NovelToon NovelToon
TOLONG SELESAIKAN URUSANKU

TOLONG SELESAIKAN URUSANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Misteri / Mata Batin
Popularitas:240
Nilai: 5
Nama Author: diana mainur

Rhea adalah seorang pengacara muda idealis yang harus menelan pahitnya kehidupan setelah di-PHK secara sepihak dari firma hukum ternama. Musibah Rhea tak berhenti di situ, sore setelah pemecatannya, dia mengalami kecelakaan lalu lintas parah yang membuatnya koma selama hampir sebulan. Tak ingin menyerah pada nasib, Rhea bangkit dari keterpurukannya. Menggunakan sisa uang pesangon yang pas-pasan, dia nekat mendirikan biro bantuan hukum mandiri di sebuah ruko kecil daerah Tebet bersama Zora, sahabat karibnya yang selalu setia mendampingi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diana mainur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. Warisan yang Dirampas

Pagi itu, dua cangkir porselen berisi teh herbal terhidang di atas meja kerjanya. Di hadapan Rayven duduk dua orang klien barunya, Rika wanita paruh baya berusia lima puluhan dengan dandanan mencolok dan perhiasan emas yang menderet di pergelangan tangannya serta Fadel putra kandungnya yang mengenakan kemeja bermerk namun bertingkah gelisah, terus-menerus mengusap layar ponsel mewahnya.

Rika adalah istri kedua dari almarhum Pak Bambang, pendiri restoran Restu Ibu, sedangkan Fadel adalah anak bawaan Rika dari pernikahan sebelumnya yang menjadi saudara tiri bagi Bima.

"Jadi," suara Rayven mengudara berat dan berwibawa. Dia merapikan beberapa lembar kertas di hadapannya. "Kalian mendatangi saya untuk mengurus legalitas penuh atas peralihan aset kepemilikan Restoran Restu Ibu serta seluruh harta peninggalan almarhum Bambang Sutejo?"

Rika segera memajukan duduknya, mengumbar senyum yang dipaksakan. "Betul sekali Pak Rayven. Seperti yang sudah saya sampaikan melalui sekretatis Bapak kemarin, almarhum suami saya sudah meninggal tiga bulan yang lalu. Sebelum meninggal, kondisi kesehatannya terus menurun. Jadi, kami ingin memastikan proses balik nama sertifikat tanah restoran, bangunan serta rekening operasional semuanya sah atas nama saya dan Fadel demi kelancaran bisnis."

Rayven menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulitnya. Matanya yang tajam meneliti draf dokumen yang disodorkan Rika. Pria itu menyipitkan mata, menangkap sebuah celah yang baginya cukup krusial.

"Berdasarkan data kependudukan dan berkas keluarga yang kalian bawa," kata Rayven pelan, jarinya menunjuk sebuah nama di lembaran silsilah keluarga.

"Almarhum Pak Bambang memiliki seorang anak kandung laki-laki di pernikahan pertamanya. Bima Perkasa. Menurut hukum waris perdata, anak kandung adalah ahli waris legitime portie, ahli waris mutlak yang memiliki hak atas porsi utama harta peninggalan orang tuanya."

Mendengar nama Bima disebut, wajah Rika dan Fadel mendadak berubah agak kaku. Fadel bahkan sempat berdeham canggung sebelum dengan cepat menyela.

" Ahh, soal si Bima itu... Pak Rayven tidak perlu khawatir," ujar Fadel dengan nada meremehkan, mencoba mengibaskan tangannya santai.

"Bima itu anak yang tidak berguna, Pak. Dari dulu dia cuma bikin susah almarhum Papi. Dia penurut sih, tapi otaknya tidak sampai untuk mengurus bisnis besar seperti Restoran Restu Ibu. Makanya sebelum Papi meninggal, Papi sendiri yang bikin keputusan resmi untuk menyerahkan seluruh pengelolaan dan kepemilikan restoran kepada Mami dan saya."

Rika cepat-cepat menimpal dengan nada prihatin yang dibuat-buat, sambil mengusap sudut matanya dengan tisu.

"Benar, Pak Rayven. Bima itu sebenarnya kasihan, dia tidak punya kapasitas untuk jadi pemimpin. Selama ini dia kami karyawankan di restoran, jadi bagian dapur dan juru cuci, ya sekadar supaya dia punya penghasilan dan bisa makan. Tapi kalau untuk memegang sertifikat harta dan warisan... duh, bisa bangkrut usaha peninggalan suami saya. Lagi pula, almarhum suami saya sudah membuat Surat Wasiat Resmi."

Rika kemudian merogoh tas kulit mahalnya mengeluarkan sebuah amplop coklat tebal bersegel. Dia menggeser amplop itu ke tengah meja Rayven dengan senyum penuh arti.

