Tanpa terasa, beberapa waktu berlalu.
Membahas beberapa cerita dari masa lalu, Adam dan yang lainnya sesekali tertawa. Benar-benar tampak bernostalgia. Melihat bahwa sudah hampir waktunya cafe dibuka untuk pertama kali, mereka segera pergi bersiap.
Pada saat itu, suara bel berbunyi. Adam segera pergi untuk membukakan pintu. Melihat sosok gadis cantik yang akrab, dia berkata dengan santai.
“Masuklah.”
“Baik, Bos!” jawab Yui dengan senyum lembut di wajahnya.
Melihat seorang gadis manis yang mengikuti Adam masuk, teman-teman pemuda itu merasa penasaran.
“Apakah gadis itu pacarmu, Kak Adam? Dia tampak imut.”
Ken memuji. Namun karena ekspres agak suram dan nadanya yang datar. Itu malah terkesan … agak mengejek. Yui yang mendengar itu mengerjap.
Merasakan tatapan dari lima orang yang dianggap asing baginya, Yui tampak gugup. Pada saat itu, Adam berdiri di depannya.
“Ayolah. Kalian menakut-nakuti dia.” Adam menghela napas. “Salah satu karyawan cafe ini. Bekerja di bagian kasir, namanya Yui.”
“P-Perkenalkan, nama saya Yui. Mohon bantuannya.” Yui membungkuk hormat untuk menyapa.
Kelima orang itu merasa agak canggung. Mereka biasanya cukup santai. Menghadapi Yui yang pemalu dan terlalu normal membuat kelima rekan Adam itu kurang nyaman.
Setelah saling menyapa, Adam bisa melihat Yui yang merasa agak murung. Sebagai leader, pemuda itu menepuk pundak sambil tersenyum santai.
“Tidak apa-apa. Itu hal yang biasa untuk merasa kurang nyaman. Orang-orang yang pertama kali bekerja juga merasakan hal yang sama.”
Mendengar dukungan dari Adam, ekspresi Yui melunak. Gadis itu tersenyum lembut.
“Terima kasih, Bos.”
Selain Yui, pegawai lain juga mulai berdatangan. Setelah semuanya berganti dengan seragam, bahkan Adam sendiri berpakaian sedikit lebih rapi dari biasanya.
Pemuda itu terlihat memakai kemeja lengan panjang dan celana berwarna hitam. Karena bentuk tubuhnya yang baik, dia terlihat sangat enak dipandang bahkan hanya dengan pakaian sederhana.
Jam buka pun akhirnya tiba.
Ketika membuka pintu dan semua staf bersiap, itu tampak cukup sepi. Para karyawan tampak bingung, tetapi ekspresi mereka berubah setelah seperempat jam berlalu.
Mereka pikir tanpa promo yang sangat menarik dan cukup jelas, cafe tidak akan terlalu ramai. Namun pada kenyataannya malah sebaliknya. Bahkan tanpa promo, banyak mobil yang diparkir di depan cafe.
Banyak tamu yang mulai berdatangan dengan teman dan keluarga mereka. Tentu saja, kebanyakan dari mereka adalah teman SMA atau kuliah Adam. Meski tidak dikabari, entah bagaimana mereka tahu kalau pemuda itu membuka cafe.
Bukannya Adam tidak bisa menebak. Dia jelas bisa menebak bahwa semua itu adalah ulah Nicholas, sahabatnya sendiri. Orang itu sangat aktif dalam grup lingkaran pertemanan dan semacamnya.
Awalnya kebanyakan yang datang hanya sekadar formalitas dan ingin menghargai usaha Adam. Lagipula, sosok pemuda itu di SMA atau universitas sama sekali tidak buruk. Meski selalu memiliki kesibukan, dia sama sekali tidak enggan menolong teman yang membutuhkan. Bahkan jika jago olahraga dan pandai dalam pelajaran, Adam tidak menyombongkan dirinya.
Memang, awalnya itu hanya formalitas. Namun setelah masuk ke dalam cafe dan melihat suasana di dalamnya, mereka langsung menyukainya. Tempat bersih serta enak di pandang, cocok untuk berkencang atau sekadar bersantai bersama teman dan keluarga.
Belum lagi dalam pelayanan. Selain ramah, pesanan cukup cepat diantar. Meski karyawan masih kalah dari restoran berbintang atau tempat-tempat kelas atas lainnya. Hal itu bisa dimaklumi. Cafe milik Adam itu benar-benar sudah melebihi standar kebanyakan cafe di Kota B.
Adam yang telah selesai menyapa satu per satu rekan-rekannya yang datang tampak agak lelah. Pada saat itu, beberapa orang memasuki cafe.
Sosok yang paling mencolok adalah orang yang memimpin mereka. Dia adalah pria tampan dengan rambut pirang dan mata biru. Apa yang membuatnya sangat mencolok adalah pipi kanannya yang agak bengkak. Ya … orang itu adalah sahabat Adam, Nicholas.
“Yo! Aku datang bersama rekan-rekan kerjaku, Adam!” seru Nicholas yang mendekati Adam dengan gaya akrab.
“Wajahmu itu … apa yang terjadi, Nick?” tanya Adam dengan ekspresi heran.
“HaHaHaHa! Biasa …” Nicholas memalingkan wajahnya sambil bergumam, “Dipukul oleh lelaki tua itu.”
