"Stefan, kamu yakin dengan keputusanmu?"
Iris bertanya pada suaminya di ruang kerja. Terlihat pria itu sedang menyiapkan beberapa dokumen untuk persiapan kepergian Elona.
Karena Elona akan menyelidiki permasalahan yang ada di Armelin, maka Stefan memberikannya kewenangan pada adiknya itu sebagai pemimpin sementara kota itu, menggantikan dirinya. Butuh beberapa dokumen administratif penting dan surat-surat perjalanan untuk hal tersebut.
Melihat suaminya tidak menjawabnya, Iris terlihat sedikit gusar, “Armelin itu jauh! Butuh sepuluh hari perjalanan dengan kereta kuda untuk bisa sampai ke sana!”
"Iya aku tahu!" sahut Stefan, lalu menghela nafas, "Tapi mau bagaimana lagi, sepertinya memang cuma Elona yang bisa memahami situasi di sana."
"Oh ya?"
Lalu Stefan menceritakan tentang apa yang dikatakan Elona di ruang kerjanya. Iris terperanjat tidak percaya.
"Adikmu itu... dari mana dia tahu tentang semua hal itu?"
"Aku juga tidak mengerti. Tiba-tiba saja Elona masuk ke ruang kerjaku dan mengatakan semua hal itu." Stefan mengangkat bahunya. "Dia beralasan kalau semua itu didapatnya dari membaca buku."
"Hmm, selama aku di rumah, Elona memang sering terlihat pergi ke ruang buku di rumah ini." Iris menimpali.
"Benarkah?" Stefan kembali bertanya penasaran.
Stefan juga adalah seseorang yang suka membaca buku. Stefan banyak belajar dari berbagai buku demi menggantikan posisi ayahnya sebagai marquess.
Waktu itu, Elona juga mengakui kalau dia membacanya di perpustakaan sekolah. Tapi seingat Stefan, baik ruang buku di rumah maupun perpustakaan di sekolahnya, tidak ada satupun yang mendalami ilmu pertanian sampai seperti itu.
“Memang, entah kenapa akhir-akhir ini Elona terlihat berbeda.” Iris melanjutkan.
“Berbeda bagaimana?”
“Dia jadi… apa ya? Lebih ceria. Dia jadi lebih sering keluar kamarnya. Dia jadi lebih sering menyapaku kalau kita berpapasan. Dia jadi seperti… hidup kembali.” Iris menjelaskan sembari duduk di kursi di hadapan Stefan.
“Perubahan yang baik, kan?”
“Iya, dan aku senang sekali melihatnya. Dulu waktu sebelum kita menikah, kamu sering mengatakannya, kalau adikmu itu anak yang ceria dan bersemangat. Sejujurnya, aku baru melihat semua hal itu dari dirinya baru sekarang ini.”
Stefan juga merasakan adanya perubahan yang positif dari diri Elona. Bila dibandingkan dengan saat sebelum orangtuanya meninggal, keceriaan Elona telah kembali seperti sediakala.
Namun tetap saja, Stefan merasakan ada sesuatu yang berbeda. Meskipun perubahan Elona positif, tapi seperti ada orang lain yang merasuki tubuh adiknya itu sekarang ini.
*****
“Elona, kamu sudah siap?” Iris bertanya pada Elona yang sudah siap dengan semua koper-koper barangnya di depan rumah. Elona mengangguk.
Sudah ada dua kereta kuda yang menunggu, masing-masing ditarik oleh dua kuda. Yang satunya akan diisi oleh barang-barang bawaan Elona, dan yang satunya lagi adalah untuk Elona, Mai, dan Ryndall duduk. Ya, sekretaris kakaknya itupun diminta oleh Stefan untuk ikut dalam perjalanan.
Lalu selain itu, ada enam prajurit termasuk Sir William, menaiki kuda mereka dengan tas bawaan masing-masing. Mereka bersiap untuk menjaga selama Elona tinggal di Armelin. Membawa pasukan dan senjatanya cukup penting untuk berjaga-jaga bila ada rampok di sisi luar kota.
“Iya. Semuanya sudah masuk ke dalam koper.”
“Sudah bawa dress yang ringan? Karena di Armelin iklimnya berbeda dengan di sini.”
“Sudah, kak. Semuanya sudah disiapkan oleh Mai.”
“Jaga kesehatamnu ya. Jangan lupa jaga pola makanmu. Kalau kamu merasa kesulitan, kamu kembali saja ya,”
“Hahaha iya, Kak Iris…” melihat tingkah kakak iparnya itu, Elona tak kuasa menahan tawa.
