Alexa tak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah novel dark romance yang ditulis oleh saudara kandungnya sendiri. Saat membaca bab terakhir, ia menggerutu karena merasa alurnya terlalu kejam dan tokoh utama perempuan diperlakukan tanpa belas kasihan. Namun, ketika tanpa sengaja terjatuh dari tempat tidur, Alexa membuka mata di dunia yang sama persis dengan novel itu. Yang lebih mengejutkan, ia bukan menjadi tokoh sampingan—melainkan Alexa, karakter utama dengan nama yang sama dengannya. Kini ia adalah istri dari Raiden Damon Alteir, seorang mafia paling berkuasa yang namanya ditakuti di seluruh dunia bawah tanah. Di balik wajah tampannya, Raiden dikenal sebagai pria yang dingin, kejam, dan tak mengenal belas kasihan. Setiap kali amarahnya memuncak, kedua matanya berubah menjadi merah, seolah memperlihatkan sisi tergelap yang bahkan para pembunuh bayaran pun takut hadapi. Dalam alur novel, Alexa hanyalah pion yang terus dipermainkan dan dikendalikan oleh sang mafia psikopat. Ia tahu bagaimana kisah itu seharusnya berakhir—tragis. Karena itulah, Alexa bertekad mengubah takdirnya dan keluar dari cerita sebelum semuanya terlambat. Namun, semakin keras ia berusaha melarikan diri, semakin Raiden Damon Alteir menolak melepaskannya. Di dunia yang dipenuhi rahasia, perebutan kekuasaan, dan bahaya di setiap sudut, Alexa harus memilih: mengubah akhir cerita yang sudah ditulis, atau tenggelam dalam takdir kelam yang menantinya bersama sang raja mafia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kantor raiden
Lima jam berlalu bagaikan siksaan neraka tanpa akhir.
Setelah berjuang merangkak, menyikat setiap inci lantai beton dari genangan darah pekat, serta memungut sisa-sisa eksekusi ke dalam kantong-kantong hitam besar, tugas mengerikan itu akhirnya selesai. Pinggang Alexa rasanya mau patah. Sendi-sendinya kaku, dan encok melanda punggung rampingnya hingga ia harus berjalan sedikit membungkuk saat menaiki anak tangga keluar dari ruang bawah tanah.
Begitu sampai di kamar mandi pribadinya, Alexa langsung melepas seluruh pakaian yang terasa beraroma hanyir itu dan menyalakan pancuran air hangat. Ia menyikat tubuhnya berkali-kali dengan sabun beraroma mawar, membilas rambutnya hingga bersih total.
Sambil berdiri di bawah kucuran air, Alexa bergidik ngeri, menggeleng-gelengkan kepalanya kuat-kuat. Bayangan potongan jari tangan yang dingin, serat daging yang koyak, hingga mata mendelik dari kepala manusia yang ia pegang tadi masih terpatri jelas di dalam ingatannya.
"Hiii... serem banget! Aku bener-bener megang kepala orang tadi!" ringis Alexa merinding, menggosok lengannya kasar. "Gila... kalau bukan demi bertahan hidup, aku nggak bakal mau nyentuh hal-hal mengerikan kayak gitu!"
Setelah selesai membersihkan diri dan mengenakan pakaian kasual yang nyaman, Alexa merebahkan tubuhnya yang lelah ke atas tempat tidur. Baru saja ia memejamkan mata selama dua menit, ketukan keras menghantam pintu kamarnya.
TOK! TOK! TOK!
"Nyonya Alexa," suara berat pengawal berjas hitam terdengar dari luar.
Alexa mendengus kasar, membuka matanya dengan malas. Ia berjalan melangkah membuka pintu. "Apa lagi? Aku baru selesai kerja bakti, ya! Masih pegel semua nih!"
Pengawal itu berdiri tegap tanpa memedulikan keluhan Alexa. Ia menyodorkan sebuah map dokumen tebal berwarna hitam pekat bertuliskan logo emas keluarga Alteir.
"Tuan Raiden menyuruh Anda untuk segera datang ke kantor pribadinya sekarang juga," ujar pengawal itu datar.
Alexa mengerutkan dahi rapat-rapat. "Ngapain? Mau nyiksa aku lagi?"
"Tuan Raiden menyuruh Anda memberikan map dokumen ini secara langsung kepada beliau di ruang kerjanya di pusat kota," jelas pengawal itu panjang lebar. "Tuan menekankan bahwa dokumen ini sangat rahasia dan hanya Anda yang boleh membawanya langsung ke tangan beliau."
Alexa menatap map tebal itu dengan tatapan penuh curiga dan kesal.
