Pernikahan Ardan dan Naresa dimulai dengan duka.
Namun, rumah tangga yang mereka bangun perlahan kembali diuji oleh cinta lama yang seharusnya telah menjadi masa lalu, serta cinta dari seseorang yang seharusnya tidak mencintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yavarnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Liburan?
“I don't expect lo belum bulan madu sama sekali.”
Kale berjalan mendekat menatap Ardan yang sedang memanaskan mobil di halaman rumah. Lelaki itu tampak sibuk memeriksa beberapa bagian mobil sebelum akhirnya memastikan pintu bagasi sudah tertutup rapat. Tidak ada tanda-tanda ia tertarik menanggapi ucapan Kale.
Ardan memang seperti itu. Kalau menurutnya sebuah percakapan tidak penting, ia akan membiarkannya berlalu begitu saja.
“Lo yang nyupir atau gimana?” Barulah Ardan berbalik. Tatapannya jatuh pada Kale yang berdiri tidak jauh darinya.
Alih-alih menjawab, Kale justru melangkah lebih dekat. Kedua tangannya tiba-tiba mendarat di bahu Ardan, membuat lelaki itu menatapnya dengan alis sedikit bertaut.
Tatapan Kale berubah serius. Terlalu serius untuk sebuah pertanyaan yang sebenernya tidak perlu dipertanyakan.
“Jangan-jangan…” Ia sengaja menggantung kalimatnya, matanya menyipit penuh selidik. “Lo belum itu?" Kale menarik-turunkan kedua alisnya, seolah berharap Ardan segera menangkap maksud dari pertanyaannya.
Ardan hanya terdiam. Ia menarik napas panjang, menatap adiknya dengan ekspresi yang sudah jelas menunjukkan betapa malasnya ia meladeni percakapan ini.
“Kurang-kurangin deh rasa penasaran lo itu.” Ardan melepaskan tangan Kale dari bahunya. “Nggak sopan banget nanya kayak gitu.”
Kale mendelik malas sebelum mundur beberapa langkah, lalu menggeleng-gelengkan kepala dengan ekspresi seolah baru saja menemukan sesuatu yang sangat mengejutkan.
“Wah…” gumamnya panjang. “Kalau iya belum, gila sih.”
Ia kembali mendekat dan menepuk pundak Ardan beberapa kali. Kali ini, bukan lagi sekadar menggoda. Ada sedikit kekaguman dalam tatapannya, seolah ia benar-benar mengakui sesuatu yang menurutnya tidak mudah dilakukan. “Hebat bener Lo.”
Ardan hanya mengembuskan napas. Tidak ada keinginan sedikit pun untuk memperpanjang percakapan.
Kale terkekeh kecil, kemudian berbalik menuju kursi pengemudi. “Biar gue aja yang nyupir.” Ia langsung masuk ke dalam mobil tanpa menunggu jawaban Ardan.
.........
Setelah menempuh perjalanan sekitar empat jam dari rumah, melewati jalan raya perkotaan hingga jalan yang diapit pepohonan tropis, akhirnya mereka tiba di Piandra.
Di hadapan mereka terbentang garis pantai yang panjang dengan pasir pucat dan bersih. Lautnya berwarna biru kehijauan di dekat bibir pantai, lalu perlahan berubah menjadi biru lebih tua di kejauhan. Ombak-ombak kecil bergulung tenang dan pecah sebelum mencapai pasir.
Tak jauh dari bibir pantai, sebuah resort berdiri di antara pepohonan tropis. Tidak ada gedung hotel menjulang yang menghalangi pemandangan laut. Villa-villa besar tersebar di antara pepohonan, dengan atap bernuansa gelap dan teras-teras terbuka yang menghadap langsung ke laut. Beberapa di antaranya bahkan memiliki kolam renang pribadi.
“Akhirnya sampai juga,” kata Kale begitu turun dari mobil yang terparkir di area depan resort. "Kayaknya kita udah lama banget, ya Bang, nggak kesini?"
"Iya. Kalo nggak salah pas kita liburan sekolah itu." Jawab Ardan sambil mengeluarkan koper dari bagasi mobil.
Mereka memang berencana menghabiskan waktu sekitar dua hari di tempat ini. Awalnya, Ardan sempat mengajak ibunya untuk ikut bersama mereka, tetapi sang ibu menolak karena masih ada beberapa urusan yang harus diselesaikan. Beliau bahkan sempat melarang Kale ikut dengan alasan perjalanan ini seharusnya menjadi kesempatan Ardan dan Naresa menikmati waktu berdua.