“Eh, aku menasehati yang benar, tapi kamu malah tertawa!” Iris berkata ketus.
“Hahaha… Kak Iris menasehatiku seperti aku ingin pergi ke antah berantah saja! Aku hanya ke Armelin kan, wilayah milik keluarga Locke!”
“Tapi jaraknya kan jauh sekali…”
“Tenang, aku akan pulang sesering mungkin, oke?”
Iris memeluk Elona hangat. Baru kali ini ada orang yang mengkhawatirkan dirinya saat akan pergi jauh.
Stefan menghampiri Elona. Di belakangnya ada sekretarisnya Ryndall yang mengikuti.
“Elona, selama di sana, Ryndall akan menemanimu. Tanyakan apapun yang kamu tidak tahu padanya, ya?”
“Baik, Kak!” sahut Elona.
“Ryndall, jaga adikku baik-baik. Kabari aku setiap hari.”
“Ya, Tuan.” Ryndall berkata seraya memberi salam hormat pada majikannya.
*****
Perjalanan pun dimulai. Dan inilah yang sangat Elona nanti-nantikan. Tara tahu bahwa ia masih memiliki ingatan Elona yang sebelumnya tentang perjalanan ke luar ibukota. Tapi itu sudah sangat lama sekali, sewaktu orangtua Elona masih ada. Ditambah dengan tindakan Elona yang selalu mengurung diri dalam kamar, ingatannya jadi sudah sangat samar.
Dan sekarang, gadis itu mendapat kesempatan untuk pergi berjalan-jalan ke kota lain sekali lagi. Senangnya bukan kepalang. Berkali-kali Elona melihat ke arah luar jendela sembari memegang sebuah peta besar negara di tangan.
Kereta kuda mereka telah selesai melintasi distrik bangsawan dan sekarang sudah terlihat gerbang kota dari kejauhan.
Rombongan mereka hampir saja melewati gerbang tembok ibukota, kalau saja suara yang sangat Elona kenal memanggilnya dengan kencang dari luar kereta kuda.
“Elona! Elona!"
“Nona! Ada yang memanggil!” seru Mai seraya melongokkan kepalanya keluar jendela.
Elona mengernyitkan dahinya, “Siapa?”
“Tuan Louis!”
“Apa?!”
Mau apa dia menyusulku?
“Hei hentikan kereta kudanya! Elona!”
Dengan penasaran, Elona ikut mengintip. Benar saja, itu suara Louis Vandyke, lelaki yang sudah lama sekali tidak Elona temui, baik di dalam maupun di luar sekolah. Biasanya, Elona selalu menempel kemanapun Louis pergi.
“Pak, tolong berhenti sebentar ya…” kata Elona kepada sang kusir.
Kereta kuda berhenti begitu diminta oleh si nona majikan. Karena kereta kuda utama berhenti, maka seluruh pasukan pun ikut berhenti. Mereka melihat ke arah belakang. Tampak Louis Vandyke tergesa-gesa mengejar rombongan dengan kudanya.
“Nona ingin meladeni dia?” tanya Jon, salah seorang prajurit yang mengawal Elona, juga merupakan orang yang sering menemani Elona latihan stamina. Semua orang di kediaman Locke tahu kisah Elona dengan Louis, dan mereka jadi ikut membenci si Tuan Muda tersebut.
“Sudahlah. Kalian jangan khawatir.” Elona tersenyum. “Kita berhenti sebentar ya. Aku tidak akan lama.”
“Baiklah.” Sir William berkata, “Hei semua, istirahat sejenak!”
*****
“Kamu… mau pergi kemana?”
Louis langsung bertanya begitu ia turun dari kudanya. Elona menatapnya dengan heran.
"Tahu darimana kamu, kalau aku akan pergi?”
“Itu…” Louis kebingungan menjawabnya. Tidak mungkin ia mengatakan bahwa, saking lamanya dia tidak bertemu dengan Elona, dia mengirimkan seorang informan untuk mencari tahu apa yang sedang gadis itu lakukan.
Sejak pemutusan pertunangan itu, Louis jadi selalu mengingat Elona. Lelaki itu mengutus informan hanya untuk sekedar cari tahu tentang kabar Elona, itu saja. Setidaknya itulah yang sering diucapkan Louis dalam hati untuk membenarkan tindakannya.
“Itu tidak penting!” kata Louis sedikit gusar. “Kamu mau pergi ke Armelin, kan? Kenapa?”
