"Itu loh tante, perjanjian kata mas Varo aku harus mau nikah secepatnya" ujar Rere dengan grogi menatap Shinta.
"Iyakah" ucap Shinta dengan tatapan sedikit curiga nya.
"Iyah Mom, Varo sudah bilang ke Rere kalo kita akan mengadakan pesta pernikahan secepatnya" ujar Varo menjelaskan itu ke pada Shinta agar wanita itu percaya.
"Ya sudah tidak apa apa toh, empat hari lagi juga Rere akan lulus dari sekolah" ujar Nenek Sri menjelaskan hal itu.
"Jadi kita kesepakatan acara pernikahan nya akan diadakan minggu depan ya" ujar Adrel menyetujui hal itu secara bersamaan.
"Reno tolong kau urus semua persiapan pernikahan putra ku" ujar Shinta memerintah kan hal itu kepada asisten anak nya.
"Baik nyonya besar" balas Reno menunduk.
Setelah perbincangan itu keluarga Varo berpamitan untuk pulang kepada Nenek Sri dan Rere.
Rere hanya bisa melamun di dalam kamar nya sambil berpikir.
'Astaga Ibu Rere akan menikan tapi Rere tidak menyukai nya Dia om om sudah tua, tapi Dia bilqng bisa membantu Rere mencari kebenaran kematian Ibu. Rere tidak salah kan? Rere hanya ingin tidak mencurigai siapa pun' batin Rere sambil menatap sendu ke langit-langit kamar nya.
Malam hari nya.
Di sisi lain hotel.
"Mmm" desah seorang gadis itu menahan kenikmatan dunia nya
"Permainan mu sangat nikmat sayang" ujar pria itu membelai wajah wanita nya.
"Akhh pelan pelan" desah wanita itu tak lain adalan Selena.
Selena berusaha menyeimbangi permainanan panas lelaki tua itu yang seharusnya patut menjadi ayah nya sendiri.
"Kau memang lebih baik dari pada istri ku" seringai Deren sambil mengecup kening Selena dengan kelembutan.
Setelah selesai dengan pergulatan panas mereka, Deren bersiap siap pulang ke rumah nya.
"Kalau Aku tau hanya menjadi pemuas nafsu, lebih baik aku terus ber akting sampai Varo menikahi ku" sindir Selena kepada pria tua itu.
"Apa yang kau katakan sayang, kau harus bersabar, sebentar lagi aku akan mengusir wanita itu dari rumah ku, dan menikahi mu" ujar Deren memeluk pinggang wanita itu dari belakang.
"Aku sudah lelah ber akting" ketus Selena dengan kesal menghempas kan gengaman tangan Deren.
"Kita lakukan rencana kita di hari pernikahan Varo" seringai Deren dengan puas.
Malam ini suasana terasa sangat dingin sekali, Clara baru saja pulang dari tempat ia bekerja, karena malam ini warung tempat Clara bekerja agak tutup lebih malam, ia pun kesusahan mencari ojek untuk pulang.
"Aduh kenapa ga ada ojek, ga mungkin gua pulang jalan kaki, mana jauh" kesal Clara sambil menghentakan kakinya ke aspal melihat kanan kiri jalan yang sudah begitu sepi hanya beberapa kendaraan yang lewat saja.
"Coba jalan dulu aja deh mana tau an, ada ojek lewat" Clara terus berjalan cukup lama ia belum kunjung mendapatkan ojek, sementara hari semakin larut dan mulai mendung.
Ketika sedang berjalan ia melihat ada anak kecil meringkuk di sebuah tiang listrik, bulu kuduk Clara sekita merinding.
"Ga mungkin setan kan, orang gua rajin ibadah juga" sambil berjalan perlahan, Clara berusaha tidak menghiraukan anak kecil itu dan terus berjalan tetapi ia mendengar anak kecil itu menangis.
"Hiks hiks Daddy jaad" ujar gadis itu dengan suara cadel nya.
'Eh bentar kok ngomong, jangan jnagan beneran anak manusia, tapi ngapain main tengah malam gini' batin Clara menghentikan langkah nya.
Clara mengumpulkan semua keberanianya dan menyapa gadis kecil yg sekitar ber umur 4 tahun itu.
"Halo adik kecil" ujar Clara dengan kaku.
Gadis itu menengok ke atas, dan melihat Dia di sapa oleh Clara lalu menjawab dengan sendu.
"Iya" lirih gadis kecil itu dengan pelan.
'Beneran manusia, tidak mungkin anak setan lucu begini, kayak bule lagi. Ada ada aja gua' batin Clara mengumpat kebodohan nya sendiri.
"Kamu kenapa di jalan begini? rumah kamu dimana?" tanya Clara ikut berjongkok di depan gadis kecil itu.
"Tante penculik" takut gadis kecil dengan mata yang berkaca kaca menahan tangisan nya.
"Eh bukan" ujar Clara membela diri dengan kaku.
'Duh nangis nih anak orang' batin Clara.
Clara berusaha membujuk gadis kecil itu dengan memberikan coklat yang Dia punya.
"Ini buat kamu"menyodorkan coklat itu ke depak nya.
"Tante beneran penculik, kata Daddy yang ngaci makanan sama olang ga di kenal penculik" gadis itu pun berurai air mata karena mengira Clara akan menculik diri nya.
"Eh bukan beneran, masa penculik cantik kayak kakak gini" senyum Clara berusaha membujuk.
Akhirnya gadis kecil itu pun luluh dan menerima coklat dari Clara dengan senyum manis nya itu.
"Kamu kenapa ada di jalan tengah malam begini?" ujar Clara menanyakan hal itu.
Posisi nya disini Clara masih di bawah lampu jalanan saat itu.
