"Yah, Laptop Ghea rusak. Ghea butuh Laptop lagi karna sedang banyak tugas." ucap Ghea dengan sangat hati-hati pada Erick.
"Kamu bawa aja ketempat service Ghe." Sahut Bunda.
"Sudah Bun, tapi lcd nya mati, gak bisa dibetulin juga karna memorynya juga sudah mulai lemot."
"Halah kamu alasan aja, nanti ajalah."
Begitulah reaksi dari orang tua Ghea jika Ghea membutuhkan sesuatu, Erick hanya terdiam tidak pernah menanggapi apapun permintaan Ghea, sementara Bunda paling memberikan solusi untuk Ghea memakai barang bekas Yasmin atau tidak memberikannya sama sekali.
Ghea berjalan gontai menuju kelas, hari ini ada persentasi, namun semua materi yang sudah Ghea siapkan ada didalam laptopnya yang sudah mati total.
"Ghevana, kenapa kamu belum mulai?" Tanya Fadhil yang kebetulan mengisi mata kuliah tersebut.
"Maaf Pak, tapi materi yang sudah saya siapkan ada dilaptop dan laptop saya dari kemarin mati total." Jawab Ghea berusaha menjelaskan.
"Kamu tau kan dikelas saya tidak menerima alasan apapun?" Tanya Fadhil.
Ghea hanya meremas jemarinya. "Titann, tolong aku." Batinnya.
"Silahkan kamu keluar, untuk hari ini kamu tidak usah mengikuti mata kuliah saya." Ucap Fadhil dengan tegas.
"Baik Pak, maaf." lirih Ghea yang kemudian berjalan keluar meninggalkan kelas.
Ghea berjalan menuju taman belakang kampus, tempat yang sepi yang jarang atau bahkan hampir tidak ada orang melewatinya. Ghea duduk dibawah pohon sambil memeluk kedua kakinya.
"Titaann.. Aku kangen." lirih Ghea yang menenggelamkan wajahnya pada dua lututnya.
Perlahan tubuh Ghea bergetar, dia menangisi akan hari-harinya yang berat tanpa Tristan, meskipun kini ada Algi dihidupnya, tetap saja tidak sama dengan posisi istimewa Tristan dihatinya.
Dari jauh Fadhil yang kebetulan mau keparkiran belakang melewati taman belakang itu, dia melihat sosok Ghea yang sedang menangis. Perasaanya merasa bersalah, dia telah memarahi Ghea dihadapan mahasiswa lain. Tadi Fadhil berfikir bahwa Ghea hanya mencari alasan, dia tau percis keluarga Yasmin bukan orang sembarangan, tapi kenapa Ghea masih memakai laptop yang terkesan jadul, yang memang sudah terlihat layak diganti. Harusnya Ghea bisa saja membeli laptop baru dengan meminta kepada kedua orang tuanya.
Seorang pria memghampiri Ghea, dia adalah Fariz sahabat Tristan dan Ghea semasa di SMA, diam-diam Fariz slalu memberikan laporan pada Tristan. Fariz memang kuliah di Universitas yang sama dengan Ghea, itu adalah permintaan Tristan agar Tristan dengan mudah mencari tau kabar soal Ghea.
"Ghe..." Panggil Fariz.
Ghea mendongakan kepalanya.
"Riz, gue rindu Titan." Tangis Ghea semakin pecah.
Fariz dengan sigap memeluk Ghea. Diam-diam Fadhil menguping pembicaraan mereka berdua.
"Ghe sabar Ghe..." Bisik Fariz sambil menenangkan Ghea.
"Semua jahat sama gue Riz cuma Titan yang slalu jaga perasaan gue. Dosen gue gak percaya kalau laptop gue rusak, gue udah bilang sama Ayah dan Bunda, tapi mereka gak pernah mau tau soal gue Riz. Gue harus ngomong sama siapa lagi Riz? Selain Titan gak ada yang percaya sama gue Riz." Ghea terus menumpahkan unek-uneknya kepada Fariz, walaupun Fariz tidak bisa berbuat apa-apa, tapi setidaknya masih ada orang yang mau mendengarkan Ghea.
Fariz memberikan minum untuk Ghea, setelah Ghea agak tenang, Fariz mengajak Ghea pulang bersamanya.
"Pulang yuk Ghe." Ajak Fariz.
"Gue belum mau pulang Riz, lo duluan aja."
"Lo mau kemana? gue temenin ya." Bujuk Fariz.
Ghea menggelengkan kepalanya. "Gue mau Titan Riz, gue mau dia ada disini." Lirih Ghea.
"Gue telponin Titan mau?" Tanya Fariz.
Lagi-lagi Ghea menggelengkan kepalanya. "Engga Riz, Titan gak boleh lihat gue lagi kacau begini, Titan harus lihat gue bahagia."
Fariz merasa bingung, dia ingin membantu Ghea untuk berkomunikasi dengan Tristan, namun Ghea menolak. Memang slama ini Ghea dan Tristan tidak saling kontak. Hal itu mereka lakukan untuk saling memberi ruang untuk orang-orang baru disekitarnya. Namun kenyataannya lain, Tristan tetap tidak tenang, ia meminta Fariz untuk kuliah ditempat yang sama dengan Ghea, Tristan pun slalu menanyakan kabar Ghea pada Fariz dan juga Monica sang Mama.
