"Tuan Stefan, ada surat dari Armelin."
Stefan sedang bersama istrinya, Iris, di ruang kerjanya ketika seorang pelayan membawakan sebuah surat yang datang dari wilayah kekuasaan Locke.
"Ada kabar apa dari Armelin?" tanya Iris penasaran, begitu surat tersebut sampai di tangan Stefan. Suaminya itu tidak menjawab. Ia cepat-cepat membuka segel surat dan membacanya.
"Ini dari Ryndall," Stefan berkata. "Sebentar, umm... di sini dikatakan kalau Elona berhasil menemukan penyebab kenapa panen selalu gagal di lahan bekas galian tambang itu."
Stefan menyimpulkan, disambut dengan senyum merekah dari Iris. "Benarkah? Elona memang hebat!"
"Di sini juga dibilang kalau..." Stefan lanjut membaca, "Elona membutuhkan 45 ton limestone yang telah dihaluskan...?"
"Untuk apa?" Iris bertanya.
"Untuk menaikkan kadar pH tanah sebanyak 1,5 dibutuhkan 3 ton kapur limestone halus perhektarnya. Dan Elona berencana untuk menggarap 15 dari 100 hektar yang ada." Stefan membaca perlahan surat tersebut. Setelahnya, Iris dan suaminya itu berpikir keras.
"Tapi, sayang, keuangan kita kan..."
"Iya, aku tahu." jawab Stefan singkat, seraya membaca berulang kali isi surat dari Ryndall, sekretarisnya.
Semenjak kemampuan warga Armelin membayar pajak menurun, maka menurun pula lah kondisi keuangan keluarga Locke. Dengan adanya para pekerja dan prajurit yang harus diberi upah, ditambah dengan biaya yang dikeluarkan Elona untuk membayar pekerja di lahan Armelin, Stefan harus memutar otaknya supaya semuanya tercukupi.
"Tolong ambilkan surat promes di atas lemari itu," Stefan meminta istrinya sembari menunjuk lemari di sebelah kanan. Istrinya beranjak dari duduknya dan mencari surat promes.
Iris menyerahkan surat tersebut pada suaminya. "Kamu yakin kita akan bisa membayar semuanya?"
"Untuk saat ini, iya." kata Stefan, lalu mulai menulis pernyataan sanggup bayar di atas kertas tersebut. Stefan juga tak lupa menuliskan tujuan surat tersebut, yakni toko pandai bangunan untuk menebus 45 ton kapur limestone dari mereka.
"Yang penting sekarang, biarkan Elona menyelesaikan pekerjaannya dulu dengan tenang. Jangan sampai membuatnya stress. Untuk sementara, jangan sampai dia tahu kalau sebenarnya keuangan kita juga sudah menipis." lanjut Stefan. Iris mengangguk.
"Baiklah, suamiku. Lagipula, siapa tahu Elona berhasil dan hasil panennya bisa dipakai untuk balik modal."
*****
"Paman-Paman dan Kakak-Kakak semua, kita akan mulai bajak tanahnya dulu ya. Lahan yang akan digarap seluas 15 hektar, sudah diberi patokan pembatas oleh Kak Ryndall; sekitar 387 meter ke arah sana, dan 387 meter ke arah sini."
Dua hari berlalu sejak Elona membujuk warga untuk membantunya di balai kota. Saat ini, Elona sedang memberikan instruksi pada warga, prajurit serta pelayan yang ia bawa dari kediaman Locke.
Elona pergi bersama mereka ke lahan bekas galian itu pagi-pagi sekali, bahkan sebelum matahari terbit. Selain membawa rombongan, Elona juga membawa peralatan seperti cangkul dan garu untuk dipakai para pekerja membajak sawah.
Sebanyak 31 warga, 6 prajurit Locke dan 9 pelayan Locke telah hadir di lahan tersebut. Total mereka adalah 46 orang. Elona memperkirakan sekitar setengah hektar bisa selesai dibajak dan dikapuri dalam sehari. Gadis itu mengumpulkan para pekerja tersebut untuk diberi arahan sejenak agar mereka tidak kebingungan saat bekerja.
"Bagi yang belum pernah bertani sebelumnya, membajak tanah adalah proses untuk membersihkan, melembekkan dan membalik tanah sedalam 20 cm, atau kira-kira sedalam panjang lengan dari jari hingga siku."
