Usia 17 tahun dihadapkan dengan masalah pernikahan yang dilandaskan perjodohan. Sebuah pernikahan rahasia. Akankah pernikahan mereka berakhir bahagia?
///
Ternyata calon suamiku merupakan pria yang menyaksikanku diputuskan pacarku saat memergokinya selingkuh.
///
Di sisi lain pria itu terpaksa menggantikan sang kakak untuk menerima perjodohan demi mendapatkan kebebasan. Dan ternyata sahabatmu menyukai instrimu. Apa yang harus dilakukan? Mendukung? Mencegah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rtgnda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
SMK Seni Panca Budi
"Lihat pangeran kalian itu. Sok berkuasa. Seperti meja itu sudah milik mereka saja", kata Kanaya menunjuk geng cogan yang baru masuk kantin sedang mengusir orang yang duduk di bangku kerajaan. Mereka menyebutnya begitu karena mereka hanya duduk di bangku itu. Dan jika ada yang duduk disitu siapapun akan diusir.
"Biasa juga mereka duduk di situ. Anak itu aja yang cari mati", bela Tika.
"Kamu tidak lihat kantin sedang penuh. Harusnya mereka mengantri untuk duduk", balas Kanaya.
"Va geser ke situ dikit dong. Ngehalangin pandangan aja", pinta Rania.
"Emang ngeliatin apa?", kata Sava sambil menoleh ke belakang.
"Oh tidak aku menggali kuburanku sendiri", batin Sava. Sangkin gugupnya Sava sampai tersedak.
"Makannya pelan-pelan Va, gak akan ada yang ngerebut makananmu di sini", kata Kanaya sambil menyodorkan minuman.
"Terpesonakan lo. Cakep banget ciptaanmu Tuhan", balas Rania.
"Eh gue yang kegeeran apa gimana ya. Dari tadi ayang Fariz liatin ke arah sini mulu. Duuh udah cantik belum gue", lanjutnya.
Sava yang belum lama menetralkan tenggorokan akibat tersedak sekarang terbatuk-batuk karena mendengar ucapan Tika. Lalu mengajak mereka meninggalkan kantin secepatnya.
"Uhuk uhuk.. Balik yuk. Sava mendadak gak enak badan karena tersedak tadi. Tenggorokanku perih", ucap Sava.
"Apaan sih Va, jarang-jarang gue liatin ayang beb gue gini", protes Tika.
"Ngimpi!! Noh liat ayang beb lo itu lagi senyum mengejek ke arah kita", sahut Kanaya.
Akhirnya. Walau dengan keterpaksaan mereka meninggalkan kantin.
"Cih gadis ceroboh. Sepertinya permainan ini menyenangkan. Baiklah mari kita nikmati", batin Fariz.
///
Ruangan Kelas Sava
Sudah beberapa hari Sava selalu berpapasan dengan Fariz.
Sava melamun berkutat dengan pikirannya sendiri memikirkan cara agar hidupnya damai dalam pernikahannya nanti.
"Kalau kami menikah nanti itu artinya aku akan melihat wajahnya 24 jam sehari? Oh tidak-tidak. Bisa mati muda aku kalau begini", batin Sava sambil memijat pelipisnya.
"Tapi setidaknya kami pisah kamar. Artinya saat tidur aku masih aman. Kamar itu akan jadi bentengku. Aku akan di kamar terus saat di rumah agar tidak dibully pria es itu", lanjutnya mulai menganggungkan kepala.
"Lalu di sekolah? Kami hanya bertemu saat di kantin. Aku perlu menghindari kantin sekarang. Tapi bagaimana jika aku lapar? Sahabat-sahabatku juga pasti curiga", sekarang ia menggelengkan kepalanya.
"Aku akan ke kantin begitu bell istirahat berbunyi. Lalu memakannya di ruang kelas. Alasanku dengan mereka apa ya. Pasti meraka ngotot makan di kantin. Apalagi 2 bocah gila itu. Ke kantin untuk ajang melihat pangerannya saja," batin Sava mulai mencoret-coret kertas.
"Oiya aku bawa makanan dari rumah saja. Pura-puranya makanan kantin tidak cocok di perutku. Tapi kalau mereka menyuruhku untuk makan bontotku di kantin aku pura-pura gak enak sama penjaga kantin," lanjut Sava akhirnya tersenyum setelah dirasa menemukan titik cerah dari masalahnya.
"Hoi!! Kesambet lo? Dari tadi senyum-senyum, geleng-geleng, sekarang nyoret-nyoret gak jelas. Ngomong sendiri lagi", ucap Rania.
Sava menatap sahabatnya satu persatu. Ia ingin mencurahkan isi hatinya. Ia tidak ingin menyembunyikan pernikahannya. Ia takut jika suatu saat mereka mengetahuinya dan marah atau bahkan memusuhinya.
Sava mencoba untuk memulai bercerita.
"Ehemm... Apa pendapat kalian soal nikah muda?", tanya Sava.
mudhn ceritanya masih lanjut,semangat ya buat author nya💪💪💪
giliran faris udah bucin sava malah nyebelin