Masih ingat dengan saya kan? Ya Jihan aulia dan suami saya Zain Musthofa
Hm.... di season ke 2 ini, cukup ngeri ya judulnya , tapi gak papa, mudah mudahan banyak juga pembacanya Amin...
Okey... Sepulang dari ibadah haji, keromantisan kami makin bertambah, apa lagi bang Zain, semakin hari semakin bucin dan lengkat dengan gue, begitu juga dengan gue yang makin bucin dan gak mau jauh dari beliau
Dan gue pikir itu akan berlangsung dan terus romantis dan makin bucin sampai tua nanti, apa lagi kejutan demi kejutan yang sering kami berikan secara bergantian , kebahagiaan yang terus kami dapatkan setiap saat setiap hari, ditambah putra kami Muhammad Haidar Al-Musthofa yang makin aktif dan lucu tentu menjadi pelengkap kebahagiaan keluarga kami
Tapi... Rencana,Ujian dan Rahasia Allah tidak pernah ada yang tau,
Ya.... di tengah kebahagiaan keluarga kami, Ujian dan cobaan yang luar biasa datang, yang membuat DERAI AIR MATA yang luar biasa
Gimana kisahnya...??
Hayuk pantengin terus novel nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulfatun khasanah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Main cantik
Tentu lagi lagi Rani di bikin syok dengan jawaban Zain, karena tidak sesuai dengan harapannya yang secepatnya akan bisa menikmati harta kekayaan Zain
Ya walau Zain tadi sempat mengancam, tapi Rani tau Zain orangnya cukup royal, 4 tahun pacaran dengan Rani bukan waktu yang singkat, banyak dari karakter Zain yang tentu dia fahami dan ketahui,
Apa lagi Zain yang dulu sangat bucin sama dia, sangat lembut sama perempuan, tanpa ada konflik sama sekali waktu mereka pacaran, sangat manis dan romantis kisah cinta mereka dulu, ya walau endingnya sangat dramastis
" Okay Gak masalah, karena gue yakin ini anak loe" jawab Rani yang sebenarnya tegang banget
" Ya udah mau apa lagi, udah selesai kan ? tinggal nunggu 9 bulan lagi gak sih? " tanya Zain santai
" 8 bulan dong, kan gue udah 3 bulan hamilnya" saut Rani takut akan di balik lagi omongannya oleh Zain
" Okey... Ya udah silahkan pulang, mau ngapain loe masih di sini? loe mau nunggu 8 bulan di sini terus? " ucap Zain yang mengusir Rani secara halus
" Anter" jawab Rani singkat, Dan Han tersenyum kecut
" Loe tadi kesini sendiri kan? ya udah pulang sendiri" jawab Zain tetap santai
" Anter ngapa sih Zain, gue tinggal di rumah orang tua gue sekarang, biar loe sekalian main" tambah Rani makin gak nyambung
" Apa hubungannya?" jutek Zain
" Loe kan juga harus bilang sama orang tua gue kalau loe mau tanggung jawab, Ayo Zain, kalau gk gue beneran kekantor polisi lho" Ancam Rani lagi
Zain menggelengkan kepalanya karena dia gak tau harus apa, saat ini harus mengikuti permainan Rani terlebih dahulu, sebelum besok Zain bermaksud untuk datang menyambangi istrinya di tempatnya ber tugas
Dan Zain akan menceritakan semuanya dan berterus terang serta meminta dukungan dan bantuan istri jeniusnya itu
" Ya udah ayo..." jawab Zain pasrah dan meminta Zain untuk berjalan duluan keluar ruangannya
Zain mengikuti Rani dari belakang dengan jarak yang lumayan jauh, Zain meminjam kunci mobil resto terlebiy dahulu, karena Zain gak mau mobil hadiah dari Jihan di naiki wanita laknat seperti Rani
Setelah mengambil mobil Zain menghampiri Rani yang sudah menunggu di depan,
" Naik" ucap Zain singkat seperti menghampiri penumpang
Mau gak mau Rani naik dan duduk di depan sebelah Zain, hal itu sudah 10 tahun lebih tidak mereka lakukan bersama, dulu Zain sering mengantar jemput Rani menggunakan mobil kantor tempat Zain bekerja
" Kanapa gak pake mobilmu aja sih Zain, kan lebih bagus " gerutu Rani
" Penumpangnya gak bangus, jadi gue menyesuaikan aja" jawab Zain jutek , lagi lagi membuat Rani kembali kesal