Elona menjelaskan panjang lebar. Gadis itu lalu pergi ke arah tumpukan peralatan di sebelahnya dan mengambil sebuah cangkul. Lalu Elona mencontohkan gerakan mencangkul dan membalik tanah di hadapan para pekerja.
Para pekerja pun memperhatikan dengan seksama, meskipun sebenarnya ada rasa heran juga terbersit dalam hati. Yang mereka tahu, terutama para pelayan, bahwa nona muda mereka ini belum pernah sekalipun pergi ke perkebunan, apalagi memegang cangkul.
Entah dari mana majikannya itu mengetahui cara memegang cangkul dan mencontohkannya dengan benar, itu menjadi pertanyaan besar bagi mereka semua.
"Nanti setelah digemburkan tanahnya seperti ini, diberi kapur. Kemudian diaduk dengan tanahnya. Kapurnya terbuat dari limestone yang dihaluskan. 1 hektar ditaburi 3 ton kapur, dan akan datang sebentar lagi."
Para pekerja mulai membagi kelompok dan area bajak masing-masing sesuai instruksi. Bran dan Mai juga turut membantu mengawasi jalannya pekerjaan, sedangkan Ryndall sedang pergi ke toko pandai bangunan untuk mengarahkan kereta sapi yang membawa kapur limestone ke arah lahan.
Tak lama, Ryndall pun datang dengan kudanya, mengiringi 9 kereta sapi yang membawa masing-masing 5 ton kapur di gerobaknya. Total kapur adalah 45 ton, yang terbagi dalam banyak sak karung masing-masing seberat 5 kg.
Ryndall dan pengemudi kereta sapi menurunkan karung satu persatu. Melihat sekretaris kakaknya itu sedang bekerja keras, Elona dengan sigap menghampirinya dan ikut membantu menurunkan karung kapur.
"Nona! Sudah tidak usah, biar saya saja!" Ryndall setengah berteriak melihat majikannya itu ikut membantu. Tapi Elona menolak perkataannya.
"Tidak apa-apa, Kak Ryndall. Kita sedang kekurangan orang, tidak ada yang bisa membantu kecuali aku sendiri."
"Tapi, Nona-"
"Anggap saja aku sedang olahraga untuk diet! Oke?" Elona berseru. Sesaat kemudian, Ryndall tertawa.
"Asal jangan katakan ini pada Tuan Stefan ya, Nona, aku bisa digantung nanti!"
"Tidak akan! Hahaha!"
Mengangkat karung ternyata tidak semudah yang Elona bayangkan. Sewaktu masih hidup sebagai Tara, ia sudah sering mengangkat kardus berisi buku-buku saat ia bekerja paruh waktu di sebuah toko buku. Tapi ternyata karung kapur itu lebih berat daripada kardus buku. Elona mengangkut tiap kapur keluar dari gerobak dengan hati-hati agar tangannya tidak keseleo.
Tapi naas, telapak tangannya yang licin karena berkeringat menyebabkan pegangannya pada karung meleset.
"Ah!!"
"Hey!!"
Sebuah karung hampir terjatuh dari tangan Elona dan menimpa kakinya, ketika tiba-tiba tangannya ditahan oleh seseorang.
"Hati-hati."
Elona menengadahkan kepalanya, dan tampak wajah tampan dengan rambut emas yang sudah menjadi temannya akhir-akhir ini.
"Art?!"
"Halo. Aku datang." Art menyahut, lalu mengambil karung dari tangan Elona dan meletakkannya di tanah, tempat karung-karung lain berada.
Lalu, Art menoleh ke belakang. Tampak di sana sekelompok orang dengan badan yang sama tegap dan gagahnya baru saja turun dari kuda masing-masing dan menghampiri.
"Bantu angkut karung-karung ini, lalu letakkan di sana." kata Arthur sambil menunjuk karung-karung yang masih ada di atas gerobak. Semuanya pun sigap menuruti perintahnya dalam diam. Dengan cepat, semuanya beres tak sampai lima menit.
"Art, kamu benar-benar datang?!" Elona seolah tak percaya. Art hanya menyunggingkan senyum.
"Yap, seperti yang sudah kujanjikan. Aku bawa kira-kira 10 orang untuk membantu. Bagaimana?" tanya pemuda itu.
