Jika orang lain memilih pergi saat tahu suaminya mendua, aku memilih bertahan dan memberi kejutan manis untuk suamiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon susan saliman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Acara Tasyakuran
Aku pakai baju itu pas sekali di badan ku, baik panjang dan lebarnya, ku lirik ukurannya M.
Ku rapikan rambutku setelah ku keringkan dengan hair dryer. ku pakai ciput dan pasminanya.
" Ya Alloh", Hati ku bergetar, selama ini aku cukup taat untuk sholat 5 waktu tapi untuk memakai hijab hanya pada momen tertentu, seperti saat foto pernikahan, akad Nikad kemarin, selebihnya aku hanya berbaju sopan tanpa penutup kepala.
" Mas, boleh mulai besok besok aku kenakan hijab ", Ijin ku pada mas Yoga saat itu juga.
" Hah", mas Yoga terdiam seperti kaget
" Terserah, asal bisa membawa diri", Jawabnya kemudian.
Dalam hati Menur sejujurnya kecewa tapi dengan begitu Menur bisa memantapkan diri lagi, mengingat dia tidak punya pendukung makanya harus menguatkan hati, tidak mau jika sudah di hijab terus nanti di lepas lagi.
Menur ingin kuat secara batin, kuat dan sabar hati untuk meneruskan keinginannya berhijab.
Sedikit memoles wajah membuat Menur terlihat fresh dan cantik, di tambah wajahnya yang terlihat seperti siswa sekolah membuat makin terlihat sedikit dewasa, karena perona bibir dengan warna merah bata.
" Ayo, udah jam sebelas", Yoga menuntun tangan Menur untuk keluar dari kamar menuju rumah pendopo, ternyata disana sudah penuh hampir semua karyawannya datang.
Ibu Salim pun sudah duduk di kursi dengan baju kebaya warna hijau, kebaya khas orang sepuh kebaya jumputan dan kain serta pasmina yang hanya di tutupkan di kepala tanpa di semat dengan peniti.
Menur langsung duduk di sebelah ibu mertuanya diikuti Yoga yang duduk di sebelah Menur.
Disini yang di percaya membawakan acara adalah pak Irwan, karyawan Yoga yang sudah bekerja dari masih di kelola bapaknya yakni pak Salim.
" Assalamualaikum.... hadirin sekalian, saya ucapkan selamat siang kepada yang terhormat ibu Salim selaku tuan rumah dan mas Yoga beserta istri, serta semua undangan yang telah hadir di sini.
" Saya pribadi di sini mengemban amanah dari ibu Salim dan keluarga untuk menyampaikan maksud dan tujuan beliau mengundang semua pegawai pada siang ini, beliau bermaksud mengadakan tasyakur bi' nikmat atas tercurahnya rejeki sehat, memohon kelancaran usaha baru yang akan di rintis oleh mbak Menur istri dari mas Yoga, beliau akan membuka toko material berharap ridho dari illahi melalui doa tulus kita semua".
" Besar harapan dari keluarga bu Salim untuk kemajuan usaha mbak Menur.... jadi nanti jika kalian akan membangun rumah, belanja tidak perlu jauh jauh ya, disini dikampung kita sudah ada toko yang menyediakan berbagai kebutuhan bangunan anda sekalian dengan harga miring, tentunya begitu kan mbak Menur?", Canda pak Irwan.
" Oke, selanjutnya kami mohon dengan kerendahan hati hadirin sekalian untuk mendoakan usaha toko mbak Menur supaya lancar kedepannya.... Alfatehah.....
kurang lebih 30 menit acara sambutan dan diapun selesai kini giliran acara sambutan dari Yoga selaku pemilik mewakili Menur.
Saat Yoga sedang memberikan sambutan, dari arah luar datang keluarga Menur yakni bapak ibunya, pak Sukardi dan adiknya yakni Ferdi, tak lama setelah keluarga Menur datang juga psk Lurah ( Kades ) beserta istri.
" Mengingat waktu yang semakin siang untuk itu sekali saya ucapkan terima kasih atas kehadiran bapak ibu kades dan seluruh undangan yang berkenan hadir siang hari ini, kami ucapkan banyak terima kasih, Wasalamualaikum warohmatullohiwabarokatuh".