Seminggu berlalu. Anehnya, Ghea jadi jarang bertemu dengan Algi. Bahkan Algi juga jarang memberinya kabar. Ahh Ghea tak perduli, karna memang dari awal Ghea tidak pernah menyukai Algi.
"Ghevana, siap dengan persentasimu?" Tanya Fadhil yang satu kali lagi memberikan kesempatan pada Ghea.
"Siap pak, terimakasih untuk kesempatannya."
Ghea berjalan kedepan kelas dengan membawa laptopnya, Pandangan Fadhil tak lepas dari Laptop yang Ghea gunakan.
"Itukan laptop Yasmin? dan sudah agak lama juga Yasmin tidak memakainya." Gumam Fadhil dalam hatinya. "Mungkin Yasmin meminjamkannya pada Ghea." Batin Fadhil.
Selesai kelas, Fadhil menjemput Yasmin yang sudah menunggunya disebuah cafe. Mereka janjian bertemu karna akan datang kebutik untuk Memesan Baju pengantin yang akan mereka pakai nanti saat pernikahan mereka.
"Maaf sayang aku telat ya." ucap Fadhil sambil mengecup puncak kepala Yasmin.
"Gapapa Beib, aku juga sambil buka-buka medsos nih. Lihat referensi kartu undangan di Instagram." Jawab Yasmin menunjukan layar laptopnya kearah Fadhil.
Fadhil mengernyitkan dahinya. "Laptop baru ya Sayang?" Tanya Fadhil.
Yasmin mengangguk, "Iya Beib, Ayah yang belikan untuk aku." Jawab Yasmin santai.
Fadhil semakin terheran-heran. Yasmin tidak berkuliah, untuk apa dia mempunyai laptop, sedangkan Ghea yang jelas membutuhkan laptop untuk kuliah, malah memakai laptop bekas Yasmin yang sudah agak lama itu.
"Sebenarnya bagaiman posisi Ghea dikeluarga calon istrinya itu?" Batin Fadhil.
***
Fadhil berjalan menuju parkiran setelah selesai jam mengajarnya, tanpa sengaja dia mendengar suara keributan, dilihatnya Ghea sedang bersama seorang pria.
"Kenapa?? Lo gak suka? gue emang begini? lo gak biasa gue perlakuin begini? biasa dijadiin Queen sama Tristan? Sory gue bukan Tristan." bentak Algi kepada Ghea dihalaman parkir.
"Al kenapa jadi bawa-bawa Titan?" Tanya Ghea pelan.
"Halah, munafik lo. Sampai sekarang lo gak bisa kan lupain si Tristan? sok sok an nerima gue jadi cowok lo."
"Al...!! Cukup."
"Cukup apa Ghe? bener kan yang udah gue duga. Apa sih yang udah Tristan lakuin ke lo sampai lo susah lupain dia? dia udah sentuh lo dimana? disini? disini? apa disini?" Ucap Algi sambil menunjuk bibir, dada dan bagian inti Ghea tanpa menyentuhnya."
Tubuh Ghea bergetar, dia merasa sakit hati atas segala tuduhan Algi, padahal dengan sekuat hati Ghea belajar menerima Algi dan mencoba melupakan perasaanya pada Tristan.
"Anj*ng, lo apain Ghea?" Fariz menarik Algi dari belakang dan mendaratkan bogemnya dipipi Algi.
Algi tersungkur ketanah, Fariz menarik kerah baju Algi. "Jangan jadi pengecut lo, udah jelas lo yang kejar-kejar Ghea dari SMA, sekarang lo hina-hina Ghea."
Bugh, Fariz kembali mendaratkan tinjuan diperut Algi.
"Riz udah.." Lirih Ghea.
Stevi yang kebetulan lewat langsung menghampiri Ghea, dia juga melerai perkelahian Fariz dengan Algi.
"Udah Riz, jangan urusin dia lagi, kita bawa Ghea keluar dulu dari kampus." Ucap Stevi yang sedikit mengenal Fariz.
Fariz dan Stevi membawa Ghea kedalam mobil Fariz dan membawanya kesebuah cafe.
Setelah Fadhil melihat kejadian diparkiran kampus tadi, dirinya semakin tertarik untuk mengetahui lebih soal Ghea.
.
.
.
.
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
🇵🇸Kᵝ⃟ᴸ
pasti ada sebabnya ghea diperlakukan tidak adil oleh orang tua nya, kira kira apa ya yang membuat orang tua ghea pilih kasih banget 🤔
2024-12-04
1
Qaisaa Nazarudin
Udah berapa tahun sebenarnya hubungan Fadhil dengan Yasmin,masa ia gak pernah curiga dengan sikap Yasmin dan keluarga nya terhadap Ghea,Apa emang Fadhil secuek itu yg di butakan oleh CINTA..Ckk miris banget..
2024-12-25
1
Qaisaa Nazarudin
Kenapa baru sekarang kamu ngeh,Tapi aku heran si Yasmin,Katanya gak Cinta sama Fadhil saat kabur di waktu pernikahannya,Tapi kenapa soal baju pengantin dan kartu undangan dia juga malah heboh menyiapkan..
2024-12-25
1