Satu minggu kini telah berlalu, selama seminggu ini Kania hanya mengurung diri didalam kamar, ia akan keluar apabila rumah sedang kosong, bahkan ia selalu melewatkan makan malam, pagi dan siang...
dan sudah berpuluhan kali sahabat nya menelpon nya tetapi Kania seakan enggan untuk mengangkat telfon dari sahabat nya...
"Kamu ngak boleh seperti ini Kania, kamu harus bangkit, jangan menjadi orang bodoh hanya karna takut, kamu juga tidak akan hamil..."Ujar Kania menatap pantulan dirinya dicermin, ia mengelus perut nya kemudian menggelengkan kepala nya...
Ia kemudian meraih ponsel nya dan menelfon sang sahabat...
"Halo, astaga Kania kamu kemana aja, kenapa ngak pernah angkat telfon gue, satu pesan gue pun tak ada yang loh balas, Lo itu kemana, apa yang terjadi sama loo?..."Kania menjauhkan ponsel nya dari telinga nya, sungguh suara Mutia benar-benar membuat gendang telinga nya hampir pecah...
"Aku ngak enak badan selama seminggu ini, dan aku juga sudah menghubungi Bu Intan untuk meminta izin, dan besok aku juga sudah kembali bekerja tenang saja..."Jawab nya berbohong, Kania bukan nya tidak ingin jujur pada Sahabat nya tapi belum saat nya ia jujur....
"Apa kamu yakin? kenapa aku agak ragu dengan ucapanmu?..."Tanya Mutia seakan tidak percaya, Mutia bukalah orang bodoh yang gampang dibohongi apalagi dengan Kania, ia tau betul bagaimana Kania...
"Aku serius Mutia,..."Cicit Kania berusaha meyakinkan...
"Ya udah deh, aku percaya, tapi kalau kamu ada masalah jangan pernah sembunyin dari aku yak,!!..."Seru Mutia yang terdengar manja, Kania mengiyakan saja disertai air mata yang sedari tadi mengalir dipipi mulus nya, sekuat mungkin ia tidak mengeluarkan suara tangisan agar Mutia tidak mendengar nya...
"Sudah dulu ya Mutia, gue laper banget nih belum makan, nanti di sambung lagi telfon nya..."belum sempat Mutia menjawab, Kania dengan buru-buru mematikan sambung telfon nya, Kania memukul dada nya yang terasa sesak,...
"Ini adalah air mata terakhir untuk yang nama nya kesediaan Kania, sudah cukup air mata yang kamu keluarkan selama ini, kamu harus bangkit dan menuju bahagia, semangat..."Ucap Kania merentangkan kedua tangan nya yang terkepal, ia menghapus sisa-sisa air mata nya dan tersenyum lebar...
Saat Kania turun kelantai satu, ia berpapasan dengan Adik tiri dan mama tiri nya yang sedang makan di dapur, Kania berjalan kearah kulkas dan mengambil sebotol minuman lalu meneguk nya sampai habis...
"Mama, aku berharap aku bisa mewujudkan keinginan ayah untuk menjadi Dokter ya, supaya menjadi kebanggaan ayah, ngak cuman bikin malu saja dan sering pulang malam...."Ujar Ririn sedikit membesarkan suara nya, agar Kania mendengar dengan jelas Sang mama mengangguk dengan cepat, hubungan Kania dengan adik tiri nya beserta mama tirinya tidak lah akur, mereka selalu saja bertengkar apa lagi jika Ayah fahmi sedang tidak ada dirumah,...
"Walaupun gue sering pulang malam setidaknya gue ngak jual diri..."Ujar Kania dengan suara yang lebih keras lagi...
Brakkk.....
Ririn mengebrak meja dengan keras, ia menatap Kakak tirinya dengan pandangan sinis, Kania sama sekali tak merasa takut, ia malah mendekati Ririn dengan gaya angkuh nya...
"Dengan Ririn, kamu itu hanya menumpang dirumah ini, jadi bersikaplah seperti orang yang menumpang...."Ujar Kania menepuk pipi mulus Ririn, Sementara mama Rina hanya diam dan menggepalkan tangan nya...
