Semuanya telah selesai, selamat melewati kehidupan baru
WANT YOU
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SILAN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10
“Dia memang nyokap gue” jawab justin dengan nada seringan bulu. Luisa hanya ber-oh ria sebelum justin melanjutkan.
“Dia jarang pulang ke rumah sedangkan di rumah itu gue punya adek dia masih kecil dan membutuhkan kasih sayang mama di rumah tapi mama lebih memilih pekerjannya dari pada ngurus gue dan adik gue”
Luisa diam menunggu kelanjutan cerita justin, dia tau beban yang menimpa justin mungkin berat hingga membuat lelaki ini menjadi pria berandalan karna mungkin dia kurang perhatian dari keluarganya.
Entah di suruh dari mana tangan luisa bergerak menyentuh bahu justin seakan dia sedang menenangkannya. Justin menoleh dia tersenyum menatap luisa.
“Gue pengen seseorang yang bisa gue percaya untuk menjadi sandaran gue, gue tau gue bukan cewek tapi jujur sebagai seorang cowok gue juga butuh teman curhat”
“Lo bisa cerita semuanya ke gue dan gue janji gak akan cerita ke siapapun” ucap luisa.
Justin tersenyum matanya memerah “Di saat semua orang nganggap gue gak ada elo datang dan merubah pikiran gue tentang tanggapan orang”
“Justin sebelumnya gue minta maaf tapi bukannya lo punya dava dan evan? Setau gue kalian itu temen dekat kan?”
“iya kita memang dekat sebagai teman tapi gue belum bisa percaya sama mereka sepenuhnya”
“Oke sebentar gue mau Tanya lagi sama lo. Tempat ini kan udah gak kepake lo gak serem gitu suka ke sini sendirian?”
Justin tertawa pelan “orang kalau banyak pikiran mana mungkin mikir sampe ke situ”
“dan lo gak takut liat ketinggian kaya gitu gimana kalo seumpama lo banyak pikiran terus tanpa pikir panjang lompat dari atas sini”
“Gue pernah mikir kaya gitu tapi gue ingat masih ada adik gue di rumah yang butuh perhatian dari gue”
Luisa merasa nyeri sejenak melewati perutnya mendengar penuturan justin sebenarnya meski lelaki ini berandalan dia masih punya kasih sayang terhadap adiknya.
Justin menyetuh punggung tangan luisa kemudian mengenggamnya.
“gue minta maaf seharusnya dari awal gue gak ngelakuin ini sama elo, beberapa hari ini gue suka ganggu lo dengan Janis sebenarnya gue itu”
Justin menggantung kalimatnya “Tapi lo janji harus maafin gue dulu” kata dia. Luisa mengerutkan dahinya lalu menarik tangannya dari genggaman justin.
“Gue gak bisa janji tergantung sebesar apa kesalahan lo sama gue”
Justin menghela nafas berat “Gue gangguin lo beberapa hari ini cuman bikin agar gue bisa kaya elo dan Janis bisa tertawa lepas kaya di taman waktu itu. Gue ingin elo bisa menjadi mainan gue yang bisa gue mainin kapan saja tapi sekarang gue sadar seharusnya itu tidak perlu gue lakuin karna itu akan membuat lo tersakiti nantinya”
Luisa mundur sedikit memberi jarak saat justin mengatakan itu, entah mengapa egonya merasa tak terima. Justin melihat itu diamenghela nafas berat.
“Gue sadar kalau yang gue lakuin itu salah jadi terserah lo sekarang masih ingin jadi temen gue apa nggak karna gue udah pasrah” justin menundukkan kepalanya.
Gadis itu mencoba mengukir senyum di bibirnya “Lo udah jadi temen gue tanpa lo minta dan gue akan maafin lo kalau lo mau mencoba untuk berubah” sahut luisa, justin menatapnya tak percaya.
**
Beberapa siswa siswi menolehkan matanya saat melihat lelaki yang terkenal berandalan itu berjalan melewati koridor ada yang memuji ada yang menghujat bahkan ada yang tidak peduli dengan penampilan baru justin.
