NovelToon NovelToon
Bukan Inginku Jadi MADUMU

Bukan Inginku Jadi MADUMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Single Mom
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Risnawati

"Kamu harus tahu diri. Kamu wanita yang tidak pernah di inginkan oleh mas Yusuf. Jangan sesekali meminta perhatian darinya. ingatlah, mas yusuf menikahimu hanya ingin bertanggung jawab pada bayi itu!" tekan Nora.

"Aku tahu, Mbak. Maaf jika sikapku sudah membuat mbak nora tidak nyaman," jawab Siti hajar dengan wajah menunduk.

Kejadian yang tak terduga membuat Siti harus mengandung anak dari majikannya. Menjadi orang ketiga, dan di nikahi secara siri tidaklah membuat gadis malang itu bahagia. ia harus menerima segala hujatan dari nora istri sah Yusuf.

Bagaimana kisah selanjutnya? yuk ikuti ceritanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sama-sama berusaha tegar

Malam semakin larut. Suasana rumah kembali sepi, hanya terdengar suara detak jam dinding yang seolah menghitung setiap detik perih yang berlalu. Nora masih duduk di kursi teras, memeluk lututnya, menatap remang lampu jalan di kejauhan. Angin malam menerpa wajahnya, membuat bulu kuduknya meremang, tapi itu tak sebanding dengan dingin yang menjalar di dalam dadanya.

Di belakangnya, terdengar langkah kaki pelan. Ia tak perlu menoleh pun tahu siapa yang datang. Hanya satu orang yang berani mendekat saat suasana hatinya sedang bergejolak hebat begini.

"Mbak... masuklah. Angin malam kencang, nanti masuk angin," suara Siti terdengar lirih, disertai suara geseran kain gamisnya. Ia berdiri agak menjauh, tak berani duduk di kursi panjang itu bersama Nora.

Nora menghela napas panjang, tak berbalik menatap. "Kamu belum tidur, Sit? Besok kan harus bangun pagi, kita mau ke rumah sakit."

"Belum bisa tidur, Mbak. Rasanya... nggak enak hati kalau Mbak di sini sendirian begini. Saya tahu, semua ini berat banget buat Mbak. Maafkan saya..." Siti menyeka sudut matanya yang kembali basah. Ia benci dirinya yang selalu berakhir meminta maaf, tapi itu satu-satunya kata yang mampu mewakili perasaannya saat ini.

"Berhenti minta maaf," potong Nora pelan, namun tegas. Ia akhirnya menoleh, menatap wanita muda itu yang berdiri tertunduk malu di pinggir pintu. Wajah Siti tampak pucat, namun perutnya yang mulai sedikit membulat tak bisa disembunyikan lagi di balik kain yang ia kenakan. Pandangan Nora jatuh ke sana, dan lagi-lagi rasa sakit itu menyengat. Janin itu adalah bukti nyata, tanda bahwa laki-laki yang ia cintai telah berbagi hati dan hidup dengan wanita lain.

"Saya nggak benci kamu, Siti. Percayalah," lirih Nora, kata-kata itu meluncur keluar begitu saja, seolah ada kekuatan lain yang menggerakkan mulutnya. "Awalnya saya marah, saya ingin mengusirmu, ingin melemparmu keluar dari hidup kami. Tapi lama-kelamaan... saya sadar, kemarahan itu justru makin menyakiti saya sendiri. Kamu juga korban. Kamu masih muda, masa depanmu sudah rusak. Dan sekarang, kamu menanggung akibatnya sendirian, harus hidup di bawah atap yang sama dengan istri sah orang yang telah menodaimu, harus menelan rasa bersalah setiap detiknya."

Siti tergugu, air matanya mengalir deras tak tertahan. Ia tak pernah menyangka akan mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Nora. Ia mengira ia akan terus dianggap musuh, terus dimusuhi.

"Mbak..." isaknya tertahan.

