NovelToon NovelToon
Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Pernikahan ini bukan tentang cinta, melainkan sebuah hukuman.

Bagi Alvan, Andira adalah wanita berdarah dingin yang harus membayar kematian adiknya. Demi membalas dendam, ia mengikat Andira dalam pernikahan sedingin es yang penuh aturan ketat dan kebencian.

Bagi Andira, pernikahan ini adalah satu-satunya cara membuktikan bahwa ia tidak bersalah dan mengungkap kebenaran di balik jebakan kelam keluarga sendiri.

Namun, saat rahasia mulai terkuak dan dalang sebenarnya bersembunyi di balik senyuman terdekat, akankah benih cinta sanggup tumbuh di atas tanah dendam?

"Aku menikahimu bukan untuk membahagiakanmu, Andira, tapi untuk memastikan kamu membayar setiap tetes air mata keluargaku."

Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Antara Benci Dan Cinta.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Pagi harinya di Rumah Sakit Medika Utama, ketegangan yang merajai kamar VIP bertransformasi menjadi keheningan yang serba canggung. Ibu Rosa telah tertidur lelap kembali setelah dokter memberikan dosis penenang ringan.

Di sudut ruangan, Alvan berdiri menatap ke luar jendela, membiarkan cahaya matahari pagi menimpa garis-garis tegas di wajahnya yang menyembunyikan kelelahan hebat.

Andira masih berdiri di dekat pintu, berniat untuk pamit mundur agar tidak mengganggu istirahat Ibu Rosa. Namun, saat jemarinya menyentuh gagang pintu, suara Alvan memotong langkahnya.

"Andira."

Andira berbalik pelan. "Ya, Pak Alvan?"

Alvan melangkah menghampirinya. Tatapan pria itu tidak lagi membawa ketajaman dingin yang mematikan seperti biasanya. Ada semacam kebingungan yang berusaha ia tutupi dengan wibawa kaku.

"Kembalilah ke mansion bersama Pak Somad," ujar Alvan seraya mengeluarkan sebuah kunci berlapisan kuningan dari saku kemejanya. "Mulai hari ini, kamu tidak perlu lagi tidur di kamar pelayan di basemen."

Andira menatap kunci di tangan Alvan dengan dahi berkerut halus. "Pak...?"

"Pindahkan barang-barangmu ke kamar tamu lantai dua. Di sana ada kamar mandi dalam dan fasilitas yang lebih layak," lanjut Alvan datar, lalu pandangannya bergulir ke pergelangan tangan kanan Andira yang terbungkus perban. "Di atas meja kerjaku ada salep luka bakar khusus resep dokter dan obat pereda nyeri. Minumlah. Aku tidak ingin melihatmu pingsan saat menjalankan tugas di rumah."

Mata Andira berkedip lambat. Perubahan sikap Alvan terasa begitu mendadak, namun ia tahu ini adalah retakan nyata dari prasangka sang algojo. Kebenaran yang ditunjukkannya saat menyelamatkan Ibu Rosa tadi malam telah menggoyahkan keyakinan Alvan bahwa dirinya adalah seorang pembunuh yang kejam.

"Terima kasih, Pak Alvan," jawab Andira tulus, menerima kunci itu.

"Satu hal lagi," tambah Alvan sebelum Andira memutar badan. "Jangan berkeliaran di luar area mansion tanpa izin. Aku masih mengawasimu."

Andira mengangguk pelan. Mengawasiku, batinnya. Namun dalam hati, Andira tahu bahwa momen ketika Alvan tertahan mendampingi Ibu Rosa di rumah sakit adalah kesempatan teremas emas baginya untuk bergerak bebas.

~~

Setibanya di mansion Samudra pukul sembilan pagi, suasana rumah megah itu terasa sangat sepi. Sebagian besar pelayan sedang bertugas merapikan area taman belakang atau beristirahat setelah kekacauan tadi malam.

Andira tidak membuang waktu. Setelah memindahkan pakaian tipisnya ke kamar tamu lantai dua, sebuah ruangan luas bermandikan cahaya matahari dengan tempat tidur yang sangat nyaman, ia segera mengunci pintu dan mengeluarkan struk pembayaran L'Étoile Fine Dining yang ditemukannya di jas Alvan.

Struk itu tertanggal 14 November 2025, pukul 20.45 WIB. Pembayaran atas nama Elena Rosadi.

