Di kota Rudiyart, para penghuni kediaman Eckart, yang sebagian besar terdiri dari pelayan dan prajurit, sedang memiliki kebiasaan baru. Hal tersebut adalah memperhatikan gelagat serta tingkah laku yang baru dari Tuan Muda mereka, Arthur Eckart. Mereka membanding-bandingkan tingkah lakunya yang dulu dengan yang sekarang, yang sudah terjadi selama semingguan ini.
Biasanya, yang sebelumnya terjadi, sang tuan muda tidur hingga hampir siang hari. Lalu, pergi membantu ayahnya yang bekerja sebagai pemimpin provinsi Nuuburg. Lalu dari sore hingga malam hari, pergi berburu hewan di hutan. Dan esoknya terulang lagi seperti itu.
Namun sekarang berbeda. Pagi-pagi sekali, Arthur Eckart sudah terjaga dari tidurnya, dan langsung berkemas-kemas. Ia segera mandi dan memakai tunik sederhana seperti rakyat biasa. Rambut emasnya ditutupi oleh kain yang membungkus kepala. Saat pelayan bertanya untuk apa menutupi rambutnya, dia menjawab, "Supaya tidak ada yang mengenaliku."
Rambut emas memang menjadi simbol kalau orang tersebut masih memiliki garis keturunan kerajaan, yang mana dimiliki oleh Arthur dan ibunya yang masih memiliki hubungan darah sebagai adik dari raja yang sekarang. Dengan ditutupnya rambut emasnya itu, para pelayan menyimpulkan kalau si tuan muda tidak ingin seseorang mengetahui status identitasnya.
Setelah berkemas di pagi hari bahkan sebelum matahari terbit, Arthur Eckart juga sarapan dengan lahap. Lalu, ia mengajak sepuluh orang prajurit untuk pergi bersamanya entah ke suatu tempat. Saat pulang, mereka semua dalam keadaan yang sangat kelelahan.
Sepuluh orang prajurit ini tentunya ditanya-tanya oleh prajurit lainnya yang tidak ikut dengan tuan mudanya. Terutama sang komandan. Setiap pagi ia harus selalu melewatkan latihan pedang dengan sepuluh prajurit ini. Saat sang komandan menyuruh mereka latihan pedang di malam hari, mereka hanya bisa menjawab, "Maaf Komandan! Kami lelah sekali. Tuan Arthur juga sudah membebaskan kami dari latihan. Beruntungnya kalian yang tidak harus ikut dengannya."
"Memangnya kalian melakukan apa setiap hari?" tanya sang komandan penasaran.
"Kami bertani."
Tentunya, lambat laun hal ini terdengar oleh duke si tuan rumah. Ron Eckart bersama istrinya juga memperhatikan gerak-gerik anaknya yang sekarang sudah tidak pernah lagi berlumuran darah, apalagi membawa-bawa potongan kepala hewan dari hutan.
Pakaian Arthur sekarang lebih sering bersimbah keringat ketimbang darah. Si putra duke itu akhir-akhir ini lebih sering menghabiskan waktunya di luar rumah, dan membantu pekerjaan ayahnya di malam hari sebelum tidur.
Bahkan saat hendak tidur pun, seorang pelayan melihat Arthur tidak langsung pergi menuju kamarnya melainkan ke ruang buku, mengambil beberapa buku tentang pertanian dan membawanya ke kamar untuk dibaca sebelum tidur.
Hal itu membuat Ron Eckart bertanya-tanya, lalu memerintahkan komandan pasukannya menyelidiki. Saat ini, sang komandan yang juga bepengalaman sebagai seorang informan di masa mudanya, sedang berada di ruang kerja tuannya untuk memberikan laporan.
"Jadi, bagaimana hasilnya?"
"Diketahui kalau Tuan Muda pergi ke Kota Armelin setiap hari, Tuan. Menurut prajurit yang ikut dengannya, mereka bercocok tanam di sebuah lahan yang tidak subur di sana." jelas sang komandan panjang lebar.
"Armelin?" Ron Eckart mencoba mengingat sesuatu. "Armelinnya Locke?"
"Tepat sekali, Tuan. Akhir-akhir ini, Tuan Arthur pergi ke sana untuk membantu putri keluarga Locke mengembalikan kesuburan tanah."
"Putrinya Edward..."
*****
Nama Edward Locke sungguh tidak asing di telinga Ron. Mereka berdua merupakan rival sejak kecil, dan pahlawan perang saat kerajaan musuh menyerang. Ron menganggap Edward Locke adalah saingan, terutama saat di sekolah ketika nilai-nilainya selalu lebih baik darinya. Namun sebaliknya, Edward tidak pernah menganggap Ron sebagai apapun. Edward hanya fokus belajar dan berlatih untuk dirinya sendiri.
Hingga suatu hari di masa perang, rasa gengsi menguasai diri Ron. Ia ingin terlihat hebat di mata rivalnya saat berada di medan perang yang sama. Ron menebas musuh dengan membabi buta tanpa peduli sekitar. Namun takdir mengubah pemikirannya. Saat musuh berhasil menghunuskan pedang ke arahnya, Edward datang dan melindungi Ron dengan perisainya. Teriakan Edward saat itu masih menggema di telinga Ron hingga saat ini.
"Jangan melamun, bodoh! Rakyatmu membutuhkanmu! Ingat, putramu juga baru lahir! Kita harus pulang dengan selamat!!"
