Varo yang sudah membayar makanan nya pun kembali ke parkiran, dari kejauahan Dia melihat Rere sedang berbicara dengan sesosok lelaki. Varo yang merasa penasaran itu pun melangkah kan kaki nya menuju tenpat Rere berada, Varo pun bergegas menghampiri Rere.
"Apa kau bilang dia ponakan ku?" kesal Varo menatap pria yang ada di depan nya.
"Om juga pernah muda kan, pasti tau rasanya ingin berkenalan dengan wanita yang kau ingin kan" jelas pria itu dengan tatapan meminta persetujuan.
Varo tidak dapat berkata kata lagi, ia sudah malas untuk berbicara dan membahas perkataan orang yang ada di depan nya. Varo merangkul pinggang Rere dan menarik wajah Rere untuk menghadap padanya.
"Ih Om ngapain si, diliatin" pukul Rere pada dada bidang Varo.
Pria itu menarik tengkuk gadis nya lalu Dia pun mencium sekilas bibir lembut Rere.
"Apa kau masih berpikir Aku om nya, tidak mungkin seorang Om melakukan hal tidak berakhlak ini kepada ponakan nya" dengan menahan amarah.
Entah kenapa kata kata yang Dia keluarkan merasa menyindir dirinya sendiri, Dia merasakan sesak lalu dada nya terasa sakit, ketika membayangkan hal yang ingin Dia lupakan kembali terlintas di benak nya.
Rere yang mulai kesal dengan perbincangan itu mulai membuka suara.
"Maaf ya Mas, dia tunangan saya bukan Om saya, ayo pergi" Rere menarik tangan Varo untuk masuk ke dalam mobil.
Entah kenapa Rere merasa Varo sedang menahan emosi nya.
'Kenapa dia begitu marah, tidak mungkin kan dia cemburu?' batin Rere.
Mobil berjalan menuju sebuah butik terkenal di kota itu, tempat Rere dan Varo akan memilih baju pernikahan mereka. Varo keluar di ikuti Rere memasuki butik itu, ketika seseorang yang Rere kenal juga berada disana dengan antusias wanita itu menyambut kedatangan Rere.
"Rere" panggil Shinta kepada menantu nya itu lalu memberikan pelukan.
"Tante" senyum Rere membalas pelukan Shinta dengan ramah.
"Ayo sini sayang, kita coba pakaian mu" ujar Shinta menarik lengan gadis itu untuk masuk ke dalam ruangan tempat berganti pakaian.
Seorang pria bernama mandy pun keluar dari ruangan itu.
"Halo nona muda" ujar pria itu sambil berdiri ala model.
'Astaga apa Dia lelaki tulang itik' batin Rere menatap pria itu ngeri.
"Aku sudah membuat semua design dan ukuran baju pengantin yang di ingin kan nyonya besar, dan barang ini hanya bisa di coba oleh Anda loh" ujar Mandy menjelaskan hal itu kepada Rere dengan antusias dengan berjalan berlengak lengok.
Varo yang hanya bisa melihat interaksi ketiga wanita itu hanya bisa terdiam dan memainkan ponsel nya. Ah ralat maksud author dua wanita dan satu pria Mandy termasuk setengah nya.
"Hah apa sebanyak ini hanya untuk ku coba" sambil melihat baju pengantin sudah berjejer rapi di ruangan itu.
Tidak dapat di bayangkan oleh Rere melihat baju pengantin ala putri dogengan impian nya dalam berbagai bentuk dan serta warna sangat Dia sukai disana, padahal ini hanya pernikahan bohongan mereka tetapi hal ini malah terjadi.
"Iya nona muda, kau mau mulai dari yang mana" jelas Mandy kepada pelanggan berharga nya itu
"Tante apa ini tidak terlalu berlebihan" dengan wajah lugu Rere bertanya kepada Shinta yang sedang duduk dengan santai sambil menyeruput teh nya.
