Sepulang dari kafe, Nana dan Dara memutuskan untuk mampir ke sebuah pusat perbelanjaan, sedangkan aku memilih pulang ke rumah. Bukan karena Arsen pastinya, aku hanya ingin istirahat di rumah, sambil mengemas barang yang akan kubawa ke kontrakan.
Setelah mandi, aku segera menemui papa dan kakakku yang ternyata baru tiba di rumah.
“Kakak,” teriakku yang masih berdiri di ujung tangga. Aku sangat merindukan kakakku.
“Sini buruan, nggak usah teriak-teriak.” Kak Dareen melambaikan tangannya.
Papa dan Kak Dareen duduk di sofa tengah ruang keluarga. Aku segera berlari menuruni tangga rumah.
“Kamu kayak anak kecil aja lari-lari, padahal sudah punya ….” Papa tak melanjutkan kata-katanya.
“Sudah punya apa Pa?” tanya Kak Dareen.
“Sudah kuliah Kak, Papa itu pasti salah merangkai kata deh.” Aku melotot ke arah Papa. “Aku kangen Kakak,” kataku, lalu memeluk tubuh kakakku yang sedang duduk.
“Manja bener udah gede, apa nggak malu sama pacar?” tanya Kak Dareen.
“Aku udah putus lama, aku jomblo,” jawabku sambil melepas pelukan Kak Dareen.
Kak Dareen tahu semua laki-laki yang berhubungan denganku. Setiap dekat dengan laki-laki, aku selalu bercerita dengannya, tapi, saat aku tiba-tiba menikah dengan Arsen, aku tidak pernah membaginya dengan Kak Dareen.
“Hemmm … jomblo ya kamu sekarang?” tanya papa seolah mengejek.
“Kenapa emangnya Pa?” tanyaku sambil memelototi papa. Papaku ini orang jahat, papa yang tega menikahkanku dengan Arsen, si anak sopir. Papa yang dengan seenaknya memaksa putri satu-satunya menikah dengan laki-laki yang tidak jelas.
“Kamu kan udah nggak jomblo lagi,” kata papa dengan lancang.
“Papa jahat, jangan ngomong sama aku.” Aku menatap kesal wajah laki-laki yang menjadi ayah kandungku itu.
“Kalian kenapa sih, berantem terus.” Kak Dareen terlihat malas.
Kak Dareen ini kakak yang sangat menyayangiku, apapun yang aku inginkan pasti akan dituruti, bisa saja jika aku meminta cerai dengan Arsen, kakak akan menurutinya juga. Namun, untuk sekarang ini aku masih membutuhkan Arsen.
“Assalamu’alaikum.” Arsen datang dengan membawa kantong kresek yang sepertinya berisi makanan.
“Waalaikumsalam,” jawab papa.
“Arsen, apa kabar?” Kak Dareen berdiri menyalami Arsen lalu menepuk pundak Arsen.
Aku benar-benar terkejut, kenapa Kak Dareen terlihat akrab sekali dengan Arsen, apa mereka saling kenal? Apa hanya aku yang tak pernah mengenal Arsen selama ini.
"Baik Kak, baru sampai ya, aku belikan lumpia kesukaan Kak Dareen dan Papa." Arsen meletakkan makanan yang ia bawa ke meja.
“Kakak kenal Arsen?” tanyaku yang penasaran.
“Kenal banget lah,” jawab Kak Dareen. “Kamu tu panggil dia Kak atau Mas gitu, nggak ada sopan-sopannya loh dek.” Kak Dareen mengambil satu lumpia lalu duduk kembali ke sofa, diikuti Arsen yang juga duduk di depanku, dan hanya terhalang meja kaca.
“Ogah banget, nanti dia ke-GR-an,” jawabku lirih.
“Kamu langsung pulang ya ternyata, aku kira kamu keluyuran,” kata Arsen, laki-laki itu tersenyum seperti biasanya.
“Ini bukan karena kamu ya, tapi karena Kak Dareen, aku kangen sama kakakku,” jawabku ketus. “Kakak kok bisa kenal Arsen?” tanyaku pada Kak Dareen.
“Iya lah, Dek. Dia kan anaknya Pak Aji, kalau mampir ke sini suka kakak ajak diskusi masalah bisnis. Dia itu cerdas loh, kamu harus banyak belajar dari Arsen” kata Kak Dareen.
Seketika aku menjadi pias, harapanku berpisah dengan Arsen suatu hari nanti bisa saja pupus jika Kak Dareen juga berpihak pada Arsen, sama seperti papa.
“Kalau Arsen sama Kimmy, pasti cocok ya,” kata papa.
“Papa jangan aneh-aneh ya, aku nggak suka sama Arsen.” Aku memelototi papa, dan aku yakin Arsen juga melihat itu.
“Cocok banget Pa, siapa tau Kimmy kita bisa ketularan pinter, ya kan Pa?” Kak Dareen malah ikut-ikutan mendukung papa.
“Kakak, jahat banget sih," kataku dengan wajah cemberut, mulutku sudah maju beberapa inci.
Aku makin tersudut, hancur sudah harapanku untuk meminta pertolongan kakak suatu hari nanti.
“Aku yakin Kimmy itu sebenarnya pintar kok,” kata Arsen.
“Cie, seorang suami harus belain istrinya ya.” Kak Dareen meledek Arsen. Namun, itu malah membuatku lebih terkejut. Kak Dareen sudah tahu aku menikah dengan Arsen. Sungguh, papa benar-benar manusia paling jahat.
“Apa Kakak tahu aku sudah menikah dengan Arsen?” tanyaku dengan memelas. Sudahlah, lebih baik aku mengakhiri semua omong kosong ini. “Tolong buat aku cerai darinya Kak, aku mohon.”
🌹🌹🌹
Kira-kira Kak Dareen mau nggak ya bantuin Kimmy.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian, like dan komen seperti biasa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 242 Episodes
Comments
LENY
JGN2 ARSEN CEO
2024-04-22
0
LENY
PASTI ARSEN PUNYA USAHA LAIN KRN DIA PINTER
2024-04-22
1
Chelsea forever28
Dareen said : EMOHHHHHHH
2024-03-02
0