"Kamu dapat foto ini dari mana?" tanya Arsen.
"Aku …."
"Dia hanya masa laluku, masa depanku adalah kamu."
Ponselku yang masih di tangan Arsen tiba-tiba berdering. Arsen melihat sekilas, lalu menyerahkannya padaku.
DION
Sepagi ini kenapa dia meneleponku?
“Halo.” Aku pun menjawab panggilan Dion.
“Halo Kimmy, kamu sibuk nggak hari ini?”
“Emm … nggak Kak, kenapa?”
“Aku mau ajak kamu jalan-jalan, kamu mau nggak?”
“Emm … boleh deh Kak, aku juga lagi bosen nih.”
“Oke, aku jemput kamu ke rumah ya."
“Eh, jangan ke rumah Kak, nanti aku share aja ya, Kak Dion jemput aku di sana.”
“Oke deh.”
Panggilan pun berakhir. Arsen masih tetap di posisinya, sepertinya dia berpura-pura menonton televisi.
Setelah mengirim pesan kepada Dion tentang alamat penjemputan ku nanti, aku pun menuju kamar mandi tanpa peduli dengan keberadaan Arsen. Dengan santai aku mandi seperti biasanya, berlama-lama di kamar mandi untuk memastikan tubuhku benar-benar bersih dan harum. Dion tidak bilang dia akan mengajakku kemana, tapi aku yakin dia akan membawaku ke tempat yang menyenangkan seperti waktu itu.
Setelah selesai mandi, aku dengan santai keluar dari kamar mandi. Berjalan seperti biasa, aku tak sadar jika lantai rumah ini begitu licin. Aku pun terpeleset dan hampir terjatuh, beruntung seseorang menangkapku dengan sigap.
Arsen menangkap tubuhku dengan kedua tangannya. Wajah kami begitu dekat, Arsen menatap mataku. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang menghangatkan wajahku. Untuk sesaat, mata kami saling memandang, Arsen semakin memajukan wajahnya, hingga hidung kami saling bersentuhan.
Apa Arsen akan menciumku? Tidak aku belum pernah berciuman sebelumnya, apa Arsen akan mencuri ciuman pertamaku?
Arsen memejamkan matanya, nafasnya berhembus cepat. Tiba-tiba, jantungku berdebar-debar tidak karuan. Tidak, tidak! Aku tidak akan membiarkan Arsen menciumku.
“Arsen, stop it!”
“Sorry,” kata Arsen saat membantuku berdiri tegak.
Aku dan Arsen diam sesaat, bingung mau mengatakan apa.
Saat aku mengamati sekitar untuk menghilangkan kegugupan, aku melihat mata Arsen memandang tubuhku tanpa berkedip. Aku mengikuti arah mata Arsen, dan ternyata.
“Aaaaaaa!” Aku berteriak setelah menyadari, bahwa aku hanya memakai handuk yang menutupi dada sampai setengah pahaku.
“Tutup mata!” perintahku sebelum berjalan menuju kamarku.
“Iya, iya.” Arsen menurut dan menutup matanya.
“Awas jangan ngintip!”
Akhirnya aku berjalan mundur sampai ke kamarku. Lalu segera menutup pintu dan menguncinya.
Bodoh, bodoh, bodoh! Kenapa aku bisa lupa mengambil baju ganti. Ini bukan kamarku di rumah papa yang bisa bebas memakai handuk setelah mandi. Aku memang bodoh.
Sedikit kesal, aku mencari baju ganti dan memakainya.
...❤❤❤M.A.S.🚙🚙🚙...
Saat ini aku sudah berada di pintu keluar masuk komplek. Aku menunggu Dion di tempat ini karena tidak ingin dia tahu bahwa aku tinggal bersama Arsen.
Motor sport yang keren itu akhirnya berhenti di hadapanku. Dion melepas helm teropong miliknya. Aku benar-benar terpesona dengan Dion.
“Udah lama nunggu ya?” kata cowok itu sambil tersenyum imut.
“Nggak kok, baru aja,” ucapku yang kemudian memakai helm yang pernah dibelikan Dion.
“Oh ya, kamu ngapain di sini?” tanya Dion.
Aku sedikit gugup mendengar pertanyaan Dion. Aku harus jawab apa ya?
