“Yui?”
Melihat gadis itu, Adam merasa aneh. Daripada aneh … dia lebih ke arah bingung. Ketika bertemu dengannya pertama kali, dia merasa kalau Yui adalah manusia. Namun setelah gadis itu menghilang dan muncul lagi di depannya, Adam merasa cukup aneh.
Apakah gadis ini kerasukan?
Yui terlihat sedang menunduk dengan rambut yang menutupi wajahnya. Gadis itu berdiam pada tempatnya. Seolah tidak mendengar Adam yang memanggilnya.
Melihat gadis yang sama sekali tidak merespon panggilannya, Adam berjalan mendekal sambil memegang bokken dengan erat. Semakin dia mendekat, pemuda itu menjadi semakin gugup.
Setelah dirinya berjarak dua langkah dari Yui, hal yang aneh terjadi.
Belum sempat merespon, Adam tiba-tiba melihat tubuh Yui jatuh ke lantai. Meski agak curiga, Adam memutuskan untuk memeriksanya. Pemuda itu segera berlutut di dekat Yui lalu memeriksa tubuhnya. Menyadari kalau gadis itu benar-benar manusia dan bernapas, dia tampak lega.
Sebuah tangan ramping dan pucat tiba-tiba meraih pergelangan tangan Adam. Dia merasa tangan itu sangat dingin seolah baru dikeluarkan dari kulkas. Pada saat pemuda itu menoleh, dia melihat Yui yang memegang tangannya berkata lirih.
“Se-Segera keluar dari sini.”
Belum sempat suara Yui memudar, suara langkah kaki terdengar dari lantai tiga gedung sekolah. Suara itu terdengar begitu … berat.
Adam tiba-tiba mengendus aroma asap yang menyesakkan dada. Aroma yang berkali--kali lebih kuat daripada saat dia pertama kali menginjakkan kaki di lantai dua.
Tanpa ragu, Adam langsung mengembalikan bokken ke tasnya lalu menggendong Yui layaknya seorang putri. Dia segera turun tangga tanpa tergesa-gesa. Baru setelah dia sampai di lantai pertama, pemuda itu berlai secepat yang dia bisa sambil menggendong gadis dalam pelukannya.
Satu lebih baik daripada tidak sama sekali! Untuk lima orang lainnya … aku berharap mereka selamat!
Merasakan krisis kematian, Adam segera meninggalkan area sekolah. Ketika dia melewati halaman depan, pemuda itu melihat seekor ayam mengejarnya. Meraskan tatapan yang diarahkan kepada dirinya, dia melirik ke arah gedung sekolah.
Dari balik jendela di lantai dua, terlihat siluet hitam yang menatapnya. Tidak terlihat jelas apakah itu laki-laki atau perempuan, tidak jelas apakah itu manusia atau roh jahat, yang pasti … dia menatap Adam lekat-lekat.
Setelah keluar melewati gerbang yang dibuka oleh lima orang sebelumnya, Adam merasa lega. Dia tidak lagi merinding atau kedinginan. Meski begitu, pemuda itu memilih untuk segera turun dari bukit dan meninggalkan tempat itu.
Adam merasa, dia masih terlalu lemah untuk berhadapan dengan hal-hal yang ada di SMA Blue Rose!
Baru selesai menuruni tangga dan melihat cahaya lampu di kejauhan, Adam merasa seluruh ketakutan dalam hatinya menghilang. Pada saat itu juga, sorotan lampu senter diarahkan kepadanya. Menyadari kalau itu adalah petugas satpam, dia menghela napas panjang.
“Akhirnya manusia hidup,” gumam Adam.
“Berhenti di tempat!” Satpam itu langsung berteriak.
“Syukurlah aku menemukanmu, Pak Satpam. Aku ingin minta tolong-”
“Diam! Aku akan menelepon polisi. Jangan mencoba untuk lari, aku telah memotretmu!”
Adam langsung terdiam. Sudut bibirnya bergerak-gerak. Dengan ekspresi tertekan, dia berusaha menjelaskan.
“Kelihatannya ada kesalahpahaman, Pak Satpam?”
“Hah? Jangan pikir kamu bisa membodohiku, Nak. Seorang pemuda tampan terengah-engah sambil membawa gadis tidak sadarkan diri. Selain itu … pakaian si gadis tampak berantakan sampai perlu ditutup dengan jaketmu sendiri.
Jangan kira aku tidak tahu, Nak! Biar paman ini beri saran, kamu masih muda dan tampan … meski ditolak seroang gadis, tidak seharusnya kamu memaksanya. Masih banyak gadis di luar sana!
Sementara tindakan yang kamu lakukan itu … jelas kejahatan!”
Sirene polisi terdengar. Beberapa saat kemudian, dua mobil polisi tiba di tempat itu. Empat orang turun dari mobil, seorang pria paruh baya, seorang wanita, dan dua orang lelaki.
