"Kamu tidak apa-apa?"
Elona bertanya khawatir saat ia berhasil mendekati pemuda tersebut. Namun, langkahnya terhenti. Dari kejauhan, memang hanya rambut emasnya saja yang terlihat. Tetapi setelah mendekat, paras tampannya juga ikut tertangkap oleh mata.
Siapa dia...?
Elone bertanya dalam hati. Pertanyaan ini bukan karena Elona tidak mengenalnya, tetapi karena dia tidak berhasil mengingatnya, baik dari memori dirinya yang sebelumnya, maupun dari webtoon Cerita Hati.
Rambut emas itu sangat kontras dengan mata yang berwarna merah menyala. Letak hidung dan dagunya begitu presisi di tengah wajahnya. Lalu dia juga memiliki tubuh tegap dengan dada yang bidang.
Seolah sang Pencipta menggunakan cetak biru sebelum membuat manusia di hadapannya ini, agar tidak terjadi kesalahan.
Ketampanan pemuda tersebut cukup kontras pula, saat Elona melihat dia hanya mengenakan tunik dan celana biasa. Hal itu menggambarkan kalau dia bukanlah seorang bangsawan, melainkan hanya rakyat biasa.
Sepengetahuannya dari webtoon Cerita Hati, lelaki tampan yang sebaya dengannya hanyalah Louis Vandyke. Sisanya hanya digambarkan biasa-biasa saja. Jadi tidak mungkin Elona melewatkan pemuda di hadapannya ini.
Apa mungkin dia hanya karakter figuran?
Tapi tidak mungkin karakter figuran seganteng ini, kan?
"Apa kau lihat-lihat?!"
Diamnya Elona di tempat membuat pemuda itu menegurnya dengan ketus. Memang benar, tidak sopan memandangi seseorang sampai seperti itu. Elona langsung tersadar dan menggelengkan kepala.
"Oh iya, maaf. Maafkan aku."
Elona merunduk untuk memeriksa lukanya. Terdapat dua sayatan yang cukup besar di bagian perut pemuda itu. Seperti baru saja dicakar oleh hewan buas. Beruntungnya, luka sayatan tersebut tidak terlalu dalam, namun cukup membuat rumput di sekitar pemuda itu duduk basah bersimbah darah.
Elona lalu memanggil kedua prajurit yang mengikutinya dari belakang.
"Kalian ada perban dan air bersih?"
"Ada, Nona!" mereka langsung mengeluarkan persediaan gulungan kain putih dan air minum dari kantung kain yang mereka. Menjadi prajurit keluarga Locke memang harus siap sedia dengan pengobatan pertama di manapun mereka berada.
"Kamu, berbaringlah sebentar." kata Elona pada pemuda tersebut.
"Mau apa kamu?!"
"Sebentar saja!" ucap Elona sembari membersihkan tangannya dengan air bersih.
"Aku tidak apa-apa, jangan khawatir. Sebentar lagi juga akan ada orang yang menjemputku."
"Kamu bisa dijemput dewa kematian sebelum ada yang sempat melakukannya, karena kehabisan darah."
"Jangan macam-macam! Uh..." pemuda itu sepertinya waspada sekali di hadapan Elona. Tapi luka di tubuhnya cukup bisa membuatnya tidak dapat bergerak bebas karena rasa sakitnya.
"Kamu akan terus kesakitan begitu bila tidak segera diobati." Elona berkata sembari membuka gulungan perban.
"Ayo berbaring! Posisi lukanya harus lebih tinggi dari dada, supaya darahnya berhenti mengalir dan tidak terjadi pembengkakan."
Melihat gadis di hadapannya ini sepertinya mengetahui apa yang akan dilakukannya. Pemuda itu pun pada akhirnya pasrah dan berbaring di rerumputan.
Dengan cekatan, Elona membersihkan darah yang menempel tubuh pemuda tersebut dengan air bersih. Lalu setelahnya, Elona membalutkan perban dengan rapi agar menutup luka dengan sempurna dan tidak bergeser. Tak lama, luka sayatan itu sudah tidak terlihat lagi.
"Kamu... dokter?" tanya pemuda itu begitu melihat hasil balutan perban Elona yang rapi. Lalu dengan masih sedikit kesakitan, ia duduk bersandar di batang pohon besar di belakangnya.
"Bukan." jawab Elona singkat, lalu kembali membersihkan tangannya kembali dengan air bersih.
"Rapi sekali. Seperti sudah berpengalaman,"
"Aku memang sering melakukannya dulu,"
Dulu, saat masih di bumi...
Namun Elona tidak membiarkan perkataan hatinya terdengar oleh pemuda tersebut. Seringnya Elona dibully oleh sepupu-sepupunya sewaktu masih menjadi Tara, membuatnya terbiasa untuk menangani luka sayatan sendirian.
"Tadi, kamu terpesona ya dengan ketampananku?"
"Ha?" pertanyaan pemuda tersebut membuat Elona cukup terkejut. Elona memang sempat mengagumi ketampanan di hadapannya itu, namun tidak cukup untuk bisa dibilang terpesona. Gadis itu hanya heran saja mengapa pria setampan itu tidak bisa dia ingat.
