BAB-5

VOTE YA 🙏🤗

Diruangan Aaron,..

Aaron meminta asistennya Nicolas membuatkan surat perjanjian yang mengikat Ellena. Aaron menjelaskan kejadian antara ia dan Ellena kemarin.

Nico yang menerima perintah itu merasa aneh dengan permintaan bos nya tersebut. Dengan wajah masih bingung ia pun membuka laptop nya.

Aaron mengetuk-ngetukkan jari jemari di atas meja kerjanya. Sambil menatap lekat tanda pengenal Ellena, yang diambilnya saat tabrakan itu. Ia membaca seksama nama yang tertera disana. Ellena Andini.

"Ehm". Aaron menyunggingkan senyuman liciknya.

Tampak sekali seringai diwajah tampannya, seperti sedang merencanakan sesuatu.

Tak berapa lama terdengar ketukan dipintu.

Nico membuka pintu tersebut, dan mempersilahkan office girl tersebut masuk.

Koordinator Office girl yang bernama Tiwi datang dengan wajah tampak pucat pasi karena ia diminta menghadap keruangan Aaron yang merupakan pemilik sekaligus pucuk pimpinan di perusahaan tempat mereka mengais rezeki. Saat mendapatkan perintah untuk menghadap Aaron, tentu saja membuat Tiwi kaget dan bertanya-tanya kesalahan apa yang sudah diperbuat ia maupun anak buahnya.

Aaron meminta berkas yang dibawa Tiwi dan segera menyuruhnya pergi dan meninggalkan Ellena seorang diri diruangannya. Dengan wajah masih bingung Tiwi pergi berlalu meninggalkan Ellena yang masih berdiri mematung dengan wajah menunduk seorang diri diruangan itu bersama Aaron dan asistennya Nicolas.

Selama satu tahun bekerja di perusahaan ini, belum pernah sekali pun ia dipanggil menghadap langsung tuan Aaron, batin Tiwi. "Ada apa ini", tanyanya dalam hati. Bahkan ia diminta membawa berkas karyawan baru office girl yang bernama Ellena Andini.

*

Aaron menatap tajam Ellena yang mematung didepannya, gadis ini benar-benar cantik ujarnya dalam hati.

"Ellena Andini, usia 21 tahun", suara bariton Aaron terdengar jelas ditelinga Ellena.

"Ke...(terhenti)

Tiba-tiba seseorang membuka paksa pintu ruangan tersebut.

"Honey, I miss you so much", ucap seorang perempuan yang sangat cantik menerobos masuk keruangan kerja Aaron. Perempuan tinggi semampai itu memeluk erat tubuh Aaron dengan manja .

"M-maaf tuan nona Nancy memaksa masuk, padahal tidak saya izin kan", ujar Liza sekertaris Aaron menjelaskan dengan suara terbata-bata.

Tanpa menghiraukan tatapan mata yang tertuju dari banyak orang disekitarnya, tangan perempuan itu bergelayut manja dileher Aaron dan tanpa malu mencium bibir Aaron dihadapan semuanya.

"Why are you here, I'm busy"?, Sambil melepaskan dengan paksa tangan Nancy di lehernya. Aaron menatap Ellena yang tampak risih melihat adegan dewasa itu. Aaron menjauhkan tubuhnya dan meminta Nico membawa Nancy keluar dari ruangannya.

Nico mempersilahkan Nancy meninggalkan ruangan bos nya.

"Lepaskan...! Kau jangan coba-coba menyentuh ku Nico", hardik Nancy dengan ketus.

Terlihat sekali perempuan itu tidak terima diperlakukan seperti itu, matanya menatap tajam Ellena yang sedari tadi berdiam diri mematung menyaksikan semuanya.

"Kenapa perempuan rendah seperti ini ada di ruangan mu sayang? Sementara aku tidak kau izinkan berada di sini!", protes Nancy pada Aaron.

"Bawa dia pergi!", tegas Aaron dengan tatapan tidak bersahabat menatap tajam wanita yang bernama Nancy itu yang tetap ngotot tidak mau pergi dari ruangan Aaron.

*

"Silahkan nona tanda tangani segera!" ujar Nico. Sambil menyerahkan selembar kertas kosong kepada Ellena.

Sedangkan tatapan tajam didepannya, terus mengawasi sambil duduk bersandar dikursi kerjanya dan mengetuk-ngetuk meja didepannya. Tampak seringai diwajahnya yang dingin.

Ellena kaget melihat kertas kosong tersebut telah tertempel materai di atasnya.

"Maaf, A-pa maksudnya ini tuan?", tatapan mata Ellena tampak kebingungan.

Nico menjelaskan bahwa tuan Aaron saat ini tidak akan menuntut atas kerusakan mobilnya jika Ellena mau menandatangani kertas kosong itu. Dan jangan coba-coba untuk melarikan diri.

Mata Ellena terbelalak mendengar penjelasan Nico. Ia ragu untuk menandatangani kertas itu dalam keadaan kosong, bagaimana kalau itu jebakan, pikirnya.

"Bagaimana nona Ellena? Apakah anda sudah memutuskan? Segera menandatangani atau anda lebih memilih berurusan dengan hukum yang berlaku?", ujar Nico penuh penekanan dari kata-kata yang terlontar dari mulutnya yang bernada ancaman itu menyadarkan Ellena seketika.

Ellena terlihat syok mendengar perkataan Nico. Ia tampak berpikir sambil menundukkan kepalanya.

"Ya Tuhan berikan aku petunjuk mu", batin Ellena.

"Nona Ellena kau harus memutuskan, tuan Aaron tidak memiliki waktu menunggu mu", ucap Nico mendesak Ellena dengan ucapan yang sangat tegas.

"Iya tuan, saya akan menandatangani nya", jawab Ellena dengan suara lirih, ia menganggukkan kepalanya pelan. Entah apa yang ada dalam pikirannya, tiba-tiba kepalannya mengangguk saja. Ia dipersilahkan duduk didepan Aaron dan dengan tangan gemetar menandatangani kertas kosong itu. Ellena benar-benar terdesak tidak punya pilihan lainnya selain menandatangi kertas kosong yang di sodorkan di hadapannya.

Ellena sekilas menatap wajah Aaron yang dengan jelas mengintimidasi nya, terlihat menarik sudut bibirnya. Tampak puas dengan keputusan Ellena

Ellena menarik nafasnya, Huhh.

"Ya Tuhan semoga ini keputusan yang tepat", batin Ellena.

"Semoga bukan keputusan yang akan menjerumuskan ku ketempat yang lebih buruk lagi", ucapnya dalam hati.

...***...

KARYA EMILY LAINNYA :

FIRST LOVE LAST LOVE

MENJADI YANG KEDUA

PENGANTIN PENGGANTI

AIR MATA SCARLETT

MARRIAGE AGREEMENT

Terpopuler

Comments

gia nasgia

gia nasgia

Ellena kayaknya kamu tidak akan pernah lepas dari si Aaron 😅

2023-02-16

1

dewi tio

dewi tio

next

2022-03-13

1

Aa

Aa

pelakor dtg

2022-03-11

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!