Elona langsung tersenyum merekah, karena itu berarti sudah terkumpul total 56 pekerja saat ini. Gadis itu berkata dengan ceria, "Terimakasih banyak ya!"
Elona segera menghampiri orang-orang yang dibawa Art dan menyapa mereka semua. Tapi anehnya, mereka hanya tersenyum dan memberi gestur salam hormat, tidak berkata apapun.
"Suruh saja mereka apapun, tidak akan ditolak!" kata Art santai.
Elona mengernyitkan dahinya, "Benarkah?"
"Iya, anggap saja mereka pelayan pribadimu."
Mereka yang dimaksud hanya bisa melihat ke arah Art dengan tatapan memelas, yang tidak disadari oleh Elona.
*****
Siang itu begitu terik padahal sedang musim hujan. Para pekerja lahan terlihat mengeluarkan peluh berkali-kali di dahi dan leher mereka. Tetapi mereka tidak boleh menyerah, karena mereka melihat majikannya Nona Elona sendiri juga sedang mengerjakan apa yang mereka kerjakan; mencangkul tanah, membaliknya, lalu memberikan kapur.
Panas terik yang sama juga dirasakan oleh sekelompok orang-orang yang dibawa oleh Art, alias Arthur Eckart sang putra duke. Mereka sebenarnya adalah para prajurit Eckart yang dibawa Arthur dari kediamannya di Kota Rudiyart. Sepuluh orang bersedia ikut serta, dengan beberapa perintah yang diberikan Arthur.
Pertama, pakai tunik yang sederhana. Senjata disembunyikan di balik pakaian atau di balik pelana si kuda. Kedua, tutup mulut dan jangan membantah pada yang diperintahkan. Ketiga, panggil majikannya itu dengan nama Art saja dan jangan beberkan kalau mereka semua berasal dari kediaman Eckart.
Maka dari itu, para prajurit hanya bisa terdiam dan menatap memohon ampun pada majikannya, Arthur Eckart, saat pemuda itu dengan santainya mengatakan kalau Elona boleh menyuruh mereka apapun sesukanya.
Beruntungnya, Elona tidak sekejam itu. Gadis itu memberikan beban kerja pada mereka sama seperti yang lainnya, dan para prajurit Eckart bersyukur akan hal itu. Bahkan, nona muda itu juga ikut bekerja kasar seperti mencangkul tanah, sama seperti mereka.
"Armelin itu bukannya wilayah keluarga Locke?" tanya salah satu prajurit pada yang lainnya, di saat Arthur sedang tidak memerhatikan. Pemuda berambut emas itu sedang asyik membantu Elona mencangkul tanah tidak jauh dari tempat gadis itu berada.
"Iya benar."
"Kita pergi kesini untuk bertani? Membantu keluarga Locke, begitu? Kenapa ya?"
"Kamu masih bertanya? Lihat itu disana! Apa kamu pernah lihat, Tuan Muda bersikap seperti itu pada perempuan?"
Salah satu dari para prajurit Eckart menunjuk ke tempat Arthur dan Elona berada. Tampak dari kejauhan pemuda pemudi tersebut sedang bekerja sembari saling melempar canda dan tertawa.
"Tuan Muda... sedang jatuh cinta??" tanya yang lain.
"Hah tidak mungkin!"
"Tapi kapan lagi Tuan Arthur bisa sedekat itu pada wanita?! Siapa namanya... Elona Locke?"
"Elona Locke... bukannya dia sudah punya tunangan?"
"Dengan Louis Vandyke, kan? Aku juga dengar hal itu."
"Jangan-jangan... Tuan Arthur tidak tahu hal itu? Berarti, dia akan patah hati, begitu?"
Sekali lagi, para prajurit menatap majikannya, Arthur Eckart, dari kejauhan dengan mata nanar. Orang yang ditatap hanya bersin-bersin tidak mengetahui kalau dirinya dijadikan bahan pembicaraan oleh pasukannya sendiri.
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Rizki Rahmawan
🤣🤣🤣🤣👍
2024-08-14
0
Jenna Joni
pasukan yg dibawa art ternyata pasukan emak2 arisan penggibahan🤣🤣🤣🤣
2023-10-21
3
Rina
gibah .. belum tau dia dah putus tunangan
2022-05-28
1