"Maafkan aku! Bukannya aku bermaksud mempermainkan Paman. Tapi, Louis..." Elona menatap Louis. Lelaki itu terlihat masih tidak percaya kalau Elona benar-benar datang ke rumahnya dan mengakhiri pertunangannya.
"Louis, dia..." ucapan Elona terhenti. Apa yang harus dia katakan? Bahwa Louis sudah mencintai orang lain dan bukan dirinya? Tapi, itu kan haknya Louis. Dia berhak mencintai siapapun.
"Katakan saja, nak. Paman tidak akan marah padamu." kata Raul.
"Ternyata selama ini aku salah, Paman. Aku memaksakan keinginanku dalam pertunangan ini. Louis... dia tidak pernah mencintaiku..."
Elona akhirnya menyelesaikan kalimatnya. Gadis itu berpikir kalau dia menyalahkan Louis karena menyukai Kiara, Elona takut kalau Raul akan membelanya dan tetap meneruskan pertunangan ini.
Tetapi, Stefan merasa tidak puas.
"Kenapa kamu yang harus minta maaf, padahal dia yang salah?" Stefan bertanya jengkel sembari menunjuk ke arah Louis.
Lalu sedetik kemudian, dia membeberkan semuanya, termasuk yang terjadi di sekolah. Stefan tidak peduli lagi dengan peringatan Elona.
Raul mencerna apa yang baru saja diucapkan oleh Elona dan Stefan. Dia menoleh ke arah putranya. "Apa benar, Louis?"
"Uh... aku..."
"Jawab yang benar! Apa kamu tidak pernah menginginkan pertunangan ini?!"
Raul terlihat emosi. Rasa malu terhadap kedua anak sahabatnya itu menyeruak dari dalam tubuhnya. Apalagi saat Louis ternyata menganggukkan kepalanya.
"Kenapa kamu hanya diam saja!! Apa kamu sengaja, supaya aku malu di hadapan putra putri mendiang sahabatku?!!" Raul menggebrak meja di hadapan Louis.
Ujung bibir Stefan terangkat dan menampilkan senyum. Dia terlihat puas sekali melihat Louis diteriaki seperti itu oleh ayahnya sendiri.
"Tapi, aku..."
"Minta maaf pada Elona sekarang!!"
Teriakan Raul membuat Elona sangat terkejut. "Paman, sudahlah, aku tidak apa-apa. Lagipula..."
"Apa? Ada lagi kesalahan yang putraku lakukan padamu?"
"Sebenarnya, yang salah itu Paman." Elona menatap lekat pada Raul.
"Aku?"
Raul mengernyitkan dahinya. Stefan pun ikut menoleh ke arah Elona.
"Paman tidak pernah berusaha mendengarkan apa yang Louis inginkan."
"....."
Raul terdiam seribu bahasa. Selama ini, dia merasa bahwa semua keputusan yang diambilnya adalah yang terbaik bagi keluarganya. Menuritnya, Elona adalah gadis yang baik dan berasal dari keluarga baik-baik pula. Terlebih lagi, gadis itu menyukai putranya dengan tulus. Lalu apa lagi? Apa selama ini dia salah?
"Aku juga salah, Paman..." Elona melanjutkan. "Dulu aku yang merengek supaya ditunangkan dengan Louis. Tapi, dia bisa saja menolak, seandainya diberi kesempatan."
Raul terhenyak di kursinya. Matanya menatap Elona dan Louis bergantian.
"Baiklah," kata Raul. "Louis. Apa yang kamu inginkan? Sekarang aku akan dengarkan."
"Aku..." Louis menghela nafas. Lelaki itu menatap Elona. Sama sekali dia tidak menyangka bahwa Elona tidak menyalahkannya atas sikapnya selama ini.
"Aku mengikuti pertunangan ini hanya karena keinginan Ayah. Aku belum yakin dengan perasaanku. Aku tidak ingin menikah karena perjodohan."
Tiga kalimat yang terpendam selama ini akhirnya berhasil Louis ucapkan. Selama ini, ayahnya mendominasi semua percakapan dan keputusan yang Louis ambil. Hal itu semakin menjadi saat ibunya telah tiada.
Louis mengerti bahwa itu semua ayahnya lakukan karena ingin mempertahankan gelar marquess yang didapatkannya dari hasil kerja keras dan kepercayaan sahabatnya Edward Locke. Siapa yang tidak ingin menjaga statusnya di jajaran aristokrat negeri ini?
