Zhao Xinyue sadar dirinya bukan villain utama, bukan heroine, melainkan selir berpangkat rendah yang di novel asli mati karena tanpa sengaja melihat rahasia kaisar. Begitu sadar, targetnya cuma satu. "Aku tidak ingin naik pangkat. Aku cuma ingin hidup sampai akhir cerita."
Masalahnya... Semakin dia berusaha tidak mencolok, semakin banyak orang memperhatikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Tenggorokanku rasanya seperti baru saja digosok menggunakan parutan kelapa.
Memalsukan suara dengkuran dari tengah malam hingga fajar ternyata bukan hanya menyiksa secara psikologis, tapi juga merusak pita suara. Saat aku membuka mata, sisi ranjang di sebelahku sudah kosong dan dingin. Sang Tiran telah pergi. Tidak ada sisa kehangatan, hanya bau samar teh pahit dan ancaman kematian yang masih menggantung di udara kamarku.
Aku menenggak tiga cangkir air putih berturut-turut pagi itu. Xiu'er menatapku dengan prihatin sambil memakaikan jubah kebesaran Selir Tingkat Enam—sebuah pakaian formal berlapis-lapis sutra berat yang membuatku merasa seperti sedang dibungkus menjadi lemper raksasa.
"Nona, apakah semalam Yang Mulia begitu... menuntut?" bisik Xiu'er, wajahnya merona merah.
Aku menatap pantulan wajahku di cermin perunggu. Kantung mataku hitam, wajahku pucat. "Ya, Xiu'er. Beliau menuntut nyawaku, kewarasanku, dan kapasitas pita suaraku."
Hari ini adalah hari Seleksi Harem. Aku berjalan menuju Aula Harmoni dengan kaki yang terasa seperti diikat batu bata. Ancaman Li Jingchen semalam masih terngiang jelas di telingaku: Jangan pernah lagi mencoba mengatur siapa yang harus kubawa ke ranjangku.
Begitu aku melangkah masuk ke aula, suasananya persis seperti ruang meeting dewan direksi saat perusahaan sedang merugi besar. Ratusan gadis bangsawan berbaris di halaman luar. Di dalam, Selir Agung Gui sudah duduk di kursi utama, memancarkan aura permusuhan yang dingin dan terukur.
Aku mengambil tempat duduk di kursi pendamping, agak menyamping dari Gui. Wanita itu tidak tersenyum, hanya melirikku sekilas.
"Kuharap kau tidak melakukan kesalahan hari ini, Shen Yu," gumam Gui pelan, suaranya hanya bisa didengar olehku dan dayang terdekatnya. "Di ruangan ini, satu kata yang salah bisa membuat seluruh keluargamu di perbatasan kehilangan kepala."
Aku menunduk dalam-dalam, meremas saputangan sutraku di bawah meja. Ini bukan gertakan sambal. Ini adalah realitas tempatku berpijak sekarang.
Seleksi pun dimulai. Ini benar-benar seperti wawancara kerja massal. Para gadis dipanggil masuk satu per satu. Gui mencecar mereka dengan pertanyaan seputar etiket, silsilah keluarga, dan kemampuan seni. Banyak gadis muda yang gemetar, menangis, atau pingsan karena tatapan tajam dan lidah berbisa Selir Agung Gui. Aku hanya diam, menunduk mencatat seperti notulen rapat yang tidak punya hak suara.
Hingga akhirnya, nama itu dipanggil.
"Kandidat berikutnya: Su Wan, putri Perdana Menteri Su!"
Seluruh aula mendadak hening. Telingaku yang sedari tadi berdengung karena bosan, langsung berdiri tegak. Mataku terpaku pada ambang pintu.
Seorang gadis melangkah masuk.
Waktu seolah melambat. Jika ini adalah drama televisi, pasti ada efek angin buatan yang meniup pelan ujung gaunnya. Su Wan benar-benar definisi visual dari Heroine sejati. Ia mengenakan gaun sutra berwarna biru pucat yang sederhana namun berbahan luar biasa mahal. Wajahnya adalah perpaduan sempurna antara keanggunan, kecerdasan, dan ketenangan absolut. Kulitnya seputih pualam, matanya bening namun menyimpan kedalaman yang sulit ditebak.
Dia tidak gemetar seperti gadis lain. Dia berdiri tegak, memancarkan aura Main Character Energy yang membuat semua orang di ruangan itu menahan napas.
"Hamba Su Wan, memberi hormat kepada Selir Agung dan Selir Shen," suaranya mengalun merdu, tenang dan penuh perhitungan.
Di sebelahku, aku bisa melihat rahang Selir Agung Gui mengeras. Buku-buku jarinya memutih mencengkeram sandaran kursi. Perdana Menteri Su adalah musuh politik terbesar faksi Gui. Kehadiran Su Wan di sini adalah ancaman langsung terhadap kekuasaan Gui di harem.
