Menjadi janda di usia belia bukanlah sebuah pilihan, melainkan suatu takdir yang harus di jalani oleh Aisyah Naira. Wanita berusia 18 tahun yang harus berpisah dengan suami yang di cintainya karena di fitnah selingkuh dan di tuduh hamil anak dari laki-laki lain.
Ingin tahu bagaimana kehidupan Aisyah setelah empat tahun kemudian?
Apakah Aisyah sanggup menerima kenyataan ketika putri kesayangannya harus meninggal dunia di umurnya yang belum genap 4 tahun?
Dan bagaimana ketika takdir kembali mempertemukan Aisyah dengan sang mantan suami yang menyesali perbuatannya di masa lalu dan memohon kepadanya untuk rujuk?
follow IG author : asyiahmuzakir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asyiah Muzakir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 09 | Lupakan masalah
Aisyah mengusap keringat yang muncul di dahinya menggunakan tissue, siang hari yang panas ini dia sedang melaksanakan outdoor job yang mengharuskannya berpanas-panasan di lapangan demi memotret seorang brand ambassador sebuah minuman ion yang cukup terkenal di Indonesia.
Aisyah tidak sendirian sebab dia bersama Robbie yang kali ini satu tim dengannya. Pedahal biasanya, Avila lah yang selalu menjadi partner satu tim Aisyah. Namun kali ini Avila izin tidak kerja dikarenakan harus mengurus ibunya yang sedang sakit.
*****
"Dagunya agak di naikkan ya, Mbak," pinta Aisyah kepada model yang berpose di depannya.
"Nah, sekarang minumannya agak di geser sedikit ke atas," saran Aisyah yang malah membuat model itu memelototinya.
"Bisa gak kalau lo nya aja yang geser?" kata model berwajah cantik itu sambil menatap Aisyah dengan kesal.
"Ya udah iya, mbak. Maaf, tapi jangan salahkan saya kalau hasilnya kurang bagus," ujar Aisyah yang membuat model cantik itu mendengus dan menekuk wajahnya.
"Kalau hasil jepretannya kurang bagus ya tinggal di edit lah. Kamu kan fotografer, pasti paling tahu cara mengedit foto supaya sempurna itu gimana. Iyakan?"
"Huft...iya-iya mbak, tapi tolong sekarang mbaknya pose lagi ya?" pinta Aisyah dengan sabar.
"Hm...," gumam si model sambil kembali berpose seperti awal dan sesuai dengan arahan Aisyah tadi.
"One...two...three...."
Cekrek.
"Oke bagus, sekali lagi ya."
Cekrek.
"Oke, ganti pose mbak."
Cekrek.
"Bagus, lanjut."
Cekrek.
"Oke, selesai."
Setelah itu Aisyah pergi ke basecamp untuk istirahat karena memang sudah waktunya break. Dan di basecamp Aisyah menjumpai Robbie yang tengah asyik melahap pop mie goreng seperti orang yang sedang kelaparan.
"Lapar banget yah, bie?" tanya Aisyah yang membuat Robbie terkejut dan sontak memandang ke arahnya.
"Iya nih, Syah. Soalnya tadi pagi gue gak sempat sarapan," jawab Robbie sambil menampakkan cengiran khasnya.
"Lo mau?" tawar Robbie kepada Aisyah yang kini tengah melihat ke arah pop mie nya.
"Enggak deh, soalnya aku bawa bekal nih," sahut Aisyah yang langsung membuat mata Robbie berbinar ceria. Apalagi ketika melihat Aisyah mulai membuka tasnya dan mengeluarkan serantang bekal berisi makanan hasil masakannya sendiri.
"Wah, kayaknya enak tuh," kode Robbie saat Aisyah membuka tutup rantang yang di dalamnya berisi ayam kecap yang terlihat sangat enak.
"Kamu mau?" Kini giliran Aisyah yang menawari Robbie karena wanita itu sangat peka kalau Robbie tengah menginginkan bekalnya.
Dan benar saja begitu mendengar penawaran Aisyah, Robbie dengan sigap langsung mengangguk dan menyodorkan wadah pop mie-nya kepada Aisyah.