" Dan untuk acara selanjutnya adslah ramah tamah dan makan siang bersama, sebelumnya kita tutup dengan doa bersama yang akan di pimpin oleh pak ustad Jahwan, Dan dari saya pribadi mohon maaf yang sebesar besarnya jika banyak kata yang tidak berkenan wasalamualaikum", Pak Irwan sebagai pembawa acara dan perwakilan keluarga menutup acara.
Kemudian ustad Jahwan membaca doa penutup, dilanjutkan dengan acara makan siang, namun sebelumnya potong tumpeng dulu yang di lakukan oleh Menur dan di suapkan ke ibu mertuanya baru pada Yoga suaminya dan selanjutnya mereka mengantri untuk makan siang.
Suasana yang tadinya tenang kini menjadi riuh, saling ngobrol, tertawa dan berbagi cerita membuat suasana heboh.
Menur berdiri mengambil nasi untuk ibu mertuanya dan untuk suaminya, setelah itu pun menghampirii orang tuanya, menyapa adiknya juga.
" Makan yang banyak, mumpung ada ", Ucap Menur pada Ferdi.
" Emang biasanya ga ada?", Jawab Ferdi
" Eh maksud mbak tuh biasanya adanya nasi putih biasa bukan uduk".
" Di sana tuh ada dawet, es timun dan sirup", Menur menunjuk sudut ruangan sebelah kanan.
" Beres mbak, tenang satu satu dulu".
" Bentar mbak mau sama mas Yoga dulu".
Menur langsung menyusul suaminya yang tengah asyik ngobrol dengan pak Lurah.
" Bapak, ibu, silahkan dinikmati seadanya ", Sapa ramah Menur pada sepasang suami istri itu, Yoga hanya diam memperhatikan istrinya.
" Iya mbak Menur, kami sudah kekenyangan", Jawab ibu lurah.
" Biasa minum kopi pak, bu? Disebelah sana kopi buatan kedai sendiri yang diatas", Tawar Menur lagi, Yoga langsung mengangguk ikut menawari dengan antusias.
" Oh, begitu, boleh bapak coba yang hitam pahitnya saja mbak".
" Ibu juga mau nyoba yang late nya mbak".
" Mari", Yoga mengajak pak lurah dan bu lurah ke tempat duduk yang lebih adem yakni di teras samping dekat pohon mangga, sementara Menur langsung menuju tempat stand kopi.
Menur minta sama barista pegawai kedai kopi untuk membuat pesanan pak lurah dan ibu sementara Menur juga memesankan buat Yoga Kopi hitam dengan sedikit creamer.
Menur menyajikan pada masing masing pesanan di depan pak lurah dan bu lurah.
" Silahkan",
" Mas, aku buat juga untuk mu", Menur memberikan kopi juga pada Yoga, Yoga pun menerima.
" Silahkan pak, bu", Yoga juga mempersilahkan untuk pak lurah dan istri.
" Wahh....mantap mas, ini kopi dari masyarakat kita?", Tanya pak lurah.
" Iya pak, saya mencoba mengolah dalam kemasan dan juga sachet", Terang Yoga.
" Bagus mas, perlu di dukung yang begini, hasil dari masyarakat kita olah baru di pasarkan, dengan begitu bisa menyerap tenaga kerja lokal warga sendiri dan juga punya harga jual yang lebih tinggi di banding kita jual mentahan", Bu lurah yang mendengar obrolan pak lurah manggut manggut setuju.
" Silahkan datang ke kedai kami bapak, ibu jika ada waktu, untuk saat ini kami buka dari pagi jam 6 sampai jam 12 malam", undang Yoga.
" Iya pasti, nanti kita mau visit kesana mas, sekalian ngadem, apa nama kedainya?", Tanya pak lurah.
" Kedai kopi " Seruni ", pak ", Yoga dengan bangganya menyebut nama itu.
" iya mas akan kami ingat namanya " Seruni ", kok bukan Menur mas kan Menur juga nama bunga selain nama istri mas", Celetuk bu lurah yang membuat Yoga langsung terdiam.
Sama tokoh yoga,gak ada insyafnya
Semakin tua,bukannya keimanan diperkuat,dipeluk diam aja,kaya kucing
Garong,udah thor pisahin aja mereka
Biar aja menur jadi janda daripada dibohongi terus,tobat sambel
bagus ceritanya
sukses
semangat