NovelToon NovelToon
Jina Si Gadis Bodoh

Jina Si Gadis Bodoh

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Petualangan / Contest / Tamat
Popularitas:1M
Nilai: 4.6
Nama Author: oppusunggu

Seorang gadis dari desa kecil menjalani hidupnya dengan banyak harapan. Sejak kecil dia selalu menderita dan tertekan. Hingga dirinya beranjak remaja, tekanan dan kesulitan ekonomi selalu ada dan erat bersamanya.

Hingga suatu hari, tanpa menyelesaikan sekolah, atau berbekal pendidikan yang terbatas, dia memberanikan diri pergi merantau ke tempat yang jauh. Tempat yang belum pernah dia kunjungi sebelumnya. Dia berharap, suatu saat hidupnya bisa berubah menjadi lebih baik.

Tapi yang ada hanyalah kekecewaan dan sakit hati. Semua kerja kerasnya tak pernah dipandang.
Sampai suatu ketika, kekecewaan terbesar datang dari teman dekatnya sendiri. Teman dekat yang dia sudah anggap seperti saudara, tega meninggalkannya dengan semua kerugian yang harus dia tanggung sendiri.


Seperti apa kisah selanjutnya?
Silahkan baca cerita, dan jika suka, jangan lupa vote yah teman-teman
😆😆😆
Terima kasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon oppusunggu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10. Cinta

Sesampainya di penginapan, pria itu melihat Jina berjalan keluar sambil memegang sekantong sampah. Pria itu membulatkan tekadnya untuk mendekatinya dan berbasa-basi.

"Ehem... terima kasih yah sudah membantuku tadi pagi mencari transport."

"Iya, sama-sama."

"Tunggu!" Tangan pria itu dengan cepat mencegat kepergian gadis itu.

"Agh, maaf kalau aku kurang sopan."

"Ada apa?"

"Ngomong-ngomong apa yang kau bawa itu?"

"Ini sampah. Aku akan membuangnya lalu pulang. Pekerjaanku sudah selesai."

"Oh begitu. Yah sudah."

"Baiklah, aku pergi."

"Tunggu!" Pria itu menghentikan langkahnya lagi.

"Apa lagi? Apa kau butuh sesuatu?"

"Agh, tidak. Tidak." Wajahnya mendadak gugup bahkan matanya tak berani memandang lawan bicaranya.

"Kalau tidak ada, kenapa kau menahan ku terus?"

"Ah... itu... baiklah! Sebenarnya aku...

Oh yah, nama ku Doni. Aku guru sejarah."

"Aku Jina. Saya permisi dulu yah pak. Ini sudah malam dan aku harus segera pulang."

"Oh, ok, baiklah. Maaf aku sudah mengganggumu."

"Tidak apa-apa. Permisi."

Dia segera meninggalkan pria itu dan kembali ke kos nya. Sedangkan pria itu langsung masuk ke kamarnya sambil tersenyum sendiri seraya bergumam dalam hati,

"Ternyata namanya Jina. Nama yang cantik seperti orangnya."

Yah, wanita berdarah NTT itu memang sangat cantik. Kulitnya eksotis dan tubuhnya tinggi dan ramping. Hanya saja dia miskin sehingga sering dipandang rendah.

Pria itu terus mengingat-ingat pertemuannya dengan Jina. Dia sangat gelisah di tempat tidurnya namun sesekali tertawa seperti orang gila saat bermain-main dengan imajinasinya. Pria itu bahkan tidak bisa tidur karena memikirkan nasib cintanya. Hanya waktu untuk esok hari yang tidak sabar ia tunggu agar dia bisa melihat dambaan hatinya.

**********

Pagi itu sekitar jam 8, Andi si tour guide sudah menunggu Doni di lobby sesuai janjinya. Tapi sampai 30 menit berlalu, Doni tak kunjung datang. Telepon yang sudah berkali-kali pun tak kunjung ada jawaban.

"Aduh... bagaimana ini? Ini beneran jadi atau tidak sih perginya? Sudah hampir satu jam aku menunggunya, tapi si guru sejarah itu tak kunjung kelihatan.