"Tidak apa apa sayang, kau patut mendapatkan nya, kau akan menjadi satu satunya menantu di keluarga William" senyum Shinta dengan bahagia.
Rere yang hanya bocah SMA itu, tidak mengetahui seberapa banyak kekayaan yang dimiliki oleh calon suami nya, hal kecil seperti menyediakan gaun pengantin tentu tidak sesulit apa yang dibayangkan oleh Rere. Setelah beberapa waktu Rere mencoba baju, Shinta memilih kan baju yang tepat untuk Rere kenakan untuk acara pernikahan nya
"Varo lihat Rere Dia sangat cantik bukan" kata Shinta yang menunjukan hasil gaun yang Dia pilih.
"Hmm" Varo tidak melihat nya Dia masih fokus dengan hp nya itu dan menjawab dengan seadanya.
'Dasar beruang kutub, Dia tidak melihat ku dan hanya berbicar begitu' batin Rere.
Shinta yang juga kesal lalu mengambil hp Varo, karena hp nya diambil Varo pun mengalihkan perhatian nya kepada Rere yang sedang tepat berdiri di depan nya.
"Gimana cantik bukan" senyum Shinta yang puas membuat anak nya bisa melihat ke arah Rere
"Iyah mom" ketus Varo membuang muka nya karena kesal HP nya di ambil.
"Apa itu tidak cocok? Nandy kesini" panggil Shinta kepada pria itu.
"Iya nyonya besar" ujar Mandy dengan sesopan mungkin kepada wanita itu.
"Kau pilih baju yang lain untuk menantu ku, yang terlihat lebih dewasa" kata Shinta yang menyarankan hal itu untuk di pakai oleh Rere.
"Ah bagaimana dengan yang ini" ujar Shinta mengambil salah satu gaun daj memperlihat kan itu kepada Rere.
Varo yang melihat Mommy nya itu pun lalu membuka suara.
"Mommy apa kau tidak lihat baju yang ia sarankan lebih terbuka, Mom liat saja baju sekarang itu sudah terbuka, dia masih kecil tidak cocok seperti itu" jelas Varo yang ikut dalam pembicaraan itu.
Memang saat ini Rere sedang memakai baju pengantin yang memperlihatkan leher dan punggung nya dan bagian dada yang sedikit terlihat.
"Varo" selidik shinta dengan senyum penuh arti kepada pria itu.
"Hmm" hanya deheman itu yang Dia jawab tanpa berbicara.
"Mom tau, kau pasti tidak ingin tubuh calon istri mu dilihat orang lain" tawa Shinta dengan puas menembak keinginan anak nya itu.
"Bukan beg--" omongan Varo terpotong akibat Shinta lebih dahulu mengatakan hal lain yang Dia pikir kan.
"Mommy paham kau tidak perlu khawatir sayang, mommy akan mengatur nya" ujar Shinta dengn senyum mengoda kepada anak nya itu
"Terserah Nommy saja" kesal Varo yang tidak lagi mengatakan apa pun.
Setelah selesai dengan acara baju pengantin, Rere diantarkan Varo untuk pulang kerumahnya kembali.
***
Di sisi lain, mansion Arnolda.
Clara yang sudah mandi dan ganti baju. Clara mendapatkan baju ganti mendiang baju dari istri Axel yang nampak cocok dengan Clara itu, baju itu memang Axel simpan dan meletakan nya di dalam lemari karena itu membuat nya wanita itu masih ada di rumah mereka. Clara pun segera turun dan bermaksud ingin segera pulang dan pergi dari rumah ini. tapi apakah rumah sebesar ini cocok dibilang rumah seharusnya istana. Clara yang mencari pintu keluar celingak celinguk kanan kiri karena tidak menemukan nya.
"Astaga kenapa rumah ini besar sekali dimana pintu keluar nya bambang" kesal Clara.
"Siapa bambang" suara bariton pria itu mengkaget kan Clara, Axel datang menghampiri clara yang Dia lihat dari tadi sedang kebingungan itu
"Eh it-" Perkataan Clara terpotong saat Alisa datang menghampiri Clara dan Axel.
