“Apakah kamu melihat dengan jelas sosok makhluk itu?”
Mendengar pertanyaan Adam, Clara hanya menunduk dalam diam. Kelihatannya pertanyaan itu telah membawa kenangan buruk bagi gadis itu.
Melihat itu, Adam hanya menggeleng ringan sebelum kembali berbicara.
“Tidak perlu terlalu kamu pikirkan. Sedangkan untuk masalah ini, aku harap kamu bisa menjaga rahasia. Lagipula … orang-orang hanya akan menganggapmu gila jika membicarakan tentang keberadaan hantu, roh jahat, dan semacamnya.”
“Saya mengerti, Senior.”
Mendengar jawaban dari Clara, Adam tampak sedikit lega. Dia tidak ingin kehidupan gadis itu terganggu dan dianggap aneh oleh lingkungan hanya karena dirinya melihat dan tahu kalau makhluk-makhluk itu memang ada.
Dibandingkan mayoritas, kebenaran minoritas akan menguap begitu saja. Contohnya, salah satu pria kaya dengan sengaja memukuli pembantunya. Namun di luar, dia sering menyumbangkan banyak dana.
Bagi si pembantu, pria itu sama sekali tidak baik. Namun di mata publik, pria itu adalah sosok dermawan yang begitu baik.
Bisa dibilang … cara seseorang memandang itu dari berbagai sudut yang berbeda. Jadi, tidak perlu memaksakan apa yang kita anggap benar kepada orang lain. Karena menurut orang lain, mungkin saja apa yang kita lakukan itu salah.
“Aku harap kamu segera sembuh dan kembali menjalani kehidupan seperti biasa. Kalau begitu … aku akan pergi terlebih dahulu.”
Adam bangkit lalu berjalan pergi. Sebelum melewati pintu, suara Clara kembali terdengar.
“Apakah kita akan bertemu lagi, Senior?”
Mengehentikan langkahnya, Adam menoleh dengan senyum lembut di wajahnya.
“Mungkin. Biarkan waktu yang menjawabnya.”
Setelah itu, sosok Adam pergi meninggalkan ruangan. Pemuda itu kemudian pergi dari Rumah Sakit. Ya … dia pergi tanpa berpamitan pada Hikari.
Dalam ruangan perawatan.
Setelah beberapa jam Adam pergi, Yui akhirnya membuka matanya. Melihat sosok Hikari yang duduk menemani dirinya, tatapan sedih terlintas di matanya.
“Ibu …”
“Akhirnya kamu bangun, Yui.”
“Maafkan aku yang malah merepotkanmu, Ibu.”
“Sama sekali tidak.” Hikari menggeleng ringan. “Namun, ke depannya kamu tidak perlu datang ke tempat itu lagi. Apakah kamu mengerti?”
“Baik.”
Setelah mengatakan itu, Yui mencoba untuk duduk. Melihat perawatannya, gadis itu tahu semuanya tidak murah. Dia buru-buru berkata.
“Aku sudah merasa lebih baik, Ibu. Lebih baik kita segera pulang. Perawatan yang terlalu mahal seperti ini tidak diperlukan.”
“Tidak.” Hikari sekali lagi menggelengkan kepalanya dengan ringan. “Kamu tidak perlu khawatir. Jika sebelumnya, ibu akan setuju. Sedangkan sekarang, ibu tidak setuju. Biaya perawatan untuk tiga hari telah dibayar.”
“Ibu???” Yui tampak terkejut. “Kenapa kamu begitu ceroboh, Ibu? Aku tidak ingin kita terlibat hutang. Seharusnya … seharusnya ibu tidak terlalu berlebihan seperti itu.”
Yui tampak linglung. Dia tidak ingin ibunya kembali bekerja lembur seperti dahulu. Gadis itu masih mengingatnya dengan jelas. Ketika dirinya muda, Hikari kerap dihina dan difitnah kalau wanita itu menjual tubuhnya untuk menghidupi ibu dan putrinya.
Padahal, dulu Hikari tak pernah bekerja berlebihan dan hanya bekerja secukupnya. Jika sampai wanita itu terus bekerja lembur dan pulang malam, Yui khawatir ucapan-ucapan buruk dari mulut busuk tetangga akan kembali menyakiti hati ibunya.
Yui sangat menyesal karena dirinya membantah ucapan ibunya dan tetap mengirim bunga padahal sang ibu telah melarangnya.
“Maafkan aku, Ibu …”
“Untuk apa minta maaf? Apakah itu masalah biaya?” Hikari tersenyum lembut ketika menatap putrinya. “Sebenarnya ibu juga agak malu, tetapi juga merasa sangat terbantu. Nak Adam telah membayar biaya perawatan selama tiga hari, jadi kamu bisa nyaman.”
“Adam???” Yui memiringkan kepalanya dengan ekspresi bingung.
