Dalam keadaan hamil besar Calista harus menerima kenyataan bahwa sahabatnya yang bekerja sekantor dengan suaminya berselingkuh. Dalam perjuangan membesarkan anaknya, ternyata dia harus menerima kenyataan anaknya mengidap penyakit Kanker Leukimia, sebagai dokter dia juga ketakutan. Apakah Calista yang seorang dokter mampu mengatasi semua cobaan ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Daniel Tahu
Hari pertama Daniel Caleb di rumah kediaman keluarga besar Wijaya, pagi - pagi dia sarapan bersama. Selain opa dan omanya, ada juga papa kandung dan mama sambungnya, Liam dan tantenya. Sebagai cucu pertama, Daniel jelas mendapat tempat duduk disebelah kanan opanya. Kursi yang biasa di duduki oleh omanya. Sedangkan Christian duduk di sebelah kiri papanya. Kemudian disebelah Christian ada Liam kemudian Lisa. Sedangkan disebelah Daniel Omanya dan tantenya.
Pemandangan pagi haru di meja makan keluarga besar Wijaya membuat Lisa menjadi sangat kecewa dan marah, namun dia hanya bisa menyimpan rasa itu dalam hati.
"Lisa.... Jangan lupa, apa yang harus kamu lakukan." Christian merasa takut, ada sesuatu yang di rencanakan oleh papanya langsung menanyakan hal ini.
"Apa yang papa rencanakan."
"Papa mau menambah marga keluarga di belakang nama Daniel."
"Pa.... Tian, memohon ijin dulu sama maminya Calista. Please ma, tolong saya."
"Papa sudah menghubungi Calista, mantan istrimu dan suaminya sebelum papa menyuruh Lisa selaku kuasa hukum perusahaan kami melakukan."
Christian bukan tidak setuju marganya diberikan kepada Daniel, namun dia melakukan itu karena dia tidak mau melukai hati Calista perempuan yang sudah memberikan dia dua orang anak. Perempuan yang masih dia cintai.
Ternyata Agenda hari ini papanya Christian adalah membawa dan memperkenalkan Daniel pada semua asetnya selaku pewaris Wijaya Grup.
"Papa tahu ngak sih, kalau Daniel itu anak dari perempuan yang tidak dia suka."
"Stop main drama Lisa, Liam juga anaknya Calista." Melany yang mendengar pembicaraan Christian dengan Lisa langsung menyadarkan Lisa.
"Tidak itu anak saya."
"Jangan kamu terlalu bermimpi."
"Sayang, bela aku."
"Kamu tidak usah keras kepada Daniel. Kenyataannya Daniel dan Liam itu sedarah. Saya memohon Lisa." Lisa tidak berkutik, ternyata rahasia yang dia simpan sudah diketahui oleh kakak iparnya.
"Kamu kira hanya aku yang tahu, mamaku juga tahu. Suatu saat jika kamu salah melangka, bom waktu ini akan meledak dan kamu hancur."
Sikap mertua, terutama papa mertua bersama dengan Melani kakak iparnya membuat Lisa marah. Karena dia tahu bahwa Calista masih berada di jakarta, maka dia menghubungi sahabatnya untuk bertemu.
"Tolong saya Ita, bawa pulang Daniel."
"Saya tidak bisa."
"Kamu sengaja ya mau merebut semua yang aku miliki."
"Merebut??? Sadar Lisa. Kamu itu pencuri. Dan kamu harus tahu, bahwa apa yang bukan punya kamu, akan kembali kepada pemilik yang benar."
Calista meninggalkan Lisa dalam kebencian dan tangisannya. Karena suaminya dan Elina Naomi Pratama anak perempuannya sedang menunggunya. Karena ini hari terakhir mereka berada di kota Jakarta besok pagi mereka akan kembali ke Bandung dengan kereta cepat. Mereka mampir ke swalayan membeli buah - buahan untuk dibawa kepada mamanya.
Daniel diberi salah satu barang kesukaan opanya. Yaitu Jam tangan mewah, opanya mau Daniel mengenakan jam itu. Karena itu juga pemberian orangtuanya alias buyutnya Daniel. Dan dia berjanji kepada opanya untuk menjaga dan merawat barang itu baik - baik.
Besok pagi, Liam bermain di kamar kakaknya Daniel. Dia tertarik dengan kotak usang yang dimiliki oleh kakaknya.
"Ini apa kakak??? Bisa Liam lihat."
"Bisa. Ini jam tangan yang opa berikan buat kakak."
"Liam mau kakak."