'Pasti ini akal-akalan si iblis itu!' gerutu Alexa dalam hati, meremas pinggiran map yang diterimanya. 'Dia sengaja nyuruh aku nganterin dokumen rahasia begini. Kalau sampai ada lecet, terlambat, atau ada salah sedikit aja pas nganterin, dia pasti punya alasan sah buat menghukum atau mencekikku lagi! Licik banget pikiran psikopat itu!'
Meskipun hatinya membara menahan umpatan, Alexa tahu betul ia tidak memiliki pilihan untuk menolak. Menolak perintah Raiden sama saja dengan menyerahkan lehernya secara sukarela untuk ditebas.
"Ya sudah! Mana kunci mobil atau sopirnya? Biar cepat selesai," sahut Alexa gusar.
Pengawal itu menggelengkan kepala pelan. "Maaf, Nyonya. Sopir tidak diizinkan untuk mengantar Anda."
Mulut Alexa seketika melongo lebar. "Hah?! Maksudnya gimana?!"
"Tuan Raiden memberikan perintah spesifik," lanjut pengawal itu dengan raut wajah tanpa dosa. "Anda harus pergi ke kantor pusat Alteir Corporation sendirian, tanpa sopir pribadi, tanpa pengawal, dan menggunakan transportasi umum. Jika Anda menggunakan fasilitas kediaman ini, Tuan Raiden menganggap perintah ini batal dan Anda dinyatakan gagal."
"Gila! Bener-bener iblis gila!" seru Alexa tak percaya. "Kota ini kan luas banget! Mana aku tahu rute jalanan kantornya?!"
Pengawal itu hanya menunduk formal, lalu berbalik pergi meninggalkan Alexa yang berdiri mematung di ambang pintu, memegang map hitam tebal dengan napas yang memburu menahan emosi yang siap meledak.
"Dua puluh menit?! Muka iblis itu bener-bener nggak ada akhlaknya!" umpak Alexa frustrasi setelah mengingat pesan tegas dari pengawal tadi.
Tanpa membuang waktu, Alexa segera memesan taksi online melalui ponselnya. Ia berlari kecil menuju gerbang luar kediaman Alteir. Beruntung, taksi yang dipesannya datang cukup cepat. Alexa langsung melompat masuk ke kursi belakang dan menyebutkan alamat gedung pencakar langit Alteir Corporation.
Namun, nasib sial seolah tidak pernah berhenti mengejarnya.
Baru saja mobil melaju beberapa kilometer mendekati kawasan bisnis pusat kota, laju taksi mendadak terhenti total. Di hadapan mereka, membentang lautan kendaraan yang mengular panjang—kemacetan parah melanda jalan utama akibat adanya perbaikan jalan.
"Aduh, Mbak... kayaknya ini macet total deh, nggak bisa jalan cepat," ujar sopir taksi sambil menatap spion tengah dengan raut menyesal.
Alexa melirik jam digital di ponselnya. Jantungnya serasa mau copot. Waktu yang tersisa hanya tinggal lima menit lagi! Sementara gedung pencakar langit berlogo emas Alteir Corporation sudah terlihat di seberang persimpangan besar, sekitar beberapa ratus meter di depan sana.
"Pak, saya turun di sini saja!" seru Alexa panik. Ia menyodorkan beberapa lembar uang kertas tanpa meminta kembalian, lalu menyambar map hitam tebal itu dan membuka pintu taksi.
Tanpa peduli dengan sepatu flats dan pakaian santainya, Alexa menarik napas dalam-dalam lalu melesat berlari sekuat tenaga.
Ia membelah trotoar yang dipenuhi pejalan kaki, melompati pembatas jalan, dan menerobos kerumunan orang dengan napas yang terengah-engah. Rambut hitamnya yang biasanya tersusun rapi kini berantakan ditiup angin, peluh dingin mulai membasahi dahinya.
"Awas! Numpang lewat!" teriak Alexa terengah-engah, terus memacu kakinya yang mulai terasa pegal akibat sisa kerja keras di ruang bawah tanah tadi pagi.
Ia berlari menyusuri pelataran megah Alteir Corporation, menerobos pintu kaca raksasa gedung tersebut, dan langsung memburu meja resepsionis di lobby utama yang sangat luas dan mewah.
"Hah... hah... M-Mbak... p-pengantaran dokumen... untuk Tuan Raiden..." cerca Alexa terbatuk-batuk, menopang kedua tangannya di atas meja resepsionis dengan dada naik turun liar.
Resepsionis berpenampilan anggun itu sempat terkejut melihat penampilan Alexa yang berantakan dan terengah-engah. Namun, begitu melihat logo khusus pada map hitam tebal di tangan Alexa dan mengenali instruksi khusus dari sekretaris utama, resepsionis itu langsung berdiri tegak dengan penuh hormat.