"Masuklah, duduk sini," pinta Nora, memberi ruang di sampingnya. Dengan ragu-ragu, Siti melangkah mendekat, lalu duduk di ujung kursi, menjaga jarak.

"Saya cuma minta satu hal sama kamu, Siti," lanjut Nora, suaranya bergetar menahan tangis. "Jangan pernah berharap lebih. Di rumah ini, sampai kapan pun, saya tetap istrinya. Haikal tetap anak kandung sahnya. Kamu... kamu ada di sini cuma karena ada janin yang harus dilindungi. Begitu anak itu lahir dan kamu sudah siap pisah rumah, kita akan berpisah jalan. Jangan pernah kamu berniat merebut apa yang jadi hak saya. Kalau kamu bisa pegang itu, kita mungkin bisa menjalani hari-hari ini tanpa saling menyakiti lebih dalam lagi."

Siti mengangguk kuat, air matanya makin deras. "Saya janji, Mbak. Demi Tuhan, saya nggak pernah berniat merebut apapun dari Mbak. Saya sadar posisi saya. Saya cuma ingin anak saya lahir selamat, punya ayah yang bertanggung jawab, selebihnya... saya rela pergi jauh. Saya nggak mau jadi penghalang kebahagiaan Mbak dan Mas Yusuf, apalagi Haikal. Dia anak baik banget, Mbak..."

Pembicaraan mereka terhenti saat bayangan tubuh Yusuf muncul di ambang pintu. Ia berdiri diam, mendengar semua percakapan itu. Wajahnya penuh rasa bersalah, matanya merah padam menahan rasa sesak yang luar biasa. Ia sadar, dialah akar dari semua kekacauan ini. Dialah yang membuat dua wanita baik-baik ini harus terluka, harus berbagi rasa sakit, dan harus berkompromi di bawah satu atap.

Yusuf melangkah maju, mendekat ke arah mereka berdua. "Maafkan aku..." suaranya parau. "Maaf karena aku pengecut. Maaf karena aku yang bikin kalian berdua menderita begini. Nora... Siti... aku janji, aku akan bertanggung jawab sepenuhnya. Aku akan pastikan kalian berdua aman, terpenuhi hak-hak kalian, meskipun aku tahu, tak ada yang bisa menghapus rasa sakit ini."

Nora mengalihkan pandangan, menatap lantai. "Sudah larut, Mas. Masuklah istirahat. Besok pagi kita harus bangun pagi. Kita tunjukkan pada dunia luar bahwa keluarga ini masih tertata, masih terhormat, meski di dalamnya sudah hancur lebur."

Pagi hari tanggal 15 Mei itu, langit terlihat mendung, seolah ikut merasakan beratnya hati mereka. Mobil Yusuf melaju pelan menuju Rumah Sakit tempat Nora bekerja. Suasana di dalam mobil hening sepi. Haikal hari ini tidak ikut, ia sengaja dititipkan ke rumah neneknya, agar anak itu tidak ikut merasakan ketegangan yang menyakitkan ini.

Sesampainya di rumah sakit, Nora turun lebih dulu, berjalan tegap dengan seragam dinasnya, menutupi segala rasa sakit di balik wajah profesionalnya. Siti turun di belakangnya, mengenakan pakaian sederhana, menundukkan wajah agar tak ada yang mengenalinya. Yusuf tetap di dalam mobil, sesuai kesepakatan, ia tak ikut masuk ke dalam ruangan periksa, agar tak menimbulkan tanda tanya dari rekan kerja Nora.

Di ruang praktik Dokter Rina, suasana sedikit lebih tenang. Rina, sahabat dekat Nora sejak kuliah, menatap mereka berdua bergantian dengan tatapan iba, namun ia tahu batasan dirinya. Ia hanya dokter yang bertugas memeriksa kesehatan ibu dan janin, selebihnya ia tak berhak ikut campur urusan rumah tangga sahabatnya.

