Asep seorang pemuda biasa saja, yang selalu tersisih dari kancah dunia percintaan, ditolak ciwi-ciwi karena selalu tongpes, bokek dan misquin.
Tiba-tiba suatu hari Asep ketiban Durian runtuh sepohon-pohonnya. Walhasil Asep dalam sekejap jadi OKB.
Yuk kita intip, apa yang membuat Asep bisa memperbaiki nasibnya... Hihihi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Emak Pun Lega
"Lisa Aulia Tailor"
Begitulah banner yang melambai-lambai di depan rumah Emaknya Asep.
Usaha jahitan yang dirintis sudah sejak lama dan sudah cukup tersohor di kampung-kampung sekitar, bahkan sampai lintas kecamatan.
Pelanggan Emak Lisa, emaknya Asep bahkan ada yang pegawai kabupaten.
Jahitan Emak terkenal rapi dan awet, meski ongkosnya lumayan mahal dibandingkan penjahit lainnya, tapi nyatanya pelanggan Emak tetap setia padanya.
Otok Otok Otok...
Preeeeet...
Vespa Asep berhenti di depan pagar rumah Emak.
Bu Resti yang rumahnya hanya selang dua rumah terlihat sedang menjemur handuk di balkon begitu mendengat suara vespa Asep tampak melongok.
"Selamat siaang Bu Res..."
Sapa Asep yang lagi semangat.
Bu Resti terlihat menyunggingkan senyuman ala kadarnya.
Asep kemudian masuk melewati pintu pagar rumah yang sudah dibuka selebar hati Asep.
Dengan rambutnya yang kini sudah tidak seruwet semak-semak dan kehidupannya, Asep berjalan seperti seorang kapiten masuk ke dalam rumah.
Di ruang depan rumah Emak yang memang digunakan untuk menjahit, terlihat Emak sedang ada tamu...
Ah siapa lagi kalau bukan Bestie Emak si Bu Putri Marfuah dan Bu Arinda Yunita, sudah jelas mereka setiap hari selalu melakukan rapat paripurna untuk berbagi informasi seputar warga Raja Pete sampai Dukuh Balong bahkan sampai Rukun Jengkol.
Kedua Ibu itu lebih sering beredar di sekitar Emaknya Asep karena suami mereka sama-sama pelayaran Internasional, jadi macam bang Toyib jarang pulang, sekali pulang bawa duit segepok lalu mereka akan lupa sama Emak sementara waktu. wkwkwk...
"Eh Bang Asep, tumben wangi."
Sapa Bu Putri dengan senyumnya yang manis.
Asep nyengir dipuji wangi dan melupakan kata tumben nya.
Satu kelebihan Asep yang lain, yang mirip kucing adalah dia hanya mampu mengingat hal baik saja, mendengar apa yang ia mau dengar saja. Hihihi...
Asep kemudian menyalami Emak dan para bestie Emak juga.
"Mak, Asep mau ambil baju buat di rumah Bibik, mungkin Asep pulang tiga hari sekali ya Mak."
Kata Asep.
Bu Putri dan Bu Arinda yang merasa Asep dan Bu Lisa si Emaknya Asep akan membicarakan hal-hal seirus akhirnya memiilih pamit dan berniat bersambung nanti sore saja sekalian mengajak Bu Resti.
"Duh padahal sedang seru ya bu ibu."
Kata Bu Lisa, emaknya Asep.
"Iya Bu, nggak apa, nanti kita teruskan saja sorean, anggap saja ini jeda iklan."
Kata Bu Arinda.
Bu Lisa, si Emaknya Asep mantuk-mantuk setuju.
Bu Putri dan Bu Arinda keluar dari rumah Emaknya Asep.
Sepeninggal keduanya, barulah Asep duduk di kursi yang tadi untuk duduk Bu Arinda.
Terasa kursi yang diduduki Asep sampai panas, pasti karena saking lamanya mereka pada ngobrol ngalor ngidul.
"Sudah makan Sep?"
Tanya Emak.
Asep yang melihat ada sisa gorengan bakwan satu di atas piring yang untuk suguhan Bu Putri dan Bu Arinda langsung cepat mencomot.
"Belum Mak, tadi baru makan Singkong dan Ubi kukus saja."
Kata Asep.
Emak Asep pun yang tadi ngobrol sambil masang kancing baju jahitannya akhirnya berdiri.
"Emak gorengkan ayam sama buat sambel sebentar."
Kata Emak.
Mendengar itu tentu saja Asep senang bukan main.
"Tumben Mak masak ayam."