" Lagian gue gak rela, mobil hadiah dari istri gue di naiki orang selicik loe" tambah Zain langsung melajukan mobilnya
" Sabar Ran sabar... Loe harus lebih berjuang lagi" batin Rani mencoba untuk sabar karena kemauannya tinggal selangkah lagi
Disisi lain, kini Jihan sedang berada di rumah Charir dan Toha, Jiha izin terlebih dahulu pada ketua kelompoknya, karena sedari tadi pulang sampai menolong orang melahirkan, Perasaan Jihan sudah tidak tenang
Jihan berfikir kalau ini ada kaitannya sama putranya, apa lagi sejak kemaren Charir dan Toha tidak menghubunginya, begitu juga dengan Zain yang entah ponselnya mati
Jadi Jihan memilih untuk langsung cus berangkat dari pada gak fokus dengan tugas tugasnya, setelah izin cukup berbelit belit, hingga Jihan memutuskan untuk menyewakan kontrakan bagi teman cowoknya supaya dapat izin untuk menjumpai anak dan suaminya, dalam keadaan baik baik saja
" Jadi Bang Zain gak pernah kesini sama sekali Om?" tanya Jihan pada Toha
" Bener, telfon dan video call aja gak pernah, apa dia lagi tugas di luar negri?" tanya Toha balik
Ya karena kesibukan Zain kerja dan lanjut mencari bukti kejahatan Rani, hingga sering kali ponselnya habis batrai karena terlupa mencharger, dan terlupa dengan anak dan istrinya juga
Kalau sama Jihan masih kadang sering telfon, dan video call tapi kalau sama Al, Zain jarang bahkan tidak pernah
" Enggak sih, paling lagi banyak kerjaan Om, kadang ada undangan tausyiah juga kan, belum lagi bolak balik Jakarta " jawab Jihan positif tingking
" Oh begitu... Iya lah, gak papa udah, Lagian Al juga anteng kok gak rewel juga minum susu formula" jawab Charir juga di sebelahnya
" Ya udah Om Tan, kalau gitu Jihan samperin Abahnya Al dulu lah ya, Jihan kangen hahaha" jawab Jihan dengan tetawa ngakak
" Bilang aja minta jatah, " ledek Toha dan Jihan malah kembali tertawa
Setelah berpamitan Jihan pergi dengan mengendarai mobilnya, serta mendudukan babi Al di sebelahnya dengan menggunakan kursi khusus untuknya
40 Menit Jihan sampai di perempatan dekat kantor Zain, pas di lempu merah, Jihan melihat Zain yang ada di sebrang jalan, tapi Jihan masih agak Ragu dengan hal itu, pasalnya mobilnya tidak pernah Zain gunakan
Jihan mulai meneliti mobil yang Zain gunakan, Jihan cukup tanda dengan semua Nomor plat mobil perusahaan milik Zain
" Itu kayaknya Abah deh sayang" ucap Jihan lirih pada baby Al yang tidak tau apa apa
" Sama siapa Abang? kok kayaknya sama perempuan" batin Jihan masih menerka nerka
Deg...... Jihan sangat kaget karena peremouan itu adalah Rani, setelah Jihan mengamati betul sosok wanita yang bersama suaminya itu
" Astagfirullahaladzim .... Kok bisa" ucap Jihan sudah tidak karuan perasaannya
" Gue harus ikutin mobil itu nanti, " batin Jihan tapi kembali melirik bocah kecil yang ada di sebalahnya
Karena Jihan gak mungkin membawa Baby Al untuk mengikuti Abahnya itu, Zain menoleh terus dan ternyata disebelahnya adalah mobil Abah Hasan, yang mana sedang di bawa oleh Farhan
Jihan segera membuka kaca mobil dan melempar koin pada mobil Abah Hasan, dan tepat kena sasaran, Farhan segera menoleh dan membuka kaca mobilnya
" Neng Jihan" ucap Farhan
" Iya kang, maaf Jihan minta tolong ya, Ambil baby Al, dan tolong bawa rumah Umi dulu, Jihan mau buru buru kerumah sakit karena sudah ditunggu sama dokter" ucap Jihan dengan nada tergesa gesa
Farhan yang melihat ekspresi Jihan segera turun dan membuka pintu mobil Jihan, dan mengambil baby Al yang sudah bobok cakep di sana
" Makasih ya kang, nanti Jihan kesana lagi Ambil Al, " ucap Jihan karena mobil yang Zain tumpangi sudah berjalan