"Nyonya Alexa? Mari, Nyonya! Tuan Raiden sudah menunggu Anda di ruang kerja beliau. Saya akan mengantar Anda ke lift khusus," ucap resepsionis itu terburu-buru, menuntun Alexa menuju lift privat yang langsung mengarah ke lantai teratas gedung.
DING!
Pintu lift terbuka di lantai lima puluh. Alexa melangkah keluar dengan napas yang masih memburu. Resepsionis mengetuk pintu ganda berlapis kayu mahal di ujung lorong, lalu membukakannya untuk Alexa sebelum pamit mundur.
Alexa melangkah masuk ke dalam ruang kerja raksasa bernuansa hitam-abu yang sangat elegan. Di balik meja kerja kaca yang megah, Raiden duduk dengan kemeja putihnya yang digulung, sibuk meneliti dokumen di layar komputer.
Pria itu perlahan menaikkan pandangannya, melirik jam tangan mewahnya, lalu menatap Alexa yang berdiri dengan rambut berantakan dan napas terengah-engah.
"Kau terlambat lima menit," ucap Raiden dingin, suaranya yang datar tanpa riak terasa begitu memancing emosi.
CEKLEK.
Suara benteng pertahanan mental Alexa mendadak patah seketika.
Rasa lelah fisik dari menyikat darah, ketakutan dari ancaman mati, panik karena dikejar waktu, ditambah berlari sekuat tenaga di tengah kota—semuanya meledak menjadi satu gumpalan amarah yang tak tertahankan lagi. Alexa tidak peduli lagi jika pria di hadapannya ini adalah ketua mafia psikopat atau penguasa dunia bawah!
"TERLATE LIMA MENIT JIDATMU?!" teriak Alexa histeris, melangkah lebar mendekati meja kerja Raiden dan melempar map hitam itu ke atas meja dengan dentingan keras.
TAK!
Raiden sedikit menaikkan alisnya, tertegun tipis melihat keberanian wanita di hadapannya.
"Kamu punya otak dipakai nggak sih?!" cerca Alexa panjang lebar dengan napas terengah-engah, menunjuk muka Raiden tanpa rasa takut sedikit pun. "Kamu pikir aku ini atlet lari maraton, hah?! Disuruh kerja bakti memungut potongan badan lima jam penuh sampai pinggangku mau patah, terus disuruh nganterin map ini sendirian tanpa sopir di tengah kota yang macet parah! Aku ini manusia, Raiden! Bukan robot!"
Alexa mengusap keringat di dahinya kasar, matanya yang memerah menatap Raiden dengan sengit.
"Kalau mau bunuh aku, bunuh aja sekarang! Jangan pakai cara menyiksa fisik dan mentalku halus kayak gini! Kamu itu bener-bener iblis gila, gila, gila!" amuk Alexa meluapkan seluruh isi hatinya tanpa ada yang ditutupi lagi.
Setelah puas mengomel panjang lebar hingga tenggorokannya terasa kering dan terbakar, Alexa berbalik arah dengan napas memburu. Ia tidak memedulikan tatapan dingin Raiden yang masih terpaku menatapnya.
Alexa melangkah gontai menuju sofa kulit hitam raksasa di sudut ruangan. Di atas meja kopi, terdapat sebuah teko kaca berisi air dingin dan gelas kristal. Tanpa permisi, Alexa menyambar teko tersebut dan meneguk airnya langsung dari mulut teko sampai tersisa separuh!
"Ahhh... lega," desah Alexa kasar.
Rasa lelah yang luar biasa mendadak menyerang seluruh persendian tubuhnya. Pandangannya mulai berat. Tanpa memedulikan keberadaan Raiden yang masih duduk di mejanya, Alexa membanting tubuhnya ke atas sofa kulit yang empuk itu.
Dalam hitungan detik, kesadaran Alexa menguap habis. Ia tertidur sangat pulas.
Saking lelahnya, gaya tidurnya sama sekali tidak ada anggun-anggunnya atau estetik seperti wanita berkelas pada umumnya. Alexa tertidur terlentang dengan mulut sedikit terbuka, sebelah kakinya terangkat mengangkang di atas sandaran sofa, sementara tangannya terkulai lemas di lantai. Suara dengkur halus bahkan mulai terdengar dari tenggorokannya.
Di balik meja kerjanya, Raiden mematung kaku.
Penguasa mafia yang paling ditakuti di dunia bawah itu menatap wanita yang baru saja mengomelinya habis-habisan dan kini tertidur lelap dengan posisi yang sangat berantakan di sofanya.
double up
takut Raiden nya kelamaan ngejelasinnya nya
Alexa main lompat aja🥹
anak orang udah diperawanin trus ilang
jangan salahin kalau ntar Alexa nya menghilang juga😔
ketagihan kan kan 🙊🙄🙄
Raiden bikin Alexa hamil
tunjukkan kehebatan mu Raiden
siap siap besok kita liat perkedel human😱