Acara Resepsi.
"Kamu pegel Ghe? duduk aja." Ucap Fadhil pada Ghea yang terlihat tidak nyaman dan sebagai suami berusaha memberinya perhatian.
Ghea hanya menggelengkan kepalanya, dia mencoba menetralisir perasaan gugupnya. "Engga pak." Jawabnya singkat.
Semua yang datang hanyalah tamu-tamu yang kebanyakan dari kalangan bisnis keluarga Erick dan keluarga Latif, sebagian lagi adalah teman-teman Fadhil sesama dosen dikampus.
Tidak ada sama sekali yang Ghea kenal kecuali keluarga Tristan.
"Titaan.. kita semakin jauh." Batin Ghea.
Ghea tidak memberitahu pernikahan dadakannya ini pada Fariz maupun Stevi, dia sungguh tidak memikirkan hal lain kecuali soal Tristan dan kehidupannya yang entah akan ia jalani bagaimana.
Selesai acara resepsi, keluarga Ghea langsung pulang tanpa berbasa basi lagi dengan keluarga Fadhil. Miranti hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat prilaku besannya itu.
"Ghea gak usah kerumah lagi, biar nanti Kak Bryan dan kak Maura yang membereskan barang-barang Ghea ya." Ucap Bryan dengan sangat lembut.
"Makasih Kak, tolong Bopii juga dibawa ya Kak." Pinta Ghea.
Bryan tersenyum, "Iya nanti kakak bawa Bopii juga."
Bryan dan Maura meninggalkan hotel setelah berpamitan dengan keluarga Fadhil.
"Ghe, istirahatlah. Kamu pasti sangat lelah." Ucap Miranti sambil mengusap kepala Ghea yang masih tertutup hijab.
"Iya bu. Terimakasih." Jawab Ghea.
"Jangan panggil Ibu lagi, sekarang panggil Mama ya."
Ghea tersenyum tipis dan mengangguk.
"Fadhil, Papa dan Mama mau bicara." Ucap Latief.
Setelah Fadhil mengantar Ghea kekamar, Fadhil segera menemui Orang tuanya.
"Duduklah Fad." Ucap Latif.
Fadhil duduk bersebrangan dengan Latif dan miranti.
"Fad, Papa tidak pernah menyangka hal ini akan terjadi dikeluarga kita. Tapi Papa bersyukur karna Allah menunjukan siapa sebenarnya Yasmin. Meskipun Ghea yang menggantikan Yasmin dan Ghea adik Yasmin, tapi Papa melihat Ghea adalah gadis yang baik, dan Papa Yakin Ghea memang jodoh yang Allah kasih untuk kamu, jodoh terbaik dari Allah." Ucap Latif dengan serius.
Fadhil dengan seksama mendengarkan apa yang disampaikan oleh kedua orangtuanya.
"Fad, berlakulah baik terhadap istrimu, perlakukanlah Ghea dengan baik. Jika kamu belum mencintainya, berusahalah untuk segera mencintainya, tapi jangan sekali-kali kamu menyakitinya."
"Iya Pa.. Ma.. Fadhil akan memperlakukan Ghea sebaik mungkin." Jawab Fadhil.
"Untuk saat ini mungkin Ghea masih shock Fad, berusahalah untuk melembutkan hatinya juga. Lupakan soal Yasmin yang tidak bisa menerimamu dan telah mengkhianatimu, Mama yakin Ghea berbeda dengan Yasmin, dia lebih baik dari Yasmin." Kali ini Miranti yang memberi nasihat.
Fadhil berjalan menuju kamarnya, dia mengetuk pintu kamar dan Ghea membukanya.
Penampilan Ghea sudah berubah lebih segar, saat Fadhil pergi, Ghea langsung membersihkan diri. Ghea juga memakai piyama lengan panjang. Untung dia membawa pakaian ganti karna memang akan menginap semalam dihotel.
"Kamu sudah mandi Ghe?" Tanya Fadhil.
Ghea mengangguk, "Sudah pak." jawab Ghea.
Ghea duduk disofa sambil bermain ponsel. Sementara Fadhil membersihkan diri didalam toilet setelah membawa pakaian gantinya.
Setelah lima belas menit, Fadhil keluar dari dalam toilet dengan wajah yang lebih segar. Kemudian dia duduk berhadapan dengan Ghea.
"Ghe, bisa kita bicara?" Tanya Fadhil ragu-ragu.
Ghea menaruh ponselnya dimeja, kemudian sedikit menatap Fadhil. "Iya Pak?" Tanya Ghea.
Fadhil menghela nafas. "Maaf." satu kata keluar dari mulut Fadhil.
Ghea tidak menjawab, dia masih terdiam. Fadhil merubah posisi duduknya disebelah Ghea kemudian meraih tangan Ghea dan menggenggamnya.
"Kita baru saja menikah Ghe, pernikahan ini jelas adanya, suka atau tidak suka, tapi pernikahan ini sah secara hukum dan agama." Ucap Fadhil.
Ghea masih diam mendengarkan segala apa yang dibicarakan oleh Fadhil.
"Kamu sekarang istri aku, dan kamu adalah tanggung jawab aku. Aku tidak akan memaksa jika kamu belum siap, tapi belajarlah untuk menerima dan mencintaiku Ghe."
