Sebenarnya aku ingin memanfaatkan Arsen untuk hidup bebas yang sangat aku impikan dari dulu. Namun, sepertinya jika terlalu lama aku bersama Arsen, Kak Dareen dan papa pasti tidak akan membiarkannya begitu saja,
Arsen memang tampan, tapi dia hanya anak sopir, bagaimana dia akan membahagiakan aku nanti. Lagi pula Dion sepertinya lebih cocok menjadi suamiku daripada Arsen.
“Pernikahan itu bukan permainan yang bisa seenaknya kamu mulai dan akhiri, Kimmy” kata Kak Dareen yang kini menatapku tajam.
“Tapi aku menikah dengan Arsen juga karena Papa, aku tidak cinta dia Kak!” Aku berkata dengan serius.
“Beri aku waktu untuk mengukir cinta di hatimu.” Arsen memasang wajah serius juga, tidak ada lagi senyum yang sedari tadi menghiasi wajah tampannya.
Aku merasa Arsen mulai jatuh cinta denganku, dari tatapan matanya yang teduh, aku bisa melihat dia tulus menjalani pernikahan ini.
“Aku mencintai laki-laki lain,” jawabku.
“Aku akan menggantikan posisinya suatu hari nanti,” sahut Arsen.
“Sudah, sudah, lebih baik kalian tinggal berdua dulu, kalian sudah mendapat rumah baru kan, papa rasa itu akan lebih baik untuk pernikahan kalian.” Papa dengan mode bijaknya menasehatiku dan Arsen.
“Benar, setelah kamu lulus nanti, kamu bisa pikir ulang untuk melanjutkannya atau tidak, Kimmy!” Kak Dareen ikut memberikan nasehatnya.
Papa dan Arsen sama-sama menatap Kak Dareen.
“Empat tahun bersama kalau nggak cocok ya sudah, iya nggak sih.” Kak Dareen terlihat salah tingkah karena papa dan Arsen sepertinya kurang setuju dengan usulannya.
“Oke, empat tahun kalau kamu nggak bisa bikin aku cinta sama kamu, maka kita bercerai.” Aku berdiri lalu berjalan menuju kamarku, meninggalkan tiga laki-laki yang mungkin tidak akan berpihak denganku.
Baiklah, sekarang aku harus memikirkan cara agar aku tidak jatuh cinta dengan Arsen. Empat tahun bersamanya, aku harus bisa menahan perasaanku. Mungkin jika aku berpacaran dengan Dion, hatiku akan tertutup dan Arsen tidak akan bisa masuk. Ya, benar, aku harus bisa pacaran dengan Dion.
***
Pindah rumah, hah malas sekali kalau harus kemas-kemas barang. Andai saja Bi Sri bukan ibunya Arsen, pasti aku akan merengek minta tolong untuk menata baju-baju ini. Banyak sekali baju-bajuku, mana muat masuk ke koper.
Tok … tok … tok.
“Siapa?” teriakku.
Jam segini pasti Bi Sri yang bawain makanan, sekalian saja lah aku minta tolong kemas-kemas.
Tidak ada jawaban, ya sudah lah aku buka sendiri.
Aku pun membuka pintu kamarku, dan ternyata.
“Hai, makan dulu yuk!” Arsen telah membawa nampan berisi dua piring nasi.
Untuk apa membawa makanan sebanyak itu, jangan-jangan dia ingin makan bersama lagi.
“Kamu mau makan di kamarku juga?” tanyaku.
“Harusnya aku tidur di kamarmu juga.” Arsen langsung masuk begitu saja.
“Hai … jangan kurang ajar ya. Siapa yang ijinin kamu di sini?” Aku benar-benar kesal dengan Arsen.
“Kamu kan istriku, ingat kata ibu pemilik rumah, suami istri itu tidur sekamar.” Arsen meletakkan makanan di meja.
“Ogah banget sekamar sama kamu.”
Laki-laki itu kemudian berjalan mendekati tumpukkan bajuku yang belum masuk ke koper.
“Mau aku bantuin?” tanya Arsen.
“Serius?”
“Iya, setelah itu kita makan bareng.”
Arsen lalu mulai melipat bajuku, kemudian menatanya ke dalam koper.
Aku hanya mencebikkan bibir menyaksikan Arsen dengan telaten melipat baju-bajuku.
“Istriku ini pasti nggak pernah lipat-lipat baju ya?” Tangan Arsen masih tetap melipat bajuku satu persatu.
“Ya enggak lah, ngapain juga lipat-lipat baju, kan ada Mbak Lastri sama Bi Sri. Kebetulan aja Mbak Lastri lagi cuti,” jawabku ketus.
“Mulai sekarang kamu tu harus belajar urus semuanya sendiri, kalau mereka nggak ada kan kamu nggak kesusahan kayak gini,’” kata Arsen.
Laki-laki ini begitu membingungkan, sebenarnya da seperti apa sih watak aslinya. Benar-benar baik atu hanya sok baiik.
“Emang kamu nggak bisa ngurusin semua keperluan aku, apa gunanya kamu nikahin aku?” tanyaku pada Arsen.
Aku yakin, dia pasti akan keberatan jika harus mengurusku, dan lama-lama dia tidak akan betah dan menceraikanku.
“Tugasku itu kerja, nafkahin kamu. Kalau urus semua keperluan rumah, aku dan kamu, itu jadi tugas kamu, “ kata Arsen. “Ngomong-ngomong ini punya kamu? Aku jadi bisa menebak seberapa ukuran aslinya.”
🌹🌹🌹
Hayo,,,, apaan tuh Bang Arsen, jadi penisirin kan aku. Ah nggak mau traveling dulu, masih jauuuhhh.
Mon maap ya telat, Othor kesiangan.
jangan lupa like dan komentarnya 😘😘😘😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 242 Episodes
Comments
anonim
Arsen ini type pria sabar
2024-10-15
0
aku dewe
ukuran sendal?? 😅😅
2024-05-17
1
Desy Rs Azuz
Salah Pak Bos Arsen, kewajiban suami itu nafkah lahir dan batin. Lahir itu terdiri dari sandang, papan dan pangan. Dan kesemuanya itu bukan bahan mentah tapi yg sdh jadi. Tapi itu mrpkan ladang pahala bagi istri. Krn kewajiban istri melayani dan menjaga harkat dan martabat suami. Istri bukan babu. PAHAM.
2023-09-10
1