"Nona pokoknya harus terlihat cantik hari ini. Sangat cantik!"
Pagi-pagi sekali Mai telah memberi komando pada teman-temannya sesama pelayan untuk membersihkan tubuh Elona dan mendandaninya. Mai bersama tiga orang pelayan lainnya sudah berada di kamar Elona saat ini.
"Kenapa bersemangat sekali sih, Mai?" tanya Hilda, salah satu pelayan, tidak mengerti.
"Karena hari ini, Nona Elona akan pergi berperang!"
"Perang...??"
"Ya, kalian sudah tahu kan, kalau Nona sudah menderita karena Tuan Muda Louis? Hari ini, Nona akan pergi ke kediaman Vandyke untuk memutuskan hubungannya!" Mai memperjelas. Para pelayan lain mengangguk-angguk. Mereka ikut bersemangat.
"Kalau begitu, kita akan buat Nona Elona sangat cantik, sampai Tuan Louis pangling. Setuju?"
"Setuju!!"
Para pelayan begitu kompak menjalankan strategi untuk mempercantik Elona. Gadis itu sendiri hanya bisa melongo karena dia seperti melihat sekelompok pasukan dan jenderalnya akan pergi berperang.
"Ah, hey... kalian..."
Elona ingin membuat mereka sedikit lebih tenang, tapi sepertinya sia-sia. Para pelayan begitu sibuk mempersiapkan ini itu.
Tubuh Elona digosokkan dan disabuni secara benar-benar menyeluruh. Rambut Elona yang berwarna pink disisir dengan sangat halusnya. Korset gaun dipasangkan dengan cermat supaya gadis itu terlihat lebih ramping meski hanya dua kilogram. Bedak pun ditaburkan di wajahnya.
"Wah, kulit wajah Nona Elona sudah berubah, tidak lagi kusam dan berminyak." Hilda berkata.
"Benarkah?" tanya Elona tidak percaya. Lalu ia melihat ke arah cermin. Dirinya seperti sedang memandangi orang lain. Sangat cantik, meskipun lipatan di bawah dagu tidak dapat disembunyikan, tapi jelas ada yang berbeda dari sebelumnya.
Elona menduga bahwa ini ada kaitannya dengan air putih yang terus-terusan ia minum demi mengganjal perut bila lapar. Cairan dalam tubuhnya meningkat, sehingga dapat melembabkan dan memperbaiki sel-sel kulit mati di wajahnya yang sudah rusak. Kini, wajahnya terlihat lebih berseri.
Setidaknya, ada efek lain yang Elona rasakan dari minum air putih bergelas-gelas selain kembung.
****"
"Pagi, nona Elona!"
"Selamat pagi, nona!"
Dua orang prajurit menyapa Elona begitu dia tiba di halaman rumahnya, hendak menaiki kereta kuda. Mereka berdua memakai pakaian armor lengkap karena akan mengawal majikannya untuk pergi ke rumah keluarga Vandyke.
"Halo semuanya! Pagi!" Elona tersenyum dan menyapa.
"Bagaimana, nona? Apa ada hasilnya?" kedua prajurit itu langsung bertanya karena penasaran. Wajah Elona sumringah, karena dia tahu apa yang ditanyakan oleh kedua prajurit itu.
"Tentu! Beratku sudah turun 2 kilogram!" seru Elona girang. Mendengar hal itu, kedua prajurit langsung ikut tersenyum.
"Wah, hebat! Semangat terus ya, nona! Kami semua mendukungmu!" salah satu dari mereka bertepuk tangan.
"Buktikan pada si Vandyke itu kalau dia akan menyesal memperlakukan nona seperti itu!"
"Betul!!" mereka berseru seraya mengepalkan tangan di udara. Namun saat Stefan datang, kedua prajurit itu langsung ambil posisi hormat.
"Salam hormat, Tuan Stefan Locke!"
Stefan hanya mengangguk. Dia sudah selesai bersiap-siap untuk mengantarkan Elona. Stefan dan Elona memasuki kereta kuda dan duduk di sisi yang berlawanan.
