Apa yang kau rasakan? disaat orang yang paling kau cintai meninggalkan mu seorang diri, rasanya sangat sakit hingga sulit membuat mu bernafas.
Hal yang paling tidak pernah dibayang kan oleh Rere, yaitu hari dimana Dia akan ditinggalkan oleh nenek nya, orang yang paling Dia sayang, dan orang yang selalu berada di sisi nya,
bagaimana Rere tidak histeris, sedangkan Nenek nya adalah satu satunya orang yang Dia miliki di dunia ini.
"Om tolong Nenek ku, Aku mohon, Dia hanya satu satu nya bagi ku,"ujar gadis itu, tangis Rere pecah ketika melihat keadaan Nenek nya yang kian memburuk.
Varo yang melihat keadaaan Rere seperti itu, hatinya juga seperti ikut teriris dan merasa apa yang di rasakan Rere, entah kenapa rasa nya perasaan mereka terhubung.
'Aku berjanji akan melindungi mu, kau tenang saja Nenek, Aku berjanji! Dari siapa pun orang itu'batin Varo.
Para dokter yang menangani keadaan Nenek Sri pun keluar dari ruangan IGD itu dengan wajah yang tidak mengenakan bagi keluarga William.
"Bagaimana keadaan nya dok?"tanya Shinta langsung menanyakan nya kepada dokte yang baru keluar.
"Maafkan saya Nyonya William, keluarga Anda tidak bisa saya tangani,"kata dokter yang menjadi ketua tim itu dengan tatapan bersalahnya.
Varo yang mendenger itu, seketika emosi nya memuncak, ia mendudukan Rere diatas kursi dan melepaskan cengkraman nya.
"Apa yang kau kerjakan bodoh?"teriak Varo kepada dokter hanya diam saat itu.
"Kenapa kalian tidak bisa menangani pasien penting, Dia keluarga William"ujar pria itu berteriak Dia tidak dapat mengendalikan dirinya lagi.
Adrel yang melihat itu segera menahan Varo agar tidak memukul dokter itu.
"Sudah, ini sudah jalan nya," kata Adrel berusaha menenangkan putra nya itu.
"Hahahah"
Semua orang mendengar suara tawa Rere yang sangat memilukan itu, begitu pun dengan Varo yang langsung menatap ke arah sumber suara.
"Kau bohong kan dokter?"
"Om apa Dia bercanda?"
"Ini tidak lucu, kau jangan bercanda dengan keadaan seperti ini, iya kan?"tanya Rere menatap seluruh orang yang ada di ruangan itu secara bergantian.
"Kenapa kalian melihat ku seperti itu?"
"Katakan kalo Nenek ku baik baik saja!"teriak Rere dengan penuh emosi dan air mata yang pecah.
Dia tidak dapat menahan nya lagi, Dia seperti orang yang depresi dengan keadaan yang ia rasakam saat ini.
Rere menarik lengan baju Varo, lalu menatap pria dengan suara bergetar nya dan berbicara.
"Om katakan padaku,"
"Katanya kau yang paling hebat, tapi kenapa? kenapa kau tidak bisa menolong orang yang paling kucintai hah??!!!"teriak Rere kepada Varo.
Varo tidak bisa berkata apa apa, Dia sangat sakit mendengarkan suara pilu Rere yang keluar dari mulut nya. Entah sejak kapan Dia peduli terhadap perasaan gadis itu.
"Maafkan Aku,"lirih Varo memeluk Rere dengan erat.
"Hiks hiks, kenapa? kenapa orang orang yang Aku sayangi meninggalkan ku satu persatu? Tidak ada yang akan menemani ku lagi,"tangis Rere tidak dapat di bendung lagi.
"Daddy, aku sangat prihatin kepada Rere"ujar Shinta hanya bisa menangis pelan tidak tega kepada gadis kecil itu.
Adrel yang melihat istri nya ikut sedih itu pun, terasa terbakar amarah.
"Jangan menangis, Aku benci melihat mu begini"ujar adrel kepada istrinya itu berusaha menenangkan nya.
'Aku akan mencari sampai ke akar akar nya siapa yang berani bermain kepada keluarga william' batin Adrel dengan tatapan tajam nya karena berani membuat istri yang paling Dia cintai menumpahkan air mata.
Seketika di ruangan IGD itu menjadi saksi atas kepergian Nenek Sri, dan orang orang yang sangat merasa kehilangan dirinya.
