“Ada, sini aku suapin.” Arsen membawa sepiring nasi lengkap dengan ayam kecapnya.
Perutku mendadak kembali lapar setelah melihat potongan ayam yang dilumuri kecap itu. Membayangkan nasi hangat yang akan meluncur bebas ke dalam mulut, aku jadi tak sabar, dan berusaha merebutnya dari Arsen.
“Eit, ini punyaku.” Arsen menggerakkan tangannya, menghindariku yang ingin merebut piringnya.
“Aku mau makan sendiri.” Aku meraih sendok di piring Arsen, mengambil nasi dan memotong ayamnya, lalu menyuap nasi hangat itu ke mulutku sendiri.
Benar dugaanku, nasi hangat memang terbaik. Rasa bumbu rempah yang beradu dengan kecap manis membuatku tak bisa hanya sekali makan.
Aku mengintip ke ruang makan, masih ada Papa dan Kak Dareen yang menikmati makanannya. Aku terlalu gengsi untuk kembali ke ruang makan mengambil nasi lalu makan bersama mereka.
“Makan di sana yuk.” Arsen menunjuk ke kursi besi dekat taman belakang rumah.
“Aku mau makan sendiri,” kataku menolaknya.
“Ini makanan aku. Kita berbagi ya.” Arsen menarik tanganku, berjalan menuju kursi belakang yang menghadap langsung ke taman belakang.
Aku dan Arsen lalu duduk di kursi besi. Entah bagaimana aku dan Arsen makan bersama dari sendok yang sama, seperti beberapa hari yang lalu. Aku tak lagi protes, kenikmatan masakan Bi Sri membuatku mengalah pada Arsen, kami makan dengan lahap, sepiring berdua.
Arsen jika dilihat dari segi fisik, dia memang begitu sempurna. Tidak ada cacat diri yang bisa aku temukan. Namun, dari segi non fisik, Arsen tidak termasuk kriteria pendamping impianku.
Dibandingkan Arsen, aku lebih menyukai Dion yang keren, apalagi Dion pasti lebih mapan secara materi. Dari segi fisik, Dion lebih imut dan lucu dari pada Arsen.
“Kamu sama Kak Dion udah temenan lama?” tanyaku do sela-sela makan, kami masih bergantian sendok untuk makan.
“Dari awal kuliah, kenapa?” Arsen balik bertanya.
“Dion anak orang kaya ya?”
Aku yakin seribu persen tebakanku pasti benar.
Mendengar pertanyaanku, Arsen meletakkan sendoknya, lalu memandang wajahku. Entah apa yang dipikirkan Arsen, yang pasti dia sedang sedang menatapku tajam saat ini.
“Papanya Dion itu bisnisman yang aku tahu,” jawab Arsen.
Benar kan, Dion benar-benar cowok sempurna untukku.
“Kenapa kamu lihat aku begitu?” tanyaku kesal, karena sedari tadi Arsen hanya memandang wajahku.
“Kamu cantik.”
...❤❤❤M.A.S🚙🚙🚙...
Aku dan Arsen baru saja sampai di rumah kontrakan yang akan kami tinggali. Dalam perjalanan tadi, aku menyetir mobilku sendiri, sedangkan Arsen mengikuti di belakangku dengan motornya.
Aku memarkir mobilku di halaman depan setelah Arsen membukakan pintu pagar. Satu hal yang aku suka dari rumah ini, mobilku akan terparkir akan dengan gerbang besi rumah ini, dan juga kanopi yang terpasang di garasi membuat mobil kesayanganku tidak akan kepanasan atau kehujanan.
“Angkut ke dalam ya, aku mau istirahat!” perintahku pada Arsen setelah turun dari mobil.
Pintu rumah akhirnya terbuka, dan aku langsung duduk di kursi tamu, membiarkan Arsen membawa masuk koperku.
“Arsen, kamu nggak punya pacar?” tanyaku saat Arsen ikut duduk di ruang tamu.
Ruang tamu ini cukup nyaman untuk bersantai atau menerima tamu. Ada sofa sudut yang dilengkapi dengan meja kaca.
“Memang kenapa?” Arsen balik bertanya.
Selalu begitu, tiap aku tanya apa, Arsen akan balik bertanya. Susah sekali tinggal jawab iya atau tidak.
“Ya, nggak apa-apa, kita bisa kerja sama kan kalau kita punya pacar masing-masing.” Aku memainkan alisku naik turun, berharap Arsen akan mau bekerja sama denganku,
“Aku nggak punya pacar,” jawab Arsen.
“Terus cewek yang kapan hari siapa?” Aku masih ingat saat seorang wanita memanggil ‘sayang’ pada Arsen.
Arsen nampak berpikir, alisnya hampir menyatu saat ia tengah berpikir.
“Yang di taman itu?” tanya Arsen yang ku jawab dengan anggukan. “Dia, mantanku. Sebelum menikahimu aku udah mutusin dia.” Arsen memejamkan matanya.
Jadi, dia punya pacar tapi malah setuju menikah denganku. Kekasih macam apa dia yang tega memutuskan pacarnya demi menikahi wanita yang tak pernah dikenalnya.
“Kamu bo doh, kalau kamu sayang sama pacar kamu kenapa mau nikah sama aku. Kamu bisa bilang sama papa kalau kamu udah punya pacar,” kataku dengan kesal.
Arsen diam sesaat.
“Aku nggak bisa cerita ke kamu sekarang, tapi yang jelas saat ini yang paling penting adalah kebahagiaan kamu,” kata Arsen.
Arsen penuh dengan teka-teki, aku jadi berpikiran buruk. Bisa saja dia menikah denganku karena harta, dia kan hanya anak sopir.
“Sepertinya kamu materialis ya, Arsen."
🌹🌹🌹
Waduh waduh, apa benar ya babang Arsen matre??
Kenapa coba mau nikahin kimmy??
Sambil nunggu Othor nerawang, kalian ritual jejak dulu ya gengs. Seperti biasa, Like dan Komen 🤗🤗 biar semangatku membara 🔥🔥🔥
Oke see U soon gengs, sayang sayangnya Kimmy-Arsen
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 242 Episodes
Comments
anonim
Kim jangan menyepelekan Arsen ya...
Matre sih kamu Kim
2024-10-15
0
Zieya🖤
jangan suka suki tuduh2 Neng...
2024-05-11
1
desember
q kok baca nya deg2an y , kbayang arsen dkecewain sm.kimmy
2024-03-10
0