"Tetapi ini pemberian opa buat kakak. Kakak harus menjaga dan merawatnya, kakak sudah berjanji kepada opa."
"Liam mau."
Liam mengambil kotak berisi jam itu dan berlari keluar kamar. Daniel mengejar, karena kotak itu punyanya. Aksi tarik menarik antara Liam dan Daniel terjadi, hasilnya kotak itu terlepas dari tangan Liam dan dia menangis.
"Kamu perebut barang punya ku."
"Ada apa ini."
Omanya datang melerai mereka. Dan sudah menyuruh asisten rumah tangga membawa Liam ke kamar dan menenangkannya. Sedangkan omanya meminta penjelasan Daniel, karena dia anak besar. Daniel menjelaskan semuanya, dan omanya mengerti. Daniel menangis dalam pelukannya. Karena dia sudah menyakiti Liam.
"Kenapa kamu menangis sayang. Kamu tidak salah kan."
"Aku sedih dan kasihan oma melihat Liam menangis. Karena Liam mengingatkan ku akan adik aku yang sudah meninggal."
"Adikmu meninggal??"
"Iya oma, dia itu yang sudah menolong Daniel, lewat tali pusarnya Daniel bisa ada sampai sekarang." Omanya bersedih karena dia mengetahui kebenaran. Dia memeluk cucu pertamanya. Dia tidak bisa membohongi cucunya.
"Daniel, Liam itu adik kandung kamu. Dia tidak meninggal."
"Benar oma??? Jadi Liam dirawat oleh papa?? Iya sayang."
Daniel yang tahu, Liam adalah adek kandungnya. Langsung berinisiatif meminta maaf kepada Liam karena sudah membuatnya menangis.
"Liam, jika kamu mau barang ini. Kaka berikan."
"Tidak kakak, ini punya Kakak. Kan opa memberikan kepada kaka. Liam mohon maaf ya kakak."
Kedua saudara kandung itu saling berpelukan. Daniel tahu, bahwa Liam belum tahu apa - apa alias belum mengerti. Namun ada kembali niatnya.
Daniel tahu, bahwa kanker Leukimianya sudah mulai kambuh lagi. Sudah beberapa kali dia mimisan dan sudah ada tanda - tanda biru di badannya. Dia mau membawa Liam untuk tinggal bersama mami dan papinya. Maka Daniel yang sudah besar, dia membawa Liam ke Bandung dengan menggunakan kereta cepat. Dia sudah tahu tempat membeli tiket. Dia bisa membeli tiket, karena selama dia tinggal di rumah ini, papa Christian memberinya kartu kredit berwarna hitam. Itu berisi saldo belanja buat Daniel dengan jumlah yang sangat besar.
Dua hari kemudian Liam dan Daniel sudah berada dalam kereta cepat menuju Bandung. Sampai di sana, Daniel langsung menghubungi papinya. Tama begitu kaget akan kehadiran Daniel di kota ini, karena baru empat hari dia di Jakarta. Berbagai macam pertanyaan ada di kepalanya tentang anak ini. Dia begitu kuatir.
"Mas... Kemana???" Calista melihat suaminya yang terburu - buru mau keluar rumah sakit. Tama yang tidak mau perempuan yang dia cintai bersedih. Mencari akal dan cara agar Calista istrinya tidak tahu keberadaan Daniel di sini. Takut dia bersedih dan kuatir. Tama mendekati istrinya dan memberi ciuman mesra di kening istrinya.
"Mas keluar sebentar ya sayang. Ada urusan. Sampai ketemu dirumah ya."
"Oke mas, hati - hati ya." Semua tenaga medis maupun administrasi di rumah sakit ini. Sangat mengidolakan kapala rumah sakit mereka dan istrinya. Semua tersenyum melihat adegan mesra suami istri ini. Pasangan dokter ini.
Sampai di stasiun, betapa kagetnya Tama, ternyata Daniel datang bersama Liam. Sementara di Jakarta Lisa sedang gelisah dia marah karena tidak mendapati Liam. Informasi yang dia tahu bahwa Liam sedang berjalan - jalan dengan Daniel.
"Dimana kamu bersama Liam."
"Maafkan Daniel tante, Daniel dan Liam ada di Bandung."
"Apa Bandung???" Christian yang mendengar Daniel membawa adiknya ke Bandung langsung mengambil handphone Lisa istrinya.
"Halo......" Daniel tahu itu suara papanya.
"Daniel mau adek bersama dengan mami."
"Daniel.......???"
"Aku tahu pa, bahwa Liam itu adek kandungku."