"Semua kondisi baik, Nor," ucap Rina pelan setelah memeriksa Siti dan menampilkan hasil USG di layar. "Janinnya berkembang sangat baik, detak jantungnya kuat. Siti sehat, gizi cukup. Tinggal dijaga saja sampai masa persalinan nanti. Kira-kira bulan depan jadwalnya harus kontrol rutin lagi."

Nora mengangguk, menelan ludah saat matanya tak sengaja menangkap bayi kecil yang berdenyut hidup di layar monitor itu. Ada rasa aneh yang menjalar, campuran antara benci, sedih, dan rasa kemanusiaan sebagai sesama wanita dan dokter. Itu tetaplah nyawa, tak berdosa, tak tahu apa-apa atas dosa orang tuanya.

"Terima kasih, Rin," ucap Nora singkat, lalu membantu Siti berdiri dan membereskan perlengkapannya.

Saat mereka keluar dari ruangan dan berjalan melewati koridor rumah sakit, beberapa perawat menyapa Nora dengan hormat. Nora membalas dengan senyum yang ia paksakan sempurna, seolah tak ada apa-apa yang terjadi dalam hidupnya. Siti berjalan dua langkah di belakang, menjaga jarak, kepalanya tetap tertunduk dalam-dalam.

Sesampainya kembali di mobil, Yusuf langsung menatap mereka dengan cemas. "Gimana? Semuanya aman?"

"Sehat. Semuanya sehat," jawab Nora datar sambil mengencangkan sabuk pengaman. "Sekarang antar kami pulang. Mas masih ada urusan kantor kan?"

"Iya. Aku harus ke kantor cabang sebentar, nanti sore baru pulang lagi," jawab Yusuf pelan, lalu menyalakan mesin mobil.

Perjalanan pulang kembali diisi keheningan. Namun, ada satu hal yang berubah. Bukan lagi keheningan yang penuh amarah atau kebencian, melainkan keheningan lelah. Mereka semua mulai sadar, bahwa mau tak mau, mereka harus berjalan beriringan untuk sementara waktu ini, sampai tugas itu selesai.

Sore itu, saat Yusuf belum pulang, Haikal sudah kembali dari rumah neneknya. Ia masuk ke rumah dengan wajah ceria, lalu berlari menghampiri ibunya yang sedang duduk di ruang tamu sendirian.

"Ma! Tadi Nenek tanya, kenapa Mama sama Papa kelihatan nggak akur? Nenek sampai khawatir lho," cerocos Haikal polos.

Hati Nora terenyuh. Ia memeluk bahu putranya erat. "Nenek terlalu khawatir saja, Nak. Papa sama Mama cuma lagi banyak pikiran soal pekerjaan dan urusan keluarga jauh. Nanti kalau Papa sudah selesai semua urusannya, pasti kita bisa jalan-jalan lagi bareng, kayak dulu." Nora tak lagi bicara buruk tentang Siti. Ia tidak boleh melibatkan Haikal dala masalah ini. Haikal masih terlalu kecil untuk mengetahuinya. Dan ia juga tahu bahwa Haikal sangat menyayangi Siti. Rasanya jahat sekali bila ia harus meracuni pikiran putranya.

Di sudut ruangan, Siti yang sedang menyapu lantai diam-diam mendengar itu. Ia berhenti sejenak, menatap pemandangan ibu dan anak itu. Ia tahu, tak peduli seberapa keras ia berusaha menjadi bayangan saja, keberadaannya tetaplah duri dalam daging bagi keluarga kecil itu.

Mata Siti beralih ke arah foto besar yang tergantung di dinding: foto pernikahan Nora dan Yusuf yang terlihat begitu bahagia dan serasi. Hati Siti bergetar. Saya akan cepat-cepat pergi dari sini, janjinya dalam hati. Saya akan pastikan setelah anak saya lahir, saya akan membawa dia pergi sejauh mungkin, supaya keluarga ini bisa kembali utuh dan bahagia seperti dulu. Biar hanya saya yang menanggung sisa rasa sakit ini sendirian.