“Ya. Kenapa kamu tidak bercerita kepada ibu kalau kamu sudah punya pacar? Selain tampan dan memiliki fisik yang baik, kelihatannya dia memiliki hati yang lembut dan baik.
Namun ibu akan tetap mengingatkan. Jangan melakukan sesuatu yang melebihi batas sebelum kamu lulus. Alangkah baiknya, kalian melakukan hal semacam itu hanya setelah menikah.”
“...”
Yui langsung terdiam. Jangankan seorang pacar, dia merasa tak memiliki banyak teman. Meski parasnya cantik, gadis itu selalu memiliki masalah dalam komunikasi sosial. Singkatnya … dia terlalu pendiam dan tidak memiliki banyak teman nyata.
Seolah tersengat listrik, Yui tiba-tiba mengingat sosok pemuda tampan sekaligus aneh. Sosok yang pergi ke tempat menyeramkan dengan pedang kayu dan seekor ayam.
Setelah memikirkannya baik-baik, Yui menjawab dengan jujur.
“Ibu …. pemuda bernama Adam itu, dia sama sekali bukan pacarku.”
Hikari hendak menggoda putrinya. Namun melihat eskpresi serius sekaligus pahit di wajah Yui, wanita itu tahu kalau putrinya tidak sedang bercanda.
“Lalu .. bagaimana kamu bisa mengenal Nak Adam, Yui?”
“Aku bertemu dengannya di SMA Blue Rose.”
“Apakah Nak Adam juga mengirimkan bunga atau semacamnya?”
“Tidak.” Yui menggeleng ringan. “Aku tidak tahu apa yang sebenarnya dia lakukan. Ketika aku menemuinya, Adam berdiri di depan bangunan sekolah. Aku hampir lupa. Dia membawa pedang kayu dan … seekor ayam bersamanya.”
Pedang kayu? Mungkinkah itu pedang yang terbuat dari kayu pohon persik? Seorang Pendeta Tao?
Tidak seperti Yui yang sama sekali tidak mengerti tentang hal-hal yang berbau supranatural, Hikari berbeda. Wanita itu tahu banyak hal karena … ayahnya adalah seorang Onmyoji.
Hanya saja, ayahnya sangat jarang berada di rumah ketika Hikari muda. Selain itu, ayah dan ibunya selalu memiliki masalah dan cekcok. Itu juga yang membuat dirinya sebagai anak menjadi lebih tertekan dan mengalami depresi. Pada akhirnya, dia terjerumus ke dalam lubang yang dalam hanya karena tipuan cinta.
Wanita itu masih ingat, waktu ketika sang ayah pergi untuk mengurus ‘roh jahat’. Namun pada akhirnya … hanya sebuah mayat dingin yang kembali sampai ke rumah.
“Apakah kamu baik-baik saja, Ibu?”
Mendengar pertanyaan putrinya, Hikari tersenyum ringan sebelum menjawab, “Tidak apa-apa.”
“Maafkan aku, Ibu. Aku melakukan hal bodoh tanpa mengetahui resikonya. Juga, aku merasa beruntung dengan Adam. Jika bertemu orang lain, mungkin hal buruk telah terjadi kepadaku.
Aku merasa berterima kasih kepada Adam. Selain telah menolongku, dia benar-benar mengajarkanku untuk tidak menjadi gadis yang sembrono. Dulu aku selalu mengacuhkan hal semacam itu. Namun setelah menghadapi situasi semacam itu, aku tahu … sebagai gadis, aku juga harus bisa menjaga diri.”
Melihat bagaimana Yui terlihat mengagumi sosok Adam, Hikari menghela napas dalam hatinya. Dia tidak menyangka putrinya benar-benar jatuh hati kepada orang yang baru ditemuinya. Meski terlihat samar, wanita itu melihat benih kasih sayang tumbuh dalam hati Yui.
Sebenarnya, Hikari sendiri tidak ingin putrinya memiliki hubungan dengan para Spiritualist yang misterius dan agak aneh. Orang-orang itu sangat berbeda dengan orang normal. Selain itu, meski terlihat ajaib, sebenarnya mereka juga berhadapan dengan hal-hal berbahaya setiap saat.
Hikari tidak ingin … Yui seperti Ibunya yang menyesal karena kehilangan suami.
Mengingat hal-hal yang pahit itu, Hikari hanya bisa tersenyum tanpa daya. Namun dirinya masih egois dan tidak ingin Yui tahu keberadaan para Spiritualist. Dalam lubuk hatinya, wanita itu ingin putrinya hidup normal dan bahagia.
Lagipula … setiap orang juga perlu menyimpan rahasia masing-masing.
>> Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 313 Episodes
Comments
wibz kitchen
mules kah?
2024-12-08
0
nath_e
betul setiap orang punya rahasia masing2 dan menjaga rahasia org itu penting, jd inget sesuatu 🙈
2023-08-13
1
nath_e
agree with this one👍
2023-08-13
0