"Lalu selanjutnya bagaimana, Nona?" tanya Ryndall. Kini mereka telah mengetahui bahwa lahan kosong di hadapan mereka ini tanahnya bersifat asam, yang artinya mustahil ditanami tumbuhan yang bisa dipanen dengan baik.
Untuk memperbaiki tanah yang asam perlu dilakukan pengapuran. Pengapuran adalah metode meningkatkan pH tanah dengan cara memberi kapur pertanian pada lahan yang sudah dibajak.
Kapur pertanian ada macam-macam jenisnya, dan yang paling sering dipakai adalah dolomite.
"Apa itu dolomite?" Bran dan Ryndall sama-sama kebingungan begitu ditanya oleh Elona.
"Itu bahan untuk membuat bangunan. Ada?"
"Bangunan? Kami menggunakan limestone untuk itu, Nona."
"Oh, jadi limestone ada?" Elona kembali berpikir sejenak.
Selain dolomite, limestone atau batu gamping juga bisa digunakan untuk pengapuran tanah. Dolomite sebenarnya adalah limestone yang memiliki kandungan magnesium mencapai level tertentu. Tapi sepertinya di dunia fantasi ini, masyarakatnya belum bisa membedakan mana limestone yang telah menjadi dolomite dan mana yang belum.
Limestone bisa menggantikan dolomite untuk pengapuran tanah, meskipun tidak seefektif hasilnya kalau pakai dolomite. Karena di dalam limestone belum tentu mengandung magnesium, sedangkan dalam dolomite pasti ada magnesiumnya. Kalaupun limestone mengandung magnesium, tidak sebanyak yang ada pada dolomite. Perlu diketahui bahwa magnesium juga merupakan salah satu unsur hara yang diperlukan tanaman dalam pembentukan zat hijau daun.
Tapi bolehlah... daripada tidak ada sama sekali.
Elona kembali memandangi lahan kosong di hadapannya. Luasnya seratus hektar. Kalau dilakukan pengapuran, untuk menaikkan satu angka pH tanah saja butuh 2 ton kapur limestone untuk ditaburkan di lahan seluar 1 hektar. Hanya 1 hektar butuh 2 ton kapur. Sedangkan lahan di hadapannya itu seluas seratus hektar.
"Kita tidak akan bisa menggarap semua lahan ini sekaligus..." gumam Elona.
"Ada apa, Nona?" tanya Bran. Lalu Elona menjelaskan pemikirannya.
"Untuk pertama-tama, kita tidak bisa menggarap lahan ini semuanya sekaligus. Aku akan coba 4 hektar dulu saja. Kalau berhasil, di musim berikutnya akan ditambah. Kita beri patokan dulu saja."
Ryndall mencatat semua perkataan Elona dalam bukunya dengan seksama. "Kemudian, Nona?"
"Kita perlu membajak lahan ini. Cabuti semua tanaman yang gagal panen itu," kata Elona seraya menunjuk tanaman-tanaman yang masih tertancap di tanah dan membusuk.
"Cabuti semua, tapi jangan dibuang karena bisa dijadikan pupuk nantinya. Kemudian, tanah dibajak dengan cangkul dan garu. Kemudian-"
"Tunggu sebentar, Nona, maaf saya potong pembicaraan anda," Bran terlihat cemas.
"Ada apa, Paman?"
"Kalau yang Nona sebutkan tadi harus dilakukan untuk memperbaiki lahan ini, yang jadi masalah adalah sumber daya manusianya..."
"Maksud Paman Bran?"
"Itu... para warga sudah putus asa dengan lahan ini. Aku tidak yakin mereka akan membantu, Nona." ucap Bran.
"Tapi, ini kan demi mereka juga?"
"Aku tidak yakin mereka akan percaya begitu saja dengan semua yang Nona katakan soal pH tanah dan pengapuran itu."
Elona terhenyak dengan perkataan Bran. Apa yang dikatakan pria itu benar. Elona membawa satu terobosan baru bagaimana cara membuat tanah bisa ditanami tumbuhan, sesuatu yang bersifat modern. Para warga yang sudah mengalami tiga kali gagal panen di lahan yang sama, tidak akan percaya begitu saja. Mereka sudah terlanjur percaya kalau tanah ini dikutuk, itu saja.
"Tapi, Paman Bran percaya?" tanya Elona setengah berharap. Bran tersenyum.
"Aku memilih untuk percaya, Nona. Tidak mungkin Nona jauh-jauh dari rumah yang nyaman di ibukota kemari hanya untuk berbohong, kan?"