Tanpa menanyakan sebab dan akibat, keempat orang itu tiba-tiba mengambil pistol lalu mengarahkannya ke arah Adam.
“Jangan bergerak! Letakkan gadis itu perlahan lalu mundur beberapa langkah ke belakang!”
“Pak Polisi, ini …”
“Lakukan saja dan jangan mencoba memberontak, Nak!”
“...”
Meletakkan Yui di tanah, Adam kemudian mundur beberapa langkah. Dia kemudian berdiri sambil mengangkat kedua tangannya.
Seorang lelaki dengan bibir mancung. Ya, bukan hidung … tetapi bibir mancung menghampiri Adam. Dia tampak beberapa tahun lebih tua dibandingkan Adam.
“Berbalik dan taruh tangan di belakang kepala!”
“...”
Adam akhirnya hanya menurut. Pemuda itu kemudian diborgol kedua tangannya. Namun, saat itu dia mengingat sesuatu.
“Pak Polisi, tolong bawa orang untuk mencari orang di gedung SMA Blue Rose. Masih ada lima orang yang tertinggal di sana. Tiga laki-laki dan dua perempuan!”
Mendengar ucapan Adam, polisi paruh baya yang berjalan mendekat mengernyitkan alisnya.
“Apakah yang kamu katakan benar, Nak? Jangan mencoba membohongi polisi. Konsekuensi terlalu besar untuk kamu tanggung!”
“Apa yang aku katakan benar!” ucap Adam tegas.
“Kalau begitu kami akan mengerahkan personil lain untuk mencari para penjahat kecil itu. Sementara kamu … malam ini harus menginap di kantor polisi.”
Para penjahat kecil? Omong kosong! Jelas para polisi ini salah paham!
Benar saja. Para polisi menganggap Adam dan beberapa orang berkomplot untuk melakukan penculikan dan tindak buruk terhadap beberapa gadis tidak bersalah. Tidak sempat menjelaskan semuanya dengan benar … pemuda itu dibawa ke kantor polisi.
Beberapa waktu kemudian, dalam ruang interogasi.
“Katakan yang sebenarnya, Bung! Apa yang kamu lakukan dengan rekan-rekanmu di sana!” Polisi dengan bibir mancung mulai menginterogasi Adam.
“Sudah aku bilang. Aku mengantar pacarku untuk mengirim bunga dan mendoakan adik neneknya yang meninggal dalam kecelakan tiga puluh tahun yang lalu.”
“Lalu kenapa nenek itu tidak datang sendiri!”
“Sudah aku bilang … nenek pacarku sudah meninggal.”
“Lima orang itu … bagaimana dengan lima orang yang kamu sebutkan!”
“Mereka melakukan uji nyali untuk membuat konten, tidak ada hubungannya dengan kami.” Adam menjawab dengan muka datar.
“Lalu kenapa kamu membawa pedang kayu dan seekor ayam!”
“Sudah aku bilang, aku berencana berlatih kendo di dojo setelah mengantar pacarku pulang. Sedangkan ayam … itu adalah hewan peliharaanku.”
“Lalu kenapa pacarmu bisa pingsan!” Si bibir mancung menggebrak meja.
“Aku bilang … kita bertemu dengan hantu, okay?”
“Apakah kamu mencoba membodohiku? Hantu itu tidak ada!”
“Lihat wajahku, Pak Polisi.” Adam menunjuk wajahnya sendiri. “Apakah aku terlihat sedang berbohong?”
“...”
“Tidak bisakah kalian hentikan ini? Aku sudah menjawab hal ini empat kali … empat kali.” Adam menghela napas panjang ketika mengatakannya.
“...” Si bibir mancung masih diam.
“Bagaimana dengan Yui? Apakah dia sudah sadar? Kalian bisa bertanya kepadanya.”
“Jujur saja, kami menginterogasimu karena gadis itu belum sadar. Sekarang dia ada di rumah sakit.” Orang itu menggeleng ringan sebelum menghela napas panjang.
“Boleh aku minta air putih untuk diminum?” tanya Adam. “Lagipula, aku sudah menjawab banyak pertanyaan dan merasa haus.”
Adam kemudian mengalihkan pandangannya ke sudut ruang interogasi. Di sana terlihat seekor ayam hitam yang mematuk jagung rebus. Melihat itu membuatnya agak emosional.
Aku bahkan tidak minum setetes air, tetapi seekor ayam makan jagung rebus!
Bukankah … ini tidak adil?
>> Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 313 Episodes
Comments
F_Zaida_C
geprek aja tu ayam😈🔪
2023-10-12
0
F_Zaida_C
sakit perut ku cuma untuk menertawakan ini
2023-10-12
0
nath_e
😂😂oh come on ..jealous with chicken?? that's too chicken🤪😂
2023-08-10
0