Kata Asep yang ikut berdiri dan akan ke kamarnya untuk membereskan pakaian yang akan ia bawa ke tempat Bik Marni.
"Itu tadi dibagi Bu Arinda, katanya ngungkep ayam kebanyakan kemarin, jadi kita dikasih setengahnya."
Kata Emak.
"Wah sesuai impian Mak."
Ujar Asep.
Emak mengangguk lalu meletakkan jahitannya yang baru selesai ia pasang kancing di atas meja setrika.
Setelah itu berjalan menuju ruang dalam untuk langsung ke dapur.
"Besok kios mau mulai Asep buka Mak, kemarin baru cerita mau buka langsung ada pesanan masuk dari Bu Selasih, yang suaminya kerja di PLN itu, yang punya usaha londri samping rumah Nenek."
Tutur Asep.
"Oh ya... Syukurlah."
Emak terlihat semakin sumringah mendengar cerita Asep.
"Iya Mak, malah pesan rak juga, jadi pesan rak dan etalase."
Kata Asep.
Emak Asep yang kini membuka kulkas untuk mengambil wadah berisi ayam ungkep pemberian Bu Arinda tampak mantuk-mantuk.
"Bu Selasih itu baik lho, kamu bikinnya yang bener Sep, jangan asal-asalan, biar tidak mengecewakan dan nantinya siapa tahu bisa diiklankan juga."
Ujar Emak berpesan.
"Iya Mak, tenang saja."
Ujar Asep.
"Jadi butuh berapa Sep modalnya?"
Tanya Emak.
Asep menggeleng.
"Tidak usah Mak, kemarin dikasih pinjam sama wak Imah, nanti habis ini Asep mau ke ATM ambil uang sekalian beli alat-alat yang harus dibeli sama sekalian pesan Banner, tadi nyari Bani di pangkalan tidak ada."
Kata Asep.
"Lah si Bani lagi disidang."
Kata Emak.
"Sidang apa Mak?"
Asep jadi kepo, dari tadi niat hati mau ke kamar menyiapkan pakaian malah jadi nongkrong di dapur menemani Emak masak.
Emak terlihat sedang mengupas bawang setelah memotong pete dan mencucinya lalu memasukkan ke dalam Magicom berisi nasi.
"Tadi kata Ibu-ibu pas pada beli sayur, katanya dia hamilin anaknya Pak Waska."
Kata Emak.
"Lah itu kan pacarnya Bani Mak, si Nia."
Kata Asep.
"Ya katanya kan si Nia itu sudah di jodohkan dan sudah mau tunangan sama anaknya temennya Pak Waska."
Ujar Emak.
Asep geleng-geleng kepala.
"Jaman sekarang ada ada saja kasusnya ya Mak."
Kata Asep sok bijak.
Emak kini mulai membuka tepak berisi cabe merah.
"Kamu itu yang bener kalo nanti sampe macarin anak orang, jangan sampe ada kejadian begitu."
Kata Emak.
Mendengar Emak berpesan seperti itu, Asep tiba-tiba jadi ingat Melati.
Wah, kalau menunggu nanti sore kan katanya kelamaan, mungkin lebih baik Asep datangi ke rumahnya siang ini saja. Batin Asep.
"Tenang Mak, Asep mah bakal lurus-lurus saja, Asep mana berani merusak anak gadis orang Mak, anak gadis kucing aja Asep hormati."
Ujar Asep.
Uyik yang sedang asik tiduran di atas keset dekat dapur terlihat melirik Asep.
Apa dia ngomongin kucing. Batin Uyik.
"Ya sudah Mak, Asep mau bebenah pakaian dulu."
"Ya sudah sana beresin, nanti kalo ayam sama sambelnya sudah matang Emak panggil."
Kata Emak.
"Siap Mak."
Kata Asep yang kemudian berlalu menuju kamarnya.
Emak diam-diam memperhatikan Asep yang menjauhi dapur.
Ada rasa lega yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata mendengar Asep akhirnya mau membuka kios Bapaknya lagi, bahkan juga terlihat bersemangat.
Emak harap ini akan jadi awal yang baik untuk perubahan nasib Asep, karena Emak sempat khawatir jika Asep terus begitu, bisa-bisa Asep tak bisa dapat jodoh dan akan bagaimana hidupnya kelak kalau Emak tiada.
Ah rasanya tak sia-sia menuruti saran Bu Putri Marfuah untuk pergi ke makam Nenek Asep dan minta sama si Nenek supaya itu Asep bisa berubah.
**-------------**
Bismillahirrahmanirrahim
izin maraton thor . . . .
Aq mampir nih...
sukses buat penulisnya karya yg bagus