"Terima kasih, Paman..."
"Tapi berani sekali kalau sampai mereka tidak mempercayai perkataan Nona Elona, yang jelas-jelas adalah anggota keluarag Locke!" Mai ikut bicara dengan sedikit nada kesal.
"Karena mereka belum pernah bertemu dengan Nona Elona. Berbeda kalau yang bicara dengan mereka adalah mendiang Tuan Edward yang memang sudah memiliki kharisma di hadapan warga." Ryndall menjelaskan, namun dengan cepat Mai meraih kerah bajunya.
"Apa maksud ucapanmu! Kamu pikir Nona tidak memiliki kharisma?!" Mai berteriak marah. Ryndall terbelalak dengan sikap Mai.
"Maaf, bukan itu maksudku..." kata Ryndall dengan suara gemetaran. "Tapi kepercayaan warga tidak bisa didapat begitu saja, karena mereka tidak mengenal Nona Elona!"
"Sudah cukup kalian!" Elona berteriak. Mai langsung melepaskan cengkeramannya pada kerah Ryndall.
"Apa yang dikatakan Kak Ryndall itu benar." kata Elona. Bran pun ikut mengangguk.
"Nona harus menjelaskan pada warga dulu apa yang menjadi pemikiran Nona, baru ada kemungkinan mereka mau untuk diajak bekerja sama."
Elona lalu terdiam. Bicara di hadapan banyak orang? Dia tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya, baik di memorinya sebagai Elona maupun di kehidupannya yang dulu sebagai Tara.
*****
Elona kembali berlari-lari kecil menuju danau di belakang kediamannya. Jogging sore di area danau tersebut menjadi rutinitas olahraganya sejak ia tiba di Kota Armelin. Sembari menyusuri rerumputan, gadis itu memikirkan tentang apa yang sudah dibicarakan siang tadi dengan Ryndall dan Bran.
Elona harus bicara di hadapan orang banyak. Dia harus bisa meyakinkan dan membujuk mereka untuk mau bekerja sama dalam menggarap lahan kosong tersebut sekali lagi.
Permasalahannya adalah, Elona tidak mengerti cara membujuk seseorang. Gadis itu yakin bahwa dirinya tidak memiliki bakat untuk bicara secara persuasif terhadap orang lain.
Elona tiba di tepi danau, lalu ia membaringkan dirinya di rerumputan. Langit sore hari terlihat jingga di atas sana. Warna jingga yang sama yang juga pernah disukai oleh dirinya saat masih hidup sebagai Tara di bumi, saat kedua orangtuanya masih ada. Setelah mereka meninggal, Tara bahkan tidak pernah lagi menikmati sore hari seperti sekarang.
Hidupnya yang selalu dijadikan pelayan oleh para kerabatnya dan dibully oleh sepupu-sepupunya membuat gadis itu selalu berada dalam kewaspadaan dan kecemasan. Segala pencapaian yang ia dapatkan seperti juara kelas dan semacamnya tidak pernah dihargai. Hal itu menjadikan dirinya berkecil hati bila harus menghadapi orang banyak.
Tara merasa dirinya tidak seberharga itu untuk perkataannya bisa didengarkan oleh orang lain. Dia selalu waspada dan cemas bahwa barangkali orang lain sebenarnya tidak menyukainya dirinya dan perkataannya.
Lalu tanpa sadar, Tara membangun dinding yang tidak terlihat antara dia dan orang-orang sekitar. Mereka yang sebenarnya ingin tulus berteman dengannya, harus melangkah mundur karena Tara tidak juga membuka hatinya untuk mereka.
Dan saat mereka melangkah mundur, Tara pun beranggapan kalau mereka mendekat bukan untuk menjadi teman. Maka, gadis itu menahan dirinya untuk meminta mereka tidak pergi menjauh. Dan akhirnya lagi-lagi dia harus sendirian.
"Ah, kamu di sini lagi?"
"Eh?"
Sebuah suara muncul di hadapannya. Ternyata milik pemuda yang kemarin Elona tolong karena terkena sayatan di tubuhnya. Hari ini pemuda itu muncul di hadapan Elona dengan tubuh yang sudah sehat seperti tidak pernah terluka, dengan mengenakan tunik sederhana dan celana hitam panjang. Lalu pemuda itu duduk di sebelah Elona yang saat ini berusaha untuk bangun dari rebahannya.