Tanpa menunggu jawaban dari Farhan, Jihan kembali mengunci pintunya dan melesat mengikuti mobil Zain
" Ada apa sih Bang? Kok Abang bisa sama Rani, Abang gak lagi ambil kesempatan di saat Jihan KKN kan? Abang gak akan balik lagi sama Rani kan?" batin Jihan sudah tidak karuan perasaannya
15 menit Jihan mengikuti Zain, sampai masuk kesebuah gang komplek, Jihan agak berjarak dengan mobil yang Zain bawa, hingga Zain keluar dari mobilnya dan masuk bersama dengan Rani kedalam rumah depan mereka parkir
Pikiran Jihan sudah tidak menentu, syok kaget dan gak tau harus gimana,
" Okey loe sabar Han, loe harus main cantik dan santai seperti biasanya, " gumam Jihan dengan menghela nafas panjang
Pas kebetulan di sana Jihan berada di dekat warung sembako, kemudian Jihan turun dan membeli barang untuk cara main cantik dia, ya eceknya oleh oleh untuk silatur rahmi dengan Zain
Setelah membeli semuanya, Jihan kembali kemobil dan mendekatkan mobilnya pada mobil Zain, Jihan kemudian turun dan mulai aksi pura pura bertamu kerumah yang Zain kunjungi
" Assalamualaikum....." ucap Jihan sopan dan disana ada orang tua yang mungkin kedua orang tua Rani, tapi Jihan tidak melihat keberadaan Zain disana
" Waalaikumsalam... Cari siapa ya mbak?" tanya ibu nya Rani
" Maaf buk, sebelumnya perkenalkan dulu nama saya Jihan, saya mau bertemu dengan pak Zain, tadi beliua kirim lokasi ke saya kalau beliau disini" jawab Jihan tetap tenang dan sopan
" Oh... Iya ya, nak Zain ada di dalam sedang makan, silahkan masuk ayo tunggu di dalam" jawab bapak dari Rani
" Terimakasih pak..." jawab Jihan sopan
Kemudian Jihan duduk di sofa rumah orang tua Rani, dan berhadapan dengan orang tua dari wanita yang siap menghancurkan keluarganya
" Oh ya mbaknya apanya nak Zain ya?" tanya ibu Rani
" Oh saya dulu santrinya pak, dan kebetulan kami lama tidak ketemu, jadi pas kebetulan saya berkunjung kesini, jadi saya mau bersilatur rahim dengan beliau" jawab Jihan tetap tenang
" Oh ya kalau boleh tau, bapak dab ibuk ini saudara dari pak Zain?" tanya Jihan balik
" Oh bukan, kami ini calon mertua Zain, kami orang tua Rani, calon istri Zain" jawab mereka kompak
Deg......... Jantung Jihan serasa berhenti berdetak, hati dan perasaannya sudah mulai menangis tapi lagi lagi Jihan harus tahan dengan air mata dan tetap tenang untuk dan bermain cantik
" Tenang tenang, dan fokus main cantik" batin Jihan terus berusaha tegar di hadapan kedua orang tua Rani
" Oh... Bukannya Pak Zain sudah menikah ya buk, maaf.." ucap Jihan sopan
" Iya, ini Rani mau di jadikan yang ke 2, karena mereka dulu pernah bersama mbak, mendengar Rani yang di ceraikan suaminya, Zain langsung mau menikahinya" jawab ibu Rani sama dustanya dengan anaknya
" Oh begitu, oh ya buk, maaf lagi sebelumnya, bisa di panggilkan pak Zainnya? saya soalnya buru buru masih ada urusan lain, " ucap Jihan sudah hancur perasaannya
" Oh begitu, bentar ya mbak" jawab Ibuk Rani
" Iya cepet panggilkan buk, Mantu kita itu orang kaya, kyai lagi, jadi di cari banyak orang" sambung bapak Rani dan ibuknya berdiri untuk memanggil Zain
Jihan hanya tersenyum dan menahan rasa perih di dalam hatinya, tega teganya Zain menghianati dirinya saat sedang berjuang
" Oh ya nak Zain, ada yang mencarimu di luar" ucap Ibuk Rani menghampiri Zain yang sedang makan dengan Rani
Zain sebenarnya menolak untuk saat di tawari makan oleh orang tua Rani, tapi mereka terus memaksa dan mau gak mau Zain hanya menghotmati mereka sebagi orang tua
" Oh.. Ya udah Zain keluar buk" jawab Zain tanpa bertanya karena Zain sudah tidak tahan berdua dengan Rani di dalam
Zain langsung berjalan keluar, tepatnya keruang tamu untuk menemui orang yang mencarinya
persis kaya bojo ku klu pkai dapur