“Emm … itu. Aku … aku … ngontrak di sini,” jawabku pelan.
“Kamu ngontrak? Kenapa?” tanya Dion yang ternyata mendengar jawaban lirih yang kuucapkan tadi.
“Aku, pengen deket kampus aja, biar bisa santai juga. Aku suka bangun kesiangan soalnya.” Aku menjawab dengan memaksakan tawa.
“Oh, iya sih, kampus cuma lima menit ya dari sini.” Dion kembali tersenyum.
Satu hal yang mirip antara Arsen dan Dion, mereka sama-sama suka tersenyum. Namun, bedanya aku lebih suka melihat senyum Dion yang imut.
“Buruan naik yuk.” Dion membantuku naik ke motor sportnya.
Dion mengendarai motornya pelan. Setelah melewati jalan yang lumayan lenggang, akhirnya kami sampai di sebuah mal. Apa Dion akan mengajakku shopping? Wah, yang benar saja.
“Kamu suka film apa?” tanya Dion saat kami baru memasuki mal.
“Aku, suka film romantis, Kak,” jawabku.
Sepertinya aku salah menduga, Dion akan mengajakku nonton, bukan shopping.
“Kita nonton dulu ya, setelah itu terserah kamu mau apa aja di sini.”
“Oke.”
Kami pun menuju bioskop, Dion mengantre tiket lalu membelikan popcorn dan juga minuman.
Setelah waktunya tiba, kami pun masuk ke dalam bioskop untuk menonton film.
Film yang kami tonton memang benar-benar romantis. Kisah perjuangan seorang laki-laki untuk mendapatkan cinta wanita pujaannya.
Saat layar menampilkan adegan ciuman, aku dan Dion sama-sama mengalihkan pandangan, dan mata kami saling menatap. Tanganku tiba-tiba digenggam Dion. Aku jadi berdebar-debar karena perlakuan Dion.
“Kimmora, aku cinta kamu.”
Kata-kata Dion membuat hatiku berbunga-bunga. Aku sangat mengharapkan Dion mengatakan cinta dan kami akan berpacaran, supaya aku tidak jatuh cinta dengan Arsen. Aku hanya tersenyum menanggapi pernyataan cinta dari Dion.
“Apa kamu mau jadi pacarku?” tanya Dion yang masih menggenggam tanganku.
"Emm … aku …"
Sial, ponselku tiba-tiba berdering dan membuatku kaget. Karena tidak ingin mengganggu penonton lain, aku segera menjawab panggilan itu.
ARSEN
"Halo."
"Kamu nggak bawa kunci rumah, 'kan? Masih nempel di pintu soalnya."
"Wah, iya. Aku lupa, gimana dong. Kamu mau kerja ya?" tanyaku sambil berbisik.
"Kamu dimana sih? Aku taruh di bawah keset ya. Cepat pulang, sebelum ditemuin orang kuncinya."
"Iya, bawel ah." Aku langsung mematikan panggilan Arsen.
"Kenapa?" tanya Dion.
"Emm, nggak apa-apa kok, Kak."
"Jadi, gimana? Kamu mau nggak jadi pacar aku?"
🌹🌹🌹
Mau nggak Kim jadi pacar Dion? Kalau kamu mau, Babang Arsen aku rebut. Kalau nggak mau, Dion buat aku 🤭🤭🤭
Telat lagi, maaf ya. Sibuk beneran aku 🤭🤭🙏🙏
Masih punya vote? Sini kasih aku daripada hangus 🤭🤭🤭 Selain vote, aku juga terima kembang, kopi, hadiah apapun itu dari kalian, aku akan terima dengan senang hati 🤭🤭
Betewe, ritual jejaknya jangan lupa, like dan komentar, pasti aku balas kok, satu persatu.
Oke, see you next time gengs, sayang-sayangnya Kimmy-Arsen.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 242 Episodes
Comments
anonim
Kim ditembak Dion diterima tidak ya....
Ingat Kim sudah punya suami
2024-10-15
0
Desy Rs Azuz
Dih maksa bin maruk mah Othor. Ga bagi2
2023-09-10
0
Lenina
masih mau belajar dulu yaa..blm kepikiran kesana
2023-06-06
0