Tidak semua luka meninggalkan darah. Ada luka yang tersembunyi di balik senyum seorang perempuan, di balik suara lembut yang tetap terdengar tenang meski hatinya sedang runtuh perlahan. Pengkhianatan adalah salah satu luka terdalam yang mampu mengubah hidup seseorang dalam sekejap, terutama bagi perempuan yang selama ini menggantungkan cinta, kepercayaan, dan harapannya pada keluarga yang ia perjuangkan dengan sepenuh hati.
Novel ini menghadirkan kisah tentang ketegaran seorang perempuan menghadapi pahitnya pengkhianatan cinta, kekecewaan, serta perjuangan menemukan kembali harga dirinya. Kisah ini bukan hanya tentang air mata dan kehilangan, melainkan juga tentang keberanian untuk bangkit ketika dunia terasa runtuh. Tentang bagaimana seorang perempuan belajar memaafkan, bukan karena luka itu kecil, tetapi karena ia memilih untuk hidup lebih kuat daripada rasa sakitnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah AllRey.., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menambah kesibukan
Sambungan telepon berakhir. Ardian menurunkan ponselnya perlahan lalu mengembuskan napas panjang.
Ia sendiri tidak mengerti kenapa sampai melakukan ini. Mungkin karena rasa penasaran.
Atau mungkin…
"Kenapa aku menjadi senekat ini.. " Ardian bertanya pada dirinya sendiri
"Mmmmhh.. bukan apa-apa, semua terjadi karena dorongan nenek saja." laki-laki itu membantah dan mencoba menyangkal pikirannya.
"Tapi.. benarkah karena..." galau perasaan Ardian.
Mungkin karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada seseorang yang berhasil menarik perhatiannya tanpa sengaja.
"Tidak.. bukan karena ketertarikan visual. Aku tidak yakin, gadis itu bisa menarik perhatianku.."
"Sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba.., semua hanya kecewa akhirnya."
Dan Ardian tidak yakin itu hal yang baik. Dia tersenyum sinis.. dan kembali teringat dengan perempuan dari masa lalunya.
*************
Apartemen Rike
Kamar tipe studio terasa penuh dengan adanya Rike dan Joyce berdua. Namun tidak ada pilihan lain, Rike terpaksa membawa sahabatnya itu pulang kesini. Meskipun sempit, tempat ini masih lebih aman daripada di apartemen Joyce untuk saat ini. Gadis itu yakin jika Arka pasti akan menguntit dan bahkan meneror Joyce.
"Minum dulu kopimu Joy.. "
Sambil menyeruput cangkirnya sendiri, Rike menggugah lamunan Joyce.
"Mmmpphh... iya Rik."
Tanpa menunggu pengulangan kata, Joyce meraih cangkir di depannya. Perlahan gadis itu menyesap kopinya, kemudian meletakkan kembali ke atas meja. Dari sudut matanya, Rike melihat apa yang dilakukan gadis itu.
"Apa rencanamu hari ini Joy.."
Diam.. tidak ada jawaban. Beberapa saat kemudian...
"Aku mungkin akan mencari kerja sampingan Rik.. untuk sementara ini. Yah..., daripada aku menunggu panggilan kerjaan... Dan kebetulan, untuk minggu ini aku masih free belum ada contact event"
Rike terkejut dengan perkataan Joyce. Bukannya apa-apa, dia kaget saja. Karena jika itu masalah uang, dia yakin jika Joyce tidak akan kekurangan. Pendapatan sebagai MC premium melebihi gaji pegawai sebuah perusahaan, bahkan yang sudah memiliki posisi. Apalagi, Joyce juga sebagai affiliate produk fashion dan skin care juga.
"Jangan berpikir macam-macam. Aku hanya butuh pengalihan saja untuk saat ini. Semakin aku hanya diam di apartemen, tanpa ada kesibukan, mungkin aku bisa gila." sahut Joyce lirih
"Hempphh... terserahlah Joy.. Aku akan selalu mendukungmu.., lagian tidak ada pilihan lain, Jika kamu banyak di apartemen, si gila Arka pasti akan terus menguntitmu."
Joyce tersenyum samar.. Dia sudah berusaha mati-matian untuk menghapus ingatan tentang laki-laki itu. Namun nasib baik sepertinya belum berpihak kepadanya. Beberapa kali, tanpa dia sadari malah waktu mempertemukan mereka.
"By the way... perusahaan mana yang akan menjadi targetmu kali ini.."
Sambil meletakkan cangkir ke atas meja, Rike berusaha mencari tahu.
"Belum ada gambaran Rik.. Mungkin aku akan cek ricek akun Linkind ku dulu, Biasanya banyak penawaran masuk disana. Siapa tahu ada yang cocok, dan mungkin aku berjodoh dengan salah satu perusahaan.."
"Good idea Joy.. lakukanlah. Atau.."
"Atau apaan.."