Hari-hari berganti minggu. Pola hidup baru itu perlahan menjadi rutinitas yang pahit namun teratur. Yusuf berusaha menyeimbangkan segalanya—menjadi suami yang baik bagi Nora, menjadi penanggung jawab bagi Siti, dan menjadi ayah yang menyenangkan bagi Haikal. Nora berusaha sekuat tenaga menekan egonya, menjalankan peran sebagai pemimpin rumah tangga dengan bermartabat, meski hatinya sering kali menangis di dalam diam. Dan Siti... ia semakin pendiam, semakin tertutup, namun semakin berhati-hati menjaga kandungannya, satu-satunya alasan mengapa ia masih ada di rumah itu.

Mereka belajar satu hal pahit. dalam masalah rumah tangga yang rumit seperti ini, tak ada yang benar-benar menang. Semuanya sama-sama terluka. Dan waktu satu-satunya obat yang mungkin bisa menyembuhkan, meski bekas lukanya pasti akan membekas seumur hidup.

Namun di balik semua itu, ada satu harap yang sama yang dipeluk ketat oleh ketiga orang dewasa itu. agar masa depan Haikal dan calon anak Siti tetap cerah, tak ternoda oleh dosa dan kesalahan yang dibuat oleh generasi mereka.

1
Naufal Affiq
istrimu di tempat selingkuhan nya yusuf
Jetva
si Siti ga kerja..??
Jetva
Lah Siti ogeb....ga pux harga diri....
Dewi Habibah
endingnya sudah bisa di tebak🤭
Dewi Habibah
gimana Nora tidak mencari kebahagiaannya sendiri , suami yg di cintai si Yusuf itu memendam cita pada Siti dan Nora di abaikan , lebih baik Nora cari kebahagiaan sendiri la
❀∂я🌹WIDYA⒋ⷨ͢⚤
lanjut kak 👍
Naufal Affiq
kasihan aku lihat kamu yusuf,masih saja kau pikir kan perasaan istrimu yang tukang selingkuh di belakang mu
Tri Hastuti
mudah2an mereka bersatu,, nora tinggalin j
Naufal Affiq
nikahin siti yusuf,karena istri mu sudah selingkuh di belakang mu
❀∂я🌹WIDYA⒋ⷨ͢⚤
mau lihat reaksi nora gimana nanti 🤧
Suanti
nora sdh selingkuh yusuf tinggal cerai kan nora baru nikah lgi sm siti 🤭
❀∂я🌹WIDYA⒋ⷨ͢⚤: gampang sekali ya kak /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Meri Meri
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Sasikarin Sasikarin
bolak balik g up juga... kecewa sangat
❀∂я 𝗗𝗘𝗪𝗜 𝗥⒋ⷨ͢⚤ : Bentar ya kak, lagi nulis🤗
total 1 replies
Naufal Affiq
yusuf berusaha kuat lagi untuk mencari siti dan dafa,mereka ada di Kalimantan lho
Tri Hastuti
biarin j nora selingkuh, nti siti sama yusuf j 😂
❀∂я🌹WIDYA⒋ⷨ͢⚤
tapi kabar buruk dari ibumu Haikal , dia selingkuh 😭😭😭😅
❀∂я🌹WIDYA⒋ⷨ͢⚤
ini ada maunya raka 🙄
Suanti
semoga secpt nya yusuf ketemu siti dan daffa
untung nora semoga aja ank nya haikal sendri yg nampak mama nya selingkuh sm raka 🤣🤣🤣
❀∂я🌹WIDYA⒋ⷨ͢⚤
salah jalan kamu nora pelampiasan sama suami orang 🙄🤧
❀∂я🌹WIDYA⒋ⷨ͢⚤
ujungnya jadi selingkuh kalian 🙄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!