Mendengar itu Adam menghela napas lega, dia kemudian berkata, “Jangan selalu membuat ayahmu marah. Tidak baik untuk kesehatannya.”
Nick yang mendengar ucapan Adam langsung terdiam. Dia menatap sahabatnya itu dengan ekspresi tidak percaya.
“Bukankah aku sahabatmu? Kenapa kamu mengkhawatirkan lelaki tua itu daripada sahabatmu yang dipukuli, Kawan?
Di mana Nix? Aku ingin mengeluh kepadanya.”
Yui yang ada di kasir dan dua barista yang telah mengenal Nix tampak terkejut. Mereka memandangi Nicholas dengan ekspresi aneh. Bagaimana tidak …
Orang yang mengeluh kepada seekor ayam? Apakah itu masih normal? Tentu saja tidak!
Hal itu bisa terjadi karena sikap Adam yang begitu tak acuh. Nicholas sering mengeluh kepada pemuda itu, tetapi diacuhkan karena tidak menganggap apa yang dikatakan olehnya itu penting. Pada saat itu, Nicholas mulai mengoceh kepada Nix.
Anehnya, Nicholas merasa ayam itu menatapnya sambil mendengarkan. Dia merasa, Nix si ayam bahkan lebih peka daripada tuannya. Jadi mulai saat itu, bisa dibilang Nix adalah tempat baginya untuk mengeluarkan keluh kesah.
Ya … apa yang dipikirkan Nicholas agak tepat. Namun Adam tidak tega untuk mengatakan separuh kebenarannya. Ayam itu selalu menatap Nicholas untuk menyampaikan keluhan besar.
‘Apakah kamu masih manusia? Kenapa manusia bisa sebodoh dirimu?
Tidakkah kamu bisa melihat Tuan Nix sedang makan jagung favoritnya? Hey! Bisakah kamu berhenti, Bung!
Berhenti mengeluh, Bung! Tuan Nix ini adalah ayam! Kamu tampak konyol dan menyedihkan ketika mengeluh pada Tuan Nix!
Bisakah kamu membantuku untuk menutup mulut orang ini, Bos! Aku benar-benar merasa tertekan!’
Nix si ayam pun sebenarnya suka mengatai Nicholas dan bahkan jengkel. Hanya saja, Adam membiarkan sahabatnya untuk mengoceh kepada si ayam. Selain agar pemuda pirang itu puas, hal itu juga seperti hukuman kecil bagi Nix karena suka membangkang.
“Lupakan di mana Nix. Bukankah kamu akan mengajak rekan-rekanmu untuk makan?”
Mendengar ucapan Adam, Nicholas baru sadar. Dia menepuk dahinya dengan ekspresi tertekan.
“Apakah kamu masih punya tempat? Aku tahu teman-teman akan datang di hari pertama.”
“Aku sudah menyiapkan tempat untuk kalian.” Adam mengangkat bahu. “Aku tahu kamu akan datang dengan banyak orang.”
“Hahahaha! Bagus, itu baru sahabatku.”
Memberitahu teman-temannya, Nicholas dan yang lainnya mengikuti Adam untuk pergi ke tempat yang disiapkan.
Ketika kembali, Adam melihat sosok yang akrab di dekat meja kasir.
“Apakah kamu benar-benar sudah baikan, Yui? Tidak seharusnya kamu bekerja jika belum sembuh seutuhnya.”
Yui yang melihat wanita cantik dengan seragam polisi di depannya hanya bisa tersenyum pahit.
“Saya baik-baik saja. Terima kasih atas perhatian anda, Nona Jennifer. Ngomong-ngomong … apakah anda sudah memesan tempat?”
“Aku menunggu seseorang. Dia bilang tempat yang baru dibuka ini kelihatannya bagus dan ingin mencobanya. Jadi-”
Melihat Yui menatap ke arah lain, Jennifer mengerutkan kening. Dia menoleh ke belakang, melihat sosok pemuda tampan yang begitu akrab. Wanita itu telah mencari identitasnya tetapi tidak menemukannya karena suatu alasan.
Tanpa Jennifer sangka, dia menemukan sosok itu di tempat ini. Ketika hendak mengatakan sesuatu, tiba-tiba hal aneh terjadi. Suara musik terdengar …
Halloween by John Carpenter …
Mendengar itu, Adam langsung menoleh ke sumber suara. Di sana, terlihat sebuah radio klasik. Sebuah kaki memencet tombol on di atasnya. Ya … kaki. Lebih tepatnya … kaki ayam.
Melihat wajah Jennifer yang muram, Adam tercengang ketika melirik Nix yang entah bagaimana sudah menyalakan radio.
Memang … aku merasa agak takut. Namun, kamu tidak perlu menambahkan musik latar untuk film horor seperti itu kan, Nix???
Merasakan bagaimana Jennifer memandangnya, Adam hanya bisa tersenyum pahit.
>> Bersambung,
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 313 Episodes
Comments
F_Zaida_C
mantap nix kamu memang yang bisa diandalkan saat keadaan genting🗿👍
2023-10-13
0
Abisena
🤣😂selalu terpesona sama ulah tuan Nix...Adam kau harus bersyukur punya nix
2023-09-04
1
fujoshi akut
itu normal kok, mayankan sebagai tempat curhat 🗿👍🏻
2022-05-15
0