Ghea baru sampai dirumah jam tujuh malam, Algi mengantarnya hingga depan rumah Ghea.
"Selamat malam Ghea, mimpiin Algi ya Ghe." Ucap Algi dengan manis.
Ghea hanya tersenyum, "Makasih Al udah anterin gue pulang, maaf ngerepotin lo ya Al." Jawab Ghea.
Diam-diam Tristan memperhatikan Ghea dari jendela kamarnya, "Ini sakit yang tak berdarah Tuhan." Batinnya.
Plakkk
Sebuah tamparan mendarat halus dipipi mulus Ghea.
"Bun..." Lirih Ghea.
"Bagus ya kamu, jam segini baru pulang." Omel Vika.
"Bun.. Ghea habis dari toko buku. Cari buku untuk materi olimpiade Sains nanti" jawab Ghea menjelaskan.
"Halah, alasan kamu. Mulai ganjen ya kamu pergi sama laki-laki."
"Bunda!!" Ghea tidak terima akan perkataan sang Bunda.
Sementara Yasmin hanya tersenyum licik melihat sang adik yang kena omelan bahkan tamparan dari sang Bunda.
Erick hanya diam tidak memberikan pembelaan kepada Ghea.
Andai dirumah itu masih ada Bryan, mungkin hanya Bryan yang akan membelanya.
Ghea menangis didalam kamarnya, dia tidak mengerti mengapa orang tuanya begitu tidak perduli dengan dirinya.
Ghea duduk dibalkon memandang lurus kedepan tepat kamar Tristan. Lampu kamar Tristan sudah gelap, "mungkin Tristan sudah tertidur." Gumam Ghea.
Tanpa Ghea sadari, didalam kamar Tristan yang gelap, Tristan memperhatikan Ghea dari balik jendela, dia melihat Ghea yang menangis.
"Pasti Ghea kena omel lagi, harusnya gue tadi larang Ghea pergi, pasti Ghea akan aman." Gumam Tristan.
"Ghe, gimana gue bisa tenang ninggalin lo, kalau lo bikin gue khawatir terus." Ucap Tristan sambil terus melihat Ghea dari dalam kamarnya.
Mata Tristan tertuju pada halaman rumah Ghea saat orang tua Ghea dan kakaknya keluar dan meninggalkan rumah dengan mobilnya bersama.
"Bawa koper besar, pasti Kak Yasmin ada pemotretan diluar kota atau luar negri, Bundanya pasti ngikutin dan Ayahnya pasti seperti biasa tinggal diapartemen dekat kantornya jika Bunda dan Kak Yasmin berangkat." Ucap Tristan yang sudah hapal betul dengan kegiatan keluarga Ghea.
Tristan turun dari kamarnya dan keluar menuju rumah Ghea.
"Tan.." panggil Monica saat Tristan hendak membuka pintu.
"Iya Ma.." jawab Tristan.
"Temani Ghea ya, Mama lihat dia sedang bersedih, dan kasih Ghea makan." Monica menyodorkan kotak makan untuk Ghea, Tristan menerimanya. "Mama yakin Ghea belum makan Tan, pastikan princess Mama baik-baik aja ya Tan." ucap Mama.
Tristan tersenyum, "Makasih Ma.."
Tristan masuk kedalam rumah Ghea setelah asisten rumah tangganya membuka pintu rumahnya, dia langsung naik kekamar Ghea.
Kini Ghea duduk diranjang sambil memeluk Bopiinya dan menunduk.
"Ghee.." Panggil Tristan pelan.
Ghea mendongakan kepalanya, "Titann." Lirih Ghea.
Tristan begitu terkejut melihat pipi Ghea yang sedikit membengkak, "Ini...?" Tanya Tristan yang tidak diselesaikannya.
"Sakit Tan, tapi hati gue lebih sakit dari pada tamparan Bunda. Bunda bilang gue ganjen pulang malam sama cowok. Padahal gue cuma cari buku Tan." Lirih Ghea.
Tristan memeluk Ghea, Ghea menangis sejadi-jadinya didalam pelukan Tristan.
"Kalau gue gak diharapin ada, ngapain gue dilahirin Tan, harusnya mereka gugurin gue waktu gue masih dikandungan Bunda, atau harusnya mereka buang gue kepanti asuhan pas gue baru lahir ya Tan, biar gue gak nyusahin mereka." Ghea terus mengungkapkan kekecewaannya.
Monica yang tadi menyusul Tristan karna khawatir dengan kondisi Ghea pun hanya bisa diam dari ambang pintu kamar Ghea. Monica tak habis pikir, mereka menyia-nyiakan anak kandungnya sendiri. Sungguh Monica rasanya ingin merebut Ghea dan membawanya pergi dari rumah ini.
Tristan dengan telaten mengompres pipi Ghea, sesudahnya dia menyuapi Ghea makan.