Rayven mengambil amplop tersebut, membukanya tanpa ekspresi, dan mengeluarkan beberapa lembar dokumen di dalamnya. Isinya secara eksplisit menyatakan bahwa seluruh hak kepemilikan Restoran Restu Ibu, aset properti, dan tabungan utama dihibahkan sepenuhnya kepada Rika dan Fadel, sementara Bima hanya diberikan pesangon bulanan dalam jumlah kecil.

Rayven memerhatikan tanda tangan di lembar kertas itu. Secara kasat mata dan legalitas formal, dokumen ini tampak sangat sempurna. Tidak ada cacat hukum yang terlihat dari luar.

"Dokumen wasiat ini sudah di sahkan notaris," gumam Rayven dingin. "Jika dokumen ini sah, secara hukum Bima tidak memiliki dasar kuat untuk menuntut hak waris atas nama restoran, kecuali dia bisa membuktikan adanya pemalsuan atau intimidasi di masa lalu yang mana itu sangat sulit dilakukan tanpa bukti fisik."

"Tentu saja sah, Pak Rayven," seru Rika cepat dengan mata berbinar lega. "Kami ini keluarga baik-baik. Kami cuma mau menegakkan amanah terakhir almarhum. Makanya kami menyewa hukum berkelas seperti milik Pak Rayven Mahesa, supaya tidak ada pihak-pihak luar atau si Bima itu yang mencoba membuat keributan di kemudian hari."

Rayven menatap Rika dan Fadel bergantian. Sebagai pengacara profesional, Rayven bisa merasakan ada sesuatu yang tersembunyi di balik keramahan berlebihan dan kegelisahan terselubung dari kedua orang di hadapannya. Dia tahu ada dinamika keluarga keluarga busuk di belakang kasus ini.

"Baik," sahut Rayven dingin sambil menutup kembali folder dokumen tersebut. "Saya akan menerima kasus peralihan hak waris ini. Tim saya akan menyiapkan draf permohonan penetapan ahli waris dan pemindahan kepemilikan aset ke Pengadilan Negeri minggu ini. Selama proses berjalan, pastikan kalian tidak melakukan tindakan gegabah yang bisa memancing perlawanan hukum dari anak kandung tersebut."

"Siap, Pak Rayven. Terima kasih banyak. Soal bayaran, jangan khawatir langsung di transfer hari ini." ujar Rika puas sambil bersalaman hangat dengan Rayven, diikuti oleh Fadel yang tersenyum kemenangan.

Setelah kedua kliennya itu keluar dari ruang kerja, Rayven berdiri di depan dinding kaca besar sambil menyesap teh herbalnya yang sudah mulai dingin. Dia memandang lurus ke arah jalanan padat kota Jakarta. Entah mengapa, ada sedikit perasaan ganjil yang mengusik di benaknya.

Begitu pintu kaca tebal kantor Rayven tertutup rapat di belakang mereka, raut wajah ramah dan penuh kelembutan yang tadi dipasang oleh Rika seketika meluntur.

"Ih, kesel banget mami sama pengacara satu itu," sungut Rika setengah berbisik.

Fadel yang berjalan di samping ibunya ikut mendesis sinis, membetulkan kerah kemeja. "Iya, Mi. Fadel juga sempat emosi tadi pas dia nyebut nama si Bima. Tampangnya itu loh... angkuh banget. Berasa paling jagoan aja di dunia hukum."

"Tahu gitu mending cari pengacara lain yang gak banyak cincong," omel Rika lagi seraya menekan tombol lift dengan ketukan jarinya yang dihiasi cincin berlian. "Udah dibayar mahal-mahal, bukannya langsung meyakinkan malah bikin Mami deg-degan."

Namun, saat pintu lift terbuka dan mereka berdua melangkah masuk ke dalam kabin, Fadel mendadak terkekeh pelan. Raut wajah temperamen nya berubah menjadi seringai lebar penuh kemenangan.

"Tapi ya Mi.. Dia langsung percaya gitu aja kan? Katanya dokumennya sempurna dan gak ada cacat hukumnya! Hahaha." Fadel menyandarkan punggungnya di dinding kaca lift.

"Iya juga ya. Yang penting berkas itu udah diterima sama pengacara itu. Kalau Rayven Mahesa yang pegang kasus ini di pengadilan, udah pasti gak ada satu pun orang yang bisa menggugat balik, termasuk si Bima." Gumam Rika sambil mengelus dada tersenyum culas.

"Jelas lah Mi. Si Bima mah biar aja seumur hidup nyikat kuali bekas di dapur, gak bakal tahu kalau nasibnya udah tamat." Seru Fadel puas.

"Hushh. Jangan keras-keras ngomongnya," bisik Rika berpura-pura menegur meski tawa kecil tetap lolos dari bibirnya.

Ting!

Pintu lift terbuka di lantai utama gedung perkantoran mewah itu. Dengan langkah kaki yang mantap dan dada membusungkan bangga. Mereka berada di atas bahwa kekayaan almarhum Pak Bambang sudah sepenuhnya jatuh ke dalam genggaman serakah mereka.

1
Dwi rohma irjani
laannjuutt..👍
Eka P
n
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!