Bab 7. Aura

"Nona pokoknya harus terlihat cantik hari ini. Sangat cantik!"

Pagi-pagi sekali Mai telah memberi komando pada teman-temannya sesama pelayan untuk membersihkan tubuh Elona dan mendandaninya. Mai bersama tiga orang pelayan lainnya sudah berada di kamar Elona saat ini.

"Kenapa bersemangat sekali sih, Mai?" tanya Hilda, salah satu pelayan, tidak mengerti.

"Karena hari ini, Nona Elona akan pergi berperang!"

"Perang...??"

"Ya, kalian sudah tahu kan, kalau Nona sudah menderita karena Tuan Muda Louis? Hari ini, Nona akan pergi ke kediaman Vandyke untuk memutuskan hubungannya!" Mai memperjelas. Para pelayan lain mengangguk-angguk. Mereka ikut bersemangat.

"Kalau begitu, kita akan buat Nona Elona sangat cantik, sampai Tuan Louis pangling. Setuju?"

"Setuju!!"

Para pelayan begitu kompak menjalankan strategi untuk mempercantik Elona. Gadis itu sendiri hanya bisa melongo karena dia seperti melihat sekelompok pasukan dan jenderalnya akan pergi berperang.

"Ah, hey... kalian..."

Elona ingin membuat mereka sedikit lebih tenang, tapi sepertinya sia-sia. Para pelayan begitu sibuk mempersiapkan ini itu.

Tubuh Elona digosokkan dan disabuni secara benar-benar menyeluruh. Rambut Elona yang berwarna pink disisir dengan sangat halusnya. Korset gaun dipasangkan dengan cermat supaya gadis itu terlihat lebih ramping meski hanya dua kilogram. Bedak pun ditaburkan di wajahnya.

"Wah, kulit wajah Nona Elona sudah berubah, tidak lagi kusam dan berminyak." Hilda berkata.

"Benarkah?" tanya Elona tidak percaya. Lalu ia melihat ke arah cermin. Dirinya seperti sedang memandangi orang lain. Sangat cantik, meskipun lipatan di bawah dagu tidak dapat disembunyikan, tapi jelas ada yang berbeda dari sebelumnya.

Elona menduga bahwa ini ada kaitannya dengan air putih yang terus-terusan ia minum demi mengganjal perut bila lapar. Cairan dalam tubuhnya meningkat, sehingga dapat melembabkan dan memperbaiki sel-sel kulit mati di wajahnya yang sudah rusak. Kini, wajahnya terlihat lebih berseri.

Setidaknya, ada efek lain yang Elona rasakan dari minum air putih bergelas-gelas selain kembung.

****"

"Pagi, nona Elona!"

"Selamat pagi, nona!"

Dua orang prajurit menyapa Elona begitu dia tiba di halaman rumahnya, hendak menaiki kereta kuda. Mereka berdua memakai pakaian armor lengkap karena akan mengawal majikannya untuk pergi ke rumah keluarga Vandyke.

"Halo semuanya! Pagi!" Elona tersenyum dan menyapa.

"Bagaimana, nona? Apa ada hasilnya?" kedua prajurit itu langsung bertanya karena penasaran. Wajah Elona sumringah, karena dia tahu apa yang ditanyakan oleh kedua prajurit itu.

"Tentu! Beratku sudah turun 2 kilogram!" seru Elona girang. Mendengar hal itu, kedua prajurit langsung ikut tersenyum.

"Wah, hebat! Semangat terus ya, nona! Kami semua mendukungmu!" salah satu dari mereka bertepuk tangan.

"Buktikan pada si Vandyke itu kalau dia akan menyesal memperlakukan nona seperti itu!"

"Betul!!" mereka berseru seraya mengepalkan tangan di udara. Namun saat Stefan datang, kedua prajurit itu langsung ambil posisi hormat.

"Salam hormat, Tuan Stefan Locke!"

Stefan hanya mengangguk. Dia sudah selesai bersiap-siap untuk mengantarkan Elona. Stefan dan Elona memasuki kereta kuda dan duduk di sisi yang berlawanan.

"Sepertinya, kamu jadi akrab dengan para prajurit. Sejak kapan?" Stefan bertanya pada adiknya yang asyik melihat ke arah jalanan melalui jendela.

Kedua kuda pun mulai menapakkan kakinya perlahan-lahan, membawa kereta keluarga Locke melintasi jalanann yang tidak rata. Meskipun tempat duduk dalam kereta itu sudah dilapisi dengan beludru, tapi tetap tidak bisa mengalahkan jok mobil di dunia modern.

"Sejak semingguan lalu!" jawab Elona.