“Tumben sekali kamu bertanya begitu!” sindir Elona, “Padahal dulu, sedikitpun kamu tidak pernah peduli,”
“Kenapa kamu mengungkit masa lalu? Jadi benar, kalau kamu tidak masuk sekolah lagi karena aku? Kamu sekarang ingin pergi ke Armelin apa juga karena ingin menghindariku? Sampai seperti itukah? Kamu masih marah tentang apa yang aku lakukan pada Kia-“
“Stop! Stop!” Elona menghentikan cecaran Louis yang tidak berhenti-henti. Lagipula, malas sekali ia untuk mendengar nama Kiara saat ini, di saat Elona sedang ingin menikmati perjalanan.
“Sok tahu sekali, kamu! Kamu pikir, semua yang berjalan di dalam hidupku selalu adalah tentangmu?” Elona mendengus kesal.
“Tapi, buktinya sekarang kamu pergi!” Louis masih saja membantah.
“Memangnya kenapa kalau aku pergi? Apa aku harus selalu melapor padamu, begitu?!” Elona setengah berteriak. Lalu gadis itu menghela nafas, "Baiklah. Aku pergi ke Armelin karena ada urusan bisnis keluarga. Kamu puas sekarang?”
“Karena kamu pergi tiba-tiba, makanya aku-“
“Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang kamu bicarakan." Elona menghela nafas.
"Aku ingin pergi jauh atau tidak, sudah bukan urusanmu lagi, kan? Pertunangan kita sudah berakhir. Kita berdua sudah tidak ada apa-apa lagi sekarang.”
Kata-kata Elona menohok lelaki di hadapannya itu. Sejak awal memang tidak pernah ada apapun. Karena apapun yang diusahakan sebaik mungkin oleh gadis itu, tidak pernah bisa menyentuh hati Louis.
Mendengar hal itu dari mulut Elona sendiri, Louis sangat tersentak.
“Tidak ada apa-apa lagi…?”
“Iya, tidak pernah ada apapun, sejak awal kita bertemu.”
“Tidak pernah ada…?!" Louis menggertakkan giginya. Tangannya mengepal kuat. Lelaki itu menatap Elona dengan tajam.
"Baiklah, lakukan sesukamu!” Louis menghentakkan kakinya dan pergi dari sana.
Ada apa ini? Kenapa Louis jadi bersikap seperti itu?
“Hahahaha! Dasar pria. Begitu wanitanya berhenti mengejar, dia langsung kalang kabut kebingungan!” Mary si prajurit wanita yang ikut mengawal Elona, tertawa melihat tingkah putra Marquess Vandyke yang pergi sambil menahan amarah.
“Barusan tadi jawaban yang bagus sekali, Nona!” para prajurit lain ikut mengacungi jempol. Elona hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum.
“Sudahlah. Ayo, kita lanjutkan perjalanan." Elona berkata. "Aku takut kita tidak akan sampai ke penginapan di kota terdekat sebelum malam.”
“Baiklah, Nona.” Sir William memberikan aba-aba pada rombongan, “Hey, kalian! Ayo berangkat!”
Di dalam kabin, Elona masih saja memikirkan tindakan Louis yang baru saja dilakukannya. Padahal Elona sudah memberi kebebasan pada lelaki itu, tapi kenapa masih saja ingin berurusan dengan dirinya? Tadinya Elona yakin sekali bahwa gadis itu tidak akan bertemu dengan Louis lagi sejak hari itu.
Dan tatapan Louis yang barusan itu...
Meski lelaki itu pergi dengan kesal, namun ia tidak bisa menyembunyikan tatapannya pada Elona. Bukan amarah yang disiratkan dari kedua matanya, tetapi kesedihan.
Louis yang selalu bertingkah dingin dan angkuh, hanya pernah memperlihatkan tatapan itu sekali dulu, saat ibunya meninggal. Namun sekarang, Elona melihat lagi tatapan tersebut, saat gadis itu mengatakan bahwa tidak ada apapun lagi di antara mereka.
Ada apa denganmu, Louis...
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
ciplut
kyak nya emg smua lelaki gtu deh, klo dkjar mjauh, tp gliran stop mlh ngejar balik 😌 #pgalaman pribadi😅
2022-10-22
3
Agnez_('❛◡❛')
Jangan kan para prajurit, Gue aja ajungin jempol saking puas nya dengan jawaban Elona😌❤
2022-07-20
1
Agnez_('❛◡❛')
Keren Elonaa😚😌❤
2022-07-20
1