Hari ini baru saja dimulai di Kota Armelin, ketika seorang pria paruh baya dengan rambutnya yang telah beruban sedikit dekat telinga, sudah terlihat sangat sibuk di sebuah mansion di salah satu sudut kota. Kesibukannya bahkan sudah terlihat sejak matahari belum terbit satu jam yang lalu.
Pekerjaannya sebagai kepala pelayan di mansion tersebut mengharuskannya untuk mempersiapkan segalanya, mulai dari kebersihan, makanan, pakaian... semuanya. Karena hari ini adalah hari yang spesial baginya, dan juga bagi para pelayan lainnya yang sebgain besar sudah bekerja begitu lama di sana.
Hari ini adalah pertama kalinya, sejak sekian lama, majikannya akan datang dan tinggal di mansion tersebut dalam jangka waktu yang tidak dapat ditentukan.
Wilson Rio, begitulah nama yang tertera pada tag nama yang selalu pria tua itu sematkan dengan bangga di dadanya. Tag nama yang pertama kali dipakainya saat dia dipekerjakan oleh Edward Locke sebagai, bukan hanya sekedar kepala pelayan, melainkan juga sebagai tangan kanan majikannya tersebut.
Tag nama yang selalu ia sematkan dengan bangga, pernah juga dipakainya dalam kesedihan, saat dirinya harus menghadiri pemakaman majikan yang sangat dihormatinya.
Sejak hari itu, suasana mansion tempatnya bekerja berubah. Tidak ada lagi kunjungan tuannya untuk memeriksa keadaan kota. Tidak ada lagi kunjungan oleh keluarga tuannya di akhir pekan untuk berlibur. Hanya anak majikannya yang bernama Stefan, sesekali datang untuk pekerjaan kota, itupun terkadang hanya mengutus sekretarisnya saja untuk menggantikannya.
Tidak ada lagi keceriaan yang hadir di mansion tersebut setelah ditinggal tiada oleh yang punya. Pria tua itu pun semakin kehilangan semangat, tetapi untuk meninggalkan mansion tempatnya bekerja selama hampir 30 tahun itu cukup sulit. Terlalu banyak kenangan yang sangat berharga tertinggal di sana.
Namun hari ini akan ada satu perubahan besar lagi baginya dan juga bagi mansion tersebut. Salah satu anak majikannya akan tinggal di sana dalam waktu yang cukup lama. Akhirnya kehidupan kembali hadir ke dalam mansion Locke di Kota Armelin tersebut.
Dan itulah dia, suara tapak kaki kuda bersahut-sahutan mendekat di halaman utama. Wilson langsung membuka kedua daun pintu guna menyambut nona kecil yang dulu pernah diasuhnya setiap kali liburan akhir pekan.
*****
“Nona Elona…?”
Wilson berusaha untuk tetap memperlihatkan sikap sopan, meskipun ia sebenarnya ingin berteriak tak percaya bahwa gadis kecil yang dulu pernah diasuhnya, sekarang sudah jadi sebesar itu, terutama di bagian perutnya.
“Paman Wilson!” Elona berteriak seraya memeluk pria tua tersebut. Senyum dan tawa itu, langsung membuat Wilson yakin bahwa itu adalah Elona Locke, satu-satunya putri mendiang majikannya.
“Anda sudah jadi wanita dewasa, Nona!"
"Hahaha, aku masih putri kecil yang dulu! Hanya saja, aku kebanyakan lemak sekarang." Elona tertawa menunjukkan perutnya.
"Ya, Tuan Stefan sudah bercerita kalau anda sedang diet, benar?"
"Benar, Paman!"
"Baiklah kalau begitu. Nyonya Iris juga sudah menyampaikan jadwal olahraga dan menu diet anda, jadi anda tidak perlu khawatir lagi."
"Kak Iris benar-benar mengawasiku dengan ketat!" Elona hanya tertawa dan menggelengkan kepala.
"Ayo, akan saya antarkan ke kamar. Untuk Tuan Ryndall, kamar anda akan ditunjukkan oleh pelayan."
"Baik, Pak." sahut Ryndall. Lalu ia berjalan mengikuti pelayan yang akan menunjukkan ruangannya.