"Tapi bapak sendiri masih mencintai Kak Yasmin kan?" satu pertanyaan keluar dari bibir Ghea.
"Entahlah Ghe, memang sebelum pernikahan ini, hatiku agak sedikit ragu dengan Yasmin. Dan Allah membukakan mata aku, aku tidak merasa sakit hati saat Yasmin mengkhianati aku. Mungkin karna perasaan itu sudah lama mati hanya saja aku baru menyadarinya." Jawab Fadhil.
Fadhil mencium tangan Ghea. "Akupun akan berusaha mencintai kamu Ghe, memperlakukanmu dengan baik. Berilah aku kesempatan Ghe, dan bantulah aku mendapatkan hati kamu. Aku yakin kamu adalah jodoh terbaik yang Allah kasih untuk aku."
Ghea hanya mengangguk, "Kita sama-sama belajar Pak." Lirih Ghea.
"Aku harap kamu tidak menyesal menikah dengan pria tua seperti aku Ghe." Ucap Fadhil.
Ghea tertawa, "Ahahaha, Bapak tua-tua juga banyak fansnya.. Awet muda pak, banyak mahasiswa yang suka sama bapak."
"Masa?" Tanya Fadhil tak percaya. "Koq aku gak tau?" Tanyanya lagi.
Ghea mengangguk. "Karna Bapak gak Update orangnya, terlalu killer."
"Kamu ini." Fadhil menarik hidung Ghea sementara Ghea terus tertawa.
Fadhil merasakan sesuatu yang lain dihatinya, dia tidak pernah bercanda seperti ini sebelumnya dengan Yasmin dulu.
"Udah malam Ghe, tidur." Ajak Fadhil.
"Bapak aja duluan, dan nanti saya tidur disofa aja Pak." Ucap Ghea.
Fadhil mengernyitkan dahinya. "Sofa? kenapa disofa?"
"Ya karna bapak dikasur, jadi saya yang disofa, kalo bapak mau disofa juga gapapa, berarti saya dikasur, tapi bapak jangan kasih saya nilai jelek nanti dikampus ya." Ucap Ghea dengan polosnya.
"Ghe, kamu sadar gak sih kita udah nikah? sekarang kita ini suami istri. kita tidur bersama, satu kasur, satu selimut."
Ghea menggigit bibir bawahnya, sungguh ia tidak siap jika harus melayani Fadhil layaknya istri diatas ranjang.
"Ghe pernikahan kita bukan pernikahan kontrak seperti dinovel-novel online, kita akan menjalani rumah tangga ini dengan sungguh-sungguh meraih ridho Allah." Ucap Fadhil.
Ghea mengangguk, "Maafin aku Pak." Lirih Ghea.
Fadhil mengusap puncak kepala Ghea, "Ingatkan aku jika aku salah juga ya Ghe."
Ghea tersenyum dan mengangguk.
"Kamu sudah sholat Isya? mau berjamaah?" Tanya Fadhil.
Ghea menggelengkan kepalanya. "Maaf pak, aku lagi halangan." Jawab Ghea malu-malu.
Fadhil tersenyum, "kalau gitu tidurlah dikasur bersamaku, aku sholat dulu."
Fadhil mengusap puncak kepala Ghea lalu melantunkan doa diubun-ubun Ghea.
Ghea hanya diam menerima perlakuan Fadhil.
"Barusan aku mendokan kamu, smoga kamu slalu ada dalam lindungan Allah dan menjadi istri yang shalihah." Ucap Fadhil dengan lembut.
Ghea mengangguk dan tersenyum.
Ghea naik keatas kasur, dia membaringkan tubuhnya yang menahan lelah sedari tadi. Setelah selesai sholat, Fadhil pun menyusul Ghea untuk ikut beristirahat, ia masuk kedalam selimut dan mendekatkan dirinya pada tubuh Ghea yang membelakanginya lalu memeluknya dari belakang, mendekatkan wajahnya pada ceruk leher Ghea setelah menaikan rambut Ghea keatas, dan Fadhil merasakan kenyaman disana.
Jantung Ghea berdegup kencang, ia tak menyangka Fadhil yang seorang dosen killer yang biasa dijuluki beruang kutub oleh mahasiswa lain bisa bersikap hangat pada Ghea.
Ghea berusaha melepaskan tangan Fadhil dari perutnya, namun Fadhil makin mengeratkan pelukannya. "Tidur Ghe, sudah malam." Bisik Fadhil tepat dileher Ghea yang membuat Ghea sedikit geli.
.
.
.
.
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
AKU PASTI NANTINYA YASMIN AKAN DATANG KEMBALI MENGANGGU RT GHEA DAN FADHIL,DENGAN DRAMA SEAKAN DIA YG TERSAKITI DAN KORBAN,DAN SAAT ITU TIBA SEMOGA FADHIL BERSIKAP TEGAS KE SANG MANTAN..JANGAN SAMPAI FADHIL LULUH DAN OLENG..
2024-12-25
1
Qaisaa Nazarudin
Semoga aja Fadhil bisa memoerlakukan Ghea dengan baik sebagai isteri nya,Kan Fadhil udah tau apa yg sudah Ghea lalui selama ini..
2024-12-25
1
Rina Yulianti
sepertinya ghea bukan anak kandungnya di cerita yg lain saya baca ghea sama fariz adik kakak tiri
2024-10-11
2