"Anak ini, pulang bawa bangkai hewan lagi!!"
Suara seorang wanita meneriaki anaknya menggelegar di aula mansion kediaman Eckart. Mansion tersebut terletak di Kota Rudiyart, tepat bersebelahan dengan Kota Armelin.
Anaknya, yang baru saja pulang dengan membawa potongan kepala beruang yang masih berlumuran darah di tangan, terkejut mendengar ibunya seperti itu.
"Kenapa, bu? Daripada aku bawa bangkai manusia." jawabnya melengos. Ini kesekian kalinya ia membawa potongan kepala hewan hasil buruannya ke rumah sebagai kenang-kenangan.
"Arthur! Kamu ini dinasehati malah bisanya jawab saja!" Nyonya Eckart semakin gusar ketika Arthur berusaha mencocokkan kepala beruang tersebut ke salah satu sudut dinding rumah.
"Hei, mau kamu apakan itu?"
"Dipajang buat kenang-kenangan."
Mendengar anaknya begitu santai menjawab, amarah sang nyonya rumah semakin menjadi.
"Buang saja! Lama-lama rumah ini seperti pemakaman hewan kalau kamu selalu bawa potongan kepala seperti itu. Darahnya masih menetes pula!"
"Iya, iya... ini yang terakhir kali."
"Terakhir kalinya kamu berburu?" tanya si nyonya penuh harap, namun Arthur mengelak.
"Terakhir kalinya aku bawa potongan kepala! Tidak mungkin aku bisa berhenti berburu."
"Ya ampun! Suamiku! Suamiku, Ron!! Coba kemari lihat anakmu ini!"
"Ada apa, Nania?"
Si tuan rumah datang tergopoh-gopoh menghampiri istrinya yang marah-marah. Begitu ia melihat kelakuan Arthur, pria tua tersebut langsung mengerti.
"Sesekali coba, yang kamu bawa kemari itu bukan kepala hewan, tapi perempuan!"
Arthur mengernyitkan dahinya, "Perempuan bukan makhluk yang bisa kudapatkan di hutan."
"Kalau begitu ya hentikan hobimu yang main ke hutan itu!" Ron Eckart menyahut dengan kesal. "Kamu ini sebentar lagi akan mewarisi gelarku sebagai seorang duke, tapi masih saja belum memiliki tunangan. Apa jangan-jangan kamu tidak suka wanita?"
"Sembarangan, Ayah! Aku hanya tidak tertarik pada semua gadis yang pernah ayah jodohkan untukku!"
"Memangnya, kalau tidak kujodohkan, kamu bisa cari istri sendiri?" Ron Eckart memandangi anaknya dengan heran.
"Bisa, tapi tidak sekarang. Sudahlah, aku capek. Aku mau istirahat." kata Arthur lalu melengos pergi.
"Menghindar saja bisanya anak itu!" giliran si tuan rumah yang dibuat kesal oleh anaknya.
Berpuluh gadis sudah pria tua itu bawa ke rumah, dengan latar belakang keluarga yang baik, pendidikan yang baik, dan berbagai tipe kecantikan yang luar biasa.
Tetapi semua itu sia-sia. Arthur lebih memilih untuk pergi berburu ke berbagai hutan ketimbang duduk bersama dan membicarakan masa depannya.
Bahkan sering kali Arthur sengaja pergi dari rumah hanya untuk menghindari pertemuannya dengan para gadis tersebut. Padahal usianya sudah menginjak 19 tahun, tapi tak sedikitpun Arthur menunjukkan ketertarikannya pada wanita.
"Haahh... anak satu-satunya tapi tingkahnya seperti itu!" Ron menghela nafas keras. Dia lalu memandang istrinya, "Apa perlu kita buat satu lagi?"
Nania memandangi suaminya dengan jengkel, "Ingat umur!" lalu melenggang pergi.
*****
Arthur Eckart menjatuhkan tubuhnya ke kasur di dalam kamarnya yang begitu luas. Sesaat ia lupa akan rasa sakit yang ada di tubuhnya. Sedari tadi lelaki itu berusaha menyembunyikan sayatan tersebut dari orangtuanya, hanya supaya mereka tidak khawatir.
Arthur memandangi langit-langit di kamarnya dan merenungkan perkataan sang ayah. Bukannya dia tidak mau bertunangan dengan siapapun. Tetapi masalahnya, semua gadis yang dia temui tak ada satupun yang bisa memikat hatinya.
Terlahir sebagai putra pertama salah satu keluarga duke di negeri ini, membuatnya selalu dikejar-kejar kaum wanita. Apalagi memang wajahnya menurun dari ibunya, yang meskipun hobinya marah-marah tetapi pernah menjadi primadona kerajaan sebelum menikah dengan ayahnya.