Dengan senang hati Aisyah membagi ayam kecapnya dengan Robbie. Wanita itu menaruh ayam kecap hasil masakannya itu ke dalam wadah pop mie milik Robbie. Dan tak hanya itu saja, Aisyah juga membagikan nasi dan juga tumisan sayurnya.
"Makasih banyak, Aisyah. Ya Allah, lo baik banget sih," ungkap Robbie yang hanya di balas senyuman kecil oleh Aisyah.
Robbie yang sudah tak sabar pun langsung menyantap ayam kecap masakan Aisyah itu dengan rakus.
"Nyam! heumm, enak banget nih, Syah. Lo pasti masak sendiri ya?" tanya Robbie yang di angguki oleh Aisyah.
"Lo hebat banget siih. Asal lo tahu yah, ini tuh lezatnya ngalahin ayam kecap buatan mama gua lho," puji Robbie yang membuat Aisyah tersipu.
"Makasih," sahut Aisyah singkat sebelum akhirnya memfokuskan diri untuk melanjutkan makannya.
*****
Sementara di tempat lain, Devano sedang melatih prajurit baru yang nantinya akan naik pangkat. Dia tampak gagah dan berwibawa dengan seragam TNI yang membungkus tubuh kekar atletis miliknya.
"JANGAN LENGAH!" teriak Devano saat melihat ada salah satu prajurit yang barisannya di belakang sedang mengantuk.
Mendengar teriakkan tegas dari Devano yang merupakan kaptennya tersebut membuat prajurit tadi segera membuka matanya dan kembali berdiri dengan tegak dan sesuai dengan peraturan.
"Oke, waktu saya sudah habis. Sekarang giliran Jenderal Arya yang akan menggantikan saya memberi bimbingan kepada kalian," terang Devano sebelum pergi ke Markasnya dan beristirahat di sana.
Devano menyandarkan punggungnya ke dinding lalu mengambil tasnya dan mengambil buku diary milik putrinya, kemudian pria tampan itu membuka dan membaca tulisan tak rapih di setiap lembar diary itu.
"Maafkan Abi, sayang. Abi masih sibuk dengan tugas Abi. Jadi, Abi belum bisa menemui Umi kamu lagi. Tapi Abi janji kalau dalam waktu dekat ini, Abi akan menemui Umi kamu dan membicarakan tentang keinginan yang kamu tulis di sini," ungkap Devano yang seolah sedang berbicara dengan putrinya, pedahal di markas itu tidak ada siapapun selain dirinya sendiri.
"Hei...tadi kamu bicara sama siapa sih, bro?" tanya salah satu teman Devano yang baru masuk ke dalam Markas.
"Bukan sama siapa-siapa," jawab Devano dengan cuek.
"Berarti tadi itu kamu bicara sendiri dong?"
"Kalaupun iya, itu enggak ada hubungannya sama kamu," tukas Devano dengan wajah dingin.
"Jangan gitu lah, bro. Kalau kamu punya masalah sebaiknya ceritakan saja," cetus teman Devano yang rupanya bernama Tubagus itu.
"Ini masalah pribadi. Jadi maaf, aku enggak bisa share ini ke kamu," kata Devano yang kemudian bangkit dari duduknya dan mengambil kunci mobil untuk pulang ke apartemennya.
"Kamu mau kemana, bro?" tanya Tubagus sambil menatap Devano yang berjalan keluar dari Markas.
"Pulang!" sahut Devano dengan suara yang sengaja di keras kan.
"Aku nebeng boleh?!" tanya Tubagus sambil teriak.
"Enggak! Kamu kan tinggal di Asrama." jawab Devano sembari masuk ke dalam mobilnya.
Kemudian ketika sudah memasuki jalan raya, Devano baru teringat akan buku diary milik putrinya yang tertinggal di Markas tentara. Tanpa pikir panjang Devano membelokkan mobilnya pedahal di belakang ada truk yang sedang melaju dan akibatnya....
BRAKKKK....
TBC.
Syukran katsiran...
JANGAN LUPA UNTUK :
-DI LIKE 👍
-TULIS KOMENTAR KALIAN 📝
-VOTE ❤️
-TEKAN BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐
-DAN FOLLOW AKU 🙏
OKE UKHTI, AKHI??