Baiklah! Aku telepon lagi. Kalau tidak diangkat juga, lebih baik aku pulang saja."

Dia terus menghubunginya hingga itu sudah panggilan ke- 15 tapi tak kunjung ada jawaban. Sampai akhirnya dia mencobanya lagi meski sudah bercampur rasa putus asa, dan itu akhirnya mendapat jawaban seperti menunggu hujan turun dari langit di musim kemarau.

"Hallo pak! Bapak di mana? Sudah 1 jam saya menunggu di lobby. Ini sudah jam 9. Kita janji akan berangkat jam 8 pagi."

"Apa katamu tadi? Ini sudah jam 9?" Mukanya yang masih menguap spontan terbelalak mendengar kata 'Jam 9'. Dia segera turun dari kasurnya seperti orang yang kebakaran jenggot.

"Tunggu di sana setengah jam lagi! Aku akan segera siap-siap. Ok!"

Sembari melepas pakaiannya menuju kamar mandi, dia menggerutu,

"Aduh... gara-gara nggak bisa tidur tadi malam, aku sampai bangun kesiangan begini. Jatuh cinta memang menyakitkan. Apalagi kalau belum dapat balasannya. Tapi, sudahlah. Aku harus cepat-cepat. Kalau tidak, si Andi yang sok tahu itu akan terus mengoceh."

**********

Dia turun tergesa-gesa ke lobby dan menghampiri Andi.

"Andi, sorry banget aku telat. Semalam aku nggak bisa tidur."

"Bapak membuang banyak waktuku. Bapak tahu kan, 'Time is Money.' Sekarang bapak harus bayar waktuku yang terbuang itu."

"Hei, kau ini mata duitan sekali. Aku hanya telat 1 jam."

"Mmm... kalau aku bukan mata duitan. Lalu mata apa?"

"Mata sapi. Hahaha...."

"Hei, memangnya aku telor? Meski aku mata duitan. Tapi aku tour guide yang paling berwawasan luas di sini. Bapak nggak akan menyesal sudah menyewa jasa ku."

"Agh... kau ini pandai sekali bicara. Kemarin aja, kau tidak paham semua situs-situs bersejarah yang kita kunjungi."

"Jangan salah pak. Aku mungkin kurang tahu tentang situs-situs itu. Tapi mengenai yang lainnya, aku sangat tahu. Percayalah!"

"Iya, iya. Aku percaya. Sudahlah. Lebih baik kita jangan berlama-lama di sini."

"Memangnya kenapa pak?"

"Karena aku sudah gemetaran."

"Gemetaran? Gemetaran kenapa pak?  Apa bapak merasakan hal yang aneh di sini?"

"Iya. Sejak tadi aku merasakan ada sesuatu yang aneh."

"Pak, tolong jangan menakut-nakutiku."

"Tidak, untuk apa aku menakut-nakutimu. Aku hanya merasa perutku sejak tadi keroncongan. Aku lapar."

"Agh... si bapak. Kirain ada apa. Ternyata belum makan. Yah sudah aku akan bawa bapak ke tempat makan yang relatif murah di sini."

"Baguslah, akhirnya kamu paham maksudku.

Ayo kita makan!"

Mereka segera meninggalkan penginapan itu dan pergi ke salah satu tempat makan di sekitarnya. Sembari menunggu makanan datang, Andi tiba-tiba teringat pada perkataan Doni.

"Pak, kemarin bapak bilang akan memberiku bonus. Tapi dengan satu syarat. Apa syaratnya pak?"

"Ah itu. Kau ini, ingat aja semua ucapanku."

"Oh tentu dong pak. Kalau tentang uang. Otak ku ini tidak pernah lupa. Itu sudah otomatis merekam semua memori yang berhubungan dengan uang."

"Ckckckckc.... astaga."

"Apa syaratnya pak? Jangan katakan yang tidak bisa kulakukan."

"Kau tenang saja. Syaratnya sangat mudah."

"Iya. Tapi apa pak?"

"Nanti akan aku beri tahu setelah selesai makan. Ok!"

"Ok! Akan aku tunggu."