"Atau kenapa tidak mencoba di Aethera Corporation. Bukannya mereka sudah melihat performmu tadi malam. Kamu bisa melamar di bagian front line, atau sekretaris Direksi.."
Mendengar Aethera Corporation, ingatan Joyce pada tuan Ardian Mahendra. Tanpa sadar, bibirnya membentuk senyuman.
"Lah.. malah senyum sendiri. Ada sesuatukah disana yang menarik perhatianmu.."
"He.. he.. he.. CEO nya ganteng Rik.."
"Siapa.. tuan Ardian Mahendra kah.. Incaran gadis selebriti papan atas maksudmu.."
"Bener.. semalam tuan Ardian malah menolongku tanpa sengaja, dari si gila Arka Gunawan.."
"Terserah omonganmu saja Rik.." sahut Rike, dan gadis itu berdiri.
"Mau kemana Rik.."
"Lah Joy.. gue ini bukan pengangguran. Ya prepare dong.. dah jam 07 lebih nih.."
Joyce hanya tersenyum nyengir, melihat Rike berjalan meninggalkannya.
**************
Pukul delapan pagi, kantor pusat Aethera Corporation sudah mulai sibuk seperti biasa.
Puluhan karyawan berlalu-lalang membawa laptop dan dokumen meeting. Lift eksekutif terbuka silih berganti, sementara layar besar di lobby utama menampilkan berita tentang suksesnya launching produk semalam.
Namun di lantai paling atas gedung itu, Raka justru sedang fokus pada sesuatu yang jauh berbeda dari laporan perusahaan. Rahang laki-laki itu tampak mengeras, dan pandangannya serius.
Sebuah tablet menyala terlihat di depannya. Dan tatapan matanya tampak melihat dengan seksama pada layar kecil di depannya itu. Nama di layar tabletnya tertulis jelas:
JOYCE ALVARETHA
Raka bersandar di kursinya sambil membaca data yang baru masuk dari tim internalnya. Senyum laki-laki itu melebar, tampak puas dengan apa yang dilihatnya.
“Freelance Master of Ceremony… event moderator… former radio announcer…”
Ia menggeser layar perlahan.
Usia dua puluh sembilan tahun. Tinggal sendiri di apartemen kawasan Kuningan.
Karier cukup dikenal di dunia event premium Jakarta. Tidak memiliki keluarga dekat di ibu kota.
Dan bagian terakhir itu membuat Raka sedikit berhenti membaca. Keningnya mendadak berkerut...
Status hubungan:
Tidak terpublikasi.
Namun diduga memiliki hubungan pribadi dengan seorang pria bernama Arka Pradipta selama kurang lebih tiga tahun. Raka menghela napas kecil.
“Pantas saja…”
Ia masih ingat jelas bagaimana tatapan Joyce semalam saat lelaki itu datang menghampiri backstage. Meskipun Raka tidak mengenal Joyce, namun dia tanpa jeda mengamati dan mengawal tuannya, tuan Ardian Mahendra. Sehingga apa yang terjadi pada boss nya itu, tidak terlewatkan sedikitpun.
Itu bukan tatapan marah biasa. Tetapi tatapan seseorang yang benar-benar terluka.
Tok.
Tok.
Suara ketukan pintu ruangannya terdengar. Raka menghentikan aktivitasnya, dan melihat ke arah pintu. Kemudian..
“Masuk.”
Salah satu staf internal menganggukkan kepala memberi hormat, kemudian masuk membawa map tambahan.
“Pak Raka, ini data tambahan yang Anda minta.”
“Thanks. Kembalilah ke kerjaanmu”
Staf itu menganggukkan kepala, kemudian membalikkan badan menuju ke arah pintu. Begitu staf itu keluar, Raka membuka isi map tersebut.
Dan kali ini alisnya sedikit terangkat.
Arka Pradipta.. Direktur pemasaran perusahaan properti ternama. Latar belakang keluarga terpandang.
Dan… status terbaru: Bertunangan dengan Celine Gunawan. Tanggal pertunangan: dua hari lalu.
Raka langsung memahami semuanya, dan dia mengambil nafas panjang...
“Damn… Goblok sekali laki-laki itu.. membuang permata dan menggantinya dengan batu kapur”
Tanpa sadar, Raka mengumpat. Seperti ada rasa jengkel dan panas dalam hatinya, mengetahui Joyce dikhianati. Ia bersandar sambil menatap langit-langit ruangan.
Jadi benar. Joyce adalah perempuan yang dikhianati lelaki itu.
Dan lebih buruknya lagi…, tadi malam Joyce jadi MC, dan Arka Pradipta beserta tunangannya menjadi salah satu tamu VIP di acara. dia harus memandu acara di depan mantan kekasihnya sendiri.
Raka mulai mengerti kenapa Ardian sampai tertarik pada perempuan tersebut. Karena bahkan bagi orang luar pun, Joyce terlihat luar biasa kuat.
Ponsel di meja Raka bergetar. Dengan sigap, Raka meraih ponsel, dan melihat layarnya..