Stefan mengangkat alis, "Latihan stamina yang diceritakan Iris itu?"

"Iya!"

Yang Stefan tidak tahu adalah bahwa bukan hanya karena latihan itu Elona dan para prajurit menjadi dekat. Tetapi, Elona memang sengaja mendekatkan diri pada mereka.

*****

Sejak Elona setiap harinya berlatih dengan para prajurit, dia menjadi lebih mengenal mereka. Awalnya, para prajurit itu memang memandangnya dengan pesimis.

Elona bahkan mendengar kalau mereka mengadakan taruhan, bahwa dirinya tidak akan sanggup menjalani latihan stamina yang biasa para prajurit lakukan tiap pagi hari itu. Banyak yang bertaruh bahwa gadis itu akan menyerah hanya dalam waktu dua hari. Namun, Elona membuktikan bahwa dirinya dapat bertahan selama seminggu penuh.

Selama seminggu itu, secara sengaja Elona mendekatkan diri pada para prajurit. Mulai dari mengajak mereka mengobrol sampai membawakan minuman segar dari dapur saat mereka beristirahat.

Para prajurit pun yang tadinya memandang sebelah mata, menjadi yakin bahwa nona majikannya ini serius ingin menguruskan badan. Mereka pun membantu Elona untuk dapat mengurangi angka-angka kilogram di papan timbangan saat dirinya berpijak di atasnya.

Para prajurit itu hanya tidak tahu, bahwa Elona melakukan semua hal itu hanya dengan satu tujuan: mengumpulkan pasukan sekutu sebanyak-banyaknya.

Para prajurit itu memang bekerja untuk keluarga Locke, tapi mereka bekerja karena digaji. Itupun mereka mengabdi sepenuhnya pada Stefan yang berstatus majikan utama mereka. Terhadap Elona, mereka tidak menerima apapun dari gadis itu. Tidak mengenal dan hanya patuh padanya karena dia adalah adik Stefan.

Elona merasa hal itu harus diubah. Perlu diingat bahwa Elona Locke adalah tokoh antagonis dalam dunia webtoon ini. Bila terjadi sesuatu padanya, gadis itu perlu sekelompok orang-orang yang bersedia mendukung dan membelanya, dan hal tersebut bisa dimulai dari lingkungan rumahnya sendiri.

Apa aku ini licik ya, bersikap baik pada mereka karena mengharapkan pamrih?

Ah, ya sudahlah. Kalau tidak begini, hidup Elona Locke tidak akan bertahan lama.

"Sudah tiba di kediaman keluarga Vandyke!"

Sang pengemudi kereta kuda berseru memberitahukan, dan tak lama kaki-kaki para kuda yang menarik kereta mereka menurunkan kecepatan untuk memasuki gerbang.

Setibanya di halaman, seorang prajurit membukakan pintu dan Stefan pun melangksh keluar. Elona juga ingin segera keluar dari kabin kalau saja pantatnya tidak kesemutan selama duduk saat perjalanan tadi.

Stefan dan Elona sampai di kediaman Vandyke yang bangunannya tidak jauh berbeda bila dibandingkan dengan tempat tinggal mereka. Dari dalam, muncul seorang pria paruh baya dengan mengenakan setelan jas rapi menyambut mereka. Dia adalah ayah dari Louis Vandyke, yang bernama Raul.

"Selamat datang, Stefan dan Elona. Saya sungguh kaget karena pemberitahuan tiba-tiba tentang kedatangan kalian."

Raul Vandyke menyambut mereka berdua dengan hangat. Raul telah mengenal Stefan dan Elona sejak kecil, karena mendiang Edward Locke adalah sahabatnya. Saat itu dirinya masih memegang gelar Count. Berkat Edward Locke lah, Raul berada di posisinya yang sekarang ini.

"Paman Raul, kami kemari ingin membicarakan sesuatu yang penting. Putramu ada?" Stefan langsung menuju ke inti pembicaraan.

Raul terlihat kebingungan saat Stefan menanggapi sambutannya dengan sedikit ketus. Terlihat sekali kalau dirinya tidak tahu apa-apa tentang hal yang dilakukan Louis di sekolah.

"Dia ada. Kalian ingin bertemu dengannya?"

"Ya. Ini sangat penting. Sebaiknya kita bicara berempat."

"Baiklah... Sam, tolong panggilkan Louis ke ruang tamu. Katakan padanya kalau ada seseorang yang ingin menemuinya."

Sang butler keluarga Vandyke mengangguk dan langsung pergi menuju kamar Louis.