"Elena berbohong pada Alvan dan polisi bahwa dia berada di Surabaya malam itu," gumam Andira seraya memandangi kertas kusam tersebut. "Tapi kalau Elena ada di Jakarta... kenapa dia harus menyembunyikan keberadaannya? Dan bagaimana mungkin struk ini bisa berakhir di saku rahasia jas Alvan?"

Andira teringat sesuatu. Jas wol Italia milik Alvan itu sempat dibawa ke laundry khusus dua hari lalu setelah Alvan memakainya untuk menghadiri acara peringatan kematian Roy.

Mungkinkah Elena sempat meminjam atau menyentuh jas itu saat bertamu ke rumah? Atau mungkinkah Elena sengaja menyelipkannya di sana... atau justru menjatuhkannya tanpa sengaja saat menyelinap ke ruang kerja Alvan?

Rasa ingin tahu yang membakar mendorong Andira melangkah keluar dari kamarnya. Langkah kakinya sangat ringan, hampir tak bersuara saat menyusuri karpet tebal di lorong lantai dua.

Tujuannya adalah ruang kerja Alvan dan ruang pribadi mendiang Roy yang berada di sayap timur mansion. Jika Elena memiliki rahasia besar tentang malam kematian Roy, pasti ada jejak lain yang tertinggal di rumah ini.

Saat Andira mendekati belokan lorong menuju ruang kerja, pendengarannya yang tajam menangkap suara gesekan halus.

Clack. Clack.

Itu suara ketukan tumit sepatu hak tinggi di atas lantai marmer.

Andira merapatkan tubuhnya ke balik pilar besar berukir. Dari balik bayangan pilar, matanya membelalak kaget. Elena berada di sana!

Wanita itu seharusnya berada di rumahnya atau di rumah sakit bersama Ibu Rosa. Namun kini, Elena berdiri di depan pintu ruang kerja Alvan dengan gaun hitam elegan dan kacamata hitam yang terangkat ke atas kepala. Wajah Elena tampak teramat pucat, matanya liar memandang ke kiri dan ke kanan seolah-olah dikejar hantu.

Tangan Elena yang memegang tas tangan bermerek mahal tampak gemetar hebat saat ia mencoba memutar gagang pintu ruang kerja Alvan.

Nihil. Pintu itu terkunci rapat.

"Sial!" umpat Elena dengan bisikan tertahan yang sarat frustrasi.

Andira memperhatikan setiap gerak-gerik Elena dari jarak aman. Sikap Elena sangat bertolak belakang dengan gaya anggun dan penuh percaya diri yang selalu dipamerkannya di depan Alvan. Wanita itu tampak terdesak, panik, dan hampir hilang kendali.

Karena tidak bisa membuka ruang kerja Alvan, Elena beralih ke pintu di sebelah kanan, kamar pribadi mendiang Roy yang sudah disegel dan jarang dibuka sejak tragedi itu. Dengan gerakan terburu-buru, Elena mengeluarkan sebuah kunci duplikat dari dalam tasnya.

Klik.

Pintu kamar Roy terbuka. Elena menyelinap masuk dan menutup pintu kembali, namun karena terburu-buru, ia tidak menguncinya rapat dari dalam.

Andira mengumpulkan keberaniannya. Ia bergerak tanpa suara mendekati pintu kamar Roy yang sedikit renggang. Melalui celah sempit berukuran dua jari, Andira mengintip ke dalam.

Di dalam kamar yang temaram dan berdebu itu, Elena sedang membongkar laci-laci meja rias dan rak buku Roy secara brutal. Kertas-kertas berhamburan ke lantai, kotak-kotak perhiasan dibuka dan dilempar begitu saja.

"Di mana... di mana barang itu?!" bisik Elena histeris, napasnya memburu kencang. Ia mengacak-acak tumpukan majalah lama dengan tangan gemetar. "Roy tidak mungkin menghilangkannya! Dia bilang dia menyimpannya di sini!"

Andira menahan napas. Barang apa yang sedang dicari Elena sampai wanita itu nekat menyelinap ke kamar orang yang sudah meninggal? Apakah itu bukti yang bisa membongkar kebenaran di balik racun yang menewaskan Roy?

Tiba-tiba, suara dering ponsel Elena memecah keheningan kamar. Elena meloncat kaget, memegang dadanya yang naik turun. Ia menyambar ponsel dari dalam tasnya dengan kasar.

"Hallo?!" bentak Elena dengan suara berbisik yang tajam. "...Apa?! Mas Alvan sedang dalam perjalanan pulang dari rumah sakit?!"