Ghea tertidur setelah merasa kenyang dan lelah karna habis menangis.
Tristan merapikan anak rambut Ghea dan menyelipkannya dibelakang telinga Ghea.
"Gue sayang lo Ghe, tapi jarak kita jauh banget Ghe." Lirih Tristan.
Tristan mendekatkan wajahnya kewajah Ghea, dengan beraninya mengecup bibir Ghea yang sedang tertidur.
***
"Titaannn..." Pekik Ghea memanggil Tristan dengan panggilan kesayangannya sedari kecil.
"Gak usah teriak Ghe, gue gak gak budeg." jawab Tristan.
Ghea hanya nyengir merasa tidak bersalah.
"Tan, gue lolos masuk final olimpiade sains." Ucap Ghea.
"Ahh kesayangan Titan emang pinter banget sihh." Tristan mencubit kedua pipi Ghea.
"Sakit Titaaann." Keluh Ghea sambil mengusap kedua pipinya.
"Gue janji Ghe, akan dampingin lo, Mama, Bang Krisna dan Papa juga pasti akan datang Ghe."
"Makasih Titan Sayang, gue seneng banget, keluarga lo baik banget sama gue."
Algi menghampiri Ghea yang sedang bersama Tristan.
"Ghe, dipanggil pak Bambang, kita mulai latihan diLab Kimia." Ucap Algi.
"Tan, gue latihan dulu ya, lo mau balik duluan?" Tanya Ghea.
"Gue tunggu lo aja, gue juga ada latihan basket." Jawab Tristan.
"Biar gue yang anter pulang Ghea aja Tan." sahut Algi.
"Sory Al, bukannya gue gak bolehin lo anter Ghea, tapi keluarga Ghea taunya Ghea pulang sama gue, gue cuma gak mau Ghea kena masalah." Jawab Tristan dengan tegas.
Algi mengernyitkan dahinya.
"Masalah? masalah apa ya?" Tanya Algi dengan heran.
"Terakhir lo anterin Ghea pulang malam, Ghea kena omel nyokapnya. Ghea gak boleh pulang malam." jawab Tristan.
Algi menatap Ghea, "Beneran Ghe?" Tanya Algi.
"Gapapa koq Al, itu udah lewat. Yuk kita latihan." Ajak Ghea memecah ketegangan.
"Ghe, nanti susul gue ke lapangan basket ya." Teriak Tristan.
"Oke Titan sayang, Byee." Jawab Ghea dengan ceria.
Begitulah Ghea, slalu terlihat baik-baik saja didepan orang, hanya didepan Tristan dia bersikap apa adanya dan menunjukan dirinya sendiri.
"Hubungan lo sama Tristan giman sih Ghe? koq panggilnya sayang-sayangan?" Tanya Algi penasaran sambil menelusuri koridor kelas.
"Ya gue sama dia gede bareng Al, dari masih TK, SD, SMP, SMA kita slalu sama-sama." jawab Ghea.
"Kenapa gak jadian aja sama Tristan?" Tanya Algi dengan perasaan sedikit cemburu.
"Gue sama dia beda Al, kita gak seiman, keyakinan kita berbeda." lirih Ghea.
"Tapi lo cinta sama Tristan?" Tanya Algi mendalam.
"Mungkin gue sama Tristan saling cinta, tapi terhalang benteng Al, gue cuma berharap smoga gue dan Tristan tidak saling menyakiti, dan akan bahagia dengan pasangan masing-masing nantinya." Jawab Ghea.
"Ada harapan dong Ghe buat gue?" Tanya Al.
"Semua orang pasti punya harapan kan Al?"
Algi hanya tersenyum, dia merasa ada angin segar karna sudah lama menyukai Ghea.
***
"Yeayyy kita juara." Ghea mengepalkan tangannya keatas saat olimpiade sainsnya selesai dan dimenangkan oleh dirinya dan regunya yang mewakili nama sekolahnya.
Monica, Daniel, Tristan dan Krisna menghampiri Ghea dan memberikannya selamat. Dari jauh, Ghea melihat Bryan dan Maura yang perlahan mendekatinya juga.
"Kak Bry, kak Maura." lirih Ghea.
"Anak nakal, olimpiade sains sebesar ini gak ngabarin Kakak." ucap Bryan.
Ghea tidak dapat membendung lagi air matanya dan berhambur memeluk Bryan.
"Jangan pernah berfikir Kakak gak perduli sama Ghea, Kakak sayang Ghea." ucap Bryan sambil membelai kepala Ghea.
.
.
.
.
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 136 Episodes
Comments
Yus Warkop
ortu yg gak adil terhadap anak"nya bakalan dapat balasan
2025-02-04
0
Mut Mainah
lanjuuuuut
2024-05-24
2
Sweet Girl
Ya... Titan tidak menyiakan kesempatan...
2024-04-11
0