Zalina dan Riki sama-sama saling mencintai, mereka menyembunyikan dalam diam hingga waktu yang tepat. Ketika akan meminta izin untuk menikah, tiba-tiba Zalina mengetahui sebuah rahasia bahwa ia dan Riki adalah saudara sepersusuan sehingga haram untuk menikah. Dengan berat hati ia melepas cinta pertamanya.
Sementara Riki tak mudah menerima kenyataan itu, ia terus menteror Zalina. Menuduh hanya mempermainkan perasaannya hingga diminta membuktikan dengan kawin lari.
Zalina tetap teguh. Tak ingin menentang Sang Pemilik kehidupan ini. Berbagai cara ia lakukan agar bisa lepas dari Riki, termasuk membuka hati untuk lelaki lain.
Memang tak mudah menemukan pelabuhan hati meski Zalina punya banyak pengagum. Berbagai hambatan ia temui. Lalu pada siapakah hatinya akhirnya berlabuh?
(Dear pembaca, semoga ada hikmah dari cerita ini yang bisa diambil. Jangan lupa like dan komen yaa :)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Permintaan Abi
"Bismillah, Nak Riki, Uni Hana. Saya sebelumnya minta maaf karena harus menyampaikan hal ini di sini. Tapi demi ketenangan hati saya, izinkan saya menyampaikan sesuatu yang menurut saya sangat penting." Abi membuka pembicaraan.
"Apa gerangan itu pak Haji? Sepertinya sangat penting sekali. Sampaikanlah. InsyaAllah kami siap mendengarkan." kata bibi Hana.
"Begini, saya ingin menyampaikan lamaran kepada nak Riki untuk keponakan saya Puti. Ia adalah satu-satunya keponakan yang sangat saya sayangi. Ia tak ubahnya seperti putri kandung saya sendiri.
Puti memang punya kekurangan, tetapi ia pun punya banyak kelebihan. Salah satunya ia adalah anak yang baik budinya. Meskipun saya adalah pamannya, tapi ia selalu membuat saya bangga.
Selama ini Puti sudah melewati hidup yang amat berat. Ia mengalami banyak ujian yang tidak mengenakkan dalam hidupnya. Karena itu saya berharap kedepannya ia lebih ahagia lagi. Apapun akan saya lakukan demi membahagiakannya.
Makanya saya memberanikan diri melamarkan nak Riki untuk Puti sebab saya sangat yakin kalau nak Riki akan jadi imam yang baik untuk Puti. Nak Riki adalah lelaki salih yang bertanggung jawab, juga selama ini sangat berbakti pada Uni Hana. Semoga saja niatan baik kami ini mendapatkan sambutan baik juga." kata Abi.
Mendengar penuturan Abi, aku hanya bisa menundukkan kepala. Dada ini rasanya sangat sesak. Seperti ada banyak butiran air mata yang siap menerobos. Sesak sekqli ya Allah. Di depan mataku sendiri, Abi melamarkan lelaki yang amat aku cintai untuk perempuan lain. Meskipun ia sepupuku sendiri yang sudah seperti kakak kandungku, tapi tetap saja, yang namanya persoalan hati tetap saja menimbulkan kecemburuan.
"MasyaAllah, tidak menyangka jika pak Haji melamar putra saya untuk Puti. Siapa yang tak tahu bagaimana akhlaknya Puti. Ia gadis yang baik budinya. Rajin dan juga taat beribadah.. sungguh beruntung jika saya mendapatkan menantu seperti nak Puti. Hanya saja, semua keputusan saya serahkan pada Riki. Ia yang akan menjalani pernikahan. Ia juga yang harus memutuskan semuanya." kata bibi Hana.
"Bagaimana nak Riki? Jawablah, tidak perlu sungkan. Apapun jawaban nak Riki tak akan mempengaruhi hubungan kekeluargaan kita selama ini." kata Abi.
"Sebenarnya saya sangat kaget mendapatkan lamaran dari pak Haji. Sungguh beruntung jika saya bisa mempersunting Puti. Tapi, bisakah saya meminta pendapat Zalina? Ia sudah saya anggap adik kadung sendiri. Lagipula bukannya kami ini saudara sepersusuan, kan? Jadi sudah tidak ada bedanya dengan Rizal." kata Uda Riki.
Lagi-lagi aku tersentak. Kenapa harus meminta pendapatku? Tidak tahukah ia, sebagai pendengar saja sudah menyakitkan, apalagi harus ikut berkomentar.
"Na, ayo bantu Riki. Kamu bisa memberikan masukan. Kamu kan tahu bagaimana Riki dan Puti. Menurutmu apakah mereka cocok?" tanya Umi.
"Hah, kenapa harus Na, Mi. Uda Riki juga pasti tahu tentang Uni Puti. Begitu juga sebaliknya." kataku, masih mencoba mengelak.
"Tapi aku mau kamu yang memberikan masukan, Na." sambung Uda Riki.
Sekilas, aku menatapnya tajam. Lalu kembali membuang muka.