"Sepertinya, kamu jadi akrab dengan para prajurit. Sejak kapan?" Stefan bertanya pada adiknya yang asyik melihat ke arah jalanan melalui jendela.
Kedua kuda pun mulai menapakkan kakinya perlahan-lahan, membawa kereta keluarga Locke melintasi jalanann yang tidak rata. Meskipun tempat duduk dalam kereta itu sudah dilapisi dengan beludru, tapi tetap tidak bisa mengalahkan jok mobil di dunia modern.
"Sejak semingguan lalu!" jawab Elona.
Stefan mengangkat alis, "Latihan stamina yang diceritakan Iris itu?"
"Iya!"
Yang Stefan tidak tahu adalah bahwa bukan hanya karena latihan itu Elona dan para prajurit menjadi dekat. Tetapi, Elona memang sengaja mendekatkan diri pada mereka.
*****
Sejak Elona setiap harinya berlatih dengan para prajurit, dia menjadi lebih mengenal mereka. Awalnya, para prajurit itu memang memandangnya dengan pesimis.
Elona bahkan mendengar kalau mereka mengadakan taruhan, bahwa dirinya tidak akan sanggup menjalani latihan stamina yang biasa para prajurit lakukan tiap pagi hari itu. Banyak yang bertaruh bahwa gadis itu akan menyerah hanya dalam waktu dua hari. Namun, Elona membuktikan bahwa dirinya dapat bertahan selama seminggu penuh.
Selama seminggu itu, secara sengaja Elona mendekatkan diri pada para prajurit. Mulai dari mengajak mereka mengobrol sampai membawakan minuman segar dari dapur saat mereka beristirahat.
Para prajurit pun yang tadinya memandang sebelah mata, menjadi yakin bahwa nona majikannya ini serius ingin menguruskan badan. Mereka pun membantu Elona untuk dapat mengurangi angka-angka kilogram di papan timbangan saat dirinya berpijak di atasnya.
Para prajurit itu hanya tidak tahu, bahwa Elona melakukan semua hal itu hanya dengan satu tujuan: mengumpulkan pasukan sekutu sebanyak-banyaknya.
Para prajurit itu memang bekerja untuk keluarga Locke, tapi mereka bekerja karena digaji. Itupun mereka mengabdi sepenuhnya pada Stefan yang berstatus majikan utama mereka. Terhadap Elona, mereka tidak menerima apapun dari gadis itu. Tidak mengenal dan hanya patuh padanya karena dia adalah adik Stefan.
Elona merasa hal itu harus diubah. Perlu diingat bahwa Elona Locke adalah tokoh antagonis dalam dunia webtoon ini. Bila terjadi sesuatu padanya, gadis itu perlu sekelompok orang-orang yang bersedia mendukung dan membelanya, dan hal tersebut bisa dimulai dari lingkungan rumahnya sendiri.
Apa aku ini licik ya, bersikap baik pada mereka karena mengharapkan pamrih?
Ah, ya sudahlah. Kalau tidak begini, hidup Elona Locke tidak akan bertahan lama.
"Sudah tiba di kediaman keluarga Vandyke!"
Sang pengemudi kereta kuda berseru memberitahukan, dan tak lama kaki-kaki para kuda yang menarik kereta mereka menurunkan kecepatan untuk memasuki gerbang.
Setibanya di halaman, seorang prajurit membukakan pintu dan Stefan pun melangksh keluar. Elona juga ingin segera keluar dari kabin kalau saja pantatnya tidak kesemutan selama duduk saat perjalanan tadi.
Stefan dan Elona sampai di kediaman Vandyke yang bangunannya tidak jauh berbeda bila dibandingkan dengan tempat tinggal mereka. Dari dalam, muncul seorang pria paruh baya dengan mengenakan setelan jas rapi menyambut mereka. Dia adalah ayah dari Louis Vandyke, yang bernama Raul.
"Selamat datang, Stefan dan Elona. Saya sungguh kaget karena pemberitahuan tiba-tiba tentang kedatangan kalian."
