, serta sepatu boot pendek yang terbuat dari kulit. Tetapi sebelum memakai sepatunya itu, Elona menarik papan timbangan yang dari balik meja rias.
Sudah seminggu sejak ia sibuk menggarap lahan di Armelin, Elona tidak pernah lagi mengukur berat badannya. Dengan semua kalori yang terbakar saat memaculi tanah, seharusnya berat badannya berkurang drastis sekarang.
Terakhir itu 67,5... lalu sekarang...
Jarum papan timbangan bergerak cepat saat Elona berdiri di atasnya. Setelah ebebrapa detik, jarumnya berhenti pada satu angka.
63 kilogram.
Yesss!!
63 kilogram. Itu berarti tubuh Elona telah berhasil masuk kategori berat badan normal menurut pengukuran indeks massa tubuh. Meskipun masih berada di ambang batas bawah dari kategori normal tersebut, tapi tak apa. Setidaknya ada kemajuan.
Elona mencubit lemak yang tersisa di perutnya. Tidak sia-sia dia memaculi tanah dalam panas terik menyengat di siang hari. Khusus selama Elona bertani, dia menerapkan menu makanan porsi yang biasa bukan porsi diet, karena kalori yang terbakar saat membajak lahan pun juga banyak sekali.
Sampai 55 kg. Tidak usah sampai seperti boneka Barbie... tinggal 8 kg lagi saja...
*****
Elona tiba di lahan bekas galian tambang yang sedang digarapnya bersama dengan para warga. Masih tersisa satu setengah hektar lagi yang belum dibajak dan dikapuri. Tujuh hari telah berlalu, dan masih ada satu hektar lebih yang belum dikerjakan. Perkiraan Elona meleset.
Gadis itu mengira setengah hektar bisa dikerjakan dalam sehari, dengan waktu pengerjaan 10 jam. Jadi seharusnya dalam waktu 8 hari, 15 hektar berhasil digarap dengan sempurna.
Namun Elona salah, karena ada saja kendala yang menimpa di tengah-tengah pekerjaan, seperti terkadang pekerja menemukan tanah keras yang harus dikerjakan dengan tenaga lebih, atau hujan yang datang terus menerus seharian hingga pekerjaan terpaksa ditunda sampai hujan berhenti.
Hari ini, seluruh pekerja hanya bisa berdoa agar tidak ada kendala apapun lagi yang datang pada mereka.
Sejenak Elona memberikan instruksi sebelum pekerjaan kembali dimulai. Gadis itu pun juga membantu dengan pacul di tangannya. Tangannya yang halus sampai luka lecet-lecet karena sudah bekerja keras selama seminggu ini. Telapak tangannya sampai membentuk kapalan karena mendapat tekanan dari pacul yang ia gunakan.
Tetapi gadis itu terus memacul dan tidak memedulikan kondisinya sendiri. Hingga waktu makan siang tiba, ia juga tidak kunjung beristirahat untuk makan siang seperti yang lainnya. Pikirannya hanya terfokus pada sisa hektar lahan yang belum tergarap dan harus dikerjakan secepatnya.
"Hei, ayo istirahat dulu." kata Art menghampiri Elona yang masih saja bekerja. Pemuda itu membawakan sebotol minuman pada Elona.
Elona mengambil botol minuman itu dari tangan Art, "Terimakasih."
"Ayo, makan dulu, kamu pasti sudah kelaparan."
"Tidak bisa, Art. Kalau ini tidak dikerjakan segera selagi hari cerah, aku takut hujan deras keburu turun lagi seperti kemarin. Nanti pekerjaan kita tertunda lagi."
"Kamu sudah kelelahan itu! Ayo istirahat dulu!" Art berusaha merebut pacul yang ada di tangan Elona, namun gadis itu menepisnya.
"Tidak mau!"
"Ayo! Kalau kamu pingsan di sini, kami semua yang akan khawatir!"
"Tidak!"
Perebutan pacul itu terjadi di antara tangan Art dan Elona. Namun tangan ketiga tiba-tiba muncul ikut memegang pacul tersebut. Tangan yang jauh lebih berotot dan berbulu daripada tangan mereka berdua.
"Biar saya dan yang lain yang meneruskan. Nona Elona istirahat saja." sebuah suara berat terdengar. Elona menolehkan kepalanya.
"Paman Stan!!"
Elona terkejut ketika pria tua tegap berotot yang menolaknya sewaktu di balai kota kemarin sekarang ada di hadapannya dan menawarkan bantuan. Dan pria tua itu tidak datang sendirian. Dia membawa sekitar 60 orang lagi untuk datang membantu.
"Paman bukannya..."
"Sifat keras kepalamu barusan, aku jadi teringat dengan putriku di rumah." ucap Stan seraya melanjutkan pekerjaan Elona.