*****
“Sudah lama sekali kita tidak bertemu, sejak hari itu.” Wilson membuka percakapan saat Elona berjalan di sisinya diikuti oleh Mai di belakangnya, menyusuri koridor mansion. Elona mengerti, bahwa hari yang pria tua itu maksud adalah ketika ayah dan ibunya meninggal dunia.
“Iya… maafkan aku, Paman. Aku tidak pernah menyempatkan diri untuk menjengukmu di sini.”
“Sudahlah. Yang berlalu biarlah berlalu.” Wilson menepuk pundak Elona, “Sekarang, saya bisa melihat akan ada perubahan besar di rumah ini. Mungkin juga, kota ini."
"Semoga saja, Paman, selama kalian semua mendukungku."
Mereka bertiga akhirnya sampai ke salah satu ruangan yang ada di mansion tersebut. Sebuah kamar tidur yang besar, bahkan lebih besar dari kamar tidur lainnya.
“Paman, ini…?” samar-samar Elona mengingat bahwa sewaktu dulu dirinya sering bermain di kamar itu.
“Apa Nona ingat? Ini adalah kamar kedua orangtua Nona. Dahulu, kalau Nona ketakutan tidur sendiri, Nona sering kemari di malam hari untuk tidur bertiga bersama Tuan dan Nyonya, hahaha…”
Elona ikut tertawa mendengarnya. Gadis itu mengedarkan pandangan sekitar dan mendekati perabotan tua di sana. Semuanya masih tetap sama, di tempat yang sama. Bahkan tidak ada debu satupun menempel di permukaannya. Semua masih seperti sedia kala.
“Paman membersihkan semuanya?” tanya Elona tidak percaya. Wilson mengangguk
"Hanya ini yang bisa kulakukan untuk mengenang mendiang Tuan dan Nyonya." Wilson tersenyum.
“Paman… aku tidak tahu bagaimana cara keluarga kami agar bisa membalas budi. Paman menjaga barang-barang Ayah dan Ibu dengan sangat baik sekali.”
“Kalian sudah seperti keluargaku sendiri!” sahut pria tua itu.
“Ayah dan Ibumu orang yang sangat baik hati. Aku melakukan ini semua dengan harapan, suatu hari nanti Tuan Stefan dan Nona Elona dapat sering berlibur kemari dan menginap, seperti waktu kalian kecil dulu.”
“Iya, Paman. Sekarang aku sudah ada di sini. Aku janji akan berusaha membina kota ini menjadi lebih baik seperti yang dilakukan Ayah dulu!” Elona berkata dengan semangat.
"Pria tua ini akan berusaha membantu anda sebisanya. Saya berjanji!" sahut Wilson sembari memberikan gestur salam hormat pada nona kecilnya itu.
*****
Waktu berlalu begitu cepat. Elona merasa bahwa dia baru saja sampai di mansion keluarganya di Kota Armelin pagi tadi, dan tiba-tiba sore sudah tiba.
Setelah tadi Wilson dan Mai meninggalkannya di kamar sendirian, Elona menghabiskan waktunya untuk tidur. Gadis itu bahkan melewatkan waktu makan siangnya. Kelelahannya dalam perjalanan membuatnya tertidur pulas berjam-jam, dan bangun dengan punggung kesakitan.
Perjalanan sepuluh hari dengan kereta kuda ternyata tidak sesingkat di dalam cerita webtoon yang dia baca. Perjalanannya ternyata begitu melelahkan, mengingat jok kabinnya juga tidak seempuk jok mobil modern, meskipun sudah berlapis beludru.
Goncangan yang harus dilalui saat melewati jalan yang kasar dan terjal juga menjadi satu pengalaman buruk bagi Elona. Gadis itu sampai muntah-muntah di perjalanan karena mabuk kendaraan.
Elona hanya bisa beristirahat saat rombongan mencapai penginapan di setiap malamnya, yang mana ternyata juga ranjangnya tidak seempuk di rumahnya. Maka, bahagia sekali dirinya begitu bisa tidur di ranjang empuk milik orangtuanya di mansion ini.