"Dan ingat ini baik-baik Ririn, kamu dan ibumu bisa hidup enak karna Ayahku, jangan sampai kamu melupakan hal itu...."Setelah mengatakan apa yang dihatinya tentang Ririn dan Ibu tiri nya Kania pun kembali kekamar...
"Dasar Cewek Brandal sialan...."Teriak Ririn saat Kania sudah masuk kedalam kamar nya, mama Rina mengelus punggung sang Putri...
Sementara disebuah Kantor yang menjulang tinggi, seorang pria sedari tadi mengamuk pada semua karyawan nya, sampai-sampai puluhan sampai ratusan karyawan dipecat oleh nya...
"Dasar tidak berguna, percuma saja aku mempekerjakan manusia yang tidak berguna...."Luis keluar dari ruang rapat dan membanting pintu dengan sangat keras, semua yang ada didalam ruangan itu bergetar ketakutan melihat kemarahan Luis...
"Marko..." teriak Luis dengan suara menggelegar nya, Orang yang dipanggil pun langsung masuk keruangan bosnya...
"Iya Tuan Muda...."Jawab nya setelah membungkukkan badan nya, Luis membalikkan badan nya dan menatap Sang Asisten dengan pandangan membunuh....
"Apa kamu sudah mendapatkan apa yang aku perintahkan?..."Tanya Luis yang langsung dianggukki oleh Marko, dan memberikan sebuah map coklat dengan tangan bergetar, Luis langsung mengambil nya dan mengusir Marko dari ruangan nya....
"Hemm menarik,..."Ujar Luis tersenyum penuh arti...
"Keruanganku sekarang juga!!..."Seru Marko setelah panggilan telfon terhubung, tak lama kemudian Marko terlihat masuk lagi Keruangan Luis setelah mendapat izin dari sang pemilik ruangan...
"Pindahkan dia keperusahaan pusat, dia harus menjadi sekretaris pribadiku,..."Titah nya yang tak bisa dibantah, Marko pun mengangguk dan pamit undur diri....
"Mengapa Sikap Tuan Muda Luis selama seminggu ini sudah ditebak, apa karna dia baru saja melihat tunangan nya berselingkuh?..."Ujar Marko setelah menutup pintu ruangan sang Bos...
Pagi hari telah tiba, embun pagi terlihat begitu segar didaun dan rerumputan, kicauan burung saling bersahutan, sinar mentari menyusut mencari tempat- tempat yang gelap, Kania merentangkan tangan nya semenit kemudian ia bangun dan masuk kedalam kamar mandi....
"Waahh, segar nya.."Ucap nya usai mendi, ia berjalan kelemari dan mengambil pakaian kerja nya, ia bertekad akan melupakan kejadian buruk yang pernah terjadi didalam hidup nya dan memulai semua nya dari, ingin mencari dan meminta pertanggung jawaban pada pria yang merenggut kesucian nya sangatlah tidak mungkin, ia tidak ingin menikah karna keterpaksaan lebih-lebih dirinya yang meminta pada pria itu untuk meniduri nya...
Sungguh jika Kania mengingat kejadian memalukan itu ia seperti sangat malu pada dunia, bisa-bisa nya ia memaksa seorang pria yang sama sekali tidak ia kenal....
"Akhhh berhenti memikirkan kejadian itu Kania, semua itu murni kecelakaan, lagian kamu dan dia tidak akan pernah bertemu jadi kamu bisa hidup tenang..."Ujar nya mencoba bersemangat, ia berjalan kemeja rias, memoles wajah nya dengan sedikit make up tipis, rambut panjang sampai pinggang ia ikat kuncir kuda,...
"Tidak seksi tapi mampu membuat mata laki-laki melotot..."Ujar nya melihat tubuh nya yang molek dan montok, bukan rahasia lagi jika banyak laki-laki yang mengagumi tubuh indah Kania tetapi tidak ada yang berani mendekati wanita cantik itu karna sikap nya yang keras dan bar-bar....
Setelah merasa puas dengan penampilan nya, Kania pun keluar dari kamar dan menuruni tangga satu persatu, hembusan napas panjang terdengar jelas dari Kania saat melihat Ayah dan kedua cecumut yang ia benci, sedang duduk ruang keluarga, tanpa sepatah kata pun Kania langsung berlalu begitu saja....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments