sekian tahun Tasya mencintai suaminya, selalu menerima apa adanya, tanpa ada seorang anak. bertahun-tahun hidup dengan suaminya menerima kekurangan Tasya tapi apa yang dia lihat penghianatan dari suami yang di percaya selama ini..
apakah Tasya sanggup untuk menjalankan rumah tangga ini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_yanrie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Devan duduk di mejanya sambil sesekali memijat keningnya yang tidak pusing. Ia ambil ponsel di saku celana, lalu membuka kembali isi pesannya dengan Tasya. Entah kenapa, ia merasa akhir-akhir ini istrinya itu sikapnya berbeda.
Bahkan pesan terakhirnya pun tidak di balas sama sekali. Ia curiga ada sesuatu terjadi. Selama menikah dengannya, Tasya tidak pernah bersikap sedingin ini. Tidak berapa lama sebuah panggilan masuk dari Sintia.
"Mas kapan pulang? Aku takut sendirian di rumah.":
"Aku pulang agak telat hari ini, kalau ada apa-apa kabarin aja."
"Tapi pulang 'kan, Mas?"
"Iya. Aku pulang. Sudah ya, aku lagi ada kerjaan dulu," jawabnya berbohong.
Setelah panggilan terputus, ia pun beranjak ingin menyusul Tasya ke Bandung. Dari sekian wanita yang selalu dekat dengannya, hanya Tasya satu-satunya wanita yang selalu membuatnya ingin pulang. Devan sadar, dosa pada Tasya mungkin tidak terukur hingga detik ini, tapi terkadang ada jiwa laki-laki yang sulit menahan dan selalu berontak dari godaan wanita.
Tidak berapa lama, ponselnya kembali berbunyi. Nama Kirana di sana, Devan enggan menjawab, tapi panggilan berbunyi sampai dua kali, ia adalah wanita yang tidak akan pernah menghubungi andai tidak ada sesuatu yang penting.
"Evan jatuh tersenggol sepeda motor, sekarang ia di bawa ke rumah sakit." Ucap Kirana tanpa basa-basi ketika panggilan tersambung.
"Kok bisa?"
"Ke sini aja, nanti kamu tahu."
Evan memang anak laki-laki yang sangat ia sayangi, meski tidak banyak waktu untuk mereka bertemu. Wajahnya sangat mirip dengan Devan, anak itu akan menempel ketika keduanya saling bertemu
"Di rumah sakit mana?"
Kirana menjelaskan di mana Evan saat ini di rawat. Tanpa berpikir panjang ia segera ke sana, Devan tidak bisa menutupi rasa khawatirnya.
"Kamu kemana kamu?" Tanya Rara yang baru masuk ke ruangan Devan.
"Evan kecelakaan." jawabnya, meninggalkan Rara begitu saja. Ia mempercepat langkah dan hilang begitu saja.
Rara menatap nya seraya menghela napas panjang, ia pun menyimpan dokumen itu di meja Devan, kemudian berlalu.
*****
.
.
.
Setelah berkonsultasi cukup panjang, ada satu titik temu yang harus di ambil untuk Tasya mengamankan hartanya. Meskipun akan sedikit sulit, setidaknya ia masih punya sedikit lagi waktu untuk berjuang.
Pada hari itu, hari di mana Sintia melahirkan, Tasya ingin semuanya selesai. Ia ingin semuanya berakhir. Semuanya sudah cukup, segala perasaan hilang, cintanya sampai di sini.
Cukup.... Devan terlalu banyak memberinya kejutan.
"Berapa usia kandungan Sintia sekarang? Tanya Radit.
"Entahlah, enam bulan kayaknya."
"Tiga bulan lagi."
"Ya... hari itu aku ingin semuanya selesai."
Radit menghela napas.
"Kamu bisa tinggal di apartemen ku dari pada di hotel, sepertinya di sana lebih aman."