Wajah Elena seketika berubah kaku bagaikan mayat. Ketakutan yang murni menyapu matanya.

"Bagus, aku akan keluar sekarang!" Elena mematikan telepon, lalu dengan tergesa-gesa mencoba merapikan kembali barang-barang yang berantakan di lantai kamar Roy. Namun karena panik, usahanya sangat berantakan.

Menyadari Elena akan segera keluar, Andira bergerak cepat merayap mundur menuju bayangan lorong gelap di dekat tangkapan tangga servis.

Pintu kamar Roy terdorong terbuka lebar. Elena berlari keluar dengan langkah serabutan, menyampirkan tas tangannya yang terbuka setengah. Ketakutan membuat gerakan wanita itu menjadi canggung dan ceroboh.

Saat Elena berlari melintasi koridor lantai dua menuju tangga utama, tas tangannya tersenggol tepian meja konsol ukiran kayu.

Tuk.

Sebuah benda kecil berukuran sebesar ibu jari terlontar keluar dari saku luar tas Elena yang terbuka. Benda itu memantul di atas karpet halus sebelum akhirnya meluncur dan berhenti di dekat celah ubin dekat pilar tempat Andira bersembunyi.

Elena yang diliputi kepanikan luar biasa sama sekali tidak menyadari ada barangnya yang jatuh. Wanita itu terus berlari turun menuruni tangga utama dengan suara tumit sepatu yang berderak kencang, menghilang menuju pintu depan mansion.

Keheningan kembali melingkupi lorong lantai dua.

Andira keluar dari balik bayangan pilar. Matanya tertuju pada benda kecil yang tergeletak di atas marmer dekat kakinya.

Itu adalah sebuah flashdisk mikro / USB flash drive berbahan logam perak berkilau, dengan sebuah ukiran huruf 'R' kecil di permukaannya. Huruf 'R' yang sangat khas, inisial milik Roy Samudra.

Jantung Andira meloncat ke tenggorokan. Ini dia! Benda kecil inilah yang baru saja dicari Elena dengan setengah mati di kamar Roy! Flashdisk yang mungkin berisi data rahasia, rekaman, atau transaksi nyata yang menyembunyikan pembunuh Roy yang sebenarnya!

Andira berlutut pelan. Tangannya yang terbungkus kassa terulur, jemarinya hanya berjarak beberapa milimeter saja dari permukaan dingin logam flashdisk tersebut.

Namun, tepat sebelum ujung jarinya menyentuh benda berharga itu...

Brak!

Suara pintu utama di lantai bawah terdorong terbuka dengan keras.

Gema langkah kaki pria yang berat, tegas, dan cepat bergetar hebat memantul di sepanjang dinding marmer mansion. Suara sepatu kulit mahal yang teramat sangat dikenal oleh Andira.

Alvan telah kembali dari rumah sakit lebih cepat dari perkiraan.

"Bik Inah! Di mana Andira?!" suara Alvan menggelegar dari lantai bawah, dingin dan penuh ketegasan yang menuntut.

Suara langkah kaki Alvan mulai menaiki anak tangga utama satu demi satu dengan ritme yang sangat cepat, semakin mendekati koridor lantai dua tempat Andira berlutut.

Andira membeku di tempat. Matanya bertolak antara flashdisk perak di atas lantai dan arah tangga di mana bayangan Alvan mulai menyembul naik.

Jika ia mengambil flashdisk itu sekarang, Alvan bisa memergokinya dalam posisi mencurigakan di depan kamar Roy yang berantakan. Namun jika ia membiarkannya, barang bukti terpenting ini bisa hilang atau ditemukan oleh orang lain!

Langkah kaki Alvan kini tinggal beberapa meter saja dari belokan koridor...

...----------------...

To Be Continue ....

1
Ibuk Oppo
dobel up kakak
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
Andira kamu wanita kuat tetap semangat ya Allah bersamamu 🥺...elena kamu boleh tertawa sepuasnya sebelum semua kebusukan mu terbongkar 😏
Reniochim
seru nih kayaknya..sekelebat ceritanya kayak sinetron ikatan cinta.
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Rina Kurnia
waduuhh....miss ra...tragis kali ya....🥺🥺
Miss Ra: 🤗/Chuckle/
total 1 replies
Eva Karmita
mampir otor 🙏
Eva Karmita: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 2 replies
Ma Em
Miss jgn terlalu kejam nanti Alvan pada Andira kasihan karena Andira mungkin dijebak oleh adik tirinya si Alena .
Miss Ra: 🤗/Chuckle/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!