*********

Kemudian ketika makanan itu datang dan mereka bersantap, Andi dengan polosnya seperti orang yang tak tahu diri mengungkit lagi bonus itu. Seolah seluruh sarafnya sudah dialiri sengatan-sengatan uang,

"Pak, aku rasa bapak melupakan sesuatu setelah makan."

"Melupakan apa?"

"Mmm... jangan mengalihkan pembicaraan deh pak dan pura-pura lupa."

"Hei, aku serius. Sudahlah, langsung aja ke intinya. Jangan main teka-teki. Ok!"

"Tadi bapak bilang akan memberitahuku sebuah syarat agar aku bisa mendapatkan bonus."

"Oh itu. Kau ini parah banget. Bahkan saat makan pun otakmu terus memikirkan dan menghitung uang. Ok! Jadi kamu tahu kan gadis bernama Jina yang bekerja di penginapan itu?"

"Iya, aku tahu. Tapi tidak terlalu tahu sih."

"Kamu gimana sih. Katanya berwawasan luas. Hal begitu aja tidak tahu."

"Bapak doni, guru sejarah yang tampan. Aku berwawasan luas tentang pekerjaan ku saja. Lagi pula untuk apa bapak bertanya tentang dia. Mmm... jangan-jangan bapak jatuh cinta yah?"

"Idih, jangan sembarangan bicara."

"Pak, sudahlah! Aku sudah paham dan berpengalaman tentang itu. Jangan ditutup-tutupi lagi. Nanti bapak menyesal."

"Iya kau benar. Aku menyukainya. Aku tertarik padanya karena dia baik."

"Memang dia baik. Tapi aku rasa bukan itu saja yang membuat bapak jatuh cinta. Iya kan?

Mmm... mengakulah..."

"Hei, kau ini! Baiklah kita akan pergi."

"Tapi pak, ceritanya kan belum selesai."

"Sudah nanti saja dilanjutkan. Selain mata duitan, kau juga mata ingin tahu yah."

"Apa itu mata ingin tahu?"

"Mata yang mau tahu segalanya. Seperti kamu."

"Tuh kan, salah lagi. Agh...."

"Yah sudah, ayo pergi! Sarapanmu kali ini saya yang bayar. Yah...., untuk mengurangi bonus yang kujanjikan."

"Hah? Jangan!"

1
Becky D'lafonte
kerasnya hidup jina
Shinta Dewiana
hhh...🤔😐😠
Shinta Dewiana
kejamnya....
Kiki Emil: terima kasih udah baca novelnya. semoga bersedia baca yang lainnya juga yah😀😀😀
total 1 replies
Shinta Dewiana
hmmmm
Shinta Dewiana
aduh ngerinya....
Kiki Emil: terima kasih yah sudah baca novelnya dan komen. 😀😀😀
total 1 replies
Shinta Dewiana
emang cinta itu buta ya thor....he..he..he..
Kiki Emil: yah.... kadang2 begitulah
total 1 replies
Shinta Dewiana
sedih banget ya ampun....
ROSIDAH
aku juga suka sama novelnya mba🙂
Kiki Emil
makasih yah udah komen😬😬😬😬
Jenna Joni
gw pikir cuma gw yg ngerasa gak nyambung....ternyata bnyak wkwkwkwk
Kiki Emil: makasih yah udah bersedia komen😬😬😬🙂🙂🙂
total 1 replies
Dita
smngat jina
Dita
smngat jina
Dita
yg sbr y.jina
Elvipangau
jaan hidup tiap orang memang berbeda, tapi jika kita mendapat bagian yg sulit artinya kita diberikan ALLAH kemampuan yg lebih
Elvipangau
bingung masih bingung ceritra apa ini
lanjut
Sahmiran
wkkkk
Harlina Sb
ceritanya bgs nggak EA. 😄
Kiki Emil: selamat baca.
jangan lupa baca karya yang lainnya juga yah.
terima kasih🙂🙂🙂
total 1 replies
Joemiati
kok jd ngeri2 sedap bgni ya alur cetanya
Kiki Emil: terima kasih yah udah komen
total 1 replies
Qurniadi Syah Putra Putra
terus lah berjuang
Qurniadi Syah Putra Putra
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!