Sebuah papan timbangan terlihat di samping lemari pakaian. Rupanya Wilson sudah mempersiapkan segalanya dengan sangat mendetail tanpa perlu diminta. Perlahan, Elona naik ke papan timbangan.
Sepuluh hari dalam perjalanan sampai muntah-muntah karena mabuk kendaraan, tidak mungkin kalau berat badannya masih sama seperti sewaktu belum pergi.
67,5 kilogram.
Turun sebanyak 2,5 kg dibandingkan dengan sebelumnya. Elona bersorak dalam hati. Tidak sia-sia perjuangannya bertahan dalam kereta kuda selama sepuluh hari.
Jendela yang terbuka dengan lebar membuat angin berhembus masuk ke dalam ruangan. Elona berjalan mendekati jendela tersebut. Pemandangan penuh rumput hijau yang luas terlihat dari sana.
Mansion keluarga Locke terletak di pinggir Kota Armelin. Di sebelah utara sekitar 500 meter ada sebuah danau kecil yang langsung berbatasan dengan hutan. Bahkan dari jendela itupun, Elona dapat melihat danau tersebut.
Saat masih kecil, Elona sering kali pergi ke danau tersebut. Airnya cukup jernih meski tidak ada yang merawatnya. Bersama dengan Stefan dan kedua orangtuanya, gadis itu sering berpiknik di kawasan pinggiran danau tersebut.
Hmm, jadi penasaran, apa danaunya masih seperti dulu, ya?
Sore itu, Elona memutuskan untuk jalan-jalan sore menuju danau tersebut. Setelah berganti tunik yang nyaman untuk berolahraga, Elona pun pergi berlari-lari kecil ke arah tujuannya.
"Nona yakin ingin sendirian saja?" Mai bertanya saat dirinya menawarkan diri untuk menemani. Namun, Elona menolaknya.
"Tidak apa-apa, aku sangat mengenal daerah ini."
"Tapi-"
"Tidak apa-apa, Mai. Lagipula, aku sedang ingin sendiri, mengenang masa lalu hehe..."
"Hmm baiklah," Mai mengalah.
"Nona, biarkan dua prajurit mengikutimu, ya. Dari jauh saja tidak masalah. Tuan Stefan sudah berpesan padaku untuk menjagamu selama di sini." kali ini Wilson yang berbicara. Dengan berat hati, Elona menyetujuinya.
*****
Elona berlari-lari kecil melintasi rerumputan hijau di belakang kediamannya. Jalan yang terbuat dari tanah dan bebatuan, pepohonan yang masih asri, mirip seperti di pedesaan sewaktu dia masih tinggal di bumi. Iklim Armelin yang ternyata tropis seperti di Indonesia, juga banyak mengingatkan Elona tentang kehidupannya yang dulu.
Ngomong-ngomong, apa ada yang menangisiku ya, saat aku pergi?
Warisan Ayah dan Ibu... jatuh ke tangan saudara yang mana ya?
Lalu... Ira dan Geri, apakah mereka masih menjalin hubungan sampai sekarang?
Aishh! Kenapa aku memikirkan yang sudah lewat sih!
Tenggelam dalam pikirannya membuat Elona tidak menyadari bahwa dia sudah dapat melihat danau kecil yang dituju. Tidak banyak yang berubah, hanya semak-semaknya lebih belukar ketimbang dulu. Mengitari danau ini sambil berlari bisa menjadi menu olahraga Elona yang baru, karena luasnya memang sama seperti lapangan lari di stadion bumi.
Elona mengedarkan pandangan ke sekitar, ketika matanya menangkap sesuatu yang tidak biasa di kejauhan.
Seorang lelaki dengan rambut berwarna emas, sedang meringis kesakitan dan mengeluarkan banyak darah di tepi danau.
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Tata Aprillia Tanjung
aku dulu sebelum diet 63 setelah diet jadi 67 kilogram karena aku,membuat tubuh ku berotot😉😉
2022-05-20
1
Balqis : IG Balqis 7850
aku mampir kak ... maaf baru komentar habis ceritanya seru. penulisannya keren ... jalan ceritanya juga bagus ... lope you sekebon
2022-02-28
2
mochi
uwahhhhh karakter baru nongol
2022-01-24
4