"Aku juga jadi teringat dengan ayahmu. Kalau dia sudah menginginkan sesuatu, pasti harus dikerjakan. Orang yang sangat gigih sekali. Aku tidak mungkin membiarkan putrinya bekerja kasar seperti ini. Dewa pasti akan memarahiku."
Stan lalu menoleh ke arah sekitar 60 orang tambahan yang baru saja datang, dan berteriak, "Hey kalian! Ayo bantu yang sebelah sana!"
Orang-orang tersebut langsung menerima perintah dan mengambil cangkul dan garu yang tersedia. Lalu mengerjakan lahan yang tersisa. Beberapa di antara mereka bahkan membawa sapi untuk membantu membajak.
"Oh iya, kenapa aku bisa lupa kalau membajak tanah bisa pakai sapi!" Elona menepuk dahinya berkali-kali.
"Sudahlah, ayo!" Art memegang lengan Elona dan membawanya ke tepian lahan, tempat para pekerja yang lain beristirahat. Ada yang mengobrol sambil makan dan minum, ada yang sekedar berbaring menikmati angin yang berhembus.
Art meminta Elona untuk ikut duduk di sana dan pemuda itu membawakan sandwich yang telah disiapkan oleh para pelayan.
"Terimakasih," ucap Elona seraya menerima sandwich tersebut. Lalu Elona menggigitnya.
"Sama-sama." sahut Art. "Lagipula kalau kamu nanti sakit, nanti kan ada yang marah?"
"Marah? Siapa? Kakakku? Ryndall sudah berjanji untuk tidak mengatakan apapun yang kukerjakan secara mendetail di sini." ucap Elona.
"Bukan kakakmu. Ada orang lain kan, yang akan marah kalau kamu sakit?" tanya Art. Tapi daripada bertanya, nadanya terdengar lebih seperti memancing.
Namun sayangnya, Elona itu tidak peka untuk menangkap maksud pertanyaannya.
"Kak Iris?"
"Bukan!"
"Siapa sih, yang kamu maksud?"
"Tunanganmu Vandyke! Siapa lagi memangnya?!" Art sampai mendengus kesal. Ia tak menyangka bahwa gadis di hadapannya itu benar-benar orang yang tidak peka sama sekali.
"Louis? Kenapa dia harus marah?" Elona malah bertanya balik.
"Lelaki mana yang mau kekasihnya sakit? Kalau aku jadi dia, jelas aku tidak mau!" Art jadi setengah berteriak.
Elona malah mengernyitkan dahi. "Kekasih? Apa beritanya belum sampai sini?"
"Berita apa?"
"Aku sudah mengakhiri pertunanganku dengannya."
"Apa?!!"
"Kupikir seantero kerajaan sudah tahu hal itu?" Elona malah bertanya bingung.
Bangsawan bukannya statusnya seperti pejabat di Indonesia? Kalau anak pejabat putus dengan pacarnya, bukankah beritanya akan langsung viral di sosmed dan...
O**h iya, ya ampun, aku lupa. Di sini mana ada sosmed?! Yang tahu putusnya pertunangan itu kan hanya keluargaku dan keluarga Vandyke. Kalaupun tersebar rumornya, paling-paling hanya di sekitar ibukota saja. Aku benar-benar lupa!
"Maaf, aku lupa di sini tidak ada google."
"Hah? Goo... apa?"
"Bukan apa-apa. Intinya, aku sudah putus dengan Louis jauh sebelum aku datang ke Armelin." kata Elona singkat sembari menyuap sandwichnya lagi.
Entah kenapa yang Arthur sendiri tidak tahu penyebabnya, senyum merekah di bibirnya saat mendengar pernyataan tersebut. "Benarkah? Syukurlah."
"Ha? Syukurlah? Kenapa?"
Refleks Arthur menutup mulutnya dengan satu tangan. "Tidak! Sana cepat habiskan makanmu!"
"Hmm..." Elona yang tidak mengerti hanya melanjutkan makan siangnya.
Ternyata banyak yang belum tahu berita putusnya pertunanganku, ya...
Tidak bisa dibiarkan. Aku takut nanti efeknya sama saja di akhir cerita, kalau aku akan digantung mati bila terus memiliki hubungan dengan Louis.
"Kak Ryndall," Elona menghampiri sekretaris kakaknya itu setelah menghabiskan makan siangnya.
Pemuda itu pun beranjak dari duduknya, "Ya, Nona?"
"Tolong hubungi Kak Stefan dan surat kabar di ibukota."
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
eva
hahahaha
2022-01-29
3
Nur Amalia Natasha
lebih suka elona dgn louis, stefan kacau ja, jdi abg elona ja sudah lar🤪
2022-01-27
2
mochi
sebarkan elena biar pada tau😆
2022-01-24
2