"Tadi Alica kabul dali mobil Daddy, telus lari deh, tapi gatau lagi dicini mana nya" jelas panjang lebar gadis itu dengan suara sendu nya.
"Eh ga boleh gitu, nanti Daddy sama Mommy kamu khawatir gimana" ujar Clara menasehati gadis kecil itu.
"Daddy banyak kelja ga inget Alica, Mommy udah di surga" tatap sendu gadis kecil itu menjelas kan nya.
"Eh maaf jangan sedih nya, mama sama papa kakak juga udah di surga, kamu masih beruntung punya Daddy" sambil mengelus rambut gadis kecil itu dengan kasih sayang.
"Jadi Alica masih lebih baik ya kak" gadis itu mulai ramah kepada Clara.
"Iya sayang, jadi kamu tetap harus bersyukur yah, eh nama kamu siapa tadi kakak lupa"
tanya Clara sekali lagi.
"Nama aku alica" tutur gadis itu mengatakan nya dengan semangat.
"Alica ya?" ujar Clara memahami ucapan nya.
"No Alica tapi Alica"
"Eh apa bukan nya sama aja" kata Clara nampak kebingungan itu.
"Alicaaaa" teriak gadis itu cemberut mengatakan nya kepada Clara
"Oh Alisa bukan?" ujar Clara membenar kan kembali ucapan nya.
"Iya" angguk gadis kecil itu dengan antusias karena jawaban Clara benar.
"Dasar kamu lucu yah cadel gitu ngomong nya" sambil mencubit hidung mancung gadis kecil itu dengan tersenyum.
Ditengah obrolan mereka hujan ternyata turun begitu deras membuat Clara kebasahan, ia mengendong Alisa dan menutupi nya dengan jaket yang ia punya agar Alisa tidak kebasahan, ia berlari menuju halte pemberhentian bis untuk berteduh.
"Aduh hujan, Alisa basah ga" tanya Clara dengan khawatir kepada Alisa.
"Ga bacah, maapin alica kakak jadi bacah" tutur Alisa dengan mata yang sembab menahan tangis nya.
"Gapapa kakak udah gede ga bakal gampang sakit, Alisa kan masih kecil ntar sakit gimana bener kan" senyum tulus Clara mengelus rambut panjang anak kecil itu.
Hujan terus turun dengan deras nya Alisa yang terlihat mengantuk itu pun akhirnya tertidur di pangkuan Clara.
'Bukan nya nyampe kos secepat nya, ini nolongin anak orang, mama bapak nya gatau, tapi lucu banget Dia, kasian juga masih kecil di tinggal ibu nya, besok juga harus balik ke panti buat ambil baju sekolah yang ketinggalan,'gumam Clara sambil mengelus pipi Alisa.
Kantuk pun menyerang Clara Dia pun ikut tertidur dengan posisi memeluk Alisa.
***
"Alisa maafkan Daddy jangan seperti ini" ujar pria itu memukul setir mobil nya.
Axel saat sedang uring uringan mencari anak nya yang tak lain adalah Alisa, hujan turun begitu deras membuat Axel kian begitu cemas dengan keadaan putri nya itu.
Axel melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang melihat ke kanan dan ke kiri, tiba tiba perhatian nya tertuju pada seorang gadis remaja yang tak lain adalah siswi nya Clara sedang tertidur di halte bis itu.
Axel menepikan mobil nya ia melihat Clara sedang tertidur dan betapa terkejut nya Dia melihat putri nya sedang di pangku Clara, mendengar ada nya pergerakan, Alisa pun terbangun dari tidur nya.
'Dunia begitu sempit' batin Axel menatap Clara.
"Daddy" teriak Alisa kepada Daddy nya itu.
"Shutt" kata Axel meletakan jari telunjuk di bibir nya menyuruh anak nya itu tetap diam.
"Daddy kakak ini membantu ku, liat kakak nya bacah, dia ngaci alica jaket ini" sambil menyodorkan jaket itu ke depan wajah Daddy nya.
"Ya sudah ayo pulang, dan jangan berusaha kabur lagi" melihat putri nya dengan tatapan memperingatkan itu.
"Telus kakak nya gimana, Daddy mau tinggalin?" ujar gadis itu bertanya kepada Axel.
"Iya ayo" jawab Axel mengendong putri nya itu bersiap masuk ke dalam mobil.
"Daddy gendong kakak nya bawa pulang, masa kakak nya bobo di citu Daddy jaad, tadi kakak nya nolongin Alica" rengek gadis itu yang sudah ada di dalam mobil.
"Jangan menangis Daddy akan membawakan Dia untuk mu" tutur Axel dengan pasrah menatap anak nya.
Axel mengendong Clara masuk kedalam mobil dan meletakan nya di kursi penumpang.
'Apakah gadis ini tidur atau mati, apa dia tidak merasakan sedikit pun orang menyentuh nya, Alisa benar apalagi kalo ada orang jahat Di perlakukan buruk nya seperti nya gadis ini akan tetap tertidur pulas' batin Axel.
***
Pagi hari nya.
Sinar matahari memasuki celah celah pintu kamar, sinar matahari menerpa wajah cantik Clara Dia pun terbangun dari tidur nya, Clara mengeliat dan menyapu bersih ruangan itu.
Tiba tiba ada seorang pria keluar dari kamar mandi, hanya menggunakan lilitan handuk saja, ia adalah Axel
"Akhhhh" teriak Clara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 346 Episodes
Comments
Itha Fitra
wah,,akhir ny clara bakalan jodoh ama axel nih..🙈
2023-05-01
0
Arin
wah spertny Clara jdoh si duda nich...☺️
2022-07-17
0
Lilian Sawori
😀😀😀😀😀
2022-07-01
0