Seolah tidak mendengar ucapan gadis itu, tanpa sadar tangan Adam bergerak. Merasakan sensasi lembut dan kenyal seolah sedang menguleni adonan mochi, pemuda itu tersadar dan langsung berdiri lalu mundur beberapa langkah.
Melihat ke arah gadis itu, Adam menyadari penampilannya. Gadis itu memiliki rambut hitam dan lurus, parasnya cantik. Selain itu, dia juga memiliki tubuh ramping disertai kulit yang putih pucat. Mengenakan pakaian serba hitam, penampilan itu jelas seperti gadis SMA pada umumnya.
Gadis itu duduk di tanah sambil menutupi bagian depan dengan kedua tangannya. Ya, bagian depan yang tanpa sadar Adam sentuh.
Benar-benar kenyal dan lembut?
Mengingat sensasinya, Adam sempat melamun. Dia segera menggeleng ringan untuk melupakan hal-hal itu lalu fokus ke gadis di depannya.
“Apa yang kamu lakukan di tempat seperti ini?”
“Apa urusanmu! Kamu pasti sengaja membuntutiku, kan?” Gadis itu langsung mengambil ponsel miliknya sambil memelototi Adam. “Berani macam-macam, aku akan menelepon polisi!”
“Apakah kamu bodoh?” Adam tanpa sadar langsung membalas.
“Kamu yang bodoh!”
“Tidak. Maksudku …” Adam mengelus dagu. “Kamu benar-benar bodoh. Daripada duduk sambil mengancam, bukankah lebih baik kamu berlari? Menelepon polisi … bahkan sebelum mereka datang, mungkin aku telah menjatuhkanmu dan melakukan hal-hal buruk. Bukankah pilihanmu konyol? Aku rasa … itu bodoh.”
“Berhenti memanggilku bodoh!”
“...”
Mengabaikan apa yang dia tadi tidak sengaja lakukan, Adam mengeluh dalam hati. Dia merasa tidak puas dengan sikap pemarah gadis itu. Menganggapnya sebagai remaja dalam masa pubertas, pemuda itu langsung mengabaikannya.
“Pulanglah. Tidak baik untuk berkeliaran di tempat seperti ini. Khususnya gadis sepertimu.”
“Tidak mau!”
“...”
Tidak menjawab, Adam malah menatap ke arah gadis itu. Dia kemudian melihat kalau tidak jauh dari tempat gadis itu duduk, ada satu buket bunga berisi banyak mawar putih. Ekspresi Adam langsung menjadi serius.
Adam langsung mengeluarkan bokken dari tasnya, memandang gadis itu dengan tatapan dingin.
“Tempat ini ditutup 30 tahun yang lalu. Kamu seorang gadis SMA, kan? Kamu sebenarnya siapa?”
Jika dipikirkan baik-baik, tidak mungkin seorang gadis SMA memiliki hubungan dengan korban dari sekolah yang telah ditutup 30 tahun yang lalu. Ketika kebakaran terjadi, bahkan Adam sendiri belum terlahir di dunia ini. Belum lagi anak SMA.
“Kamu siapa? Kenapa membawa pedang kayu ke tempat seperti ini? Seharusnya aku yang bertanya!”
“Diam.” Adam langsung menyela. “Sebutkan saja identitasmu dan kenapa kamu ada di sini, atau …”
“A-Apa yang coba kamu lakukan! Aku di sini untuk menggantikan mendiang nenek mengantar bunga! Adik nenekku adalah korban dalam peristiwa tiga puluh tahun lalu!”
“Berikan dompetmu.” Adam berkata dingin.
“K-Kamu perampok?” Gadis itu kaget. Namun setelah melihat tatapan Adam dan sadar dia bukan lawannya, gadis itu mencoba menawar. “Baik. Aku akan memberimu dompet, tetapi jangan sakiti aku.”
“...”
Apakah aku terlihat seperti penjahat?
Adam mengeluh dalam hati. Melihat ekspresi tegas gadis itu, dia mengangguk lalu menerima dompet berwarna pink dengan desain kekanak-kanakan dari gadis itu. Adam menatap dompet lalu penampilan gadis itu yang terkesan dewasa.
“A-Apa yang salah jika seorang gadis menyukai benda imut!”
“...”
Mengabaikan gadis yang malu itu, Adam langsung membuka dompet dan melihat isinya. Lebih tepatnya, dia mencari kartu pelajar gadis itu. Setelah melihat kalau ternyata gadis itu memang nyata dan hidup, dia mengangguk.
Memasukkan kartu identitas kembali ke dompet, Adam melemparkan kembali benda itu ke gadis yang sekarang berdiri di depannya. Terlihat ragu apakah mencoba melawan atau melarikan diri.