Padahal, istrinya sendiri tidak keberatan jika liburan singkat kali ini dihabiskan bersama-sama. Namun, keputusan sang ibu tetap tidak berubah. Pada akhirnya, mereka bertiga berangkat, sementara Kale bahkan mengajak tiga orang temannya. Katanya, sekalian reuni kecil-kecilan.
"Sering banget, ya, kalian ke pantai ini?" Tanya Naresa yang sedari tadi diam memperhatikan percakapan keduanya.
"Ini mah tempat kesukaan Papi," sahut Kale. "Saking seringnya ke sini, gue sampai hapal wilayah-wilayah di sini." Ia tertawa lepas lalu menggeleng kecil. “Ibaratnya, ini tempat punya ruang sendiri buat masa remaja kita."
Naresa hanya mengangguk-angguk kecil. Ia kemudian menoleh kepada Ardan yang masih memegang gagang koper itu. "Ceritanya mau nostalgia, nih?"
Ardan hanya mengangkat kedua bahunya. "kan kamu sukanya yang alam-alam gitu. Yaudah, aku ajak kamu kesini aja."
Sederhana. Tidak ada alasan panjang yang perlu dijelaskan Ardan. Ia hanya mengingat apa yang disukai istrinya, lalu memilih tempat yang menurutnya akan membuat Naresa nyaman.
Setelah percakapan singkat itu selesai, mereka pun berjalan memasuki resort yang akan menjadi tempat menginap selama dua hari kedepan.
Ardan dan Naresa mendapat satu kamar, sementara Kale menempati kamar lainnya. Tidak lama lagi, tiga orang teman Kale juga akan menyusul ke resort tersebut. Liburan singkat yang awalnya hanya direncanakan untuk mereka berdua akhirnya berubah menjadi ramai, lengkap dengan tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan lama bagi keluarga Ardan.
...…...
Setelah ketiga teman Kale tiba, yang memang sudah dikenal Ardan sebagai sahabat karib adiknya, mereka langsung makan malam bersama. Setelahnya, masing-masing memilih kegiatan yang ingin dilakukan. Ardan dan Naresa pun akhirnya terpisah dari keempat muda-mudi itu.
Kini, keduanya sedang duduk santai di tepi pantai, menikmati hawa dingin malam yang berembus dari laut serta aroma asin yang terbawa angin. Dari kejauhan, suara live acoustic terdengar samar, berpadu dengan suara ombak yang sesekali mencapai bibir pantai.
“Besok mau naik jet ski, nggak?” Ardan menoleh menatap Naresa yang sedang memandang hamparan laut di hadapan mereka.
Entah mengapa, setiap kali perempuan itu memandang sesuatu, tatapannya selalu terlihat begitu dalam. Seolah-olah pikirannya sedang pergi jauh ke tempat yang tidak bisa dijangkau siapa pun.
“Emang—”
“Papa!” Teriakan cempreng khas anak kecil tiba-tiba terdengar dari arah belakang mereka.
Naresa dan Ardan sontak menoleh.
Seorang anak laki-laki kecil berlari ke arah mereka. Begitu sampai di hadapan Ardan, tubuh mungil itu langsung ambruk memeluk Ardan dengan tangisan yang pecah.
“Papa…” Isak anak itu terdengar tersendat-sendat, sesekali diselingi suara ingus yang ditarik dari hidungnya yang meler. Kedua tangannya melingkar erat di leher Ardan.
“Leo!” Teriakan seorang wanita terdengar menyusul dari kejauhan.
Perlahan, Naresa berdiri dari tempat duduknya. Tatapannya mengikuti wanita yang kini berjalan tergesa-gesa menghampiri mereka.
Ardan pun ikut berdiri sembari menggendong anak itu. Tangannya menepuk-nepuk pundaknya perlahan, berusaha menenangkannya.
“Sayang… sama Bunda, ya, Nak.” Kata wanita itu ketika sudah berada di hadapan mereka. Napasnya sedikit terengah, tetapi ia segera berusaha tersenyum kepada Ardan.
“Nggak mau… aku mau sama Papa. Huaaa~”
“Sama aku aja, Dan. Nggak apa-apa.” Raut wajah wanita itu jelas menunjukkan rasa sungkan, seolah ia sendiri tidak enak karena anaknya kembali merepotkan Ardan.
Naresa hanya diam. Tatapannya beralih dari anak kecil yang masih menangis dalam pelukan Ardan kepada wanita di hadapannya, Jenaya.
Wanita itu sama sekali tidak menoleh kepadanya.
Cihh. Jangankan menyapa, melirikku saja tidak.