Raul Vandyke menyambut mereka berdua dengan hangat. Raul telah mengenal Stefan dan Elona sejak kecil, karena mendiang Edward Locke adalah sahabatnya. Saat itu dirinya masih memegang gelar Count. Berkat Edward Locke lah, Raul berada di posisinya yang sekarang ini.
"Paman Raul, kami kemari ingin membicarakan sesuatu yang penting. Putramu ada?" Stefan langsung menuju ke inti pembicaraan.
Raul terlihat kebingungan saat Stefan menanggapi sambutannya dengan sedikit ketus. Terlihat sekali kalau dirinya tidak tahu apa-apa tentang hal yang dilakukan Louis di sekolah.
"Dia ada. Kalian ingin bertemu dengannya?"
"Ya. Ini sangat penting. Sebaiknya kita bicara berempat."
"Baiklah... Sam, tolong panggilkan Louis ke ruang tamu. Katakan padanya kalau ada seseorang yang ingin menemuinya."
Sang butler keluarga Vandyke mengangguk dan langsung pergi menuju kamar Louis.
Elona menarik napas perlahan dan menghembuskannya. Ada dua hal yang harus dilakukannya di tempat ini: mengatakan pada Raul Vandyke kalau dia ingin memutuskan pertunangan dengan putranya, dan menjaga amarah kakaknya agar tidak keluar dari dalam tubuhnya. Karena kalau dilihat-lihat sekarang ini, Stefan rasanya seperti ingin makan orang saja.
Akhirnya, yang ditunggu-tunggu pun tiba. Dengan masih mengenakan seragam sekolahnya, Louis memasuki ruangan. Sontak dirinya terkejut ketika melihat Elona berada di sana, karena sudah seminggu sejak kejadian terakhir, Elona tidak masuk ke sekolah lagi.
*****
"Kamu..."
Louis menghentikan langkahnya. Lelaki itu merasa bahwa Elona yang ada di hadapannya saat ini bukanlah Elona yang kemarin dilabraknya di sekolah karena mengganggu Kiara. Tidak, bahkan Louis merasa kalau gadis ini bukanlah Elona yang selama ini dikenalnya.
Adanya aura positif terpancar dari tubuh Elona saat ini membuat Louis pangling. Bukan lagi Elona yang dulu selalu membuntutinya dengan wajah kusam dan seperti tidak punya masa depan.
Elona tersenyum kepadanya. Biasanya, kalau Louis melakukan sesuatu yang menjengkelkan, Elona pasti akan cemberut dan marah-marah. Tetapi kali ini, dia malah tersenyum. Yang kelihatan seperti akan mengeluarkan bola api dari dalam mulutnya justru adalah pria di sebelahnya, yang Louis ketahui adalah kakaknya Elona bernama Stefan.
"Duduk, nak." Raul meminta Louis untuk duduk di sebelahnya.
"Oke begini, Paman Raul." Stefan memulai percakapan dengan tidak sabar, sedetik setelah Louis duduk. "Ada yang ingin Elona sampaikan. Sebenarnya aku ingin aku saja yang melakukan. Tapi kalau aku yang mengatakan, ingin rasanya kubakar sekalian putramu ini hidup-hidup!"
"Kakak! Sudahlah!" Elona memotong perkataan Stefan. "Maafkan aku, Paman! Kakakku sedang emosian."
Louis bergidik ngeri melihat amarah Stefan. Raul hanya terkejut ketika anak dari mendiang sahabatnya Edward Locke sedang marah-marah di rumahnya.
"Ada apa ini sebenarnya?!" Raul mulai penasaran.
"Begini, paman..." Elona menarik nafas perlahan sebelum dia melanjutkan. "... aku ingin mengakhiri pertunanganku dengan Louis."
"...apa?!"
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Agustina Kusuma Dewi
yes good girl
semiga elona dpt yg lain aja
biar jd kacang in louis
2023-10-21
0
Aisy Hilyah
lama lama kepincut juga di Louis
2022-05-05
0
EL CASANDRA
jujur amat😶
2022-03-25
1