Arthur pernah mencoba untuk menerima seorang gadis pilihan ayahnya yang pertama kali, lalu seharian itu dia seperti barang pajangan yang gadis itu bawa-bawa untuk dipamerkan kemanapun. Arthur dibangga-banggakan bukan karena dia adalah Arthur, tapi karena dia adalah seorang Eckart.
Yang lelaki itu inginkan hanyalah orang-orang mengenalinya sebagai dirinya, bukan sebagai putra ayahnya. Namun hal itu sangatlah sulit, mengingat seluruh seantero kerajaan sudah mengenali tampangnya dan kedudukannya.
Elona Locke... apa benar dia tidak mengenaliku?
Tapi, aku juga baru melihat adik iparnya Iris itu. Kemana saja dia selama ini?
*****
Hari ini adalah hari ketiga Elona di Kota Armelin. Gadis itu memutuskan untuk menemui Viscount Bran yang bekerja untuk kakaknya sebagai pengurus pajak dan administrasi Kota Armelin. Setelah dua hari dihabiskan Elona dengan berolahraga dan rebahan di rumah saja, ia merasa tubuhnya sudah fit sekarang.
Elona pergi bersama Mai dan Ryndall dengan kereta kuda menyusuri kota. Jalan yang mereka lalui memberikan gambaran tentang situasi Kota Armelin saat ini.
"Kak Ryndall, itu..." Elona menatap pemandangan yang ia lalui dengan setengah tak percaya. Pemukiman kumuh yang harus mereka lalui, penuh dengan warga bertubuh kurus dan berpakaian lusuh, sedang berusaha menjalani hari-hari mereka.
"Begitulah, Nona... semenjak tambang pasir ditutup, mereka yang sebagian besar berprofesi sebagai penambang harus kehilangan pekerjaan. Para pemuda di kota ini terpaksa mencari pekerjaan di luar kota untuk mendapatkan uang."
"Apa kakakku tidak melakukan tindakan apapun?"
"Sudah, Nona. Tuan Stefan sudah menyediakan modal bagi mereka yang ingin beralih profesi sebagai petani, dari peralatan sampai bibit tanaman. Tetapi... yah, seperti yang Nona sudah ketahui kemarin. Semuanya gagal panen tanpa sebab."
Elona dan rombongan tiba di kantor administrasi Kota Armelin. Gadis itu langsung menemui Viscount Bran dan menjelaskan tujuannya kemari. Lalu, Viscount Bran mengajaknya pergi melihat lahan bekas galian pasir yang dimaksud.
"Para warga mengeluh, Nona." Bran mulai menjelaskan sesampainya di lahan, "Tanaman yang mereka panen di lahan tersebut hasilnya tidak sesempurna yang diharapkan. Semua tumbuh kerdil dan beberapa bahkan gagal tumbuh."
Di lahan bekas galian pasir seluas 100 hektar tersebut, Elona melihat kondisi tanah berpasir di sekitarnya. Banyak tanaman busuk yang terbengkalai karena tidak jadi dipanen oleh pemiliknya.
"Apa sudah mencoba menanam tumbuhan yang cocok dengan tekstur pasir?" Elona bertanya seraya merunduk dan menjumput sebagian tanah di dekatnya.
"Sudah, kami sudah mencoba menanam pohon Kurma yang memang di wilayah lain bisa tumbuh optimal di lahan berpasir, tapi tetap tidak berhasil saat ditanam di sini."
Elona berpikir sejenak. Bila warga mulai beralih profesi sejak setahun yang lalu, itu berarti setidaknya mereka sudah mencoba sebanyak tiga kali untuk berganti tanaman.
"Apa saja yang sudah pernah dicoba ditanam, Paman, selain kurma?"
"Selain kurma, kami juga pernah mencoba tomat dan kedelai." jelas Bran, membuat Elona terperanjat.
"Kedelai juga tidak bisa tumbuh??"
Bran terlihat kebingungan, "Iya, Nona. Memangnya apa yang berbeda dengan kedelai dari tanaman lainnya?"
Seperti yang pernah Elona jelaskan pada Stefan dan Ryndall sebelumnya, bahwa kondisi tanah bisa diukur melalui kadar pHnya. pH tanah yang netral dan bisa ditumbuhi oleh semua jenis tanaman adalah kisaran angka 6 - 7. Kurang dari kisaran tersebut berarti disebut tanah asam, dan lebih dari itu disebut basa.
pH tanah yang tidak dalam kondisi netral, itu berarti dia tidak dapat memberikan unsur hara yang seharusnya diterima oleh tanaman. Unsur hara berfungsi untuk merangsang pertumbuhan tanaman dan pemberian warna hijau pada daun supaya proses fotosintesis terjadi. Fotosintesis sendiri merupakan proses tanaman untuk menghasilkan buah dan oksigen.
Apa yang akan terjadi apabila unsur hara dalam tanah kurang? Pertumbuhan tanaman menjadi kerdil dengan daun yang menguning, pastinya, karena fotosintesisnya terhambat.