"Karena tadi kamu sampai diam di tempat begitu melihatku. Sudahlah, tidak perlu malu. Banyak perempuan yang begitu padaku." katanya sambil menatap Elona.
"Ya ampun, manusia macam apa ini? Bukannya bilang terimakasih sudah diobati, malah besar kepala." Elona berkata sambil memandangi pemuda itu dengan jengkel.
"Oh, iya, terimakasih."
"Ya, sama-sama." Elona menghela nafas, "Tadi aku terdiam karena aku merasa tidak pernah melihatmu di sekitar sini."
Mendengar perkataan Elona, pemuda itu mengernyitkan dahinya heran.
"Sungguh? Kamu tidak mengenaliku?" pemuda itu bertanya penasaran. Karena yang dia tahu, seluruh seantero kerajaan seharusnya mengenalinya. Tetapi sesaat kemudian, dia melihat Elona menggelengkan kepala.
"Tidak."
"Benarkah? Kamu benar-benar tidak mengenaliku?"
"Apakah kamu orang penting?" tanya Elona dengan polosnya. Tersadar kalau ucapannya bisa disalahartikan sebagai kesombongan, Elona buru-buru meralatnya.
"Maaf, sebenarnya aku baru pindah dari ibukota kemari. Sudah lama sekali aku tidak ke tempat ini. Jadi aku benar-benar tidak tahu."
Penjelasan Elona membuat pemuda itu terheran. Sedetik kemudian, dia tertawa keras sembari menutupi wajahnya dengan satu tangan.
"Hahahaha!"
"Kenapa tertawa? Ada yang salah?" Elona bertanya heran. Namun pemuda itu hanya menggeleng seraya menatap wajahnya Elona. Ujung bibirnya menyunggingkan senyum yang melengkapi ketampanannya.
"Tidak ada apa-apa."
"Hm?"
"Kamu baru pindah dari ibukota?" tanya pemuda itu. Elona mengangguk, lalu menunjuk mansion besar yang terlihat dari kejauhan.
"Aku tinggal di sana."
"Oh, kamu dari keluarga Locke?"
"Iya."
Sesaat kemudian, kedua prajurit Locke menghampiri. "Nona, sudah waktunya kembali. Matahari sudah mulai terbenam."
"Baiklah," sahut Elona, lalu menoleh pada pemuda itu lagi. "Aku pulang dulu. Jaga baik-baik lukamu jangan sampai semakin parah."
Lalu Elona berlari kecil menjauhi danau.
"Hei, tunggu! Siapa namamu?" pemuda itu berteriak.
"Elona. Kamu?"
"Namaku Art."
"Baiklah, Art, sampai jumpa." Elona berkata dan melambaikan tangan, lalu terus berlari kecil menuju mansion tempatnya tinggal.
"Elona... Locke? Hahaha..."
Pemuda itu masih saja memandangi tubuh Elona yang semakin lama semakin menghilang di kejauhan.
Iris, adik iparmu itu ternyata menarik sekali ya.
*****
"Tuan! Tuan Arthur Eckart!"
Empat orang prajurit dari kejauhan berlari mendekat dengan kuda-kuda yang dinaiki mereka masing-masing. Para prajurit memakai pakaian armor lengkap dengan pedang di pinggang.
"Tuan Arthur, anda tidak apa-apa?" tanya salah dari para prajurit begitu turun dari kudanya.
"Aku tidak apa-apa." jawab Arthur. Namun perban di tubuhnya menandakan bahwa ia sedang terluka.
"Anda terluka parah! Ayo kita segera kembali!"
"Aku benar tidak apa-apa. Lagipula, sudah diobati tadi." Arthur menunjukkan balutan perban rapi di tubuhnya.
"Siapa yang melakukannya?"
"Seseorang yang tidak mengenaliku, hehehe..." jawab Arthur sambil terkekeh mengingat kejadian tadi. Para prajurit memandanginya heran.
"Ya sudah, syukurlah! Ayo kita kembali, Tuan."
"Ayo. Kalian angkutlah itu." Arthur menunjuk seekor beruang besar yang telah mati, yang sejak tadi diletakkannya dibalik pohon.
"Nyonya besar pasti akan marah-marah melihat hal ini..." prajurit itu menggeleng tak habis pikir. Padahal sudah sering sekali tuannya itu diperingatkan oleh orangtuanya untuk mengurangi hobi berburunya, tapi masih saja dia nekat melakukannya.
"Nanti biar aku yang bicara pada ibuku. Ayo!"
Arthur menaiki seekor kuda yang sudah disiapkan untuknya. Rasa sakit di tubuhnya sudah banyak berkurang, dan darahpun sudah berhenti mengalir.
Arthur menoleh ke arah belakang, tempat mansion keluarga Locke berada, sembari kuda yang dinaikinya berjalan menjauh. Lalu ia tersenyum. Entah kapan dia bisa menemui gadis itu lagi di kedepannya.
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
ano Efendi
kata "Menarik" ini bahaya..semoga saja bukan cowok psikopat 🤔
2024-12-06
0
deria
jangan bilang itu putra mahkota thor
atau putra grand duke🤭🤭🤭
2024-06-24
1
Agustina Kusuma Dewi
yey..ada lakik lain..yg lebih macho
2023-10-21
0