Novel ini memiliki karakter utama wanita bernama Aiena. Gadis berusia dua puluh lima tahun di awal mulai cerita yang terjebak di dalam hubungan yang tidak sehat dengan pacarnya.
Tiap hari ulang tahun adalah kesempatan untuk checkpoint bagi Aiena. Apabila ia mengatakan ia bahagia dan puas dengan hidupnya, maka itu menjadi titik checkpoint-nya. Sebaliknya, ia suatu hari pada ulang tahunnya ia menyesal akan keputusannya dan mengatakan ingin kembali ke masa lalu, maka ia otomatis kembali ke titik checkpoint terakhirnya.
Bermula dari penyesalannya tidak bisa memberikan yang keturunan bagi suami yang begitu mencintainya, Aiena di masa kini berniat kembali ke masa lalu untuk menghindari toxic relationship dengan mantannya dan bertemu jodohnya, pria yang di masa kini menjadi suaminya lebih cepat dalam kondisi yang lebih baik. Namun ketika Aiena mengulang cerita hidupnya, ia justru bertemu orang lain yang tidak mampu ia tolak pesonanya.
Cerita menjadi semakin kompleks ketika Aiena menyadari siapa pria yang merebut hatinya itu, bertemu dengan sang mantan pacar toxic, dan bertemu dengan pria yang dipercaya sebagai jodohnya dalam situasi yang kini jauh berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Sakit
Aiena meringkuk di atas ranjangnya, memeluk guling erat-erat, menyalurkan rasa sakit yang melilit perut bagian bawahnya. Sudah tiga hari ia hanya mendekam di kamar, tidak beranjak selain ke toilet satu atau dua kali sehari.
Rasa sakit itu bukan lagi sekadar kram yang biasa ia rasakan setiap bulan. Ini adalah rasa nyeri yang tajam, panas, dan berdenyut secara konstan, seolah ada sesuatu yang sedang memberontak di dalam tubuhnya.
Juga sakit kepala hebat menyerangnya. Entah karena banyaknya pendarahan, atau efek lain dari obat yang disuntikkan padanya malam itu.
Ponselnya yang tergeletak di samping bantal terus-menerus memendarkan cahaya. Pesan dari rekan kerjanya di kantor menanyakan keberadaannya atau meminta diberitahukan letak file, sementara sang manajer personalia mulai menagih surat keterangan dokter yang menjadi syarat mutlak izin sakit.
Namun, bagi Aiena, beranjak ke klinik terasa seperti sesuatu yang mustahil. Ia bahkan tidak sanggup untuk sekadar duduk tegak tanpa merasa dunianya berputar hebat.
Saat Aiena sedang menggeram karena sakit, pintu kamar terbuka perlahan, menampakkan sosok Mamanya yang membawa nampan berisi semangkuk bubur panas dan segelas air putih.
Aroma uap bubur itu biasanya menenangkan, namun bagi indra penciuman Aiena yang mendadak sensitif, bau itu justru memicu rasa mual yang menyesakkan dada.
“Aiena, kamu masih lemas? Ini sudah hari ketiga, Nak. Apa kita ke dokter saja sekarang?” tanya sang Mama dengan nada suara yang penuh kecemasan.
Beliau duduk di tepi ranjang, mengusap dahi putrinya yang terasa dingin dan berkeringat.
Aiena menggeleng lemah tanpa membuka mata. Ia menarik selimutnya lebih tinggi hingga menutupi dagu.
“Nggak usah, Ma. Ini cuma sakit haid biasa. Memang biasanya begini kalau lagi deras-derasnya,” bohongnya dengan suara parau yang bergetar menahan sakit.
“Tapi sakit haid nggak sampai bikin kamu nggak bisa bangun begini, Aiena. Mama khawatir ada apa-apa di rahim kamu,” desak sang Mama lagi, jemarinya mengusap rambut Aiena.
Setiap usapan itu terasa seperti cambukan bagi hati Aiena. Ia ingin sekali berteriak, menangis di pelukan ibunya, dan menceritakan segala ketakutan yang menghantuinya. Namun, lidahnya kelu. Ia hanya bisa kembali meringkuk, memunggungi ibunya demi menyembunyikan tetesan air mata yang mulai jatuh membasahi bantal.
Aiena tak mau membuat orang tuanya kecewa. Selama ini ia dianggap sebagai anak yang baik dan berprestasi. Mengetahui apa yang telah Aiena lakukan akan membuat mereka terpukul. Itu yang tidak ia mau.
***
Mengabaikan rasa sakit yang semakin menjadi setiap kali ia bergerak, Aiena meraih ponselnya yang tergeletak di samping bantal. Melewati pesan-pesan penting dari rekan kerjanya, jarinya mengulir layar mencari nama Haze di daftar kontak.
Dengan sisa tenaga yang ada, ia mengetikkan pesan singkat, mengatakan bahwa perutnya sangat sakit dan pendarahan tak kunjung berhenti.
Hanya butuh waktu kurang dari tiga puluh menit sampai deru motor yang sangat ia kenali terdengar berhenti di depan pagar rumahnya. Tak lama kemudian, pintu kamarnya terbuka dengan sedikit terburu-buru. Haze muncul di sana, wajahnya pucat pasi tertutup kekhawatiran yang nyata.
Haze segera berlutut di samping ranjang, meraih tangan gadis itu yang terasa sedingin es. “Sayang, masih sakit?”
Aiena tidak mampu menjawab dengan kalimat yang utuh, ia hanya mengerang pelan sembari menunjuk perutnya yang terasa seperti sedang diremas oleh tangan besi.
Haze dengan cekatan merogoh kantong jaketnya, mengeluarkan sebuah strip tablet obat pereda nyeri yang sengaja ia beli di apotek dalam perjalanan tadi. Ia membantu Aiena duduk bersandar pada headboard, menyuapkan obat itu dengan gerakan yang sangat hati-hati dan memberinya minum air putih.
“Habis ini tidur ya. Aku jagain kamu disini,” bisik Haze, suaranya rendah dan menenangkan.
Setelah Aiena menelan obatnya, pria itu tidak langsung beranjak. Ia duduk di tepi ranjang, menarik kepala Aiena agar bersandar di dadanya, lalu mulai mengusap lembut punggung gadis itu.
Sentuhan Haze terasa hangat, perlahan mengikis rasa dingin yang sejak tadi menyelimuti tubuh Aiena. Pria itu menyeka keringat dingin di pelipis Aiena dengan ibu jarinya, lalu mengecup keningnya lama.
“Aku disini terus, Na. Aku nggak akan ke mana-mana. Maafin aku... maaf karena aku nggak ada di sini sejak hari pertama kamu sakit.”
Perlakuan Haze yang begitu lembut dan penuh perhatian menyentuh titik terlemah di hati Aiena. Di tengah rasa sakit fisik yang luar biasa dan ketakutan akan pendarahan yang tak kunjung berhenti, kehadiran Haze terasa seperti tempat perlindungan terakhir.
Aiena memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam dekapan pria itu, meresapi rasa dicintai yang sejenak membuatnya lupa pada bayang-bayang konsekuensi dari apa yang telah mereka lakukan.
“Tidur yang nyaman, Na. Peluk guling. Aku jagain kamu disini.”
Haze melepaskan pelukannya perlahan. Ia memposisikan Aiena di tengah ranjang, memberikan guling untuk dipeluk kekasihnya itu. Haze sendiri memilih untuk duduk di lantai samping ranjang. Menjagai, mengamati wajah damai Aiena yang mulai tertidur lelap.
***