"Putri Perdana Menteri," Gui tersenyum, namun matanya memancarkan bisa mematikan. "Kudengar kau sangat pandai. Namun di harem, kepandaian seorang wanita tidak boleh melampaui kepatuhannya. Bagaimana pendapatmu jika suatu saat, titah Yang Mulia Kaisar bertentangan dengan prinsip yang diajarkan oleh ayahmu?"
Pertanyaan jebakan.
Jika Su Wan menjawab ia akan membela ayahnya, itu adalah bibit pemberontakan. Jika ia menjawab akan membela Kaisar, itu bisa dijadikan bukti bahwa ia adalah anak durhaka yang tidak punya loyalitas—kriteria cacat moral yang bisa membuatnya didepak hari ini juga.
Su Wan terdiam sejenak. Lalu, dengan tenang ia menatap mata Gui. "Sebagai anak, hamba berbakti pada ayah. Namun sebagai rakyat dan wanita istana, hamba berbakti pada langit. Dan Yang Mulia Kaisar, adalah Putra Langit. Prinsip ayah hamba tidak akan pernah bertentangan dengan langit."
Jawaban yang sempurna. Sangat diplomatis, licin, dan tak terbantahkan.
Gui mendengus pelan. Matanya berkilat berbahaya. Tiba-tiba, ia menoleh ke arahku.
"Selir Shen," panggil Gui lantang, suaranya membelah keheningan aula. "Yang Mulia Kaisar mengutusmu kemari karena mempercayai penilaianmu. Menurutmu, apakah jawaban Nona Su tadi memuaskan? Haruskah kita meluluskan putri seorang menteri yang kekuasaannya nyaris menyamai naga?"
Napas tercekat di tenggorokanku. Keringat dingin seketika membasahi punggungku.
Gui sengaja menjebakku! Wanita ular ini tidak ingin mengotori tangannya sendiri untuk membuang Su Wan dan memancing kemarahan Perdana Menteri. Ia ingin aku yang menjatuhkan vonis gagal itu. Tapi jika aku meluluskan Su Wan, Gui akan melaporkanku pada Kaisar bahwa aku telah bersekongkol dengan putri pemberontak!
Belum lagi ancaman Li Jingchen semalam: Jangan mengatur siapa yang harus kubawa ke ranjangku.
Otakku yang terpojok langsung memicu insting bertahan hidup tertinggi seorang budak korporat: melempar tanggung jawab ke atasan.
Aku berdiri perlahan, memasang wajah sangat gugup namun serius. Aku menatap Gui, lalu menatap Su Wan.
"Yang Mulia Selir Agung," suaraku sengaja kubuat sedikit bergetar agar terdengar seperti orang bodoh yang ketakutan. "Hamba... hamba hanyalah wanita yang bahkan tidak tahu cara memegang kuas dengan benar. Hamba rasa... Nona Su ini sangat... overqualified."
"Over... apa?" Gui mengerutkan kening.
"Terlalu kompeten!" pungkasku, menggunakan bahasa HRD darurat. "Latar belakang Nona Su terlalu agung, kecerdasannya terlalu tinggi, dan posisinya terlalu krusial. Ibarat sebuah pedang pusaka, bukan hamba atau Yang Mulia Selir Agung yang berhak menilai apakah pedang ini pantas disimpan di rak senjata atau tidak."
Aku menundukkan pandanganku dalam-dalam, mengambil napas panjang.
"Urusan yang melibatkan putri Perdana Menteri bukanlah urusan seleksi harem biasa, melainkan urusan negara. Keputusan meluluskan atau menggagalkan Nona Su berada jauh di luar paygrade—maksud hamba, yurisdiksi—kita berdua. Hanya Yang Mulia Kaisar, sang Putra Langit sendiri, yang berhak menilai langsung kandidat ini."
Hening yang luar biasa tegang menguasai ruangan.
Gui menatapku dengan raut wajah seolah ingin mencekikku. Aku baru saja menolak menjadi kambing hitamnya, dan secara diplomatis mengancamnya bahwa jika ia berani menggagalkan Su Wan hari ini, ia sedang melangkahi wewenang Kaisar dalam urusan politik Perdana Menteri.
Di saat yang sama, aku selamat dari kemarahan Kaisar karena aku tidak memilih Su Wan, melainkan mengembalikan file-nya langsung ke meja bos besar.
Tiba-tiba, dari balik tirai bambu tebal di sudut ruangan, terdengar suara langkah kaki. Kasim Su muncul dengan wajah datarnya yang khas. Ia membawa sebuah gulungan sutra.
"Titah lisan Yang Mulia Kaisar!" seru Kasim Su.
Seluruh orang di aula, termasuk Gui, langsung menjatuhkan diri berlutut. Jantungku memukul-mukul tulang rusuk.
