“Sepertinya kamu materialis ya, Arsen."
Arsen terlihat biasa saja, tak terpancing sedikitpun dengan kata-kataku.
"Sebahagianya kamu aja menilai aku seperti apa.” Arsen berlalu meninggalkan ruang tamu.
Aku berdecak menanggapi reaksi Arsen. Kecurigaanku semakin jelas, lihat saja aku pasti akan menemukan bukti bahwa dia hanya mengincar harta papa, lalu aku akan meminta bantuan Kak Dareen untuk menceraikan Arsen.
Aku menyeret koper hitamku ke kamar. Kamar yang bersebelahan dengan kamar Arsen.
Ah, leganya,kamar ini begitu nyaman, kasurnya juga empuk. Setidaknya rumah ini sangat cocok untukku, walaupun harus aku tinggali bersama Arsen.
Menikmati pagi yang hampir habis ini, aku memilih berguling-guling di atas kasur. Aku sedang berkirim pesan dengan sahabatku Nana. Dia mengajakku untuk pergi ke klub malam ini.
Aku dan Nana memang suka main ke tempat hiburan malam seperti itu, hanya icip-icip sambil mencari hiburan. Kami selalu sepakat untuk tidak mabuk bersama, ketika salah satu dari kami sudah teler, maka yang masih sadar akan segera mengajak pulang.
Tiba-tiba aku merasa kebelet buang air kecil, lalu aku berjalan keluar kamar untuk menuju kamar mandi. Ya, kamar mandi rumah ini hanya ada satu, tidak seperti rumahku atau apartemen tempatku kabur dulu, yang setiap kamarnya memiliki kamar mandi khusus.
Sesampainya di kamar mandi, ternyata pintunya tertutup. Pasti Arsen yang ada di dalamnya.
“Arsen, buruan, kebelet nih.” Aku mengetuk pintu beberapa kali.
“Iya, sebentar,” sahut Arsen dari dalam kamar mandi.
“Buruan, udah kebelet benget nih, takut ngompol di sini,” teriakku.
Sebenarnya aku hanya ingin mengerjai Arsen. Namun, Arsen malah jadi terburu-buru dan membuka pintu kamar mandi dengan rambut basah yang penuh busa. Arsen hanya memakai handuk yang menutupi pinggang sampai lututnya, dada dan perutnya yang mempesona terpampang nyata di hadapanku.
Arsen kenapa keren begini? Ah, otakku pasti telah terkontaminasi, kenapa mendadak aku memikirkan hal mesum.
“Katanya kebelet, kok masih terpesona gitu, apa jangan-jangan kamu menerawang yang tertutup handuk ya.” Arsen menggerak-gerakkan sikat giginya ke arahku, sambil tersenyum manis seperti biasanya.
“Apaan sih, dasar mesum.” Aku masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya sedikit keras.
Setelah selesai dengan urusan kemih, aku segera keluar dari kamar mandi, kulihat Arsen masih berdiri di depan pintu dengan sikat gigi yang masih berada di mulutnya.
“Mau mandi juga nggak? Cuacanya panas gini, mandi bikin seger loh.” Arsen berkedip-kedip sambil tersenyum.
Sungguh, laki-laki ini benar-benar mesum.
“Ogah, aku mau tidur, nanti malem mau hangout, mandi aja sendiri.” Aku beranjak meninggalkan Arsen.
“Maksud aku, habis aku mandi, kamu mandi juga, bukan mandi bareng.” Arsen langsung menutup pintu kamar mandi.
Aku benar-benar kesal dengan tingkah Arsen barusan. Seolah aku tengah memikirkan hal mesum dengannya.
Aku sudah hampir memasuki alam bawah sadar saat tiba-tiba pintu kamarku diketuk. Siapa lagi, aku yakin seribu persen bahwa pelakunya adalah Arsen.
“Apa?” tanyaku ketus saat membuka pintu.
“Ini buat makan siang, nasi sama ayam geprek.” Arsen menyerahkan kantong plastik berisi sebungkus makanan.
“Makasih, tapi aku ada duit buat beli, kamu nggak perlu repot-repot deh,” kataku setelah menerima makanan dari Arsen.
“Udah, uangnya kamu simpan aja, kamu tanggung jawabku sekarang. Oh iya, air galon udah aku ganti, kalau minum ambil aja di dapur,” kata Arsen.
“Kamu mau kemana?” tanyaku saat Arsen melihat Arsen telah berpakaian rapi.
Laki-laki menyebalkan ini terlihat tampan, dengan rambut poninya, dia memakai kemeja biru dongker, celana jeans dan sepatu. Hari ini, kampus ‘kan libur, sedangkan dia kerja di kafe kan sore hari.
“Aku ada kerjaan, halal kok, kamu di rumah aja, kan?” Arsen memakai jaket levisnya. Semakin keren saja dia.
“Nanti malam aku mau ke klub, sama Nana sama Dara.” Aku melihat raut muka Arsen berubah.
“Klub mana?” Mata Arsen menatap tajam ke mataku.
Apa dia marah? Kenapa?
“Di jalan anggrek, udah deh sana nggak usah bawel, aku tu pindah ke sini biar bisa bebas. Jadi, kamu jangan banyak ngatur aku,” ucapku agar Arsen ingat tujuanku mau pindah ke kontrakan ini.
“Nggak usah bawa mobil ya, nanti aku yang jemput. Aku berangkat dulu.” Arsen berjalan meninggalkanku untuk ke luar rumah.
“Arsen dengar ya aku nggak suka diatur,” teriakku karena Arsen sudah meninggalkan rumah.
...❤❤❤M.A.S🚙🚙🚙...
Aku telah bersiap untuk pergi ke klub malam. Setelah mengabari Dara dan Nana, aku segera keluar menuju mobilku. Namun, keanehan terjadi saat aku berusaha menyalakan mobilku. Aneh sekali, berkali-kali aku berusaha mobilku tetap tidak mau menyala.
Sial memang, aku merasa seperti Arsen mengingatkanku lai untuk tak membawa mobil. Akhirnya, aku pun menghubungi dua sahabatku agar menjemputku di jalan raya dekat komplek.
🌹🌹🌹
Duh, di rumah aja kenapa sih, ntar kena razia loh Kim, Kan lagi PPKM. Stay At Home dong, kayak Othor ini.
Kalian juga kan Gengs?
Nah, untuk menemani kalian stay at home. Aku akan kasih bab lagi, nanti agak siang atau sorean. Baik kan aku, baik lah. Kalian juga baik udah ngirim kembang kopi sama vote minggu ini. terima kasih gengs sayang sayangnya Kimmy-Arsen.
Ini kan udah senin, kasih Othor vote lagi juga boleh, kembang 🌹 kopi ☕ semua diterima dengan ikhlas untuk membakar semangatku 🔥🔥🔥
Oke, yang paling penting ritual jejak, like dan komentarnya. Vote sama hadiah mah menyusul nggak papa 😄😄😄
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 242 Episodes
Comments
desember
q yg sedih arsenn😭
2024-03-10
1
Desy Rs Azuz
Cool. Good answers
2023-09-10
0
Lenina
ckckck..jawaban yang kalau aku nih..bikin merasa bersalah
2023-06-06
0