"Kak Clara kemana ci, tadi alica caliin loh dikamar gada" cemberut gadis itu sambil berkacak pinggang.
"Kamu nyariin kakak ya?" tanya Clara dengan wajah bingung nya.
Alisa hanya menjawab pertanyaan clara dengan anggukan saja.
"Maaf yah sayang tadi kakak cuman cari makan kok" sambil menghampiri Alisa.
"Benelan ga boong" tanya Alisa meyakinkan pernyataan Clara itu.
"Iyah dong" jawab Clara dengan tersenyum.
Axel yang melihat interaksi anak nya dengan orang lain itu pun terheran, tidak biasanya Alisa akan mudah berbicara kepada orang lain, Alisa tipe orang yang seperti Axel hanya sepatah dua kata berbicara dengan orang yang tidak penting baginya.
"Pak Axel saya izin pulang dulu yah, saya tidak pulang semalaman" ujar Clara menatap pria itu.
Pembicaraan Clara itu membuat Axel tersadar dari lamunan nya itu
"Ah baik saya antarkan" ucap Axel.
"Tidak usah pak saya bisa sendiri" bantah Clara menolak bantuan pria itu.
"Kak clara jan gitu, Alica mau lihat rumah kak Clara tau, anterin Daddy yah mau" bujuk gadis kecil itu dengan mata iba nya.
Clara yang melihat tingkah gadis itu pun merasa lucu sendiri.
"Iyah demi Alisa apapun kakak mau" senyum Clara membalas senyuman gadis itu.
"Apapun?" tanya Alisa menatap Clara dengan ide aneh yang mulai muncul.
"Iyah benar" jelas Clara sekali lagi.
Axel yang mulai merasa tidak enak dengan arah pembicaraan itu pun segera mengendong Alisa pergi, untuk mengantar Clara pulang.
"Ih daddy bentar Alica mau ngomong dulu" ketus gadis itu menatap Daddy nya.
"Nanti saja" jelas Axel menatap kembali putri nya itu.
"Mau sekarang" ujar Alisa membuang muka dengan kesal.
"Apa kau tidak ingin menuruti kata kata Daddy" tatap tajam Axel kepada anak nya itu.
Clara yang melihat itu pun segera mengingatkan Axel.
"Bapak ini guru tapi cara ngajarin anak sendiri pake ngancem gitu, sini" Clara mengambil Alisa dari gendongan Axel.
"Yang orang tua nya disini siapa sih" ketus Axel mulai kesal dengan tingkah Clara.
"Daddy jaad, Alica kan mau ngomong bentar aja" dengan mata yang berkaca kaca
"Jangan nangis yah Alisa ntar wajah cantik Alisa ilang loh mau?" tanya Clara menghampus air mata gadis itu.
Alisa menggelang dengan cepat menjawab pertanyaan dari gadis yang ada di depan nya itu.
"Nah pinter" mencubit pipi Alisa dengan lembut sambil tersenyum gemes.
Clara yang menggendong Alisa dan Axel yang berjalan di samping, mereka seperti keluarga kecil yang bahagia.
"Yaudah Alisa mau nanya apa tadi sayang" jelas Alisa membujuk gadis itu untuk mengembalikan mood nya.
"Alica mau nanya, kakak cCara mau ga jadi Mommy nya Alica" senyum gadis itu dalam pelukan Clara.
Clara yang mendapat pertanyaan itu seketika otak nya blank tidak tau harus menjawab apa, Dia menatap Axel, pria yang dilihat itu hanya bisa diam.
"Eh kak---"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 346 Episodes
Comments
Siti Mas Ulah Ulah
disini cewekx bocil semua dapetnya om om,,,,🤭
2022-06-17
0
Karuhei
bingung nih Clara jdinya
2022-05-09
0
Ani Suparni
clara udh d sayang alica
2021-12-03
0