"Oh, kamu... siapa namamu? Art?" tanya Elona memastikan. Pemuda itu mengangguk.
"Kamu terluka lagi?" tanya Elona cemas. Art tertawa mendengarnya.
"Aku tidak terluka setiap hari! Yang kemarin itu hanya kebetulan saja."
"Oh, kukira. Hahahaha..." Elona ikut tertawa. Namun Art memandanginya dengan penasaran.
"Ada apa melihatku begitu?" tanya Elona merasa aneh.
"Kamu pasti sedang ada masalah, ya?"
"Kok kamu tahu?"
"Terlihat jelas." jawab Art singkat.
"Bukan masalah yang besar sebenarnya..." Elona menimbang-nimbang apa perlu menceritakan masalahnya pada orang asing.
"Kalau mau cerita ya cerita saja. Tidak mau juga tidak apa-apa, aku tidak akan memaksa." kata Art dengan santainya.
"Aku mau saja cerita. Tapi apa kamu akan percaya?"
"Tentang apa?"
"Jadi begini..." lalu Elona menceritakan soal semua kejadian yang menimpa Kota Armelin, tentang lahan bekas galian pasir yang terbengkalai dan tidak bisa ditanami tumbuhan apapun, dan soal ketidakpercayaan dirinya mengahdapi orang banyak."
"Jadi rencananya, besok aku harus bicara pada warga supaya mereka mau diajak kerja sama menggarap lahan itu sekali lagi." ucap Elona mengakhiri ceritanya.
Mendengarkan semua cerita Elona, Art malah jadi tertegun. "Apa yang semua kamu katakan ini benar?"
Elona lalu mengeluarkan potongan kunyit yang tadi dipakainya untuk mengukur pH tanah. "Lihat, ini buktinya. Aku tidak bohong."
"Oke..." Art berusaha mencerna semua perkataan Elona dengan cepat. "Jadi, sekarang masalahmu adalah, kamu tidak yakin bisa membujuk warga?"
"Iya..." Elona menjawab dengan lemah.
"Baiklah. Mau dengar saranku?"
"Apa?"
"Bawa satu lagi sampel kunyit yang dimasukkan ke adonan tanah yang pHnya netral." Art lalu memandang ke sekitar. "Nah, dari tanah di tepian danau ini bisa juga."
Elona menuruti perkataan Arthur. Sekali lagi gadis itu mengadakan percobaan. Dan setelah tiga puluh menit, potongan kunyit keluar dari adonan tanah dengan warna yang masih cerah.
"Itu bisa jadi perbandingan nanti saat bicara di hadapan warga." kata Art lagi seraya memperhatikan percobaan Elona. Sebenarnya pemuda itu cukup terkejut, namun ia tidak memperlihatkannya.
"Setelah itu?"
"Yaa tinggal pandai-pandainya saja kamu bicara. Jangan terlihat ragu, nanti orang lain juga jadi ikut ragu. Kamu bisa berlatih di depan cermin kalau mau. Kamu harus sabar, tapi jangan menyerah."
"Begitukah?"
"Yap."
"Baiklah. Terimakasih banyak." Elona tersenyum senang. "Nanti kalau sudah selesai bicara pada warga, aku akan menemuimu di sini, akan kutraktir kamu untuk piknik!"
"Traktir? Kamu mau memberiku makan?"
"Iya! Jadi kamu tidak perlu berburu lagi untuk cari makan kan?!"
"Hah?"
Elona menganggap kalau Art berburu sampai terluka seperti itu karena kelaparan demi mencari makanan. Tapi belum sempat Art menjelaskan, gadis itu sudah dipanggil oleh para pengawalnya untuk pulang.
"Baiklah, sampai besok Art!" Elona bergegas berlari ke arah kediamannya.
"Hei tunggu! Aku bukan-"
Namun Elona sudah terlanjur pergi menjauh meninggalkan Art, alias Arthur Eckart sang putra duke, dalam keheranan.
Bukan hanya tidak mengenaliku, bahkan gadis itu pikir aku ini orang miskin?!
*****
((Author Ryby: Sudah 20 ribu kata~ :D Riset chapter ini bikin lama lagi. ("-_-) Jangan lupa likenya ya!) Thanks!)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
deria
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 dikira fakir miskin dong🤭🤭🤭🤭
2024-06-24
1
Khoerun Nisa
BKN nya kmu yg meminta wnta yg TDK memandang krna status ortu
2024-01-18
0
Jjlynn Tudin
🤣🤣🤣
2023-12-17
0