Justin, untuk pertama kalinya memakai baju rapih yang di masukkan ke dalam celana dasi terpasang pada tempatnya bukan di kepala lagi dan tas ransel yang di selempangkan di lengan kirinya membuat beberapa anak cewek sempat tidak mengenalinya apa lagi potongan model rambutnya itu yang kini terlihat lebih rapih.
Justin memalingkan wajahnya dia risih di pandang seperti itu tapi luisa yang berjalan di sampingnya menahan lelaki itu agar tidak kabur meski sebenarnya dia dari tadi menahan senyumnya.
Sesekali justin membalas tatapan mereka dengan mata tajamnya dan itu berhasil membuat mereka tersadar dan memalingkan wajah.
“Kalau bukan karna elo gue udah kabur dari tadi” Bisik justin.
“Lo mau gue maafin kan jadi lo harus merubah sifat lo mulai sekarang” sahut gadis itu namun kemudian seseorang menarik tangan dia.
“Gue mau bicara bentar sama lo, sa” luisa tidak menolak Janis menarik tangannya mungkin sahabatnya ini bingung kenapa dirinya bisa dekat dengan justin atau semacamnya.
Setelah jarak antara luisa dan justin lumayan jauh Janis membuka mulutnya.
“Lo kok bisa sama justin dan penampilan cowok itu juga agak berbeda hari ini. Lo jadian ya sama dia?”
Luisa segera mengibaskan tangannya cepat menyangkal apa yang Janis katakan “gak kok gue gak jadian sama dia, suer deh” gadis itu mengangkat jarinya membentuk huruf – V.
“Gue tadi ke rumah lo tapi kak satria bilang lo udah di jemput sama cowok teman kelas lo gue udah nebak kalau itu si justin tapi gue gak nyangka aja kalian bisa jadi se akrab itu”
“Bukannya bagus ya kalau Justin bisa deket dengan gue dengan lo juga siapa tau kita bisa ngerubah sifat cowok itu”
“Lo bilang ke gue kalau cowok berandalan itu sampai bikin lo terluka gue tidak akan tinggal diam”
Luisa tersenyum kemudian dia bergelayut di tangan Janis dengan manja
“sahabat gue kalau marah mukanya lucu juga ya. Yuk ke kelas bentar lagi bel bunyi” kata luisa. Janis mengikuti luisa yang bergelayut di tangan dia tanpa protes.
Justin sudah duduk di bangkunya namun kali ini lelaki itu duduk tepat di belakang luisa mungkin cowok itu sudah mengusir si pemilik bangku sebelumnya.
“Hai manis sekarang gue lebih gantengkan dari pada lo” seru justin, Janis mengepalkan tangannya bukan karna justin lebih tampan dari dia tapi lelaki itu masih saja memanggilnya manis. Luisa menahan tangan Janis menyuruh sahabatnya ini untuk duduk di sebelah dia.
“Awas ya sekali lagi lo panggil gue manis gue getak lo pake buku kamus yang tebalnya 10 triliun”
“Iyakah. Manis. Manis. Manis. Manis. Hai manis “ ujar justin menggoda Janis, Janis mengeluarkan buku tapi bukan buku kamus yang dia bilang tadi melainkan buku paket matematika dan mengetuknya di kepala justin.
“Meleset” justin tertawa tapi kemudian “awwww…” dia meniup jari telunjuk sebelah kiri karna saat pukulan Janis meleset cowok itu sengaja menjatuhkan ujung buku ke atas tangan justin meskipun sebenarnya tidak terlalu keras.
“Udah deh kalian ini kaya Tom Jerry aja gak pernah akur”
Justin mencondongkan wajahnya di samping telinga luisa “Gue jadi pemeran di pihak yang menang aja ya” kata nya. Luisa mengibaskan bukunya untung tidak mengenai wajah justin.
“Huss diem duduk aja yang tenang gak usah ganggu”. Justin mencebikkan bibirnya perlahan lalu dia kembali duduk.
****
VOTE AND COMMENT