Dalam sebuah ruangan gelap, Adam duduk dengan tenang. Daripada tenang, lebih tepatnya dia merasa mati rasa.
Di depan Adam, terlihat sosok gadis yang amat cantik. Selain parasnya yang cantik, ia memiliki kulit seputih salju, tubuhnya juga terlihat nyaris sempurna. Dalam usia, dia terlihat seusia dengan gadis SMA pada umumnya. Mengenakan pakaian serba merah, terlihat begitu mencolok sehingga pemuda itu tidak bisa memalingkan wajahnya.
Alasan kenapa Adam merasa mati rasa adalah … sosok di depannya adalah hantu. Selain itu, dia merasa tidak memiliki kemampuan untuk melawan sama sekali.
Gadis bergaun merah itu hanya menatap Adam dalam diam. Dia tersenyum manis tanpa mengucapkan sepatah kata.
Mungkin karena telah merasa terlalu lama di antara kehidupan dan kematian, Adam menjadi lebih tenang. Ekspresi di wajahnya juga semakin dingin.
“Kamu … siapa?”
Tidak menjawab pertanyaan Adam, gadis itu melayang perlahan ke arah pemuda itu. Gadis itu kemudian memegang kedua sisi pipi Adam dengan kedua tangannya. Kemudian … dia membuka mulutnya.
“Bangun.”
Mendengar suara itu, Adam membuka matanya. Melihat polisi wanita cantik yang ikut menangkapnya kemarin, dia akhirnya sadar kalau sebenarnya dirinya menginap di kantor polisi. Mengingat mimpi yang terasa begitu nyata, pemuda itu menghela napas panjang.
Entah kenapa, tempramen pemuda itu langsung berubah. Tekanan antara hidup dan mati terbawa dari mimpi ke kenyataan.
“Ada apa?” tanya Adam dengan ekspresi tenang.
“Kamu bebas.” Wanita itu berkata sembari membuka kunci sel penjara. “Pagi ini kelima orang ditemukan. Dari salah satu yang bersaksi, kamu tidak bersalah.”
“Bagaimana dengan keadaan mereka?”
“Satu orang sadar dan empat orang pingsan. Dari empat orang, satu orang koma, dua pemuda sadar tetapi lemah. Sementara satunya …”
“Ada apa?” tanya Adam dengan ekspresi dingin.
“Ketika tersadar, pemuda itu mengamuk dan meneriakkan hal-hal tidak jelas. Bahkan dia berusaha melukai perawat dan dokter. Pada akhirnya … pemuda itu dibawa ke Rumah Sakit Jiwa.”
“...”
Mendengarkan itu, Adam memejamkan matanya. Beberapa saat kemudian, dia menghela napas panjang. Setelah membuka matanya, dia bangkit lalu berjalan keluar dari sel penjara.
“Terima kasih atas kerja kerasmu, Petugas.” Adam berkata sopan.
Pemuda itu kemudian pergi untuk menemui petugas polisi dengan bibir mancung. Setelah mengambil barang-barangnya seperti bokken, dompet, dan kunci mobil … dia menanyakan alamat Rumah Sakit lalu berjalan keluar.
“Jangan malas atau aku akan meninggalkanmu, Nix.”
Mendengar ucapan Adam yang begitu santai dan tenang, si ayam yang terlihat kikuk segera menyusul dan berjalan di samping pemuda itu. Pemandangan itu membuat para petugas merasa takjub dan cukup ajaib. Mereka bahkan mempertanyakan itu dalam benak mereka.
Mungkinkah ayam zaman sekarang … secerdas itu?
...***...
Di tempat parkir Rumah Sakit White Dove, sebuah BMW 4 series convertible berwarna grey metallic tiba. Setelah diparkir dengan rapi dan mesin dimatikan, pintu mobil dibuka. Seorang pemuda tampan keluar dari sana.
Kali ini, Adam memaksa Nix untuk beristirahat dalam lautan jiwanya. Dia merasa kurang nyaman jika harus membawa seekor ayam di Rumah Sakit besar. Hal itu hanya akan membawa masalah yang tidak diinginkan.
Meski hanya memakai kaos lengan pendek, celana panjang olahraga, dan sepatu … banyak orang yang melirik Adam. Khususnya para gadis, mereka memandangnya dengan ekspresi kaget dan malu-malu. Sementara para laki-laki, mereka hanya bisa menatap dengan ekspresi iri.
Masuk ke dalam Rumah Sakit, Adam segera menuju ke tempat resepsionis untuk menanyakan ruangan di mana Yui dan lainnya dirawat.
