"Lo bisa gak sehari aja gak ngikutin gue?! " Meskipun Aninda tidak bisa melihat, tapi langkah kaki itu begitu terdengar di telinganya. Seolah dirinya buronan yang harus di ikuti. Pemuda itu berhenti kala Aninda menghentikan pergerakannya. "Gue gak butuh lo. "
Pemuda itu tersenyum. " Tapi gue butuh. " Aninda terdiam mematung mendengar pernyataan dari pemuda itu. Apa maksudnya? bukannya dirinyalah yang lebih membutuhkan??
"Gue butuh lo di samping gue, agar gue bisa jaga lo di setiap detiknya. " Aninda memutar tubuhnya pelan, melangkahkan kakinya yang di bantu dengan sebuah tongkat di tangan kanannya.
"Apa mau lo sebenarnya Seandra Alfabeth? " Kini jarak mereka hanya satu senti saja. Bahkan Aninda dapat merasakan hembusan nafas yang begitu hangat di area wajahnya.
"Gue mau lo, mau yang ada di dalam diri lo Aninda Sakura. "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mia Dewi48, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghindar
Kedua mata bulat itu terus saja mencarinya. Setiap inci kelas sudah Sean masukin tapi tidak ditemukan keberadaannya. Sean mendadak kesal karena gadis itu tak berhasil ia temukan. Terlintas kejadian tadi pagi di dalam kepalanya, sontak mengernyit.
"Apa gara-gara tadi pagi ya? " Sean bertanya pada dirinya sendiri sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Ah! gak mungkin. " Sean mengintip lagi di dalam kelas itu, fikirannya teringat pada kelas yang belum juga ia temui.
Kelasnya Aninda.
Tiba-tiba saja Sean merutuki kebodohannya dan tersenyum geli. "Ngapain gue gak kepikiran ke situ ya? goblok banget sih lo, Sean... "
Sekarang Sean melangkahkan kakinya menuju kelas Aninda. Semangatnya tiba-tiba berubah menjadi 45 untuk menemui calon pacarnya itu.
Calon pacar???
Lihatlah?? Sekarang dirinya merasa seperti anak muda yang baru merasakan jatuh cinta. Sean sudah bucin sekarang.
Kakinya berhenti di kelas tujuannya. Ada perbedaan antara kelasnya dan juga kelas Aninda. Kelas Sean termasuk kelas yang sangat nakal tapi juga pintar. Beda dengan kelas yang dilihatnya sekarang.
Entah mengapa semua murid di kelas ini diam. Mereka terlalu rajin apa bagaimana?
Satu kata buat kelas ini yaitu,
Disiplin.
Namun jangan salah jika mereka tidak mengenal Sean Alfabeth yang menyandang gelar Bad Boy di Sekolahnya. Bahkan semua guru pun tahu akan hal itu. Sean tersenyum miring karena mereka mulai tertarik akan kedatangannya. Namun Sean hanya mengabaikannya dan fokus mencari gadisnya. Tiba-tiba dari arah belakang seorang cewek menepuk pundaknya pelan. Sean menoleh.
"Cari Aninda? " Raut wajah Sean berubah menjadi bingung atas perkataan cewek itu. Bagaimana dia bisa tahu? "Gak usah mikir macem-macem tentang gue, Aninda ada di belakang Sekolah, mending lo samperin dia."
"Lo gak bohongin gue kan? " Alis Sean terangkat satu. Di lihatnya name tag di bagian dada kirinya, Dakira Queen. Sean hanya ber oh ria saja lalu mengangguk pelan." Makasih ya Dakiroh!!! " Lalu Sean langsung lari sebelum cewek itu memarahinya habis-habisan. Cewek itu langsung menggeram kesal karena Sean telah lancang merubah namanya.
"Sean brengsekk!!!! "
🌺🌺🌺🌺
Aninda memilih menyendiri dari pada harus mendengarkan ocehan Kira yang selalu membicarakan Sean kepadanya. Aninda menghembuskan nafas pelan, berfikir sejenak tentang cowok yang akhir-akhir ini telah berani mengusik hidupnya. Aninda bahkan sempat heran, kenapa semua anak begitu suka pada Sean??
secara Sean termasuk murid yang sangat nakal namun juga pintar. Jika di tanya tentang ketampanan, Aninda tidak bisa menebaknya. Melihat saja tidak bisa. Namun bisa di prediksi sepertinya Sean memang cowok yang sangat tampan. Kira saja sangat semangat membicarakannya.
Aninda mungkin akan di marahi oleh mamanya nanti. Telah berani membolos di jam pelajaran tanpa alasan. Namun Aninda butuh penenang, dan menyendiri lebih baik menurutnya.
"Gue kangen lo, Ta. " Gumamnya. Fikirannya teringat pada sosok cowok yang sampai saat ini masih singgah di hatinya. Sosok yang selalu bersamanya setiap saat. Kenangan yang tidak akan terlupakan oleh Aninda meskipun saat ini cowok itu tidak ada di dekatnya. "Andai lo masih ada, dan andai kecelakaan itu gak terjadi, mungkin gue gak bakalan kek gini, Ta. Lo tahu, setiap malam gue selalu mimpi buruk, yang ternyata kecelakaan itu selalu datang di mimpi gue. "
"Semua ini gara-gara gue, andai waktu itu gue dengerin omongan lo, mungkin semuanya gak bakalan terjadi, Ta!! Maafin gue Ta maafin gue!!!" Sumpah demi tuhan!!!
Hatinya begitu sakit sekali saat ini. Kenangan dan rasa bersalah menghantui dirinya. Pertengkaran kecil yang mengakibatkan Genta meninggalkannya selamanya. Seolah hanya dirinyalah yang bersalah saat ini. Sikap egoisnya membuat Genta pergi meninggalkannya.
"Kenapa lo ninggalin gue, Ta?! kenapa?!! " Dada kirinya sesak, nafasnya tercekat ketika merasakan pelukan hangat pada tubuhnya. Wangi maskulin menyeruak pada indera penciumannya. Aninda tidak salah menebak karena sosok itu adalah Sean.
"Berhenti nyakitin diri lo sendiri, yang ada lo yang bakal merasakan sakit itu, Aninda. "
"Gue emang sakit!! gue sakit Sean!! gue sakit!!!! " Aninda berontak hingga pelukan itu terlepas. Sean terenyuh melihat wajah cantik itu yang begitu rapuh. Mata sembab dan rambut yang berantakan menutupi wajahnya. Jemari Sean mulai menyingkirkan rambut Aninda, di usapnya lembut pipi itu.
Sangat halus, dan Sean menyukainya.
"Gue ada bersama lo, jangan pernah berfikiran bahwa diri lo lemah, maka dari itu gue yang akan jaga lo. Meskipun beberapa kali lo berusaha menghindar dari gue, gue bakalan tetep ngejar lo sampe lo membuka hati lo untuk gue. " Di rengkuhnya kembali tubuh itu dan membisikan sesuatu ke telinga Aninda. " I love You, Aninda Sakura."