Kedelai merupakan tanaman yang cukup fleksibel untuk ditanam di tanah dengan pH hanya 5,5 saja, karena kedelai dapat mengikat nitrogen di udara, salah satu unsur hara utama dalam tanah.
"Sudah dicoba dilakukan pemupukan, Paman?"
"Sudah, Nona. Tapi hasilnya tetap sama saja."
Pemupukan dilakukan supaya tanah memiliki unsur hara yang cukup. Namun, jika pemupukan saja gagal, itu berarti tanah dalam kondisi tidak dapat menyerap unsur hara yang diberikan oleh pupuk.
"Kalau pupuk tidak berhasil dan kedelai saja tidak tumbuh, berarti... aduh, susah ini..." gumam Elona.
"Nona mengetahui sesuatu?" tanya Bran penasaran.
Elona memandangi lahan kosong di hadapannya. Gadis itu lalu mencoba menjelaskan pada Bran dan Ryndall apa yang menjadi pemikiran dan dugaannya selama ini. Ia berusaha menjelaskannya dengan sangat perlahan supaya mereka paham.
Beruntungnya, Bran dan Rynda merupakan orang-orang pintar kepercayaan keluarga Locke. Dalam satu kali penjelasan, mereka terlihat mengangguk-angguk mengerti.
"Itu berarti, yang Nona bilang soal pH tanah itu, di lahan ini kurang?" tanya Ryndall mengonfirmasi. Elona mengangguk.
"Kemungkinan besarnya seperti itu. Paman Bran, disini sering hujan, benar?"
"Ya, Nona. Iklim Armelin hanya dua musim, kering dan hujan, tidak seperti ibukota yang memiliki empat musim. Hujan sering turun saat musim hujan tiba."
"Ah, itu dia penyebabnya. Seringnya turun hujan menyebabkan tersapunya unsur hara oleh air." Elona mengambil kesimpulan.
"Lalu, apa yang harus dilakukan, Nona? Apa kita bahkan bisa tahu pasti, berapa kadar pH tanah di lahan ini sekarang?" tanya Mai yang sedari tadi diam saja mendengarkan percakapan.
Itu dia pertanyaan yang Elona takutkan. Daritadi Elona bicara soal angka pH, tapi gadis itu sendiri tidak tahu bagaimana cara mengukur persisnya. Elona hanya tahu teori cara mengukur pH tanah secara tradisional, itupun belum tentu akurat. Di dunia fantasi ini, pengukur pH meter tentunya tidak tersedia.
Tetapi dari semua petunjuk yang ada, yaitu kedelai yang tidak dapat tumbuh, pemupukan yang gagal, dan curah hujan yang tinggi. Elona sangat yakin dugaannya soal lahan tanah di hadapannya itu asam.
"Aku ada satu cara." jawab Elona, "Tapi, ini tidak bisa mengukur secara akurat persis dengan angka."
Elona lalu meminta mereka bertiga pergi berpencar ke arah yang berbeda masing-masing sejauh 100 meter, lalu mengambil sejumput tanah di sana. Elona sendiri mengambil sejumput tanah di hadapannya.
Lalu dari semua tanah tersebut dikumpulkan dalam sebuah wadah dan diberi air secukupnya, lalu diaduk. Elona memotong seutas kunyit yang dibawanya sedari tadi dalam kantung menjadi dua, lalu memasukkan salah satunya ke dalam adonan tanah tadi.
"Oke, sekarang kita tunggu. Kalau warnanya sama dengan potongan yang ini," Elona menunjuk pada potongan kunyit yang tidak dimasukkan ke tanah, berwarna kuning cerah. "Kalau warnanya sama, berarti netral. Kalau pudar berarti asam, yaitu pHnya kurang. Dan kalau biru berarti basa atau pHnya tinggi."
Tiga puluh menit mereka menunggu dengan penasaran. Tiga puluh menit yang berjalan dengan lamban. Dan begitu tiba waktunya, Elona mengambil potongan kunyit tersebut dari adonan tanah dan memeriksanya.
Benar seperti dugaannya, warna kunyit tersebut berubah menjadi pudar.
*****
((Author: Halo readers. Untuk chapter yang ini agak telat updatenya karena riset dulu ya, saya risetnya udah kek bikin skripsi. ("-_-) Anyway, ada banyak ilmu pertanian di sini yang sebisa mungkin saya tulis dengan kalimat2 yg mudah dipahami. Bacanya pelan-pelan aja ya wkwk. Jangan lupa likenya :D ))
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
deria
wkwkwk ternyata putra duke toh😂😂😂
2024-06-24
1
🌻Yying🌻
🤣
2023-12-01
1
Agustina Kusuma Dewi
ilmu pertanian, yg pas saat ini harga beras mehong🤣😂😁😀
2023-10-21
0