"Jadi begitulah, Paman-Paman dan Bibi-Bibi semuanya, setelah yang saya demonstrasikan barusan, kandungan pH di lahan bekas galian tambang adalah asam. Hal itu menjelaskan mengapa selalu gagal panen di area tersebut."
Elona menyimpulkan presentasi yang baru saja dia tunjukkan pada warga di balai kota Armelin. Gadis itu ditemani oleh Ryndall dan Bran di sisi kanan kirinya. Pagi ini para warga yang datang cukup banyak meskipun Elona yakin para penambang yang beralih profesi sebagai petani sebelumnya jumlahnya masih lebih banyak lagi dari yang hadir di sini.
Elona yakin bahwa ia sudah menampilkan yang terbaik, kata-kata yang pas yang menjelaskan kenapa selama ini panen selalu gagal, dan bagaimana solusi terbaiknya. Gadis itu juga tak lupa untuk menampilkan hasil percobaan kunyitnya dengan adonan tanah di lahan bekas galian tersebut yang asam dan adonan tanah dari tepian danau yang subur.
Para warga memandangi Elona dengan heran. Selama ini mereka belum pernah bertemu dengan Elona, dan sekarang gadis itu datang untuk meminta bantuan.
"Maaf, Nona." seorang pria berkepala botak dan bertubuh besar tiba-tiba berdiri.
Bran membisiki Elona, "Pak Stan, orang yang sangat dihormati di sini, kedua setelah ayahmu."
Elona menelan ludah. Mendengar kalimat yang diawali dengan kata maaf berarti adalah penolakan, dan gadis itu belum menyiapka hatinya.
"Daripada menggarap lahan yang kita tidak tahu akan berhasil atau tidak, kami lebih memilih untuk mengerjakan hal lain." ucap Stan dengan suara berat. Kata-katanya langsung disambut oleh warga lainnya.
"Benar! Kita akan buang-buang waktu saja!"
"Kami lebih baik bekerja di kota sebelah yang lebih pasti!"
Elona menghela nafas. "Tapi Paman-Paman, ini adalah lahan kita, kota kita. Apa Paman semua tidak ingin melakukan yang terbaik untuk Kota Armelin? Aku sudah menemukan solusinya, tinggal dikerjakan saja. Kalian juga akan dapat upah setelahnya."
"Tunggu sebentar,"
Kemudian, seorang yang lain ikut berdiri. Kali ini, pria tua kurus dengan rambut yang hampir seluruhnya memutih. Bran membisiki Elona lagi, "Pak Tora, sama seperti Pak Stan, orang yang juga dihormati setelah ayahmu."
"Paling tidak, kita bisa menghargai Nona Elona yang sudah jauh-jauh kemari untuk mencoba mengatasi masalah lahan itu." kata pria tersebut.
Stan menepis, "Tapi kan belum seratus persen benar. Lagipula, darimana dia mendapatkan pengetahuan semacam itu? Kakekku dulu adalah seorang petani, tapi kami tidak pernah tahu kalau di dalam tanah ada asam dan basa!"
Elona tak bisa berkata-kata. Tidak mungkin ia mengatakan kalau semua ilmu itu didapatkannya dari dunia lain.
"Lagipula kalau memang semua yang dikatakan Nona Elona itu benar, lalu kenapa dia baru datang sekarang? Anak-anak kami sudah terlanjur merantau ke kota lain."
Elona terhenyak. Satu persatu dari para warga meninggalkan ruangan. Hanya tinggal segelintir orang yang tersisa yang dapat dihitung dengan jari satu tangan.
Tora mendekat pada Elona. Pria tua itu termasuk salah satu yang bertahan. Dia menepuk pundak gadis itu.
"Paman..." Elona ingin mrlanjutkan perkataannya namun tidak bisa. Rasanya seperti tercekik dan panas di tenggorokan saat dia berusaha menahan tangis.
"Jangan putus asa."
"Tapi..."
"Masih ada saya, dan orang-orang itu." Tora menunjuk mereka yang masih tersisa.
"Paman Tora percaya pada apa yang kukatakan?" tanya Elona. Tora mengangguk.
"Aku memang baru pertama kali bertemu denganmu, tapi aku percaya, setidaknya kamu tidak punya niatan buruk pada kami semua." kata-kata Tora terdengar sangat menenangkan Elona saat ini.
"Lagipula, Nona," Tora menghela nafas, "Saat ini Nona persis sekali dengan ayah anda, Tuan Edward, dulu sewaktu dia pertama kali menjabat menjadi marquess."
"Ayah?"
"Iya. Kami percaya pada Tuan Edward, dan tidak mungkin kami akan menyusahkan putrinya. Katakan saja apa yang harus kami kerjakan, kami siap melakukan apapun."
****
Sore itu, Elona sudah berada di tepian danau lagi. Kali ini ia tidak datang dengan tangan kosong. Ada sekeranjang sandwich isi daging, telur dan sayuran serta dua minuman rasa buah yang Elona turut bawa ke sana.
"Art belum datang..." gumam Elona. Lalu dia duduk di rerumputan, dan menelungkupkan wajahnya di antara dua lutut yang dipeluknya.