"Lalu kamu?" Tasya mengernyitkan dahi.
Radit tertawa kecil. "Meski tidak sekaya kamu, aku juga cukup kaya. Tidak di apartemen, aku bisa tinggal di rumah, yang pasti aku tidak akan tinggal dengan kamu."
Tasya tersenyum kecil. Meksi hatinya sakit, itu cukup membuat Radit lega. Tasya setuju. Radit pun membawanya ke sana untuk sekedar berisitirahat, melapas sejenak segala sesak.
Menempuh perjalanan sekitar satu jam, akhirnya Tasya tiba di apartemen Radit, pria itu membuka pintu, mencium aroma bau cat.
"Baru di renovasi ya?"
"Tidak, aku hanya mengganti catnya saja." balas Radit.
Tasya suka warna catnya, nuansa coklat muda yang menenangkan. Di ruangan pertama kalinya melangkah, foto pernikahan Radit dan Clarisa terpajang cukup besar. Ia menghentikan langkah sejenak, dan memandangnya. Tanpa terasa air mata mengenang di pelupuk matanya.
Garis waktu kebersamaan mereka seperti berputar jelas dalam ingatan bak sebuah film. Clarisa adalah satu-satunya orang lain yang tidak pernah menyakiti atau berbohong padanya sepanjang hidup.
"Rindu sekali rasanya, senyum dan pelukan Clarisa selalu menenangkan." ucap Tasya.
"Iya.. Dia memang begitu, selalu tahu bagaimana membuat orang lain tenang."
"Kenapa orang-orang baik selalu di biarkan pergi lebih dulu."
"Ini bagian dari semesta, terkadang seseorang di ciptakan hanya untuk tinggal di hati kita, bukan di hidup kita."
Satu bulir air mata Tasya terjatuh, Ia menyekanya perlahan. Memandang sekali lagi potret sahabatnya, ia seperti sedang tersenyum dan berkata.
"Kamu bisa Tasya, semua akan baik-baik saja."
Ia kembali melangkah dan mendaratkan diri di sebuah sofa. Memijat kepalanya pelan seraya merasa relaksasi sejenak. Isi kepalanya mungkin hampir saja pecah.
"Ada lengkap makanan di dapur, atau ada apa-apa kamu bisa menghubungiku. Jarak rumahku dan apartemen ini tidak terlalu jauh." Ucap Radit memberikan segelas air.
"Sekali lagi makasih, Dit. Setelah seluruh dunia membohongiku, aku gak bisa percaya lagi pada siapa pun, kecuali padamu."
"Jangan mencintai terlalu banyak, jangan percaya terlalu banyak, agar kita tidak sakit terlalu banyak. Tapi kamu bisa percaya padaku."
Tasya tersenyum tipis, setelah berbincang sesaat , Radit pun pamit untuk pulang, sementara Tasya menikmati waktu di sini sejenak dalam diam dan hening.
Ya... ia butuh menepi.
*****
.
.
.
Dua hari setelahnya, Devan terus menelpon sampai beberapa kali, begitu juga dengan Sintia.
[ Kalian kemana sih, dua hari ini susah di hubungi? kalau tidak akan pulang setidaknya berkabar. Aku sendirian di sini, aku takut.]
Tasya hanya membaca pesan itu tanpa membalas. Ia terdiam sejenak, kemanakah Devan pergi dua hari ini, mungkinkah menemui Kirana yang tempo hari Rara ceritakan.
Ia kembali menghela napas panjang, kemudian menatap kembali ponselnya, lalu membuka kontak Rara untuk meminta alamat Kirana, tapi niat itu ia urungkan. Itu seperti sebuah tindakan bodoh baginya.
Tapi rasa penasaran akhirnya terus mendorong Tasya untuk menghubungi Rara. Hingga akhirnya jari jemarinya mulai mengetik dengan singkat.
[ Kirim alamat Kirana.]