Sejak saat itu, semuanya berubah. Kalau bukan karena Edward, yang berada di sini dengan gelar duke bukanlah dia melainkan rival yang telah melindunginya itu. Semua pemikirannya tentang Edward sudah salah sejak awal. Ron sendirilah yang terbutakan oleh nafsu belaka untuk menyaingi Edward.
Hari itu, Ron memutuskan untuk menjadikan Edward sebagai teman, meski sekali lagi, Edward menganggapnya bukan siapa-siapa. Ron terus mengejarnya, ingin dianggap teman olehnya.
Lalu, suatu hari, putri Edward terlahir ke dunia. Saat itu, Ron mengajak Arthur yang masih berusia dua tahun untuk pergi ke kediaman Locke, melihat bayi perempuan yang jelita itu.
"Ayo kita tunangkan putraku, Arthur, dengan putrimu!"
"Putriku masih bayi! Lagipula, aku ingin anakku memilih jalan dan takdirnya sendiri."
Dan di hari kematian rivalnya itu, Ron lah yang menangis paling kencang dalam hati dengan perasaan menyesal paling dalam. Karena Edward meninggal dalam kecelakaan di jalan curam yang masih berada di dalam provinsi Nuuburg, wilayah yang menjadi kekuasaan keluarga Eckart.
Sepuluh tahun berlalu sejak berita kematian Edward Locke, dan kini Ron tersenyum.
"Kau lihat dari atas sana kan, Edward? Kalau memang sudah takdir, cepat atau lambat putraku dan putrimu pasti akan bertemu lagi! Hahaha!"
*****
"Lalu, apa lagi?" tanya Ron melanjutkan diskusi laporan tentang putranya dengan sang komandan. "Kamu bilang, putrinya Edward sedang berusaha mengembalikan kesuburan tanah?"
"Benar, Tuan. Kota Armelin kehilangan sumber pendapatannya sejak tambang galian pasir ditutup setahun lalu. Lahan tersebut ternyata sangat tidak subur, ketika warganya mencoba beralih profesi sebagai petani mencoba bertani di sana, dan semua tanaman gagal panen tiga kali berturut-turut dalam setahun."
Ron Eckart berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh si komandan pasukannya itu. Lahan bekas tambang memang biasanya terbengkalai karena masyarakat tidak mampu mengubah fungsinya menjadi lahan pertanian. Hal ini terbukti dengan beberapa area di provinsi Nuuburg yang ditinggalkan penghuninya karena tanahnya sudah tidak menghasilkan.
"Maksudmu, putrinya Edward menemukan cara agar lahan yang tidak subur dapat ditanami kembali??"
"Tepat sekali, Tuan. Dan metode yang dilakukannya ini belum pernah dilakukan oleh siapapun sebelumnya."
Sang komandan pun menjelaskan bagaimana cara Elona Locke mengembalikan kesuburan tanah menurut hasil laporannya. Mendengar semua hal tersebut, Ron Eckart hanya bisa tertegun.
"Kalau semua itu berhasil... putrinya Edward akan membuat suatu terobosan baru!"
"Tapi semua ini belum kelihatan hasilnya, Tuan. Mereka akan mulai menanam tumbuhan nanti sekitar satu bulan kemudian."
Ron langsung memutar otaknya. "Tapi kalau seandainya berhasil... Elona Locke akan diperebutkan oleh banyak pihak! Tidak bisa! Ini tidak bisa dibiarkan!"
"Panggil Arthur, suruh dia menghadapku. Bagaimanapun caranya, Arthur dan Elona harus segera kujodohkan!"
"Tidak bisa, Tuan. Karena... Nona Elona Locke sudah bertunangan dengan seseorang." ucap sang komandan, dan mata Ron terbelalak.
"Dengan siapa?!! Bukankah dulu Edward bilang kalau dia tidak akan menjodohkan putrinya dengan siapapun!"
"Dengan Louis Vandyke, Tuan, putra keluarga Marquess Raul Vandyke. Dan yang menjodohkan mereka adalah Tuan Stefan, putra Edward Locke, beberapa tahun setelah ayahnya meninggal dunia."
Ron Eckart terhenyak di kursinya. Ron terlupa dengan Raul Vandyke, seseorang yang selalu mengikuti Edward kemanapun sejak masa sekolah, sama seperti dirinya. Ron sudah salah langkah, seharusnya ia mengawasi gerak-gerik Stefan dan Elona setelah Edward tiada.
"Lalu... apa Arthur mengetahui hal ini, kalau Elona sudah punya tunangan?" tanya Ron lagi. Sang komandan menggelengkan kepala.
"Saya tidak tahu soal itu, Tuan. Tetapi kalau dilihat dari cara Tuan Arthur berbicara dengan Nona Elona, sepertinya dia tidak mengetahuinya."
Ron Eckart menutup wajahnya dengan satu tangan di atas meja.
"Duh, kasihan anak itu... Biar sebaiknya aku yang beritahu dia."
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Agustina Kusuma Dewi
cha uo papa art..fighting..kl mmg jodoh tak kan kemana
2023-10-21
0
Nana
Seru kak 😥
2022-05-16
0
Lili Ana
Gemes thor, rasanya pengen bilang " Pak mereka sudah membatalkan pertunangannya kok"
2022-01-27
2