Anggun dan Clara yang mendapatkan bahwa kabar Nenek Rere meninggal dunia, langsung menuju tempat pemakaman Nenek Rere yang sedang berlangsung.
Gabriel juga ikut dengan mereka, El berasa sangat berasa bersalah, karena tadi ia juga menahan Rere untuk segera cepet bertemu dengan Nenek nya.
Setelah acara pemakaman itu selesai, tampak yang tinggal hanya tinggal Rere dan keluarga William.
"hiks hiks hiks"
Rere dari tadi tidak ada henti henti nya menangasi kepergian Nenek nya, air mata nya tampak tidak pernah surut mengiringi kepergian orang yang paling Dia sayangi. Tampak mata nya yang sudah membangkak serta merah karena menangis.
"Sayang tenang kan dirimu,"kata Shinta mengelus punggung Rere menenangkan gadis itu dari segala beban yang ada di pundak nya.
"Ya kau jangan seperti ini,"timpal Varo merangkul Rere ke dalam pelukan nya itu.
"Jika kau terus bersedih, Nenek mu akan merasa sangat bersalah,"ujar Shinta mengigatkan hal itu kepada Rere.
"Gimana Aku tidak menangisi nya, sementara hanya dia orang yang Aku miliki, sekarang Aku hanya sebatang kara," isak Rere yang menyadari posisi nya saat ini.
"Kau tidak sendirian, ada Varo dan Mommy serta Daddy kau juga anak kami,"peluk Shinta dengan tulus memberikan kenyaman terbaik untuk gadis itu saat ini.
"Terimakasih kalian terlalu baik kepada ku,"ujar Rere dengan suara serak nya akibat banyak menangis.
"Kau jangan sungkan, kau kan calom menantu di keluarga kami,"titah Adrel kepada gadis kecil itu.
Rere baru ingat itu, Dia memang memiliki perjanjian dengan Varo tentang pernikahan mereke. Rere baru ingat itu sekarang, bisa-bisa nya hal sepenting itu Dia lupakan, apakah kebohongan nya akan tetap berlanjut di saat Dia tidak ingin hidup.
"Rere mulai sekarang kau tinggal dirumah mommy ya,"ujar Shinta menyakinkan hal itu kepada Rere.
"Tapi--" perkataan Rere terpotong oleh ucapan Adrel kepada nya.
"Kau ingat sebentar lagi kalian akan menikah, pasti kau juga akan tinggal dengan Varo cepat atau lambat,"ucap Adrel kepada calon menantu nya agar tidak perlu khawatir.
"Baik Daddy"kata Rere dengan pasrah nya.
"Dan pernikahan mu dan Rere akan kita undur satu minggu lagi"ujar Shinta menatap Varo serta Rere bergantian.
"Jangan bahas itu disaat seperti ini Mom,"kata Varo yang menghindari percakapan sensitif itu.
"Ya Shinta, ini bukan waktu yang tepat untuk mereka"timpal Adrel yang menyetujui perkataan anak nya.
"Ah iya,"
"Kau sudah lebih baik? Ayo kita pulang,"kata Varo kepada Rere yang sudah terlihat diam.
Mereka pun pulang terlebih dahulu ke rumah Rere, dari kejauhan teman teman Rere menunggu dan melihat keadaan Rere saat ini.
"Apa kau lihat itu, Dia sangat akrab dengan keluarga William"ujar Clara dengan tatapan takjub nya tanda tidak percaya.
"Ya kau benar,"jawab Anggun yang tidak mau kalah juga.
"Astaga seperti nya gadis yang di berita itu benar benar Rere, benar kan Nggun?"ujar Clara
memastikan ucapan nya sendiri.
"Ya sepertinya itu benar,"angguk Anggun sangat antusias.
"Astaga Aku memiliki seorang sahabat sultan,"titah Clara dengan sangat senang nya.
"Hahaha kau bodoh,"ujar Anggun sambil menepuk pundak Clara.
Keadaan rumah Rere sudah terlihat sepi, tidak ada yang menyembut dan meneriaki nya lagi saat gadis itu melangkah kan kaki nya ke dalam rumah kecil itu.
Teman teman Rere datang kerumah nya, dan masuk kekamar Rere untuk melihat keadaan sahabat mereka.
"Rere,"panggil Clara mencari sosok sahabat nya itu.
"Clara, Anggun, dan Gabriel, kalian disini," senyum Rere, senyum nya masih dihiasi dengan mata yang sembab akibat sehabis menangis itu.