Louis melakukan semua yang ayahnya lakukan. Belajar, berlatih pedang, membuat jaringan sesama anak bangsawan, dan... bertunangan dengan Elona Locke.
Tetapi, Louis merasa lelah. Biasanya, ibunya menjadi tempat pelariannya untuk bersandar. Namun kini ibunya telah tiada. Kelelahan yang Louis rasakan hanya bisa dipendamnya selama ini, dan beberapa kali dilampiaskannya pada Elona, dengan cara marah-marah dan cuek terhadap gadis itu.
Sifat Elona Locke yang selalu riang dan bersemangat membuat Louis merasa risih. Padahal, Elona tidak punya orangtua, tapi kenapa dia bisa sebahagia itu? Keriangan Elona diartikan oleh Louis sebagai kemunafikan.
Elona yang selalu berusaha melakukan sesuatu untuknya, hanya dinilai sebagai cari perhatiannya saja. Louis merasa muak dengan segala tingkah Elona yang seperti tidak pernah menunjukkan kesedihan itu.
Lalu, di tengah-tengah segala kemuakan tersebut, Kiara masuk ke dalam hidupnya dengan kepribadian yang tenang, membuat Louis teringat akan ibunya yang anggun dan kalem. Maka tak heran, bila Louis lebih tertarik pada Kiara ketimbang Elona.
"Paman Raul, aku... tidak ingin bermusuhan dengan keluarga kalian. Aku harap Paman bisa mengerti keinginan Louis, dan keluarga kita tetap bisa berteman."
Raul tidak menyangka bahwa Elona bisa sebijaksana dan sangat pemaaf seperti ini. Cukup disesali bahwa gadis itu tidak bisa ia jadikan sebagai menantu.
"Baiklah, kalau itu keputusanmu."
Elona menatap Raul dan Louis. Dia berhasil mempertahankan raut wajah pemaaf, sementara hatinya tersenyum penuh kemenangan. Raul hanya tidak mengetahui kalau itu semua Elona lakukan supaya di kedepannya tidak terjadi masalah yang berkaitan dengan Louis maupun keluarga Vandyke.
Elona bisa saja membuat Louis dicaci maki oleh ayahnya, namun bila Elona berbuat seperti itu, hanya akan membuat Louis dendam padanya dan melenyapkan karakter Elona Locke.
Semua ini Elona lakukan supaya dia dapat bertahan hidup dan terbebas dari status peran antagonis yang berujung kematian.
Dengan begini keluarga Vandyke akan berhutang budi padaku. Sekutu baru~
Tidak, aku tidak licik! Salah Louis sendiri yang sering mencampakkan Elona! Ini hanya tindakan balas dendam, itu saja!
"Tetapi tetap saja, Louis, minta maaflah pada Elona."
Elona menghentikan khayalannya dan kembali fokus pada permasalahan. Raul memandangi Louis, yang akhirnya beranjak dari tempat duduknya dan membungkukkan kepalanya sedikit di hadapan Stefan dan Elona. "Maafkan atas semua kesalahanku..."
"Sudahlah. Kita berteman ya." Elona mengulurkan tangan, dan Louis menjabatnya sembari tersenyum, "Ya."
*****
"Kamu yakin dengan keputusanmu?"
Angin berhembus di taman mawar milik mendiang Nyonya Lilia Vandyke, ibu Louis, ketika putranya bertanya seperti itu pada Elona.
Saat ini, Louis sedang menemani Elona melihat-lihat taman mawar di kediamannya, sementara ayahnya dan Stefan membicarakan masalah politik di ruang tamu.
"Apa maksudmu?" Elona balik bertanya.
"Keputusanmu untuk mengakhiri pertunangan kita."
Elona menatap Louis dalam-dalam. Tubuhnya yang dulu sejajar dengannya, sekarang menjadi lebih tinggi dan gagah. Paras tampannya mengingatkan Elona, bahwa betapa dia dulu sangat mengejar-ngejar Louis hanya karena berpapasan dengannya, saat mendiang ayahnya mengajaknya mengunjungi kediaman Vandyke sewaktu dia masih kecil.
"Aku yakin. Lagipula, kamu juga tersiksa kan, kalau aku di dekatmu?" jawab Elona.