Elona menarik napas perlahan dan menghembuskannya. Ada dua hal yang harus dilakukannya di tempat ini: mengatakan pada Raul Vandyke kalau dia ingin memutuskan pertunangan dengan putranya, dan menjaga amarah kakaknya agar tidak keluar dari dalam tubuhnya. Karena kalau dilihat-lihat sekarang ini, Stefan rasanya seperti ingin makan orang saja.

Akhirnya, yang ditunggu-tunggu pun tiba. Dengan masih mengenakan seragam sekolahnya, Louis memasuki ruangan. Sontak dirinya terkejut ketika melihat Elona berada di sana, karena sudah seminggu sejak kejadian terakhir, Elona tidak masuk ke sekolah lagi.

*****

"Kamu..."

Louis menghentikan langkahnya. Lelaki itu merasa bahwa Elona yang ada di hadapannya saat ini bukanlah Elona yang kemarin dilabraknya di sekolah karena mengganggu Kiara. Tidak, bahkan Louis merasa kalau gadis ini bukanlah Elona yang selama ini dikenalnya.

Adanya aura positif terpancar dari tubuh Elona saat ini membuat Louis pangling. Bukan lagi Elona yang dulu selalu membuntutinya dengan wajah kusam dan seperti tidak punya masa depan.

Elona tersenyum kepadanya. Biasanya, kalau Louis melakukan sesuatu yang menjengkelkan, Elona pasti akan cemberut dan marah-marah. Tetapi kali ini, dia malah tersenyum. Yang kelihatan seperti akan mengeluarkan bola api dari dalam mulutnya justru adalah pria di sebelahnya, yang Louis ketahui adalah kakaknya Elona bernama Stefan.

"Duduk, nak." Raul meminta Louis untuk duduk di sebelahnya.

"Oke begini, Paman Raul." Stefan memulai percakapan dengan tidak sabar, sedetik setelah Louis duduk. "Ada yang ingin Elona sampaikan. Sebenarnya aku ingin aku saja yang melakukan. Tapi kalau aku yang mengatakan, ingin rasanya kubakar sekalian putramu ini hidup-hidup!"

"Kakak! Sudahlah!" Elona memotong perkataan Stefan. "Maafkan aku, Paman! Kakakku sedang emosian."

Louis bergidik ngeri melihat amarah Stefan. Raul hanya terkejut ketika anak dari mendiang sahabatnya Edward Locke sedang marah-marah di rumahnya.

"Ada apa ini sebenarnya?!" Raul mulai penasaran.

"Begini, paman..." Elona menarik nafas perlahan sebelum dia melanjutkan. "... aku ingin mengakhiri pertunanganku dengan Louis."

"...apa?!"

*****

Terpopuler

Comments

Agustina Kusuma Dewi

Agustina Kusuma Dewi

yes good girl
semiga elona dpt yg lain aja
biar jd kacang in louis

2023-10-21

0

Aisy Hilyah

Aisy Hilyah

lama lama kepincut juga di Louis

2022-05-05

0

EL CASANDRA

EL CASANDRA

jujur amat😶

2022-03-25

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Cerita Hati
2 Bab 2. Si Jahat yang Malang
3 Bab 3. Roti Sisa
4 Bab 4. Sesak
5 Bab 5. Keluarga
6 Bab 6. Diet
7 Bab 7. Aura
8 Bab 8. Selamat Tinggal
9 Bab 9. Kota Armelin
10 Bab 10. Wulan
11 Bab 11. Tidak Pernah Ada
12 Bab 12. Sang Kepala Pelayan
13 Bab 13. Karakter Figuran
14 Bab 14. Mengukur pH Tanah
15 Bab 15. Kepercayaan Diri
16 Bab 16. Penolakan
17 Bab 17. Para Prajurit Eckart
18 Bab 18. Ron dan Edward
19 Bab 19. Berita
20 Bab 20. Semburat Merah
21 Bab 21. Anak Mama yang Cantik
22 Bab 22. Surat
23 Bab 23. Kue Cokelat
24 Bab 24. Botol Minum
25 Bab 25. Segelas Susu (1)
26 Bab 26. Segelas Susu (2)
27 Bab 27. Intoleransi Laktosa
28 Bab 28. Permainan
29 Bab 29. Tes Pasar
30 Bab 30. Murah
31 Bab 31. Undangan
32 Bab 32. Penjaga Kuda
33 Bab 33. Wush!
34 Bab 34. Harga
35 Bab 35. Tiket Gratis
36 Bab 36. Kembang Api
37 Bab 37. Camilan
38 Bab 38. Sendirian
39 Bab 39. Locke Armelin
40 Bab 40. Calon Ipar
41 Bab 41. Tujuan Hidup
42 Bab 42. Biogas
43 Bab 43. Prediksi
44 Bab 44. Menjadi Seorang Kakak
45 Bab 45. Hanya Teman
46 Bab 46. Teman Seumur Hidup
47 Bab 47. Sedap Sore
48 Bab 48. Menata Hati
49 Bab 49. Kapang
50 Bab 50. Kata Hati
51 Bab 51. Kabut
52 Bab 52. Hangat dan Lembut
53 Bab 53. Tidak Peka
54 Bab 54. Mengenal Lebih Dekat
55 Bab 55. Tidak Peduli
56 Bab 56. Mimpi
57 Bab 57. Melayang
58 Bab 58. Syal Merah
59 Bab 59. Setengah Hati
60 Bab 60. Urusan Terakhir
61 Bab 61. Surat Wasiat
62 Bab 62. Hidup Untuknya
63 Bab 63. Puing Hitam
64 Bab 64. Teman!
65 Bab 65. Acara Penobatan
66 Bab 66. Rambut Emas
67 Bab 67. Kecewa
68 Bab 68. Qitara
69 Bab 69. Dunia Lain
70 Bab 70. Skenario Cerita
71 Bab 71. Kenangan Terakhir
72 Bab 72. Cameo
73 Epilog. Pernikahan
74 Kata Ryby
75 Extra Part - Kehidupan Elona asli setelahnya.
76 Promo Kedai Rawon di Isekai
Episodes