"Apa kau jauh lebih baik,"tanya Gabriel yang duduk di sisi ranjang Rere.
"Ya, tentu"senyum Rere kepada Gabriel yang menanyakan keadaan nya.
"Jangan menyimpan beban mu sendiri, kita sahabat mu ingat itu!" kata Anggun penuh penekanan.
"Ya Anggun benar, jangan terus bersedih,"ujar Clara yang juga meyakinkan Rere bahwasan nya gadis itu tidak sendiri.
"Apa yang harus kulakukan sementara Dia adalah satu satu nya keluarga ku,"ujar Rere dengan sendu menunduk mengatakan itu dengan lirih.
"Kau masih mempunyai ayah mu,"ujar Anggun mengatakan itu dengan tatapan polosan.
"Hah Ayah? Aku sudah tidak mengangap nya Ayah ku, semenjak Dia pergi meninggalkan kami,"sendu Rere mengigat sosok pria yang pertama hadir di dalam hidup nya.
"Kau ini,"ujar Clara menyenggol tangan Anggun mengkode kepada gadis itu agar tidak membahas Ayah Rere.
"Ah aku lupa soal Ayah nya,"bisik Anggun yang tampak canggung dan merasa bersalah.
"Bodoh"ujar Clara kepada Anggu.
Shinta dan Adrel sudah balik pulang duluan, di di depan mobil tampak Reno yang sedang menunggu di luar, sedangkan Varo menunggu Rere untuk membawa nya balik ke mansion William.
"Astaga kenapa gadis itu lama sekali,"gerutu Varo yang dari tadi menunggu nya diruang tamu.
"Apa yang Dia bicarakan, sehingga menghabiskan waktu yang lama,"kesal Varo yang memang orang nya tidak sabaran.
Varo yang merasa hanya menghabiskan waktu yang tak berguna pun, menghampiri Rere yang sedang di kamar nya.
"aapa kau masih lama?"tanya Varo membuka pintu kamar Rere.
Sehingga mata para tamu dikamar itu menatap ke satu sumber arah yaitu Varo yang datang secara tiba-tiba.
"Astaga Dia sangat tampan,"kata Clara dengan heboh.
"Aku bertemu dengan Varo William, apa ini main main,"titah Anggun yang juga tidak percaya.
Varo yang mendengar perkataan teman teman Rere hanya bisa diam dan memasang wajah cool dan tatapan datar nya itu menunggu jawaban Rere.
"Astaga kalian sangat berlebihan"kesal Rere kepada dua pecinta pria tampan itu.
"Hei kau bisa berbicara seperti itu, karna melihat nya setiap hari hari mu,"gerutu Clara yang tidak terima dengan perkataan Rere.
"Ya terserah Kau,"
"Aku bertanya,"kata Varo dengan dingin menatap Rere yang tidak menjawab.
"Ya Aku sudah selesai,"ujar Rere dengan suara ketus nya
"Baiklah kita langsung pergi,"ujar Varo mengambil tas yang berisikan barang barang milik Rere.
Teman teman Rere mengantar kepergian temen mereka di depan rumah Rere.
"Apa kau akan datang ke sekolah besok?"tanya Anggun dengan penasaran.
"Aku tidak tahu"jawab Rere seadanya.
"Jangan memaksa kan dirimu jika kau tidak bisa,"senyum Gabriel penuh arti memegang pundak Rere.
Varo yang melihat itu pun, entah kenapa Dia merasa kesal melihat tingkah Gabriel yang sok pengertian bagi nya.
"Lepaskan,"ujar Varo ketus, menyingkirkan tangan Gabriel dari pundak Rere.
"Astaga lihat dia sangat posesiv kepada Rere" ujar Anggun setengah berbisik kepada Clara.
"Aku yakin Dia sangat menyayangi Rere,"bisik Anggun kembali.
Mobil yang ditumpangi Rere dan Varo sudah pergi menjauh.
'ternyata mereka semakin akrab, akan sangat mudah untuk menghabis sekaligus' seringai orang itu
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 346 Episodes
Comments
Itha Fitra
bgitu jahat kah si daren,hingga tega mnghbisi nyawa istri n ibu mertua ny?
2023-05-02
0
Fadillah
sedijh ditinggal neneknya rere
2022-03-06
0
Rindu Novita
si deren kah itu penguntit
2022-03-06
0