"Tanggapan Selir Shen sangat beralasan," Kasim Su mengulang kata-kata Kaisar, dan nada dingin Li Jingchen nyaris bisa kurasakan lewat suara kasim ini. "Nona Su Wan melangkah maju. Lulus seleksi, dan dianugerahi gelar Selir Tingkat Lima! Ditempatkan di Paviliun Anggrek Putih."
Aula pecah oleh suara hela napas tertahan. Gelar Tingkat Lima untuk selir baru adalah posisi yang sangat tinggi!
Gui bangkit berdiri dengan wajah sepucat mayat. Giginya bergemeletuk. Tanpa berkata apa-apa, ia mengibaskan lengan bajunya dengan kasar dan pergi meninggalkan aula, menandakan penolakannya yang keras meski tak bisa membantah titah.
Seleksi dihentikan sejenak. Aku menghembuskan napas lega yang nyaris membuatku pingsan. Kakiku bergetar saat aku merosot kembali ke kursiku.
Selamat. Aku selamat dari jebakan HRD maut ini.
Namun, saat aku baru saja akan meraih cangkir tehku, sebuah bayangan menghalangi cahaya di depanku.
Su Wan berdiri di depan mejaku. Jarak kami begitu dekat hingga aku bisa mencium aroma melati dari gaunnya. Berbeda dengan ketenangannya tadi, matanya kini sedikit berkaca-kaca, memancarkan emosi yang pekat.
Tanpa ragu, Su Wan membungkukkan badannya dalam-dalam di hadapanku—sebuah penghormatan yang sangat tidak pantas dilakukan oleh Selir Tingkat Lima kepada Selir Tingkat Enam sepertiku.
"Selir Shen..." panggil Su Wan, suaranya bergetar lembut.
"A-astaga, Nona Su, tolong jangan begini, hamba tidak pantas—" aku panik, berusaha berdiri untuk mencegahnya.
"Tolong biarkan hamba menyampaikan rasa hormat hamba," potong Su Wan cepat, mengangkat wajahnya menatapku. Matanya berkilat oleh kekaguman yang membara. Sangat membara.
"Hamba sudah mendengar rumor tentang Anda. Kudengar Anda berpura-pura gila demi menghindari intrik, dan menyembunyikan kecerdasan Anda di balik tingkah laku konyol. Hari ini... hamba melihatnya dengan mata kepala sendiri."
Aku membeku. Apa yang dia lihat?!
"Anda tahu Selir Gui mencoba menjadikan Anda kambing hitam untuk menjatuhkan ayah hamba," bisik Su Wan dengan nada penuh takjub. "Tapi dengan kecerdasan retorika yang luar biasa, Anda membalikkan keadaan. Anda menggunakan nama Yang Mulia Kaisar untuk menekan Selir Gui, sekaligus menyelamatkan nyawa hamba tanpa meninggalkan celah sedikit pun."
Su Wan meraih kedua tanganku yang dingin. Cengkeramannya selembut sutra, namun tekadnya terasa sekuat baja.
"Di istana yang kejam ini, melihat seorang wanita berani mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk melindungi gadis yang baru pertama kali ia temui... Anda adalah cahaya terang di tengah kegelapan harem ini, Kakak Shen."
Tidak, Su Wan, tolong! Aku murni cuma mau lempar tanggung jawab! batinku menjerit histeris. Kepolosanku disalahartikan menjadi kelicikan tingkat dewa!
"Mulai hari ini," Su Wan melanjutkan, matanya berbinar penuh dedikasi ala karakter utama yang baru saja menemukan mentor hidupnya. "Hamba, Su Wan, bersumpah. Di tempat ini, Anda adalah kakak hamba. Hamba akan melindungi Anda dari faksi Gui dengan segala kekuatan yang hamba dan keluarga hamba miliki!"
Nyawaku rasanya perlahan melayang keluar dari ubun-ubun.
Ini bencana. Jika Kaisar Li Jingchen—yang mengawasi dari balik tirai—mendengar Su Wan menyatakan kesetiaan berdarah padaku, dia pasti akan langsung mengkategorikanku sebagai anggota faksi Perdana Menteri!
Belum sempat aku menarik tanganku dan menjelaskan bahwa aku sama sekali tidak tertarik bergabung dengan geng mana pun, Kasim Su sudah berdiri tepat di sebelah kami.
Senyum sopan Kasim Su tampak sangat mengerikan di mataku.
"Selir Shen," Kasim Su menunduk hormat, namun matanya memancarkan peringatan. "Yang Mulia Kaisar menanti Anda di Ruang Belajar Kekaisaran sekarang juga. Beliau sangat... terkesan dengan inisiatif Anda dalam memecahkan masalah hari ini."
Tanganku jatuh lemas di sisi tubuhku.
Selesai sudah. Sang Naga benar-benar akan memanggangku siang ini.
karena makan buah simalakama 🤭🤭🤭😭😭😭😭
tapi aku penasaran tor itu "Selir" istri Kaisar juga??? atau apa kurang paham 🤭🤭
berharap Kaisar jijik ealah malah tetap nempel 🥰🥰🥰