Sampai di tempat resepsionis, Adam melihat sosok wanita cantik yang terlihat pucat. Entah kenapa, pemuda itu merasa agak familiar. Dia kelihatannya mengkhawatirnya sesuatu dan berbicara dengans seorang resepsionis.
“Maaf, Bu. Jika biaya tidak segera dibayar, perawatan harus segera dihentikan. Ini sudah kebijakan Rumah Sakit. Maaf, saya tidak bisa membantu.”
“Tapi … putriku …”
Setelah memperhatikan baik-baik, Adam akhirnya sadar kalau wanita itu sangat mirip dengan Yui.
Ibu Yui? Terlihat sangat muda?
Meski agak kaget, Adam segera menenangkan diri. Dia kemudian menghampiri wanita itu. Setelah cukup dekat, pemuda itu bertanya dengan sopan.
“Mungkinkah anda … Ibunya Yui?”
“Eh?” Mendengar nama putrinya disebut, wanita itu menoleh. Melihat seorang pemuda tampan dengan proporsi tubuh yang baik serta tinggi, dia terkejut. “Anda?”
“Saya … pacar Yui.”
Karena sudah mengaku demikian di depan lima orang lainnya serta kepada para polisi, Adam akhirnya hanya bisa menjawab dengan jawaban yang sama.
Ibu Yui yang mendengar itu langsung terkejut. Dia tidak pernah tahu kalau putrinya memiliki pacar. Lagipula, gadis itu biasanya sangat pendiam dan tertutup. Bahkan, Yui tidak memiliki banyak teman.
“Perkenalkan, nama saya Adam.” Adam membungkuk sopan. Dia kemudian menoleh ke arah resepsionis. “Biarkan saya yang membayar biaya pengobatannya.”
“Hm? Tapi Tuan, biaya rawat inap adalah …”
“Tidak masalah. Rawat untuk tiga hari terlebih dahulu. Semoga saja Yui bisa bangun sesegera mungkin.”
“...”
Bukan hanya resepsionis, bahkan Ibu Yui tercengang. Tanpa melihat rincian biaya, pemuda di depan mereka langsung berniat membayar begitu saja.
“T-Tunggu, Nak Adam. Kamu tidak perlu repot-repot untuk melakukannya.”
“Tidak apa-apa, Bu.” Adam menggeleng ringan. “Tanpa sengaja tadi saya mendengar percakapan anda. Membantu seperti ini … sama sekali bukan masalah.”
Mendengar ucapan Adam, Ibu Yui merasa agak malu. Dia kesulitan untuk membayar biaya perawatan putrinya sendiri. Meski begitu, wanita itu merasa tidak enak jika harus dibantu oleh pemuda yang baru saja dia temui.
“T-Tapi, Nak Adam …”
Ibu Yui hendak menyela, tetapi Adam telah mengeluarkan dompetnya sambil berbicara dengan resepsionis. Pemuda itu langsung membayar biaya perawatan Yui. Hal yang membuat Ibu gadis itu terdiam.
Bukannya Adam sombong dan beniat pamer. Dia memiliki alasan sendiri untuk melakukannya. Alasannya sebenarnya sederhana.
Meski beberapa kali lebih cantik, wanita dalam mimpi Adam … sedikit mirip dengan Yui!
Apakah itu roh jahat yang meniru? Apakah itu leluhur Yui? Atau mungkin … itu Yui sendiri?
Memikirkan itu saja membuat Adam merasa kurang nyaman. Dia menoleh ke arah wanita yang berdiri di sebelahnya. Pemuda itu kemudian tersenyum ramah.
“Tidak perlu terlalu dipikirkan, Bu. Bisa dibilang … ini juga tanggung jawab saya.”
“...”
Adam mengikuti Ibu Yui untuk pergi ke tempat Yui dirawat. Dalam perjalanan ke sana, suasana agak canggung karena keduanya tidak banyak bicara.
Sampai ke ruangan, Adam terlihat begitu tenang. Sementara itu, Ibu Yui langsung menghampiri putrinya dengan ekspresi dengan wajah sedih. Melihat Yui yang tak sadarkan diri dengan wajah pucat, mata Adam memancarkan kilau dingin.
Sebenarnya … apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarga ini?
>> Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 313 Episodes
Comments
nath_e
mungkin ada rahasia besar dlm keluarga Yui🤔
2023-08-10
0
nath_e
😂😂 polisi kalah lho
2023-08-10
0
nath_e
poor for him😅
2023-08-10
0