Tidak menunggu lama, garis dua langsung centang biru. Dua menit kemudian Rara membalasnya tanpa banyak bertanya.
Jantungnya berdegup kencang, jari jemarinya bergetar membaca alamat Kirana, bukan tempat jauh ternyata, hanya sekitar setengah jam dari rumah mereka di Jakarta. Bagai mana bisa ia begitu sebodoh ini, tertipu sampai bertahun-tahun tanpa mencurigai apa pun.
Tasya mengambil kunci mobil, ia gelisah dan tidak tenang. Tidak sabar ingin tahu siapa sosok Kirana itu, Tasya sedikit berputar ketika masuk ke komplek perumahan itu, tapi tidak lama, sepertinya ia sampai ke alamat yang di tuju. Jelas di sana mobil Devan baru saja berlalu, ia tahu betul dan tidak mungkin salah. Sementara sosok Kirana tidak terlihat di sana, hanya pintu rumah saja yang terbuka. Tasya membawa mobilnya sedikit lebih sedikit, lalu berhenti tepat di rumah Kirana.
Dengan langkah yang ragu, ia turun dari mobil dan melangkah memasuki gerbang yang di buka. Belum sempat tiba di depan pintu, seorang wanita dengan hijab panjang warna merah maron keluar, wajahnya terlihat terkejut ketika melihat Tasya ada di sana. Keduanya terpaku saling menatap satu sama lain beberapa saat.
Kirana berparas cantik dan anggun juga menawan. Tapi apalah artinya tampilan luar bila ia merusak kebahagiaan orang lain.
"Saya Tasya."
"Silahkan masuk, Mbak." Kirana mempersilahkan dan terlihat sekali ia begitu canggung.
Tanpa banyak berkata, Tasya menyeret langkahnya. Ia masuk ke dalam rumah yang tidak terlalu luas, tetapi tertata begitu nyaman dan bersih.
"Wanita macam apa kamu mau sama suami orang?" Ucap Tasya basa-basi.
Kali ini Tasya pasrah, bila setelah ini perceraian itu akhirnya datang, karena Kirana mengatakan pada Devan atas kedatanganya. Meski ia tidak pernah ikhlas atas harta bawaan yang berpindah tangan pada Devan.
"Duduk dulu, Mbak." Kirana masih berusaha tenang.
"Jawab saja pertanyaan ku, aku tidak memiliki waktu yang banyak." Sorot matanya terlihat begitu tajam.
Melihat amarah di mata Tasya, Kirana menunduk. Jari jemarinya terlihat di mainkan, ia gugup.
"Saya adalah mantan sekretarisnya dulu, kemudian saya hamil setelah dia memperkosa saya. Demi ALLAH, mbak. Saya tidak pernah menggoda mas Devan."
Remuk... ini adalah bagian dari kejutan lagi bagi Tasya tentang sosok laki-laki itu.
"Saat itu saya hendak menikah dengan orang lain, tapi batal karena hamil, lalu setelahnya orang tua saya meminta pertanggung jawaban dari mas Devan. Dia menikahi ku dengan segenap ke hancuran. Terlebih lagi dua bulan setelahnya, orang tuaku meninggal karena tidak kuat menahan malu dan sakit-sakitan.
Kirana terisak, ia memang seorang putri ustadz di kampungnya, ia pun anak perempuan satu-satunya yang selalu di banggakan, hingga akhirnya semua hancur berantakan saat kehamilan itu tersiar ke seluruh kampung.
"Berapa kali aku meminta di ceraikan, tapi dia menolak. Sampai puncak kehancuran ku kembali terjadi ketika ia menghamili selingkuhannya, Sintia."
Guntur kembali menggelar, meski Tasya terlihat begitu kuat dan berdiri dengan tegak tanpa satu tetes air mata, hatinya teramat rapuh.
.
.
.
"Tolong maafkan kehadiran ku, mbak."