Pikirannya berkecamuk. Hari itu dia merasa tenaga dan jiwanya terkuras habis. Lelah yang dia rasakan saat bertemu orang banyak, kegugupan yang harus ia alami, dan penolakan yang harus didapatnya, membuat Elona rasanya ingin menangis. Gadis itu juga jadi takut kalau seandainya semua yang direncanakannya gagal, maka dia yang harus bertanggung jawab.
"Wah, ada makanan!"
Suara yang Elona kenal dan tunggu-tunggu sudah tiba. Art, dengan tunik sederhana yang sama, sedang membuka keranjang makanan di hadapan Elona dengan santainya. "Ini untukku, kan?"
"Iya, ambil saja semuanya, hahaha..." Elona tertawa melihat tingkah pemuda itu yang langsung mencomot sebuah sandwich dan minuman dari dalam keranjang. Art lalu duduk di sebelah Elona.
"Bagaimana? Berhasil?" tanya Art. Elona tidak menjawab, ia hanya bisa menggeleng dengan lemah.
Melihat gelengan Elona, Art hanya mengangguk kecil. Lalu pemuda itu melemparkan pandangan ke air danau di hadapannya, sembari memakan sandwich di tangan.
"Dapat berapa orang?" Art lanjut bertanya.
"Tadi ada sekitar tiga puluhan orang yang bertahan." jawab Elona.
"Mau garap berapa hektar?"
"Sementara ini 15 hektar dulu."
"Lalu, apa solusimu?"
"Umm," Elona berpikir sejenak. "Mungkin akan kuminta bantuan para pelayan laki-laki di rumah. Dan juga Sir William dan para prajurit laki-laki. Semoga bisa terkumpul beberapa."
"Begitu... oke! Nanti kubantu juga." Art menyahut dengan santai, lalu mengambil sebuah sandwich lagi dari keranjang dan memakannya dengan lahap.
Elona terkejut, "Loh, kamu bukan warga sini, kan? Tidak perlu repot-repot!"
"Tidak apa-apa. Lagipula aku sedang tidak ada kerjaan."
"Kamu bukannya harus berburu?" Elona bertanya.
Art mengernyitkan dahi. Pemuda itu teringat dengan kesalahpahaman Elona tentang dirinya. "Tidak harus. Aku bisa berburu lain kali. Nanti kubawa juga prajurit- err, teman-temanku, untuk membantu juga." kata Art sambil mengunyah.
"Teman-temanmu? Apa mereka mau?"
"Kalau sampai mereka tidak mau ya aku tinggal pecat saja!"
"Pecat...?"
"Err, maksudku, aku akan musuhi mereka. Tenang saja, mereka tidak akan berani menolakku." kata Art meralat.
Melihat Elona yang sepertinya sangat tidak ingin merepotkan orang lain dengan masalahnya, lelaki itu memutuskan untuk merahasiakan identitasnya. Lebih baik begitu, daripada Elona terus menolak bantuannya. Bila gadis itu tahu siapa sebenarnya laki-laki di hadapannya itu, Elona pasti tidak akan mau dibantu.
Dengan gerakan cepat, Arthur menyodorkan potongan sandwich sisa di tangannya ke mulut Elona. Seketika itu juga, gadis itu terkejut dengan mulut penuh.
"Hmmph!"
"Makan ini! Jangan sedih lagi."
"Aku sedang diet!" teriak Elona setelah makanan di mulutnya habis. Art hanya tertawa mendengarnya.
****
Sore itu, Arthur pulang ke kediaman Eckart di Kota Rudiyart dengan perut kenyang. Para pelayan di rumahnya heran ketika ia menolak untuk ikut makan malam. Biasanya bila baru selesai berburu, tuan mudanya itu sangat kelaparan dan melahap apapun yang para pelayan siapkan.
Kali ini, bukan hanya menolak makan malam, tetapi juga tuannya yang suka seenaknya itu tidak berlumuran darah, apalagi membawa potongan kepala hewan.
Arthur tidak langsung menuju ke kamarnya, melainkan ke menara yang berada di sayap kanan kediamannya, tempat para prajurit Eckart tinggal dan beristirahat. Begitu Arthur membuka pintu menara, sekumpulan prajurit yang sedang menikmati makan malam mereka langsung berdiri tegap di depan meja dan menghentikan kegiatan masing-masing.
"Salam hormat! Tuan Arthur Eckart!" salam mereka serempak dengan gestur hormat mengepalkan tangan kanan di dada.
Arthur melakukan gestur yang sama. "Salam. Ada yang ingin kubicarakan dengan kalian."
"Katakan saja, Tuan. Apa yang anda perlukan?"
"Aku perlu orang-orang dengan stamina besar untuk ikut denganku besok pagi. Kira-kira delapan orang atau lebih."
"Stamina saja? Untuk apa, Tuan? Berburu?" tanya seorang prajurit kebingungan.
Biasanya kalau ingin pergi berburu, tuannya itu lebih suka melakukannya sendirian. Kalaupun dia butuh bantuan prajurit, seharusnya bukan stamina yang dicari, tapi kekuatan.
Arthur mengibaskan tangannya. "Bukan berburu. Tapi bertani. Besok, yang staminanya kuat, ikut aku ke Armelin. Kita akan menggarap lahan di sana."
"Hah? Bertani? Di Armelin?"
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Rina
oww oww mantul
2022-05-28
0
eva
keren abis
2022-01-28
2
Yemina BR Ginting
prajurit yg beralih profesi
2022-01-28
4