Tak tahukah ia, bukan hanya ia korban dari rahasia ini. Tapi aku juga. Kalau ia marah, jangan lampiaskan padaku. Akupun sudah cukup menderita karena ini.
"Jangan minta Zalina untuk memberikan penilaian. Kamu yang akan menjalani rumah tangga ini bersama Puti. Jadi kamulah yang harus memutuskan. Kalau harus minta pertimbangan, mintalah masukan dari Bibi Hana, Umi dan Abi." kata Uda Rizal.
Semua orang menyetujui masukan dari Uda Rizal. Mereka kini beralih pada Uda Riki dan Uni Puti.
"Saya tak akan menolak apapun yang paman ajukan. Jika paman mrlamarkan seorang pria untuk saya, pastilah sudah melewati seleksi karena saya tahu paman sangat menyayangi saya. Makanya, saya menunggu keputusan Riki saja. Jika ia menerima lamaran paman, saya siap menerimanya juga. Jika ia menolak, saya akan berbesar hati." kata Uni Puti.
"MasyaAllah. Jadi bagaimana Ki?" tanya Abi lagi pada Uda Riki.
"Baiklah paman. Karena semua sudah mendukung, InsyaAllah saya menerima lamaran paman. Saya juga meminta agar pernikahan kami dilakukan akhir pekan ini. Alasannya, kami tinggal bersebelahan, setan akan berusaha menggoda agar kami terbujuk rayuannya. Satu hal lagu, saya tak ingin berlama-lama karena saya takut jika akhirnya hubungan yang sudah ka.u bina pada akhirnya putus. Pastilah sangat menyakitkan. Seperti diberi harapan palsu.
Saya menyadari jika saya belum memiliki pekerjaan. Tapi saya akan berusaha keras agar bisa menikahi Puti. Saya akan berusaha tidak akan mengecewakan paman dan Bibi, juga Puti. InsyaAllah." kata Uda Riki.
"Alhamdulillah." kata Abi, Umi dan Bibi Hana.
Rasanya sudah tak sanggup lagi membendung air mata ini. Buru-buru aku keluar dari kamar Abi, sementara yang lain melanjutkan pembicaraan tentang rencana pernikahan. Sekilas, bisa kurasakan, sepasang mata Uda Riki mengikuti langkahku.
***
"Zalina ... Na, Zalina!" Ayu mengejar langkahku. Ia smaoai harus berlari kecil agar bisa mengejar langkahku.
Sementara, aku tak berhenti. Terus berjalan menjauhi ruangan tempat Abi dirawat, melewati koridor rumah sakit, menuju halaman kosong di belakang rumah sakit. Di ujung gedung, aku berhenti, terduduk dengan berlinang air mata di tembok rumah sakit.
"Na, kamu kenapa?" tanya Ayu.
"Uda Riki akan menikah." Kataku, sambil terisak-isak. "Dengan Uni Puti. Rasanya seperti mimpi, Yu. Sakit sekali, di sini. Entah bagaimana aku menghadapi ini semua." kataku.
"Ya Allah ...." Ayu memelukku erat, ia membiarkan aku menangis hingga benar-benar tenang.
"Aku ingin segera pulang ke Padang. Aku tak ingin kembali ke sini lagi, Yu."
"Jangan bicara begitu. Kamu harus kadapi semuanya. Jangan jadi pengecut Na."
"Tapi aku nggak akan kuat Yu, melihat mereka bersanding."
"Tapi kalau kamu menunjukkan sikap mengelak seperti itu, Uda Riki juga akan sulit move on dari kamu. Itu malah akan menyakiti Uni Puti. Relakan Na, toh kamu sendiri yang bilang, hubungan kalian tak akan pernah bisa bersatu karena syariat melarangnya. Kamu harus merelakan mereka, Na. Kamu pasti bisa. Kamu hanya butuh waktu. Ada banyak lelaki di luaran sana menanti agar kamu membuka pintu hatimu."
"Aku tak akan bisa menerima lelaki lain!"
"Itu karena kamu belum mencoba. Kamu itu tipe perempuan yang setia dengan satu laki-laki. Kalau sudah suka pada satu orang, akan abai pada yang lainnya. Makanya kamu harus bisa menghadirkan lelaki lain di hidup kamu. Demi Uda Riki, Uni Puti dan kamu sendiri, Na!".
"Ya Allah, aku nggak tahu bisa apa nggak."
"Allah memberi kita ujian karena ia tahu kita mampu, Na. InsyaAllah." Ayu menggenggam erat tanganku, meyakinkan bahwa aku bisa melewati semua masalah ini.
tetap semangat dan jaga kesehatan Thor .
semoga yang semua baca ini di jauhkan dari namanya iri dengki Aamiin .
hiks terharu aku semoga calon imam masa depan ku seperti sharim yah Thor hehehheheh .
puas saya bacanya
padahal masih banyak yg belum selesau dari cerita2 sebelumnya.
selalu samawa utk za dan sahrim ya thor, urusan umi dan abi biar athor saja yg urus
hhee
10 like mendarat buat kk.
Lanjut up ya.
msmpir jg di bukalah hatimu untukku