“Sudah malam. Tidak baik gadis sepertimu berkeliaran. Pulang sana, Yui.”
“K-Kamu melepaskanku begitu saja?” tanya gadis bernama Yui itu dengan ekspresi heran.
“Kenapa? Apakah kamu punya fantasi untuk diperlakukan seperti itu?” Adam mendengus dingin.
“Tentu saja tidak!” Yui berseru dengan ekspresi marah. “Hanya saja … aku tidak menyangka kamu orang baik.”
“Apakah aku terlihat jahat?” Adam bertanya dengan heran.
“Kepala ditutup hoodie, memakai masker, membawa tas aneh … daripada jahat, kamu terlihat mencurigakan!”
“...”
Adam terdiam. Tidak menyangka kalau niatnya menyamar malah dianggap sebagai orang aneh di jalan yang suka menatap para gadis atau wanita kantoran.
Setelah menghela napas panjang, Adam akhirnya membuka hoodie dan melepas masker. Menatap dirinya, Yui tiba-tiba tercengang.
“Apakah kamu seorang artis?” tanya Yui dengan polosnya.
“Tentu saja tidak! Apa yang dilakukan oleh seorang artis di tempat seperti ini?” Adam menutup wajah dengan telapak tangannya. Tidak mengerti dengan pemikiran gadis di depannya.
“Bukankah kamu sedang syuting acara uji nyali atau semacamnya? Orang-orang itu temanmu, kan?”
Adam melihat ke arah Yui memandang. Di sana terlihat lima orang pemuda, tiga laki-laki dan dua perempuan. Selain penampilan mereka yang cukup mencolok, mereka membawa action camera dan beberapa peralatan syuting sederhana.
“Aku tidak mengenal mereka.” Adam berkata dengan ekspresi buruk.
Tidak ingin dicurigai, Adam segera menyimpan bokken kembali ke tas miliknya. Dia berdiri di samping Yui tanpa mengatakan sepatah kata. Lima orang itu menyadari keberadaan mereka lalu segera mendekat.
“Wah wah wah! Apa yang dilakukan pemuda tampan dan seorang gadis cantik di tempat seperti ini?”
Salah satu orang yang sepertinya ketua kelompok itu mendekat sambil bertanya.
“Mengantar pacarku mengirim bunga. Neneknya telah tiada, dia menggantikan beliau untuk mengirim bunga ke korban.”
“Di malam hari?” tanya orang itu dengan heran.
“Ya. Bisa dibilang seperti tradisi?” Adam berkata santai.
“Lalu kenapa aku merasa sedang melihat kalian bertengkar?”
“Ah. Jadi itu …” Adam mengangguk. “Aku agak terburu-buru. Pacarku tanpa sengaja terpeleset dan kami bertengkar karena itu. Agak memalukan.”
“Begitulah ceritanya.” Orang itu mengangguk setuju. Sepertinya percaya.
Adam tiba-tiba melepas jaketnya. Karena Yui hanya memakai pakaian one piece berwarna hitam dengan blazer hitam tipis di luar, setelah terkena lumpur … itu agak kurang baik dilihat oleh orang. Belum lagi penampilannya agak terlalu bebas, membuat mata lelaki melihat ke mana-mana.
Adam menggunakan jaketnya yang besar untuk menutupi Yui. Gadis itu cukup pendek. Itu juga alasan kenapa saat Adam merasakan tangan ramping menyentuhnya, ketika dirinya sedikit melirik ke belakang, dia merasa tidak ada orang.
Setelah itu, Adam mengambil buket mawar putih yang jatuh. Dia kemudian menatap lima orang yang datang dengan senyum lembut.
“Apa yang kalian lakukan di sini?”
Sementara dua gadis melihat tubuh Adam yang terlatih dengan baik di balik kaos lengan pendek, tiga pemuda itu agak suram. Orang yang memimpin segera menjelaskan.
“Kami di sini untuk syuting uji nyali. Kami berlima memiliki channel dan membuat konten semacam ini. Banyak orang menyukainya dan kami masih menghasilkan cukup banyak uang dari ini.”
Melihat lima orang yang cukup bersemangat itu, Adam tidak tahu harus berkomentar bagaimana. Menurut dirinya sendiri, itu agak aneh.
Bukankah masih ada konten lain? Pergi ke tempat mengerikan seperti ini demi uang?
Mereka lebih mirip mencari kematian!
>> Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 313 Episodes
Comments
F_Zaida_C
affaan tuch🗿🔪
2023-10-12
0
nath_e
😪😪ya iyalah hrusnya mana identitas mu klo dompet auto dibilang perampok aiiiih jitak boleh???😂
2023-08-01
0
nath_e
😂😂iya...iyaa...sy deh klo gt yg bodoh 🤪
2023-08-01
0