Updated 76 Episodes

1
Bab 1. Cerita Hati
2
Bab 2. Si Jahat yang Malang
3
Bab 3. Roti Sisa
4
Bab 4. Sesak
5
Bab 5. Keluarga
6
Bab 6. Diet
7
Bab 7. Aura
8
Bab 8. Selamat Tinggal
9
Bab 9. Kota Armelin
10
Bab 10. Wulan
11
Bab 11. Tidak Pernah Ada
12
Bab 12. Sang Kepala Pelayan
13
Bab 13. Karakter Figuran
14
Bab 14. Mengukur pH Tanah
15
Bab 15. Kepercayaan Diri
16
Bab 16. Penolakan
17
Bab 17. Para Prajurit Eckart
18
Bab 18. Ron dan Edward
19
Bab 19. Berita
20
Bab 20. Semburat Merah
21
Bab 21. Anak Mama yang Cantik
22
Bab 22. Surat
23
Bab 23. Kue Cokelat
24
Bab 24. Botol Minum
25
Bab 25. Segelas Susu (1)
26
Bab 26. Segelas Susu (2)
27
Bab 27. Intoleransi Laktosa
28
Bab 28. Permainan
29
Bab 29. Tes Pasar
30
Bab 30. Murah
31
Bab 31. Undangan
32
Bab 32. Penjaga Kuda
33
Bab 33. Wush!
34
Bab 34. Harga
35
Bab 35. Tiket Gratis
36
Bab 36. Kembang Api
37
Bab 37. Camilan
38
Bab 38. Sendirian
39
Bab 39. Locke Armelin
40
Bab 40. Calon Ipar
41
Bab 41. Tujuan Hidup
42
Bab 42. Biogas
43
Bab 43. Prediksi
44
Bab 44. Menjadi Seorang Kakak
45
Bab 45. Hanya Teman
46
Bab 46. Teman Seumur Hidup
47
Bab 47. Sedap Sore
48
Bab 48. Menata Hati
49
Bab 49. Kapang
50
Bab 50. Kata Hati
51
Bab 51. Kabut
52
Bab 52. Hangat dan Lembut
53
Bab 53. Tidak Peka
54
Bab 54. Mengenal Lebih Dekat
55
Bab 55. Tidak Peduli
56
Bab 56. Mimpi
57
Bab 57. Melayang
58
Bab 58. Syal Merah
59
Bab 59. Setengah Hati
60
Bab 60. Urusan Terakhir
61
Bab 61. Surat Wasiat
62
Bab 62. Hidup Untuknya
63
Bab 63. Puing Hitam
64
Bab 64. Teman!
65
Bab 65. Acara Penobatan
66
Bab 66. Rambut Emas
67
Bab 67. Kecewa
68
Bab 68. Qitara
69
Bab 69. Dunia Lain
70
Bab 70. Skenario Cerita
71
Bab 71. Kenangan Terakhir
72
Bab 72. Cameo
73
Epilog. Pernikahan
74
Kata Ryby
75
Extra Part - Kehidupan Elona asli setelahnya.
76
Promo Kedai Rawon di Isekai

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!