"Aku-"
"Louis," Elona menyela kata-kata Louis dan melakukan curtsy, yaitu gerakan menekuk lututnys sedikit dan membungkukkan kepala sebagai penghormatan.
"Aku minta maaf atas semua kelakuanku yang kekanak-kanakan. Aku selalu membuatmu susah dan tidak pernah bisa jadi tunangan yang bisa kamu banggakan.
Sekarang, kejarlah apa yang jadi keinginanmu. Aku sudah membebaskanmu dari diriku..."
Louis memandang Elona dengan tatapan seperti tidak terima atas permintaan maaf Elona yang baru saja.
"Kamu tidak tahu apa yang aku rasakan. Jadi, jangan sok tahu!"
Elona terkejut ketika Louis justru membalasnya dengan ketus, lalu masuk kembali ke dalam rumah dan meninggalkan Elona sendirian di taman mawar.
Elona menatap punggung Louis yang semakin lama semakin menjauh. Dahulu, bila Louis pergi meninggalkannya, Elona selalu berusaha mengejarnya dan menyamakan langkahnya di sisi Louis.
Namun, semua itu sekarang sudah berakhir. Louis pergi tanpa sedikitpun Elona berupaya untuk mengejarnya. Gadis itu hanya tersenyum tipis dan menyadari kenyataan bahwa mungkin saja ini terakhir kalinya ia melihat Louis untuk selamanya.
Selamat tinggal, cinta pertamaku...
*****
Dua minggu berlalu sejak pemutusan pertunangan di kediaman Vandyke. Stefan memutuskan untuk menghentikan sekolah Elona dan mendatangkan guru tutor ke rumah.
Selain memang adiknya sendiri yang meminta hal tersebut, Stefan juga merasa bahwa bila Elona kembali ke sekolah, maka adiknya itu akan menghadapi hal-hal yang bisa membuatnya semakin depresi. Jalan satu-satunya adalah dengan memberi Elona pendidikan di rumah saja.
Lagipula, daripada disebut sekolah, tempat itu selama ini lebih berfungsi sebagai tempat berkumpulnya para anak bangsawan untuk bersosialisasi dan membuat jaringan saja, ketimbang tempat untuk belajar.
Elona mengisi waktu luangnya dengan terus berolahraga demi menguruskan badan, di bawah pengawasan ketat Iris dan Sir William. Tetapi hasilnya terlihat, dalam dua bulan, Elona berhasil menurunkan lemaknya sebanyak 3 kilogram. Kini, papan timbangan menunjukkan angka 70 kg.
"Mai, jangan lupa pasang korsetku dengan benar dan tepat. Jangan sampai ada kulit gelambir tersisa saat aku jadi lebih kurus nantinya." pesan Elona pada Mai di suatu pagi sebelum berlatih stamina bersama prajurit.
"Baik, Nona!" sahut Mai antusias.
Elona merasakan kedamaian yang lama tidak didapatkannya. Tak ada lagi rasa deg-degan karena takut membuat Louis marah, tak ada lagi rasa panas hati bila melihat Louis dekat dengan Kiara. Selama Elona berada di rumah, pikiran dan tubuhnya selalu diusahakan untuk berada di jalur positif.
Namun ternyata kedamaian itu tidak berlangsung lama.
Suatu hari, Elona sedang melintasi ruang kerja Stefan ketika dia mendengar percakapan antara kakaknya dan sekretarisnya, Ryndall.
"Kamu yakin dengan hasil laporanmu?" tanya Stefan.
"Yakin, Tuan! Sudah tiga bulan ini kota Armelin mengalami penurunan pendapatan pajak yang signifikan."
Penurunan pendapatan pajak? Armelin?
Inikah peristiwa yang akan membuat keluarga Locke bangkrut itu?
*****
((Author: Halo reader gengs. Terimakasih yang udah betah baca sampai sekarang. Kalau suka jangan lupa like, komentar, dan favoritenya ya, biar author makin semangat. 🤗))
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
mochi
licik pun gpp kok say wkwkwk
toh dia dlu yg mulai kan
2024-06-09
0
mochi
laa si ayah ny pun ku tebak gk akan maksa kalau si lous ini dr awal nolak ckck
cuma itu tadi kek penakut gk ada nyali ny sama skli
2024-06-09
0
raytama
Ada typo disini..
2022-12-31
0